"Aku Eve, akan ku pastikan kamu ada di genggamanku, Kak"
.
.
.
Bagaimana kisah Revalina Diharjo mengejar cinta Sahabat Kakaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Males nggak sih?
Malam ini, kursi yang mengelilingi meja makan rumah Orang Tua Eve hampir semua terisi penuh. Jika biasanya hanya terisi oleh Papa, Mama dan Eve, Maka malam ini semua anak Witan diharjo yang berjumlah tiga orang, beserta menantu yang baru satu orang, ditambah dua cucu laki- laki, mengisi kursi- kursi kosong itu. Ditambah malam ini, ada tamu Dimas.
"Jadi sudah dipertimbangkan semuanya, Nak?".
Papa yang sudah menyuapkan makanan dua kali mulai memecah keheningan meja makan. Hal tersebut otomatis membuat empat lelaki yang ada di meja makan, menghentikan kunyahan mereka. Sementara yang perempuan, termasuk dua bocah kecil, tetap sibuk mengunyah.
Eve yang dari turun tangga hingga menyendokkan makanan ke mulut tidak mengeluarkan suara, hanya melirik sekilas ke arah Papa.
Males nggak sih ndengerin urusan orang dewasa? Batin gadis itu.
Apalagi jika membahas urusan pekerjaan, bisnis, dan masalah dengan pasangan.
Eh tunggu dulu...
Eve menghentikan kunyahannya. Matanya menatap makanan di dalam piring. Jika dilihat, tampak seperti sedang memikirkan bagaimana makanan tersebut diproduksi. Hehe..
Apakah Kak Arya juga membicarakan hal itu ya kalau bertemu dengan orang dewasa lainnya?
Apa perlu Aku mengikuti perilaku yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa?
Jadi Aku harus ndengerin obrolan ini?
Ihhh.. Kayak bukan Aku nggak sih?
Harusnya Kak Arya yang memperlakukan Aku sesuai umurku, bukan Aku yang ikutin dia..
Eh tapi kan Aku yang lagi berusaha dapetin dia..
Hmm.. Coba kalau Kak Arya yang cinta ke Aku...
Kalimat random yang terlintas di benak Eve, membuat mimik wajahnya berubah ubah. Namun yang terlihat jelas oleh semua orang adalah mimik wajah kesal, dan dengusan napas yang terdengar cukup jelas.
Beberapa saat lalu, Papa bertanya ke anak perempuan satu- satunya, namun tidak mendapatkan respon apapun. Dan ternyata anak perempuannya itu sedang melamun menatap makanan yang ada di piring, dengan wajah terlihat kesal, bibir manyun, dan dengusan napas keras. Semua orang melirik ke arah Eve, termasuk dua bocah kecil, keponakan Eve.
"Revalinaaa????".
Suara Papa yang terdengar menembus kesadaran Eve, membuat gadis itu terlonjak. Tanpa sadar gadis itu langsung memasukkan makanan ke mulutnya, yang membuat gadis itu tersedak beberapa detik kemudian.
Uhukkk hukkk...
Mama yang duduk di sebelah Eve, langsung mengangsurkan air minum. Eve menerima, dan segera menenggak air tersebut. Setelah mempuk- puk d@danya, Gadis itu melirik Papanya.
"Kenapa sih Pa? Bikin Eve kaget aja..". Gerutu Eve.
Semua orang masih memperhatikan pertarungan yang akan terjadi.
Raja yang duduk di seberang adik bungsunya, tertawa kecil. Dia masih mengingat ekspresi adiknya saat sore tadi. Mungkin mood adiknya belum membaik.
"Papa dari tadi tanya ke kamu.. Bukannya ndengerin, malah melamun. Mikirin apa? Cicilan rumah? Cicilan kendaraan??". Papa menggeleng tak habis pikir. Sementara yang lainnya tertawa kecil.
Mana mungkin gadis itu memikirkan cicilan. Yang ada dipikirannya pasti hanya senang- senang apa lagi ya hari ini...
Eve menatap sebal ke semua orang, termasuk ke satu tamu penyusup, yang numpang makan malam. Eve duga itu tamu yang tadi sore dilihatnya duduk bersama Kak Dimas saat tadi dia pulang sekolah.
"Papa tanya apa?".
Akhirnya Eve berhasil menahan diri untuk tidak mendebat lebih jauh. Sebenarnya dia ingin mengatakan, tumben Papa pas di meja makan mau ngajak ngobrol? Biasanya disuruh diem. Tetapi mengingat, menimbang dan seterusnya, Akhirnya Eve memutuskan untuk mengalah. Nggak enak juga ada tamu, tapi lihat tuan rumah berdebat. Iya nggak sih?
"Temanmu ada yang bekerja paruh waktu?". Papa mengulangi satu pertanyaannya yang paling pendek. Dibanding dengan dua Kakak laki- lakinya, Anak gadis satu- satunya ini yang paling harus diberi porsi sabar terbanyak. Walaupun perempuan, jangan berharap lebih kalo anak gadis itu mau patuh dan bersikap manis.
"Em.. Tania nggak ada kerja paruh waktu, Dia udah kaya kan Pa?". Jawab Eve langsung.
"Temanmu cuman dia?". Mama yang sudah menyelesaikan makannya, ikut bertanya. Jika diingat- ingat, memang teman Eve hanya Tania saja.
"Yes.. The one and only.. Hehehe".
Eve menjawab sambil nyengir. Sesi makan yang sempat dia tunda, dia lanjutkan kembali. Tentu saja sambil menjawab jika nanti papanya bertanya lagi.
"Idemu tadi cukup bagus Ar.. Hanya saja, jangan berharap banyak pada anak Papa yang ini.. Susah..".
Papa berkata sambil menggeleng. Tak habis pikir. Eve anak yang supel, nyambung diajak ngobrol, walaupun suka membantah. Namun masa hanya punya teman satu?
Apa perlu dia, sebagai seorang Ayah memberi pendidikan khusus cara membangun relasi, agar dapat mempunyai banyak teman? Hmmm...
"Nanti biar Arka biacarakan sama Tim, Pa.. Tadi baru ngobrol sama Dimas sih, minta masukan..".
Tamu yang ternyata bernama Arka itu menjawab. Eve melirik tamu Kakaknya. Jika diingat- ingat, Pria di sebelah Kakak keduanya itu pernah ke rumah ini. Namun tidak sesering sahabat Dimas yang lainnya. Terutama Arya.
Hmm.. Kak Arya lagi ngapa yaa??? Kenapa tadi nggak ke sekolah lagi? Terus Aku chat biasanya selalu dibalas, walaupun singkat, ini nggak sama sekali...
Hufff.... Memikirkan Arya memang membuat galau. Pesona Lelaki Dewasa dan beristri rupanya sangat membahayakan untuk Eve.
.
.
.
Ikuti terus kelanjutan kisah Eve😘