Narko tak mengira jika kebahagiaan keluarganya di raih dengan cara yang tidak wajar, ia baru sadar setelah satu persatu saudaranya meninggal sebagai wadal pesugihan sang ayah. Apakah dia bisa melepaskan diri sebagai wadal berikutnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wadal ke 3 (REVISI)
*Prannnggg!!
Tidak lama terdengar suara benda jatuh dari lantai dua.
"Rere???"
Reflek aku langsung berlari meninggalkan meja makan membuat semua orang langsung berteriak memanggil ku.
"Narto, ngapain kamu Nang!"
Suara ibu berteriak begitu keras.
"Mas Narto!!"
Anggi berteriak tak kalah lantangnya dengan Ibu. Keduanya langsung berlari mengejarku.
Aku tak menghiraukan semua panggilan itu, yang terpenting sekarang adalah Rere. Ya...aku harus menyelamatkannya. Aku tidak mau ia bernasib sama seperti adik-adikku yang lain.
Aku terus berlari menaiki tangga menuju lantai dua. Aku tak menghiraukan rasa ngilu di kakiku.
"Rere!" seruku setibanya di depan kamar Rere
Tak ada jawaban, semuanya tampak hening hingga membuat ku semakin khawatir.
"Rere buka pintunya dek!"
Karena tak ada jawaban akupun berinisiatif untuk mendobrak pintu tersebut.
*Brakkk!!
"Rere!"
Ku edarkan pandangan ku mencari keberadaan Rere. Namun aku tak melihatnya terbaring di lantai seperti yang di alami dewi dan Zidni.
Aku begitu lega saat melihat ia terbaring meringkuk di ranjangnya.
"Syukurlah kamu baik-baik saja," ucapku lega
Aku berjalan menghampirinya, untuk memakaikan selimut. Aku yakin dia pasti kedinginan, apalagi ia menyalakan pendingin ruangan.
"Selamat malam dek," ku usap kepalanya sebelum pergi meninggalkannya.
Setelah memastikan tak terjadi apapun dengan Rere akupun segera meninggalkan tempat itu.
Namun betapa terkejutnya aku saat melangkah di bibir pintu. Aku melihat Rere hendak memasuki kamar.
"Ada apa Mas mencari ku?" tanyanya membuatku terkesiap
"Rere, darimana kamu??" tanyaku penasaran
"Dari toilet!" jawabnya sambil menunjuk kearah toilet di ujung ruangan.
Buru-buru aku menoleh kearah ranjang, dan sosok gadis kecil yang menyerupai Rere pun sudah menghilang.
Tidak lama Ibu dan Anggi menghampiri ku dengan nafas tersengal-sengal.
"Ada apa toh Nang, sampai lari-lari segala. Kakimu gak papa toh?" tanya Ibu dengan wajah khawatir
"Gak papa bu, aku hanya ingin memastikan keadaan Rere," sahutku
"Ya ampun Nang, kamu ini masih sakit jadi jangan mengkhawatirkan orang lain. Khawatir kan diri kamu sendiri!" sahut ibu dengan nada kesal
"Iya mas, kalau ada apa-apa kan kita yang repot!" imbuh Anggi
"Maaf Bu, Narto hanya panik tadi,"
"Yowes kalau gitu sekarang kamu mending istirahat, besok kita ke tukang urut untuk memeriksa kakimu," ucap Ibu
Sepertinya benar yang dikatakan oleh Anggi dan Ibu, jangan pernah mengkhawatirkan orang lain, khawatirkan saja diri sendiri.
Saat hendak menuruni tangga aku baru merasakan kakiku begitu sakit hingga aku kesulitan untuk mengontrol keseimbangan tubuh, dan akhir akupun terjatuh dari tangga.
*Bruughhh!!
Hanya suara teriakan ibu dan Anggi yang aku dengar, setelah itu semuanya menjadi gelap.
Saat aku sadar, aku sudah berada di sebuah ruangan perawatan.
"Alhamdulillah kamu udah sadar Nang,"
Seorang wanita tua berjalan mendekatiku. Ia duduk di samping ku kemudian memeriksa kakiku yang sudah di pasang gift.
"Masih ngilu gak?" tanyanya
Aku menggeleng.
"Untuk sementara kamu belum boleh jalan dulu ya, nanti kalau gift nya udah di buka aku urut sekali lagi biar bisa sembuh total,"
Aku hanya mengangguk pelan. Tidak lama ibu datang dengan membawa rantang nasi.
"Anggi gak ikut Bu?" tanyaku
"Gak, sekarang dia sibuk ngurusin toko kelontongnya," jawab ibu
"Dia sudah kembali ke rumah suaminya?"
"Iya, makannya Arya sengaja buka toko buat dia biar Anggi gak jenuh di rumah sendirian,"
"Syukurlah,"
Aku sangat senang saat tahu kehidupan Anggi sudah membaik. Bahkan selama aku di rawat di sini tak ada kejadian aneh yang terjadi di rumah. Alhamdulillah kedua adikku baik-baik saja, membuat aku semakin lega.
Selama menjalani perawatan kaki ku lihat ibu lebih sering menemaniku di sini. Padahal aku tahu dia punya banyak sekali pekerjaan di rumah ataupun membantu bapak.
Selama satu minggu di sini, akhirnya akupun di perbolehkan pulang.
Aku merasa senang karena kakiku bisa berjalan normal lagi.
Saat tiba di rumah, aku langsung disambut oleh kedua adikku. Keduanya memeluk ku erat hingga membuatku bertanya-tanya, ada apa ini??.
"Kenapa sih kok meluknya erat banget, biasanya juga mas pergi bertahun-tahun kalian biasa aja?" godaku saat mereka melepaskan pelukannya
"Karena kita gak akan ketemu Mas lagi," jawab keduanya bersamaan
"Kenapa, kan mas masih di sini. Mas gak kemana-mana kok,"
Kedua adikku saling berpandangan. Aku melihat ada kesedihan di mata mereka.
"Tenang saja, Mas gak akan kerja jauh lagi. Sekarang mas cuma ingin berkerja di daerah sini saja, supaya mas bisa ketemu kalian tiap hari," jawabku yang langsung disambut sorak bahagia dari keduanya
"Yeay!!"
"Sudah, sudah, sekarang biarkan masnya istirahat dulu," ucap Ibu
Keduanya langsung membawakan tas milikku ke kamar.
Sepertinya Ibu selalu membersihkan kamarku selama aku di rawat, hingga kamarku terlihat begitu bersih dan wangi.
Namun ada yang aneh, bila sebelumnya di kamarku tergantung lukisan wanita berkebaya hijau, kini lukisan itu sudah tidak ada lagi.
Aku sempat mencarinya namun aku tidak menemukannya dimana-mana.
Aku bahkan sudah menanyakan kepada ibu dimana keberadaan lukisan itu, namun ibu bilang ia tidak tahu dan tidak pernah memindahkan lukisan itu dari kamar ku.
"Coba tanya Anggi, selama ini dia yang selalu membersihkan kamarmu," ucap ibu
Aku buru-buru menelpon Anggi untuk menanyakan tentang lukisan itu padanya, sama seperti ibu, Anggi juga biang jika ia tak pernah menyentuh lukisan itu apalagi membuangnya.
"Sudahlah, mungkin memang sebaiknya lukisan itu tidak ada di sini, toh aku juga suka ketakutan saat melihatnya," ucapku kemudian membaringkan tubuhku ke kasur
Rasanya nyaman sekali bisa tidur di ranjang ku lagi.
Entah berapa lama aku tertidur, hingga suara berisik di kamar sebelah membuat ku terbangun.
"Berisik sekali, padahal sudah larut malam?"
Ku lirik jam di dinding menunjukan pukul sebelas malam. Aku berusaha untuk melanjutkan tidurku namun suara berisik itu begitu mengganggu hingga aku kesulitan untuk tidur.
Karena penasaran akupun keluar untuk melihat siapa yang membuat gaduh malam-malam begini.
Sepertinya suara gaduh itu berasal dari kamar misterius itu. Karena saat melintas di depannya, aku mendengar suara riuh seperti orang sedang memecahkan perkakas.
*Pranng!!
*Pranngg!!
Ku lihat pintu kamar itu sedikit terbuka, sehingga aku merasa ada seseorang di dalam.
"Siapa yang ada di dalam??"
Karena penasaran, aku pun melangkah perlahan mendekati daun pintu.
*Krieett!!
Ku buka perlahan pintu kamar itu untuk melihat siapa yang ada di dalam.
Ku lihat seorang wanita sedang memecahkan satu persatu gerabah yang ada di dalam lemari.
Aku terus melangkah mendekati wanita itu.
"Ibu, apa yang sedang ibu lakukan di sini??"
ang sekaya apa tumbalnya koq begitu sering,udah kayak orang nyemil/ makan cemilan aja