cerita yang mengisahkan tentang suami yang harus bersandiwara dan berakting demi menjalankan sebuah misi. sehingga menimbulkan kesalahpahaman, antara dirinya dan sang istri.
lalu apa yang terjadi dengan mereka?mampukah mereka mempertahankan rumah tangganya ditengah belenggu masalalunya yang datang tanpa diundang, dan tanpa bisa dihindarinya?
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
penasaran???
mari kita ikuti kisahnya yuk...cekidot
Tolong baca per bab ya guys,
jangan lompat bab
karena dukungan kalian sangat berarti buat author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙼𝚎𝚗𝚝𝚊𝚛𝚒𝚂𝚎𝚗𝚓𝚊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Melibatkan Rissa
Selamat membaca⬇️
***
Andre dan Ringgo masih berdiri mematung, di depan pintu kamar. Meraka melayangkan protesnya. Manakala menyaksikan sahabatnya, berbuat sesuatu yang membuat mata mereka ternoda.
"Woi..woi... woi...sabar Bro. Ada kita di sini nih. Gue ngerti kalian sudah lama berpuasa. Tapi ada hal yang lebih penting dari itu" ucap Ringgo.
Rissa segera melepaskan diri dari dekapan Barra, begitu mendapat teguran dari sahabatnya.
"Apa sih ganggu orang aja. Tidak bisa lihat orang lagi senang apa? Lagian ngapain sih pagi-pagi sudah ke sini?" Barra mendengus kesal. Dia jadi tidak bisa leluasa melampiaskan kerinduan, yang telah lama dipendamnya.
"Eh, gue ke sini juga bini loe kali yang nyuruh," sanggah Andre.
"Emang bener, Sayang?" tanya Barra pada sang istri.
"Iya Mas. Soalnya aku panik. Mau bawa ke rumah sakit, tapi aku gak kuat bawa kamu ke mobil. Ya udah akhirnya nelpon si Andre, minta dia panggil dokter ke sini." ungkap Rissa. Sedang Barra, pria itu mengangguk.
"Bagaimana keadaanmu, Mas? Apa yang kamu rasakan, kenapa bisa pingsan?" cecar Rissa sembari menempelkan punggung tangannya pada kening. Lalu menangkup kembali wajah suaminya.
"Aku hanya merasa lemas dan gemetaran. Kemaren aku ketiduran di makam ayah dan ibu. Ditambah lagi seharian kemaren aku gak sempat makan. Mungkin itu yang membuat aku sampai pingsan." ungkap Barra
"Trus sekarang, apa sudah merasa lebih baik?" tanya Rissa khawatir.
"Tidak apa-apa. Tapi tadi aku sudah makan bubur disuapi sama Vino. Sekarang aku sudah merasa sehat kembali." ungkap Barra sembari tersenyum. Hatinya menghangat, melihat sang istri masih perhatian padanya.
"Syukurlah kalau begitu. Ya udah, kamu mandi ya. Aku siapin dulu airnya," ucap Rissa.
"Iya sayang, makasih ya," jawab Barra lalu mencuri kecupan di bibir sang istri. Rissa yang tak menduga mendapat serangan seperti itu sontak terkejut. Wajahnya bersemu merah karena malu. Lalu dengan segera dirinya bergegas ke kamar mandi.
"Terus Bar, terus. Mentang mentang sudah berbaikan, gas pol aja terus!" sindir Andre.
"Ups sorry, sengaja." Barra berkelakar.
"Emang loe ya Bar, sahabat nggak ada akhlaq loe. Nggak menghargai kita yang jomblo ini," sahut Andre
"Kita...? Loe aja kali " Ringgo tidak terima. Pasalnya dia sudah memiliki kekasih.
"Lagian kenapa loe tidak jadian aja sama Jena sih Ndre? Aku rasa kalian cocok," cetus Barra
Rissa yang baru keluar dari kamar mandi pun, ikut menyambung ucapan suaminya.
"Iya. Coba aja buka hati loe buat Jena, Ndre. Kalian udah lama saling mengenal satu sama lain. Siapa tahu jodoh." sambung Rissa.
"Gue sama Jenayra? Yang bener aja. Nggak deh terimakasih. Mending cari yang lain." ujar Andre ketus.
"Heleh, lagak loe. Yang jelas bukan loe yang nggak mau sama dia. Tapi Jena yang ogah sama loe," ejek Rissa.
"Sudah sudah. Berdebat melulu tidak ada habisnya. Kita masih ada urusan yang lebih penting. Daripada mengurus jodoh yang masih belum jelas hilalnya." Ringgo berkomentar.
"Airnya sudah siap, Mas. Mandi dulu gih," ujar Rissa mengalihkan pembicaraan. Lantas mengambil pakaian ganti untuk Barra suaminya
"Ya udah gue mandi dulu bentar. Kalian tunggu di bawah," ucap Barra. Lalu turun dari tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi.
"Oke, kita tunggu loe di bawahi. Jangan lama lama mandinya. Gue masih banyak urusan," titah Ringgo. Dia melangkahkan kakinya meninggalkan kamar pasutri itu menuju lantai bawah. Andre mengekor di belakangnya.
"Ris, loe nggak mau bikin minum atau sarapan gitu, buat kita?" celetuk Andre.
"Bilang aja loe laper," tukas Ringgo.
"Eh Go, ya jelaslah gue laper. Pagi subuh gue udah diteleponin orang. Suruh cepat-cepat datang ke rumahnya. Mana sempat sarapan," ketus Andre.
"Iya iya, gue bikinin minum dulu. Tapi sarapannya nanti. Gue kan harus masak dulu," sahut Rissa
"Ya udah gak pake lama!" titah Andre
"Ye, emang loe siapa. Rumah-rumah gue. Sok ngatur loe," kesal Rissa.
"Yaelah, gitu aja ngambek. Gue heran deh sama Barra. Kok bisa ya dia tahan sama loe Ris?" Pertanyaan bernada ejekan itu Andre lontarkan. Sehingga membuat wanita satu-satunya di rumah itu meradang
"Maksud loe apa nih. Ngajak ribut loe ya? Gue itu masih kesal ya sama loe! Sini, kembalikan duit gue. Sebagai teman yang baik, harusnya loe itu menengahi. Bukannya malah menyiram api dengan bensin!" ketus Rissa. Lalu beranjak ke dapur untuk membuat minuman. Tidak mau berlama-lama dengan mereka yang kadang otaknya rada-rada konslet.
"Eh, maksud loe apa Ris. Gue nggak paham nih!" seru Andre ketika dilihatnya Rissa telah menjauh.
Barra datang bergabung sesaat kemudian. Dirinya tampak lebih segar setelah mandi. "Ada hal penting apa yang mau kalian bicarakan?" tanya Barra lalu mendudukkan dirinya di sebelah Ringgo.
"Lebih baik jangan di sini deh Bar, ngobrolnya. Biar lebih leluasa." ucap Ringgo.
"Oh ya udah. Keruang kerja gue aja," sahut Barra. Namun dirinya sendiri tidak langsung menuju ruang kerjanya. Melainkan ke dapur menjumpai sang istri. Sementara Andre dan Ringgo langsung ke sana.
"Sayang, apa minumannya sudah siap?" tanya Barra yang langsung memeluk sang istri dari belakang.
"Dikit lagi, Mas. Belum mendidih airnya," sahut Rissa.
"Sayang, maafin aku ya. Sudah banyak ngecewain kamu. Sungguh aku mohon, jangan lanjutin gugatannya ya. Aku gak mau berpisah denganmu. Hanya kamu dan Vino yang aku punya di dunia ini. Entah apa jadinya nanti, jika aku tanpa kamu," ucap Barra seraya mengeratkan pelukannya.
"Astaga... Malah pacaran. Lagian masih banyak lah waktu buat kalian Bar. Nanti juga bisa kan?" ujar Ringgo ketus. Entah dari kapan dia sudah berada di dapur.
Dirinya kesal minuman yang ditunggunya belum juga datang. Makanya dia memutuskan untuk menyusul. Tapi dia malah menyaksikan kedua sahabatnya, tengah asyik berpelukan.
"Sorry Go, gue juga punya urusan sendiri," sanggah Barra.
"Tapi kan itu bisa nanti Bar. Kali ini urusan kita jauh lebih penting," protes Ringgo.
Sedangkan Rissa segera membuatkan kopi untuk kedua sahabatnya, dan teh manis untuk suaminya.
"Bikin gini aja lama bener." Ringgo menggerutu.
Barra memilih diam dan berlalu dari dapur. Tangannya memegang minuman untuk dirinya sendiri. sementara Ringgo kedua tangannya membawa minuman untuknya dan Andre.
Di dalam ruangan Andre tampak sibuk dengan laptopnya. Tangan kanannya memegang mouse dan mengarah ke sana kemari dengan lincah.
"Ada hal penting apa, cepat katakan!" desak Barra.
"Tuan Kuncoro, ayah Anita mencoba bunuh diri. Sekarang dirawat di rumah sakit. Gue yakin ini adalah cara untuk mengalihkan isu. Kemaren kita sudah menemukan titik keberadaan Riko suami Anita. Dan tim kita di sana sudah melakukan pengintaian. Nah sekarang kita rubah rencana. Kita akan melibatkan Rissa dalam misi kali ini, untuk mendampingi Anita. Aku yakin Rissa bisa menjalankan tugasnya dengan baik," terang Andre
"No, tidak bisa. Gue baru aaja berbaikan sama dia. Loe sudah menyuruh gue bertaruh dengan masalah. Melibatkan Rissa lagi, gue nggak mau," ucap Barra menyela perkataan Andre.
"Gue berharap setelah bangun dari pingsan, loe tidak berubah jadi lelaki pengecut. Yang meninggalkan pekerjaan begitu saja. Sedikit lagi Bar. Ini masalahnya rumit. Karena sebenarnya skandal ini melibatkan banyak orang. Loe pasti tida lupa itu kan? Jadi kumohon tuntaskan dulu pekerjaanmu. Masih banyak PR kita. Gue mohon loe ngerti." Ringgo berkata dengan serius.
"Gue rasa Rissa mau. Karena gue yakin, dia tidak akan membiarkan loe, kembali mendekat pada Anita. Dengan Rissa yang ambil alih tugas ini, loe bisa fokus pada bagian loe," jelas Andre
"Apa nih kok nama gue di sebut?" tanya Rissa yang tiba-tiba nongol dari balik pintu.
"Sayang, kita lagi membahas rencana untuk melibatkan kamu dalam misi kali ini. Dan tugas kamu adalah menggantikan aku mendekati Anita. Apa kamu bersedia?" tanya Barra
Rissa terdiam seketika. Keheningan terjadi di dalam ruangan tersebut. Dan semua mata tertuju padanya.
Apakah Rissa akan setuju atau tidak ya???
Ikuti terus ya...stay tune
...----------------...
Tolong dibaca per bab ya guys, jangan sampai lompat bab.
Hargailah author yang sudah berfikir keras untuk merangkai kata agar menjadi kalimat yang enak dibaca.
Jika suka dengan cerita ini jangan lupa...
Like
Komentar
Vote
Terimakasih atas dukungannya
🙏🙏🙏😍😍😍