#ENEMYTOLOVERS
Xander Thompsom menderita mysophobia, ketakutan berlebih dan tidak masuk akal terhadap sesuatu yang tampak kotor, kontaminasi kuman, atau virus. Tapi, apa jadinya jika dia di jodohkan dengan seorang wanita bar-bar, dan jorok?
"Menjauh dariku, Kuman!" usir Xander seraya mengibaskan tangannya, lalu menyemprot sekelilingnya dengan cairan desinfektan yang selalu dia bawa di kantong jasnya.
"Cih!! Sok bersih! Makan nih upil!" balas Jeje sangat kesal seraya mengorek hidungnya dengan ujung jari telunjuk dan mengusapkan jarinya itu ke jas pria tersebut.
Bagaikan air dan minyak seperti itulah rumah tangga mereka, tidak pernah akur dan tidak pernah bisa menyatu.
Seperti apa keseruan mereka? Simak terus kelanjutannya!
FOLLOW IG @thalindalena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Airin pada akhirnya memberikan kesempatan pada Jeje untuk menebus kesalahannya pada Xander-putranya. Lalu dia memutuskan pulang ke rumah, begitu pula dengan Ningrum. Mereka akan kembali ke rumah sakit besok pagi.
Hampir tengah malam Airin baru sampai rumahnya.
"Mama dari mana?" Suara Daisy menyambut kedatangan Airin yang baru memasuki rumah.
Daisy duduk di sofa ruang tamu, menatap ibunya dengan penuh selidik.
Airin menutup pintu terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan putrinya.
"Belum tidur?" Airin bertanya balik.
"Mama jawab dulu pertanyaanku. Mama dari mana?" Daisy berkata kesal pada ibunya dengan nada naik satu oktaf. "Ini hampir tengah malam, kenapa Mama baru pulang? Aku sangat mencemaskan Mama," lanjut Daisy menurunkan nada bicaranya, kemudian beranjak berdiri menatap ibunya yang masih berdiri tidak jauh dari pintu.
"Adikmu masuk rumah sakit. Maaf, tadi Mama nggak ngabari kamu," jawab Airin.
Daisy tersenyum getir saat mendengar jawaban ibunya. "Seharusnya Mama nggak usah capek-capek ngurus anak itu. Dia adalah anak dari wanita gundik itu, pembawa sial, dan selalu bikin susah. Biarkan aja dia mati, bukankah itu lebih bagus!" ucap Daisy sangat kejam dan pedas. Emosinya sampai puncak jika membahas tentang Xander, di tambah lagi api cemburu terus berkobar di dalam dada seolah tidak terima kalau ibunya lebih perhatian pada Xander ketimbang dirinya.
"Daisy jaga ucapanmu!" Airin sangat marah mendengar ucapan putrinya yang sama sekali tidak beradap. "Bagaimanapun juga Xander adalah adikmu, adik kandung kamu, karena kalian satu ayah!" lanjut Airin berusaha meredam emosinya, dan mencoba sabar menghadapi putrinya yang kelewat keterlaluan.
"Sampai aku matipun aku nggak akan pernah menganggapnya adik, karena dia terlahir dari wanita simpanan Papa!" sentak Daisy menatap marah pada ibunya. "Kenapa sih, Mama nggak pernah mikirin perasaanku? Mama malah lebih mentingin Xander!" lanjut Daisy dengan suara terisak. Air matanya sudah tidak terbendung lagi.
Pertengkaran di ruang tamu itu membangunkan para pelayan di rumah tersebut. Namun para pelayan lebih memilih diam dan tidak ada yang berani melerai. Ketegangan di ruang tamu itu semakin menjadi ketika Airin mengungkapkan sebuah kalimat yang begitu menusuk hati Daisy.
"Karena Xander lebih menghargai, menyayangi, mengasihi Mama ketimbang kamu, Daisy. Apakah kamu pernah melihat Xander membentak Mama seperti yang kamu lakukan saat ini? Apakah Xander pernah marah di saat kamu terus membencinya dan mencaci makinya?" ucapan Airin begitu menohok hati Daisy sampai ke bagian yang paling dalam. Airin sudah tidak tahan lagi dengan segala sikap putrinya. Dia rasanya sudah ingin menyerah mendidik putrinya agar mau akur dengan Xander.
"Karena dia adalah seorang penjilat, tidak sebaik yang Mama kira!" ucap Daisy menahan rasa sakit hati yang tiada terkira.
"Dan satu hal lagi yang perlu kamu tahu Daisy. Xander tidak pernah berburuk sangka sepertimu!"
"Berhentilah menyanjungnya, Ma. Suatu saat Mama akan tahu sifat aslinya, kalau dia nggak sebaik yang Mama kira!" sahut Daisy penuh penekanan. Daisy berlalu dari sana, meninggalkan ibunya yang masih mematung di tempat. Daisy merasa paling tersakiti dan merasa paling benar, dia tidak akan pernah membiarkan Xander merebut ibunya. Dia juga tidak akan pernah membiarkan Xander si sampah itu tetap berada di rumahnya. Bagaimana pun pria itu harus pergi dari rumah ini!
mumpung lagi priode gak puasa. 🤭✌🙏