Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: DMAM
"Apakah aku cukup berwudu saja untuk salat, ataukah aku harus mandi wajib?"
Aisyah tidak yakin apakah semalam mereka hanya berciuman atau telah berhubungan badan. Namun, demi membilas sisa keraguan, rasa bersalah, serta ingatan ciuman semalam agar suci di hadapan Sang Pencipta, Aisyah akhirnya memutuskan untuk tetap mandi.
Dinginnya air sumur di balik bilik kamar mandi kayu itu perlahan meluruhkan sisa-sisa rasa kantuk dan lengket di kulit Aisyah. Setiap tetesan air yang membasahi wajah, tangan, hingga tubuhnya terasa bagaikan jarum-jarum es yang menembus pori-pori.
Di dalam keheningan ruang bersuci yang sempit itu, Aisyah menunduk dalam-dalam. Tangannya yang gemetar mengusap bekas usapan air wudu, sementara air matanya mengalir tanpa suara, dan menyatu dengan kucuran air kran yang terus mengalir.
Sedangkan di luar rumah, gema iqamah dari masjid kampung terdengar mulai berkumandang, yang menandakan salat Subuh berjemaah telah dimulai.
Setelah selesai bersuci, Aisyah mengambil mukena putih bersih yang tergantung di balik pintu kamarnya. Dengan gerakan pelan, ia membalut tubuhnya dengan kain putih tersebut.
Di atas sejadah kain yang tergelar di sudut kamarnya yang sempit, Aisyah mendirikan salat. Setiap gerakan dari takbiratulihram hingga sujud terakhir, ia lakukan dengan kekhusyukan, seolah-olah itu adalah satu-satunya benteng pertahanan yang tersisa dari badai fitnah yang siap melumatnya.
Dalam sujud yang panjang, dadanya berguncang menahan isak. "Ya Allah... Engkau Maha Mengetahui apa yang tidak diketahui oleh hamba-Mu. Jika ini adalah ujian atas kehormatanku, kuatkanlah hamba... Lindungilah hamba dari prasangka dan kebencian manusia..." bisiknya dalam hati, meresapi setiap detik ketenangan di tengah riuhnya ancaman di luar.
Sementara itu, di ruang tengah rumah kayu yang sempit, suasana tak kalah tegang. Pak RT dan para pengurus lingkungan yang baru saja kembali dari masjid melangkah masuk dengan raut wajah serba salah.
Bu Rosma duduk di kursi kayu berkaki tiga dengan tangan yang terlipat di dada. Wajahnya yang biasa berhias senyum meremehkan kini penuh dengan kilatan kekesalan dan kecemasan yang ditutupi bedak tebal yang mulai luntur oleh air wudu dan keringat.
Sedangkan di sampingnya, Dimas meringkuk di kursi kayu lainnya. Pria muda yang biasa tampil necis dengan pakaian bermerek itu kini tampak mengenaskan.
Kemeja mewahnya robek di bagian lengan, dan menampakkan guratan merah bekas sisa pertarungan semalam. Pipi kirinya kebiruan, dan matanya memerah karena kurang tidur.
Setiap kali mendengar desakan atau bisikan dari luar rumah, tubuh Dimas akan tersentak kecil, yang menunjukkan dengan jelas betapa rapuh mentalnya tanpa perlindungan penuh dari sang mami.
"Mami..." bisik Dimas lirih, bagai anak kecil yang ketakutan di kegelapan. "Orang-orang di luar makin banyak, Mi. Gimana kalau mereka lapor polisi? Gimana kalau Dimas dimasukkan ke penjara, Mi? Dimas gak mau, Mi..."
Rosma menoleh cepat dan menatap putranya dengan tatapan tajam berkilat-kilat. "Diam kamu, Dimas! Jangan bikin Mami makin pusing! Kamu itu anak Mami, tidak ada yang berani menyentuh kamu! Mami sudah suruh pengacara keluarga jalan ke sini. Begitu mereka sampai, orang-orang kampung ini tidak akan bisa berkutik!"
Namun, meski ucapan Rosma terdengar garang, jari-jarinya yang sarat dengan cincin permata besar memilin ujung selendangnya dengan amat kencang.
Ia tau betul, hukum adat dan amarah warga kampung yang terkumpul subuh ini tidak bisa begitu saja dibungkam hanya dengan ancaman pengacara dari kota.
Beberapa saat kemudian hari mulai terang. Di luar pekarangan tanah yang bersahaja itu kini sudah dipadati oleh belasan hingga puluhan warga kampung. Mulai dari pemuda ronda, ibu-ibu penyapu jalanan, hingga bapak-bapak yang baru pulang dari masjid, semua berkumpul membentuk lingkaran rapat.
Bisik-bisik kasak-kusuk pun saling bertautan, hingga menciptakan kegaduhan rendah yang menekan napas.
"Ayo keluar! Jangan sembunyi terus di dalam!" teriak salah seorang pemuda kampung dengan nada sengit sambil mengetuk tiang teras rumah.
Pak RT yang pertama kali melangkah keluar pintu depan, diikuti oleh Bu Rosma yang berjalan angkuh, Dimas yang melangkah ragu sambil berlindung di balik punggung ibunya, dan Aisyah yang berjalan paling belakang dengan balutan mukena putih yang masih melingkupi tubuhnya.
Wajah Aisyah tertunduk kaku, matanya yang sembap menatap lurus ke tanah becek sisa hujan semalam.
Saat Aisyah dan Dimas menginjakkan kaki di teras luar, riuh sorakan dan makian langsung meledak dari kerumunan warga.
"Tuh lihat! Sok suci banget pake mukena, padahal semalaman berduaan sama laki-laki!" cetus seorang ibu berkain sarung dengan nada mencibir tajam.
"Neng Aisyah, kami semua hormat sama kamu karena kamu guru di sini! Tapi kalau kelakuan kamu begini di belakang warga, kamu sudah mencoreng nama baik kampung kita!" timpal seorang bapak-bapak setengah baya sambil menunjuk-nunjuk Aisyah.
Mendengar penghakiman tersebut, Aisyah makin menundukkan kepalanya. Setiap kata mencibir bagaikan sembilu yang menyayat perasaannya.
"Astaghfirullah..." Ia memegang erat lipatan mukenanya di dada, dan mencoba menahan gemetar di lututnya agar tidak roboh di tanah.
Pak RT lantas mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara, dan berusaha meredakan ketegangan yang kian memuncak.
"Harap tenang semuanya! Tenang dulu! Kita di sini berkumpul untuk mencari kebenaran, bukan untuk main hakim sendiri!" seru Pak RT dengan suara lantang yang membelah kegaduhan.
Pak RT lalu berpaling menatap Aisyah dan Dimas secara bergantian. "Neng Aisyah, Mas Dimas... Matahari sudah terbit. Sekarang tolong jelaskan dengan sejujur-jujurnya di depan warga. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah ini sejak semalam sampai subuh tadi? Kenapa Mas Dimas bisa ada di dalam kamar Neng Aisyah berdua saja?"
Aisyah menarik napas panjang. Tenggorokannya terasa tersumbat, dan lidahnya terlalu kelu untuk merangkai kata. Rasa pusing di kepalanya masih tersisa, dan ingatan akan sentuhan serta jarak wajah Dimas semalam membakar rasa malunya hingga ke batas maksimal.
"Saya... saya tidak ingat sepenuhnya, Pak RT..." jawab Aisyah dengan suara yang amat pelan namun bisa terdengar. "Semalam saya... saya mendadak pusing dan lemas setelah minum. Lalu... saya tidak sadar lagi apa yang terjadi..."
"Bohong!" potong seorang warga dari sudut kanan dengan nada memprovokasi. "Mana ada orang pusing sampai tidak tau kalau ada laki-laki menginap di kamarnya?! Alasan klasik itu!"
"Betul! Kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa baju Mas Dimas sampai robek-robek begitu?! Kenapa ada bekas darah dan pecahan gelas di dalam?!" seru pemuda kampung lainnya.
"Diam kalian!."
Bersambung...