Aku tersadar di sebuah ruangan serba putih dengan bau obat-obatan yang menusuk hidung.
"Aaarrgghhh, di mana ini?" rasa pening kembali melanda hingga membuatku tak berani membuka mata lagi.
Sekilas aku teringat akan pertengkaran dengan tunanganku sebelumnya yang membuatku kehilangan fokus saat berkendara, hingga terjadilah kecelakaan itu.
Tanganku reflek memijat kening.
"Hei, mommy sudah sadar," suara gadis kecil memaksaku untuk membuka mata.
Pandangan yang awalnya kabur lama-lama menjadi terang, hingga nampak jelas di depan mataku kedua bocah tampan dan cantik nan polos sedang menatapku.
"Hai mommy," sapa keduanya.
"Mommy?"
Beberapa waktu mengenal keluarga ini, tak disangka ternyata aku melihat wajah yang sangat mirip denganku.
Hingga dirinya berani mengajakku bertukar peran, yang membawaku terlibat semakin dalam.
Bisa kah aku lepas dan menjauh? Atau malah jatuh semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatah
Saat memasuki rumah, dengan santainya Maxime mengecup pipi mulus tanpa make up yang tersaji tepat di depan mata.
'Rasanya ingin pingsan saja deh,'
'Apa ini nyata?' Kirana bengong.
Kirana tersadar saat Cantika tepuk tangan menyambut Kirana dan Maxime.
Pandangan yang sangat langka menurut gadis kecil itu.
"Kamu cantik," puji Maxime sambil berbisik tepat di belakang telinga Kirana.
'Ingat dosa Kirana. Pria ini bukan apa-apa kamu,' bisik hati Kirana
Kirana berusaha turun dari gendongan tapi lengan kokoh Maxime terlalu kuat menahan tubuh Kirana.
"Malu sama Cantika," hanya kata itu yang keluar dari bibir nan ranum itu.
Maxime menurunkan Kirana tepat di depan sang putri.
"Mom, anterin ke kamar," putri kecil Maxime itu terus saja merajuk.
"Huh, manja," olok Kenzo yang barusan masuk.
"Biarin," tukas Cantika seraya menjulurkan lidah.
"Yuk mommy," Cantika menggandeng tangan Kirana.
Kirana tentu saja bingung di mana kamar Cantika.
Lapangan bola aja masih kalah luas dengan rumah ini. Batin Kirana.
"Jangan bilang mommy lupa kamarnya Cantika?" seru Kenzo.
Kirana dibuat garuk kepala.
"Emang nggak tahu," gumam Kirana.
"Makanya mom, jangan pergi mulu. Tuh anak manja mommy minta diperhatiin," oceh Kenzo.
"Kakak bilang apa sih ke mommy," bela Cantika.
"Ayo mom," Cantika menarik lengan Kirana agar mengikuti langkah kaki nya.
Kirana dibuat takjub dengan kamar gadis kecil itu.
Suasana film 'Frozen' tercipta di sana.
Meski telah dewasa, Kirana sangatlah menyukai film itu.
"Kamu suka frozen?" tanya Kirana.
Cantika menoleh dan menatap Kirana.
"Kan mommy yang milih semuanya. Apapun yang dipilih mommy, Cantika pasti suka," ucap bibir mungil Cantika.
'Mommy nya yang milihin?' pikir Kirana.
"Sayang... Sayang... Ke sini bentar" panggil Maxime dari luar kamar.
"Apaan sih Dad? Mommy baru bentar nih di kamar Cantika," ujar Cantika sewot, merasa terganggu akan kehadiran Daddy nya.
"Daddy mau pergi nih," kepala Maxime nongol dari balik pintu.
"Ya udah. Kan tinggal pergi aja. Repot banget deh Daddy," gadis kecil itu terus saja sewot.
"Ih tambah cantik aja nih anak gadis Daddy," goda Maxime sambil menoel pipi halus Cantika.
"Sayang, aku ada rapat di luar kota. Besok baru balik. Bisa minta tolong siapin baju aku," kata Maxime ke arah Kirana.
'Mati gue. Mana gue paham bos,' Kirana geleng kepala.
Belum sempat menolak, tangannya sudah ditarik aja oleh manusia tampan di depannya.
"Bye sayang. Pinjem Mommy bentar yaaaaa," seru Maxime untuk menggoda putrinya.
"Issshhh Daddy. Menyebalkan," kata Cantika seraya menghentakkan kaki. Tapi dalam hatinya, Cantika merasa senang. Mommy sudah balik ke rumah dan mau menemaninya.
Kirana melangkah mengikuti langkah Maxime.
"Jangan pergi selama aku tak di rumah. Paling cepat besok siang aku sudah balik. Ada rapat anak cabang yang musti aku hadir di sana," kata Maxime memberitahu.
'Ngapain kasih tahu ke gue? Gue juga mau pergi setelah ini,' niat Kirana dalam hati.
"Aduh," keluh Kirana saat jari Maxime menyentil keningnya.
"Gue berasa ngomong sama angin sedari tadi," ujar Maxime.
"He...he....," Kirana tersenyum simpul.
Sebuah kamar yang lebih luas dan mewah tersaji di depan pelupuk mata Kirana.
'Ini kamar apa lapangan basket? Luas banget? Komplek kos-kosan gue aja kalah luas,' gumam Kirana dalam hati.
"Kamu ini kenapa sih? Kayak baru pertama aja masuk kamar kita," kata Maxime merasa aneh.
Emang baru pertama bos.
"Jangan bilang kamu juga lupa tempatnya wardrobe?" dan Kirana mengangguk membuat Maxime gemas dan kembali menggendong Kirana.
'Kenapa nih orang? Suka banget gendong gue,' batin Kirana.
Jelas aja Kirana, Maxime mengira lo tuh istrinya.
Kirana meronta membuat Maxime kaget. Dan mereka berdua pun terjatuh dengan Kirana berada di atas tubuh Maxime.
Ih, adegan film India aja kalah loh...he...he...
"Tuan, maaf. Ada yang musti aku lurusin di sini," kata Kirana mau jujur dengan dirinya.
Dia sudah tak tahan dengan perlakuan keluarga ini, yang menganggapnya sebagai istri dan mommy.
"Tuan... Tuan... Sekali lagi kamu panggil aku tuan, aku tak segan untuk meminta jatah yang selama ini kamu lupakan," balas Maxime.
"Jatah?" Kirana membego.
"Hhhmmm, betul," balas Maxime.
"Jatah apa?" tukas Kirana semakin tak paham.
"Omong-omong, lama juga loh kita tak melakukan hubungan suami istri. Gimana kalau sekarang? Anggap aja sebagai bekal aku keluar kota," Maxime memeluk tubuh Kirana.
'Walah-walah, apalagi ini?,' Kirana meronta untuk menolak.
"Come on sayang," Maxime semakin gemas karena penolakan Kirana.
Ciuman bertubi-tubi mendarat di pipi Kirana. Bahkan dengan berani Maxime melumat bibir Kirana, hingga Kirana kehabisan nafas.
Maxime merasa aneh atas reaksi Kirana.
Kirana sekuat tenaga meronta untuk membebaskan diri dari dekapan Maxime.
"Tuan, apa yang anda lakukan?" ulas Kirana.
Dahi Maxime berkerut dan merasa semakin aneh atas reaksi sang istri.
"Tuan...," Kirana hendak jujur mengatakan semuanya.
Belum sampai bibir terbuka sebuah ketukan pintu menghambat semua.
Tok... Tok...
"Tuan, tuan Axel menunggu anda di bawah," beritahu mermaid dari luar kamar.
Kirana segera membetulkan bajunya yang sedikit tersingkap.
"Sialan Axel. Selalu saja datang di waktu yang tak tepat," gerutu Maxime.
"Sayang, aku temuin Axel duluan. Tolong siapin baju aku," pinta Maxime dan melangkah keluar kamar untuk menemui Axel.
Kirana menghela nafas lega.
"Huh, nasib baik masih berpihak padaku," gumam Kirana lega.
Kirana menyisir kamar yang sangatlah luas itu.
Tak ada barang yang murah di sana.
Tak sengaja Kirana menekan sebuah tombol, dan terbukalah pintu di depannya.
"Woooow," Kirana menutup mulut karena kagum.
Antara kagum dan jiwa kendesoan sih menurut author...he...he... Persis seperti author sendiri.
Sebuah ruangan yang tak kalah luas dengan kamar utama.
Ruangan yang berisi baju, sepatu, tas. Dan di sana lengkap bak etalase toko barang branded di mall tengah kota. Batin Kirana.
"Apa ini yang dimaksud ruang wardrobe tadi?" gumam Kirana sambil termangu memandang sekeliling.
"Hhmmm baiklah. Apa salahnya menyiapkan barang yang diminta oleh tuan," Kirana melangkah masuk dan menyiapkan apa yang diminta oleh Maxime.
Meski bukan dari kalangan atas, Kirana terlihat cukup lihai memadumadankan setelan yang diminta oleh Maxime.
Sebuah koper yang ada di pojok diambil untuk meletakkan baju-baju yang barusan dipilih oleh Kirana.
"Hhmmm beres," Kirana menutup koper kembali.
Kirana berbalik arah untuk membawa koper ke kamar utama.
Tanpa disadari sebuah dada bidang ditabrak olehnya.
"Awh...," Kirana mengelus dahi.
"Ma...maaf tuan," ujar Kirana.
"Tuan...tuan...harus berapa kali aku mengingatkan kamu sayang. Aku ini suami kamu, Kirani" balas Maxime.
"Nama saya Kirana," tapi respon Maxime di luar dugaan Kirana.
"Jangan mengada-ada. Pakai menyebut nama Kirana segala. Bagi aku kamu tetaplah Kirani istriku," kata Maxime sembari meraih koper yang sudah disiapkan oleh Kirana.
"Makasih sayang," Maxime senang atas perubahan sikap istrinya.
Cukup lama sang istri tak pernah mau menyiapkan perlengkapan untuknya. Menolak dengan berbagai alasan.
Sebuah kecupan lagi-lagi mendarat di kening Kirana.
'Bisa gila gue,' batin Kirana.
"Jaga anak-anak selama aku pergi. Love you my wife," ucap Maxime sebelum keluar kamar.
'Ini yang gila sebenarnya siapa sih?' batin Kirana.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
HAPPY READING
Maafkan author yang suka ngegantung cerita lumayan lama he...he...
Love you muach...muach...buat yang masih setia nungguin
Kirana sudah mengandung lagi
Maxime & keluarga besar sudah bahagia
terima kasih thor🥰🥰🥰
harus bersedih atau bahagia ini😁
siapa yg telpon Maxime ?
kunci semua rahasia Kirana & Kirani ada di tangan Morgan ? ayo temukan Morgan segera Ricky
Fighting
yang lagi ngidam rujak cingur😄
suruhan Maxime atau Axel ?