Novel ini penuh air mata ya say...kalau tidak kuat Melo, tinggalkan saja...!
Penolakan sang suami untuk mengakui keberadaan putranya membuat Adis menyerah. Ia harus membesarkan putra semata wayangnya seorang diri.
Namun penderitaan makin sempurna yang harus ia alami saat putranya di vonis dokter mengalami sakit jantung membuat ia harus berpikir keras untuk mencari uang tambahan.
"Ya Allah. Dari mana aku harus mendapatkan uang 500 juta dalam sebulan?" desis Adis sambil mengelus dadanya yang terasa sangat sesak lagi sakit.
Bagaimana kisah ini selanjutnya antara Adis, suaminya Panji serta putra mereka Rian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Identitas Diganti
Usai pemotretan spontan itu, Galih mengantar Adis melakukan perawatan kecantikan dari ujung rambut hingga ujung kaki dan menggantikan penampilan Adis melalui potongan rambutnya yang terlebih dahulu dengan merubah cat rambut yang sedikit kecoklatan pirang.
Style Adis saat ini benar-benar disesuaikan dengan karir terbarunya yaitu model pendatang baru yang mungkin akan bersaing dengan model lama baik di agensi yang bernaung di bawah perusahaan Galih maupun model yang ada di luar negeri nantinya.
Puas memanjakan diri di klinik kecantikan yang sudah merubah tampilannya yang bukan lagi suster Adis, kini Adis diantar ke guru privat kepribadian yang sudah menangani para model baru.
Kebetulan Galih yang meminta waktu guru privat tersebut untuk meluangkan waktunya agar mengajar Adis di hari libur ini karena waktu mereka tidak banyak.
"Namanya tante Ambar, dia yang akan mengajarimu beberapa hal seperti table meneer, bagaimana cara berdialog dengan orang-orang penting saat menghadiri undangan makan malam dan lain sebagainya.
Bagaimana berpakaian sesuai dengan momen. Pokoknya kamu akan lebih banyak mendapatkan pelajaran berharga dalam waktu singkat darinya," ucap Galih saat suster cantik ini berubah total tampilannya dari klinik kecantikan.
"Apakah ada lagi selain privat?" tanya Adis yang mungkin jadwalnya akan semakin padat yang tidak hanya berurusan dengan dunia modeling saja.
"Ada pelatih khusus yang akan mengajarimu dalam berolahraga dengan menerapkan aturan pola makan yang harus kamu jaga porsinya."
"Apakah aku terlihat agak gemuk saat ini?" tanya Adis gelisah dengan bobot tubuhnya yang mungkin tidak cukup memuaskan Galih dari segi penampilan saat pemotretan nanti.
"Hanya sedikit yang perlu mendapatkan perhatian dari instruktur olahragamu nanti. Kamu akan bertemu dengan ahlinya nanti sebelum kita berangkat ke luar negri," imbuh Galih.
"Apakah aku mampu menyerap semua ilmu yang akan diberikan mereka kepadaku dalam waktu singkat?" ragu Adis takut mengecewakan Galih.
"Aku sangat yakin akan kemampuanmu. Kamu pasti melakukannya dengan baik. Seorang perawat yang selalu bertanggungjawab penuh pada pasiennya tanpa melakukan kesalahan pasti tidak beda jauh dengan dunia baru yang sedang kamu rintis saat ini pasti kamu akan melewatinya dengan baik. Katakan kepada dirimu jika aku bisa dan layak untuk job ini." Galih memberi spirit pada Adis agar Adis lebih percaya diri.
"Aaamiin. Semoga saja aku mampu melewatinya," lirih Adis.
Tidak lama mereka sudah berada di rumah nyonya Ambar. Wanita yang berusia empat puluh tahun ini sengaja menunggu kedatangan Adis. Nyonya Ambar juga memiliki suami pengusaha yang bergerak di bidang real estate. Dia juga adalah mantan model ternama di jaman nya.
Mobil milik Galih sudah memasuki halaman mansion yang sangat luas. Galih turun terlebih dahulu lalu dengan cepat membuka pintu mobil untuk Adis yang menurunkan kaki jenjangnya.
Keduanya melangkah bersama menghampiri nyonya Ambar yang menatap Adis dari ujung kaki hingga ujung kepala tanpa berkedip. Entah mengapa jantungnya terpacu lebih cepat saat melihat senyum Adis padanya.
"Assalamualaikum Tante Ambar!" sapa Galih terlebih dahulu seraya menjabat tangannya nyonya Ambar.
"Waalaikumuslam, sayang. Apa kabar...!" cipika-cipiki dengan Galih sesaat sambil melirik Adis yang menatap keakraban keduanya dengan senyum.
"Alhamdulillah baik Tante. Perkenalkan ini Adis Tante yang pernah aku ceritakan pada Tante tempo hari."
"Adis, ini nyonya Ambar, guru privat kepribadian kamu. Beliau yang akan mengajarkan kamu banyak hal nantinya," ucap Galih memperkenalkan keduanya.
Adis yang biasa tampil lugu menyalami tangan nyonya Ambar lalu mencium punggung tangan itu penuh takzim.
Untuk sesaat hati nyonya Ambar bergetar hebat mendapatkan sentuhan dari hidung dan kening Adis pada punggung tangannya. Ingin rasanya ia menangis seakan baru menemukan sesuatu yang hilang. Tapi, ia tidak tahu perasaan apa itu.
"Kamu cantik sekali sayang. Melihatmu, Tante seakan melihat wajah muda Tante padamu," ucap nyonya Ambar langsung akrab pada Adis. Padahal selama ini, wanita paruh baya ini begitu ketus pada model-model baru. Ayo masuk...!" Membawa Galih dan Adis ke dalam rumahnya.
"Kenapa perasaanku sangat berbeda saat menyalaminya? Seakan aku rindu pada sosok seorang ibu yang sudah lama tidak pernah aku jumpai?" batin Adis yang tersihir dengan kebaikan dan kelembutan nyonya Ambar padanya.
Mereka duduk di ruang keluarga. Adis melihat foto keluarga itu terlihat sangat harmonis. Nyonya Ambar memiliki dua orang anak yang usianya dibawah Adis. Mungkin saat ini mereka baru kuliah.
Pikir Adis. Nyonya Ambar melirik ke pelayannya yang sudah tahu apa yang harus dilakukan pelayannya yang langsung mengangguk patuh.
Pertanyaan ringan mulai di lontarkan oleh nyonya Ambar pada Adis setelah berbasa-basi sebentar dengan Galih.
"Sebelumnya Adis kerja apa?" tanya nyonya Ambar.
"Saya seorang perawat, lebih tepatnya seorang bidan yang mengabdi di salah satu rumah sakit mewah di Jakarta," ucap Adis.
"Apakah kamu masih ada kedua orangtuamu?" tanya nyonya Ambar langsung pada intinya.
"Saya tidak punya siapa-siapa karena saya dari bayi di titipkan lalu di besarkan di panti asuhan di Bandung.
Sekarang panti asuhannya sudah bubar karena pemilik tanah panti asuhan itu sudah menggusur pantinya saat saya menamatkan SMA," jelas Adis.
"Kalau begitu,kamu boleh memanggilku mami, sayang," tawar nyonya Ambar namun Adis menolaknya dengan halus.
"Terimakasih Tante, tapi itu tidak perlu karena saya punya ibu kandung sendiri walaupun saya tidak tahu seperti apa rupanya dan tidak ada yang menjelaskan bagaimana saya ditinggalkan begitu saja di panti asuhan saat itu," tutur Adis membuat hati nyonya Ambar begitu sakit.
"Maaf sayang. Tante terlalu senang hingga memaksa Adis harus menerima tawaran Tante."
"Tidak apa Tante."
Tidak lama pelayan datang membawakan kudapan dan minuman ringan untuk Galih dan Adis." Terimakasih mbak...!" santun Adis pada pelayan itu dan pelayan itu begitu kaget dengan ucapan terimakasih Adis padanya.
"Ternyata masih ada orang yang menganggapnya manusia seperti gadis ini yang terlihat sangat berkelas," batin pelayan Evi.
"Sama-sama non."
"Adis. Sepertinya, kamu harus menggantikan identitas mu dengan nama panggung yang berbeda. Apakah kamu bersedia?" tanya nyonya Ambar.
"Terserah Tante saja," ucap Adis tidak mempermasalahkan itu karena dia juga tidak ingin Panji mengetahui keberadaannya agar putranya aman bersamanya.
"Baiklah. Namamu Violin. Panggilan akrab mu, Vi. Bagaimana? Kamu suka?" tanya nyonya Ambar menatap wajah cantik Adis yang terlihat malu-malu.
"Terserah Tante saja. Aku tidak masalah, Tante. Terimakasih sudah memberi nama panggung untuk Adis," ucap Adis.
"Baiklah. Kita akan mulai pelajaran kita untuk satu jam ke depan. Kebetulan keluarga Tante pada tidak ada di rumah karena ada urusan lain.
Ayo kita mulai saja kelasnya. Ayo ikut Tante...! Galih, kamu bisa menunggu kami di tempat manapun yang kamu suka di rumah ini," ucap nyonya Ambar yang merupakan sahabat ibunya Galih.
Di ruang khusus untuk kelas pembelajaran kelas kepribadian, banyak sekali properti yang akan mereka gunakan.
"Adis. Itu adalah segala jenis tas branded yang harus kamu hafal. Ada juga barang-barang berharga milik kalangan kelas atas yang selalu mereka gemari dan. Itu menjadi koleksi mereka.
Dari perhiasan hingga hal-hal yang tidak penting yang akan menjadi obrolan utama mereka untuk menjaga gengsi dan pamor diantara mereka," jelas nyonyanya Ambar.
"Apakah Tante juga berperan dalam hubungan sesama kelas atas untuk membahas hal-hal konyol ini? Apa yang sedang kalian jaga hingga begitu takut jatuh dan terinjak padahal tidak ada satupun yang
akan kalian bawa mati nanti selain kain kafan membungkus tubuh penuh dosa dengan menunggu amal baik apa yang menyelamatkan kita nantinya?" cecar Adis begitu berani mengkritik nyonya Ambar di kelas pertamanya ini.
Duarrrr.....
mbulet kyk kentut
alurnya susah ditebak 👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼☕
mampus kau panjul👻😆
kangen katanya 🤦
hei dulu kemana kamu woiiii😤
noh Gilang seharusnya kamu berterimakasih sama Dina yg bisa membujuk Adis jd model 😎
hedeh si Panji sdh di tolong disembuhkan dari kecanduan, malah menggigit orang yang menyembuhkan nya👎🏼😤