Novel ini mendapatkan hadiah kooperatif di event air mata pernikahan 3.
Rangga sengaja menikahi Cinta untuk membalaskan dendam atas kematian adiknya. Rafael, adik Rangga, memilih bunuh diri karena ditolak oleh Cinta.
Selama pernikahan, Cinta hanya mendapatkan kekerasan fisik maupun psikis. Semua itu, Rangga lakukan untuk memenuhi misi balas dendamnya.
Sampai kapankah Rangga melakukan KDRT pada Cinta? Apakah Cinta akan tetap bertahan dalam rumah tangga yang seperti neraka itu?
Jangan lupa tekan favorit sebelum lanjut baca. Terima Kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Ayah, Ibu, aku rindu
Ya Allah, sebenarnya aku tidak ingin bersedih. Sebenarnya aku ingin terlihat kuat. Tapi entah mengapa, akhir-akhir ini aku sangat lemah. Bahkan aku sering menangis, aku juga tidak tahu apa yang membuat aku menangis. Ingin sekali bercerita, tapi tidak tahu harus cerita sama siapa ...? Ya Allah kuatkanlah aku, jika aku rapuh peluklah aku, dan jika aku lemah berikanlah kekuatan pada hatiku ini.
**
Setelah selesai makan, Rangga kembali berjalan menuju kamar yang biasa ditempati Cinta. Dia mencoba memutar hendel pintu. Ternyata tidak dikunci. Pria itu membuka pintu dengan pelan. Tampak suasana gelap sekali saat pintu terbuka.
Rangga menghidupkan lampu kamar dan terlihat Cinta yang tidur di lantai kamar yang dingin dengan posisi meringkuk. Pria itu lalu mendekati tubuh istrinya. Tampak di pipi wanitanya masih mengalir air mata.
Dengan berjongkok, Rangga menggendong tubuh Cinta dan meletakan dengan pelan ke atas ranjang. Pria itu memandangi wajah wanitanya tanpa kedip.
"Kamu ini sebenarnya cantik, dan manis. Kamu juga lembut. Sayang sekali, hatimu tidak secantik wajahmu," gumam Rangga dalam hatinya.
Sebelum keluar dari kamar Cinta, pria itu menutupi tubuh istrinya dengan selimut. Rangga juga mematikan lampu. Baru pria itu akan menutup pintu, terdengar suara Cinta memanggil kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu ...." Suara Cinta mengigau memanggil kedua orang tuanya.
Setelah itu Cinta kembali terlelap. Rangga lalu menutup pintu kamar dengan rapat. Dia masuk ke kamar dan ikut berbaring.;
Tepat pukul jam sebelas malam, Cinta terbangun. Dia melihat ke sekeliling kamar, yang ada hanya kegelapan.
Cinta menarik napas dalam. Sekarang baru dia mengingat apa yang terjadi sebelum dia tidur. Seingat Cinta dia tidur di lantai, kenapa saat ini dia jadi di atas tempat tidur.
Dengan perlahan Cinta berjalan menuju jendela kamar. Dia berdiri dekat jendela yang ada diruangan tempat biasanya dia istirahat dan memejamkan mata. Jendela kaca itu berwarna bening memampilkan pemandangan suasana malam di komplek perumahan tempat tinggalnya.
Malam gelap sudah menjelang, sehingga yang tampak oleh pandangan saat ini adalah lampu-lampu mobil yang berjalan. Air mata Cinta tiba-tiba turun membasahi pipi mulusnya.
"Ayah, Ibu ... saat ini anakmu sedang diuji oleh pedihnya badai kehidupan. Diuji dengan banyaknya rasa sakit yang datang bertubi-tubi tanpa henti. Banyak yang diambil dariku secara terus menerus. Aku dikecewakan berkali-kali oleh kenyataan. Mentalku dibuat hancur habis-habisan. Bisakah kalian menggenggam tanganku lagi? Bisakah kalian menatapku sekali saja? Bisakah kalian memelukku sebentar saja? Bisakah kalian datang dan bertanya apakah aku baik-baik saja? Aku rapuh, aku hilang arah dan tujuan. Sangat kesepian. Aku merindukan kalian."
Air mata Cinta terus saja mengalir. Ingin rasanya pergi, tapi entah kemana. Dia tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini. Hanya Rangga yang ada ikatan dengannya. Lama Cinta duduk di sofa, hingga akhirnya ketiduran.
**
Pagi hatinya Rangga yang telah bangun dan berpakaian rapi, langsung menuju dapur. Dia melihat Cinta yang sedang mempersiapkan sarapan. Pria itu memilih duduk sambil memperhatikan Cinta tanpa kedip.
Merasa ada yang memperhatikan dirinya, Cinta lalu berhenti bekerja. Melihat ke arah Rangga, tidak seperti biasanya, wanita itu hanya diam. Dia tidak memberikan senyuman. Dahi Rangga berkedut merasakan perubahan pada diri wanita itu.
"Pasti dia masih marah karena perbuatan aku kemarin." Rangga berucap dalam hatinya.
Setelah semua selesai di masak, Cinta menghidangkan di meja tanpa sepatah kata pun. Lalu dia pergi meninggalkan Rangga.
Rangga menarik napas dalam melihat perubahan sikap istrnya. Biasanya wanita itu akan duduk manis menemani dia sarapan dan memberikan senyuman walau tidak pernah Rangga balas.
Setelah sarapan, saat akan berangkat kerja, Rangga mencari keberadaan istrinya. Dia telah terbiasa saat akan pergi kerja, Cinta akan menyalami dan mengantar hingga mobilnya berjalan meninggalkan halaman rumah.
Rangga mengintip ke kamar Cinta. Ingin tahu apa yang dilakukan wanita itu. Kebetulan pintunya terbuka. Tampak Cinta yang termenung di dekat jendela kamar.
"Apakah aku harus menyelidiki siapa sebenarnya yang menyebabkan kematian Rafael? Apa mungkin yang dikatakan Cinta benar, jika dia tidak ada hubungannya?" tanya Rangga dalam hatinya.
Rangga kembali melangkahkan kakinya meninggalkan rumah. Dia merasa ada sesuatu yang hilang dan berbeda karena Cinta yang tidak mengantarnya.
Sesampainya di kantor, Rangga langsung mengerjakan berkas-berkas yang telah ada di meja. Namun, pikirannya tidak bisa konsentrasi. Teringat kejadian kemarin. Kembali tangan pria itu terkepal menahan amarah.
Jika saja dia tidak bisa bertahan dari rasa panas dan hasratnya, tentu dia telah melakukan hubungan dengan Arimbi. Rasa cintanya pada wanita itu menjadi berkurang.
Hingga siang hari, baru sebagian berkas yang dapat dia kerjakan. Terkadang dia termenung mengingat perbuatannya pada Cinta. Dia bisa merasakan jika istrinya itu marah, terlihat dari perubahan sikapnya. Selama ini, apa pun yang dia lakukan pada Cinta, wanita itu tetap menyalami dirinya ketika pergi kerja.
Saat Rangga ingin berkonsentrasi pada pekerjaannya, pintu ruang kerjanya dibuka. Rangga menatap tajam ke arah pintu. Arimbi dengan langkah pasti masuk dan langsung duduk dipangkuan kekasihnya itu.
"Sayang, pasti kamu belum makan. Aku ada bawa nasi dan lauk kesukaan kamu. Kamu pasti sudah lapar. Sekarang sudah waktunya istirahat. Kita makan dulu, sebelum kamu lanjutkan pekerjaan lagi," ucap Arimbi dengan suara riang.
Arimbi dari kemarin merasa heran dengan Rangga. Kenapa pria itu tidak merasakan apa-apa akibat efek dari obat yang dia berikan. Padahal siang kemarin dia memberi dengan dosis yang lumayan tinggi. Apa Rangga memiliki kekebalan tubuh yang sangat baik?
"Apa kamu bisa turun dari pangkuanku?" tanya Rangga dengan suara datar. Arimbi memandangi wajah Rangga dengan dahi berkerut. Tidak menyangka pria itu akan berucap begitu. Biasanya dia akan memeluk pinggang Arimbi dan mengecup pipinya.
"Sayang, kenapa kamu berkata begitu?" Arimbi balik bertanya.
Tanpa menjawab pertanyaan Arimbi, Rangga berdiri dan menyebabkan Arimbi hampir tersungkur jika saja tidak berpegang dengan meja.
"Sayang, kalau mau berdiri itu ngomong dulu. Hampir saja aku jatuh." Arimbi tentu saja protes dengan apa yang pria itu lakukan.
"Aku sudah meminta kamu turun dari pangkuanku," ucap Rangga masih dengan suara yang datar.
Rangga berjalan menuju jendela kaca. Pria itu berdiri dekat jendela besar yang ada di ruang kerjanya. Jendela kaca itu terbentang luas dari atap sampai lantai menampilkan pemandangan kota yang dia saksikan dari lantai atas ini.
Arimbi berjalan mendekati Rangga dan memeluk pinggang kekasihnya itu dari belakang. Dia menyandarkan kepalanya di punggung Rangga.
"Sayang, apa aku ada salah? Kenapa hari ini kamu tampak berubah. Biasanya sampai di kantor, kamu akan menghubungi aku, agar segera bangun. Hari ini kamu tidak ada menghubungi aku hingga siang ini," ucap Arimbi dengan suara manja.
Arimbi memang menunggu Rangga menghubunginya dari kemarin. Takut pria itu tahu jika dia memberi obat pada minumannya. Hingga jam sepuluh, Rangga belum juga menghubungi. Arimbi pikir pria itu berarti tidak tahu dengan apa yang dia lakukan.
"Aku sibuk ...." Hanya dua kata itu yang keluar dari bibir pria itu.
"Jangan terlalu sibuk. Nanti kamu sakit. Kita makan dulu, aku takut asam lambung kamu kambuh jika telat makan."
Arimbi mempererat pelukannya di tubuh pria itu. Dia merasa ada sesuatu yang pria itu sembunyikan. Sikapnya sangat berbeda.
Rangga melepaskan pelukan Arimbi. Membalikkan tubuhnya menghadap ke wanita itu. Dia tampak menarik napas sebelum akhirnya bicara.
"Aku merasa tidak ada kecocokan antara kita lagi. Aku ingin kita mengakhiri hubungan ini ...," ucap Rangga dengan suara lirih.
...----------------...
arimbi:dibentak,diumban pelan,didorong sedikit lembut,dicium,disiram,lalu dibebas..walopun kekasihnya brsalah tetap dibalas sedikit lbh lembut drpda istri yg x bersalah
bukan nya td diawal cerita arimbi dibawa rangga ke rumah?? brt ini bukan pertemuan pertama donk...
cuma tetep ngga mau liat mm'pp mak ninggalin mak duluan 😭😭😭