Bak disambar petir di siang bolong. Jantung Andini berdebar lebih cepat mendengar kedua orang tuannya yang saat ini sedang membicarakan tentang perjodohannya. Padahal jelas sekali jika saat ini Andini masih menimbah ilmu di salah satu kampus swasta.
"Ayah, ibu. Aku tidak ingin menikah dengan pria pilihan ibu dan ayah." Tolak Andini memberanikan dirinya untuk menyelah perbincangan orang tuanya. Ia tidak sanggup jika harus menikah di usia yang masih sangat belia. belum lagi, pria yang akan di jodohkan dengannya adalah pria yang paling menyebalkan di kampus. Pria yang memiliki kekuasaan, ketua geng motor, dan juga pria yang sangat-sangat dingin dan kejam.
Kevin Mahendra
-Bagiku semua gadis di kampus ini sama saja. Tidak ada yang istimewa. Pesonaku, ketampananku dan juga kekayaanku, mampu membuatku memiliki siapa pun yang aku inginkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LS bab 16
Lebih dari satu minggu, Kevin tidak sadarkan diri. Dan selama seminggu itu, tidak sedikit pun Andini meninggalkan Kevin. Andini begitu setia berada di sisi Kevin. Perhatian, kasih sayang dan ketulusan yang di berikan oleh Andini mampu membuat kedua sahabat Kevin begitu terharu.
"Bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu Andini, jika kau memiliki kebaikan yang sangat luar biasa." Batin Yuda, sambil memperhatikan Andini.
Yuda sudah ikhlas, melepaskan cintanya yang belum pernah ia utarakan. Walau hatinya merasa perih, tapi Yuda memilih untuk sakit sendiri, dari pada harus berjuang merebut cinta yang benar-benar bukan untuknya. Yang pastinya juga akan merusak persahabatannya. Yuda memilih mundur, karena bagi Yuda, melihat orang yang kita cintai bahagia adalah cinta yang sebenarnya.
"Andini, lebih baik kau pulang, istirahatlah." Pinta Yuda, sambil menghampiri Kevin yang saat ini masih terbaring koma.
"Ya, benar kata Yuda, lebih baik kau pulang saja, istirahatlah." Timpal Farel, yang juga saat ini sedang duduk di sofa.
"Pulang? Istirahat? Bagaimana aku bisa pulang dan istirahat jika pikiranku terus tertuju di sini? Bagaimana aku bisa setega itu, meninggalkan Kevin yang butuh diriku." Kata Andini sambil membersihkan tubuh Kevin dengan tissue basah.
"Kau benar juga, tapi setidaknya istirahatlah dulu." Ucap Farel.
"Tidak Farel. Aku masih bisa istirahat di sini."
"Entah kebaikan apa yang Kevin lakukan di masa lalu, sampai dia bisa memiliki seorang istri yang berhati seperti malaikat. Ah.. Kenapa harus Kevin sih? Harusnya aku yang menikah lebih dulu."
Ucapan Farel mampu membuat Yuda dan Andini tersenyum.
"Kenapa sih, dari sekian banyaknya mahasiswi kamu nggak pernah sama sekali muncul. Emang selama ini kamu sembunyi dimana Andini? Andai dulu aku lihat kamu, mungkin saja kamu sudah menjadi pacarku."
Plak....
Yuda menepuk pundak Farel.
"Andini, jika sudah selesai, boleh aku izin untuk berbicara berdua saja dengan Kevin?" Tanya Yuda.
"Hey, berdua? Lalu aku harus kemana? Bukan kah kita tiga sekawan, lalu kenapa hanya berbicara berdua?" Ungkap Farel dengan sangat kesal.
"Tentu boleh." Jawab Andini.
••••••
"Sayang, bagaimana keadaan Kevin?" Tanya Mahendra yang baru saja datang kerumah.
"Kau baru pulang mas? Bagaimana disana? Nyaman? Senang? Bahagia?" Jawab Farah dengan bertubi pertanyaan.
Farah benar-benar geram dengan sang suami, yang baru pulang padahal sang anak mengalami kecelakaan seminggu yang lalu.
"Sayang, maafkan aku. Aku benar-benar sibuk." Sesal Mahendra sambil berjalan mendekat ke arah Farah, dan duduk tepat di samping Farah.
"Mas sibuk dengan wanita mana lagi? Apa mas sama sekali tidak ingat dengan Kevin? Mas, kamu jahat, kamu tega!"
"Sa..." Ucapan Mahendra menggantung.
"Apa wanita itu lebih penting dari Kevin? Kevin anak kamu mas, darah daging kamu. Kamu pikir dengan uang Kevin bisa bahagia? Tidak mas! Kamu salah besar." Farah mengusap air matanya, tubuhnya bergetar, dadanya terasa sesak. Sungguh bukan rumah tangga seperti ini yang ia harapkan.
Semenjak perselingkuhan yang di lakukan oleh Mahendra, Kevin langsung berubah derastis. Kevin yang awalnya anaknya sangat baik, langsung berubah, mulai mengenal rokok, balapan, dan bahkan jarang menginap di rumah.
"Aku minta maaf."
"Kamu pikir maaf akan membuat Kevin sadar? Tidak mas! Semua terlambat." Air mata mulai banjir membasahi pipi Farah. Ia benar-benar merasa bersalah atas apa yang menimpah Kevin. Andai saja hubungan rumah tangganya dengan suami baik-baik saja, mungkin Kevin saat ini tidak terbaring koma di rumah sakit.
"Aku benar-benar menyesal, maafkan aku." Ucap Mahendra dan ingin memeluk tubuh Farah, namun dengan cepat Farah menepih tangan Mahendra.
"Jangan sentuh aku mas. Jangan pernah." Farah berdiri. "Kamu tega! Hanya karena kepuasaan sesaat kamu merusak rumah tangga yang kita bangun. Kamu menghancurkan mental anakku, kamu melukai hatiku, kamu memberikan luka pada Kevin. Kevin seperti itu karena kamu, kamu pelaku utamanya mas. Kamu jahat mas! Jahat!" Teriak Farah, dengan suara yang gemetar karena sambil menangis.
•••••
Andini dan juga Farel memutuskan untuk keluar dari kamar inap Kevin, meninggalkan Kevin dan Yuda di dalam ruangan, saat pintu kembali tertutup, Yuda langsung menghampiri Kevin, duduk tepat di samping brangkar Kevin.
"Kevin." Panggil Yuda.
"Sampai kapan kamu akan terus berbaring seperti ini? Apa kamu tidak kasihan melihat Andini? Di butuh istirahat Kevin, Andini itu pasti capek, hanya saja dia pandai menyembunyikan semuanya. Sadar Kevin, ayo sadar." Kata Yuda sambil menantap wajah Kevin.
Hening...
Beberapa saat kemudian Yuda menundukkan kepalanya.
"Kau tahu bukan, jika aku memiliki rasa pada Andini? Ya, aku pikir kau benar-benar tahu itu. Dan kau pun juga tahu kan, kalau aku tipe pria yang setia?" Kini Yuda tersenyum tipis.
"Sampai kapan kau akan terbaring seperti ini Kevin? Kasihan Andini, jangan egois, jangan lari, ayo sadarlah.." Yuda mulai mulai meninggikan suaranya.
"Jangan sampai kau menyesal Kevin. Ingat! Aku memiliki rasa pada Andini, jangan sampai aku merebut Andini darimu Kevin. Ayo sadarlah." Ucap Yuda namun Kevin masih tetap nyaman dengan tidurnya. "Baiklah kalau begitu, mulai sekarang aku akan berjuang untuk merebut hati Andini." Yuda lalu berdiri dan meninggalkan Kevin yang masih menutup mata.
"Sudah selesai?" Tanya Farel saat Kevin sudah keluar dari kamar inap Kevin.
"Ya."
Farel lalu menepuk pundak sahabatnya.
"Masuklah, mungkin saja Kevin sudah mencarimu." Pinta Yuda pada Andini, dan Andini pun langsung masuk kedalam.
"Apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan di dalam?" Tanya Farel saat sudah tidak ada Andini.
"Tidak ada, hanya bicara ringan saja."
"Jangan bilang kau memukul Kevin?" Tanya Farel dan Yuda hanya diam. "Yuda jawab? Kau benar memukul Kevin?"
"Ya." Jawab Yuda singkat. "Aku memang memukulnya, lebih tepat memukul perasaannya, biar dia bisa sadar." Ungkap Kevin.
"Bravo kau memang hebat brother. Tapi tunggu dulu, apa kau yakin dirimu baik-baik saja? Kau tidak menangis kan?"
Farel tahu, jika Yuda memiliki rasa pada Andini, dan Farel juga tahu, ini pertama kalinya Yuda jatuh cinta, namun sayang cinta Yuda bertepuk kepada hati yang salah. Hati yang sudah memiliki hati orang lain.