NovelToon NovelToon
Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh

Status: tamat
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:636.2k
Nilai: 5
Nama Author: Uffahazz_2

Perselingkuhan membawa Glacia pada kecelakaan tragis yang membuatnya divonis lumpuh. Hebatnya, setelah apa yang ia lakukan, Narendra masih kekeh mempertahankan pernikahan mereka. Alih-alih meninggalkan Glacia yang cacat, Narendra justru berperan baik merawat dan menjaga wanita itu meski berkali-kali dilempari makian.

Glacia benci Narendra, karena dialah sang ayah tak merestui hubungan Glacia dengan pacarnya. Apa yang sebenarnya Narendra pikirkan? Kenapa lelaki itu selalu menolak ajakan bercerai? Padahal Glacia sendiri tahu Narendra memiliki wanita idaman yang ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uffahazz_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Rencana Baru

Glacia memekik, menjerit, menggigit bibir dan memejamkan mata dengan keringat dingin. Semua ia lakukan demi menahan rasa sakit pada tangannya yang sedang dipijat.

Ingin rasanya Glacia memaki Narendra, kenapa pria itu tak membawanya ke rumah sakit saja dan malah meminta tukang kebun mereka menyiksa pergelangan tangannya.

Hujan perlahan mereda di luar sana, suasana pun tak sebising sebelumnya. Narendra berdiri di samping ranjang Glacia, memperhatikan sang istri yang meringis-ringis kesakitan. Wina yang melihat turut mengernyit ngeri. Betapa tidak, tangan sang nyonya membengkak begitu, pasti sangat sakit.

"Aaaaww!" Teriakan terakhir Glacia mengakhiri semuanya.

Pak Ramlan melepaskan tangan sang nyonya yang kini melemas tak berdaya. Ia lantas lekas berdiri, duduk di ranjang majikan meski hanya setitik tempat membuatnya sangat gugup.

Pak Ramlan berdehem. "Saya sudah membenarkan letak urat di tangan Nyonya. Nyonya hanya perlu mengistirahatkannya selama beberapa hari. Bekas sakitnya mungkin akan bertahan beberapa waktu ke depan, tapi perlahan akan hilang. Tidak lama, mungkin hanya seminggu."

Glacia tak menghiraukan penjelasan tukang kebun itu, hingga mau tak mau Narendra yang mengambil alih keheningan.

"Terima kasih. Kembalilah. Maaf mengganggu waktu tidur kalian," ucapnya sekalian pada Pak Ramlan dan juga Wina.

Wina yang mengerti lekas mengajak Pak Ramlan kembali, hingga kini menyisakan Narendra dan Glacia berdua di kamar itu.

Glacia tampak membuang muka ketika Narendra menoleh. Mata bengkak bekas menangis masih tersisa di wajah wanita itu.

"Kenapa melihatku terus?" sewot Glacia. Mungkin ia malu kedapatan cengeng di depan Narendra. Muka jeleknya pasti membuat pria itu tertawa.

Narendra membuang nafas. Ia lalu berkata dengan pelan. "Kau bisa memanggilku jika butuh sesuatu. Kamar kita bersebelahan."

Mendengus, Glacia pun memicing mengejek Narendra. "Sebelahan pun belum tentu kau dengar. Dinding rumah ini terlalu tebal. Lagi pula aku bisa memanggil Wina."

"Kau tidak melakukannya saat terjatuh tadi," cetus Narendra melempar kenyataan.

Sontak Glacia mengelak sedikit gelagapan. "I-itu karena kamarnya gelap! Aku tidak bisa melihat letak teleponnya!"

Narendra tak menanggapi lagi. Tanpa Glacia jelaskan pun, Narendra tahu apa yang sebelumnya terjadi.

"Tidurlah lagi. Ini masih terlalu malam," ujar Narendra sembari melirik jam.

Pukul 1 dini hari, dan hujan seolah belum mau berhenti. Semula Narendra hendak kembali ke kamarnya, namun sebuah suara tiba-tiba menyeruak membuatnya berhenti. Ia berbalik menatap Glacia yang membuang pandangan.

"I-itu bukan perutku!" elaknya.

"Kau lapar?" tanya Narendra.

"Sudah kubilang itu bukan perutku!" Glacia masih enggan mengaku.

Padahal, manusia bodoh pun tahu bahwa di ruangan ini hanya ada mereka berdua, dan Narendra tak merasa perutnya berbunyi.

Narendra tak berkata apa-apa, ia pergi keluar meninggalkan Glacia sendiri. Tanpa sadar wanita itu mencibir kesal. "Bisa-bisanya dia meninggalkanku yang kelaparan," desisnya tajam.

Meratapi nasibnya yang tak bisa berbuat apa-apa, Glacia hanya bisa memeluk perutnya sembari berusaha tidur. Wajahnya merengut ingin menangis, namun tak lama pintu kamarnya kembali terbuka.

Narendra masuk dengan membawa senampan makanan serta air putih. Glacia yang melihat itu bergeming canggung tak jadi tidur. Ternyata dugaannya salah. Narendra bukan meninggalkannya, pria itu justru mengambilkannya makanan dari dapur.

"Hanya ini yang bisa kusiapkan dengan cepat. Kuharap kau tidak menolak," ujar lelaki itu.

Glacia membuka mulutnya namun tak jadi bicara. Ia memperhatikan Narendra yang duduk di samping ranjang, memangku sepiring lasagna yang tampaknya baru dipanaskan.

"A-apa?" gagap Glacia saat Narendra mengulurkan sendok ke depan mulutnya.

"Tanganmu sakit, memang kau bisa makan sendiri?"

Narendra mau menyuapinya, begitu?

Belum sempat Glacia menolak, pria itu memasukkan paksa lasagna ke mulut Glacia. Glacia sudah seperti orang bodoh yang tak mampu berkutik. Sebenarnya Glacia malu, tapi apa daya perutnya lapar, dan ia tak bisa berbuat apa-apa apalagi berjalan.

Usai makan, ia maupun Narendra sama-sama bungkam. Hujan sudah berhenti beberapa saat lalu, menyisakan rintik dan kilat-kilat petir yang masih bersinggungan hingga saat ini.

Glacia terdiam mengusapi tangan kanannya yang bengkak. Sementara Narendra, pria itu juga ikut terdiam usai membereskan nampan.

Canggung, itulah yang Glacia rasakan saat ini. Berduaan saja dengan Narendra membuat Glacia merasakan sesuatu yang dejavu. Entahlah, suasana hatinya mendadak tidak jelas.

"Terima kasih," ucap Glacia singkat. Ia berpikir Narendra masih di kamarnya karena menunggu rasa terima kasihnya. Nyatanya, setelah Glacia menurunkan sedikit ego pun Narendra tetap mematung di tempatnya.

Belum lagi matanya tak kunjung berpindah dari Glacia. Hal tersebut membuat Glacia risih karena merasa jelek usai menangis sedemikian rupa.

"Lizy akan cemburu kalau kau terus menatapku seperti itu," celetuk Glacia tanpa sadar. Ia menyentuh mulutnya sendiri saat dirasa salah bicara, namun sudah terlanjur, Narendra juga pasti mendengarnya dengan jelas. Ya sudahlah.

Dengan cuek Glacia berlagak membereskan selimut di tubuhnya. Ia masih duduk dan bersandar di punggung ranjang setelah makan. Narendra tiba-tiba berucap. "Tidak baik membahas wanita yang sudah bertunangan."

Glacia menoleh, ia mengerjap. Sejujurnya ia sama sekali tak berniat membahas siapa pun. Nama Lizy hanya refleks keluar dari mulutnya. Tapi, sekarang Glacia malah tertarik melanjutkan.

"Kau tidak ada niat merebutnya lagi?" tanya Glacia sedikit menantang. Ia ingin melihat respon Narendra mengenai mantannya, tapi yang Glacia dapati justru wajah Narendra yang biasa-biasa saja.

Ini membuatnya bingung. Setahunya Narendra begitu mencintai Lizy, dulu. Hubungan mereka cukup lama terjalin sebelum akhirnya Papa Glacia meminta Narendra menikahinya.

"Kau ... masih ingin kembali padanya?" lanjut Glacia lagi. "Kalau iya, aku bisa membantumu."

Kenapa ia tidak terpikirkan sejak dulu, bahwa mungkin saja Lizy bisa menjadi solusi utama agar Narendra mau menceraikannya.

"Bagaimana?" Raut Glacia terlihat antusias. Berbanding terbalik dengan Narendra yang justru samar-samar terkesan tak menyetujui.

Namun Glacia tak perduli, ia akan mencoba cara apa pun supaya Narendra bisa berani melepasnya tanpa memikirkan rasa hormatnya pada Yohanes. Tentu perlu alasan kuat untuk semua itu, dan menurut Glacia, Lizy adalah pilihan yang tepat.

1
Yeti Kosasih
Lizy perempuan penuh tipu muslihat .mengerikaan
Yeti Kosasih
Aaah sungguh cinta yg rumit....
Yeti Kosasih
Klo wanita SDH sakit hati ,mati rasa maka sesal yg di dpt pasangannya..menyesal seumur hidupmu Nareen..kamu pikir Lizy perempuan tulus dan kalem..kamu salah Lizy perempuan yg menakutkan yg penuh dgn sisat dan muslihat ditutupi topeng wanita lemah lembut..sereem
Yeti Kosasih
Aaah Glacy..akupun g bisa nyalahin kamu..pasti kamu murka ya..di bully dipermalukan..eeh Naren mlh cenderung asyeek berduaan sama Livy...
jujur aku mlh berharap kamu sama Rapael deeh...dia Dokter ,lembut dan sepertinya g byk menyimpan rahasia seperti Naren
Yeti Kosasih
Ayolaah Glacy..terimalah Naren..cba deeh turunin egomu berdamai dgn semuanya pasti yg kau rasakan keindahan...🥰🥰
Lia Ernawati
🥰
Ida Rianti
Luar biasa
Ida Rianti
Lumayan
Mujiningsih Mujiningsih
Luar biasa
Zahra Cantik
bagus & seruuu
Nurie
thor terbaik
Desi Asmarani
Luar biasa
Yeyet Agus
duh, novel ini sungguh bnyk misteri, sdkt tegang tp asyiiik. Tks thor, semangat berkarya.
Dysha♡💕
Luar biasa
Dysha♡💕
pasti Narenda ini orang kaya deh,,
Lestari Ratnawati
extra part
🍃⃝⃟𝟰ˢᴅᴇss𝐀⃝🥀
Akhirnya masa² kritis sudah terlewati 🤭
semoga GK ada lg pengganggu kedepannya
🍃⃝⃟𝟰ˢᴅᴇss𝐀⃝🥀
wkwkwkw jujur utk hal yg berhubungan dgn Gibran ini yg sulit diungkapkan 😆 hayo Naren pelan²
🍃⃝⃟𝟰ˢᴅᴇss𝐀⃝🥀
akhirnya selesai jg perjuangan Narend membantu melepaskan Glacy, tapi Rafael.. tulus mu bukan pada tempatnya, semoga Tuhan mengampuni dosamu, karna kau kn ga menyakiti Glacy emang. Tapi kau melukai perasaan Naren 🥺
🍃⃝⃟𝟰ˢᴅᴇss𝐀⃝🥀
Rafael menjadi gila karena gelar dokter nya yg menurut nya gak berguna karna gabisa selamatkan nyawa adiknya dari serangan kanker 🤭 jadilah dia main dokter-dokter an sekarang di apartemen dengan fasilitas medis yg sangat lengkap🤣bener² sakit jiwa kan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!