keputusannya menjadi baby sitter untuk menolong kakaknya, ternyata menimbulkan petaka bagi dirinya sendiri. Ve dijebak menikah dengan bosnya yang misterius dalam situasi yang tidak bisa dia hindari. Ve kira Bosnya angkuh,,, ternyata dibalik sikapnya yang dingin, tersimpan kasih sayang yang besar untuknya.
Namun, Barra yang lebih suka menunjukkan perasaannya lewat tindakan, sering disalah artikan oleh Ve yang menginginkan suaminya mengungkapkan lewat kata-kata.
" Kamu istri saya,,, saya akan memperlakukan kamu layaknya istri...",
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pp_poethree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit
"Kenapa? dari tadi diem terus.. ", tanya Barra kepada Ve. Mereka dalam perjalanan pulang menuju Apartement .
Ve diam, bukan karena tidak ingin menjawab, tapi dia tidak mendengar. Ve melamun. Masih kaget dengan fakta yang baru saja dia tahu. Mici membohonginya selama ini.
" Ve..
Ve... Ve....",
Barulah pada panggilan ketiga, Ve menyahut.
" Iya pak? ",
" Kenapa? ",
" Saya? nggak apa-apa. Bejo kemana pak? ",
"Saya usir... ",
" Saya tanya baik-baik jawabnya gitu... ",
" Kenapa? saya tanya apa malah tanyain Bejo.. ",
" Saya ngantuk pak.., Rere aja udah tidur nih.. ",
" Tadi saya sudah nawarin buat tidur di rumah Mama kan? ",
" Nggak pak.. besok Rere sekolah...
Oh ya.. selamat ulang tahun ya pak , semoga umurnya berkah... ",
Barra tersenyum.
" Ve.. besok saya pergi... dinas keluar negeri selama tiga hari.., saya ke Singapura.. ",
" Terus kenapa pak? ",
Barra menghela nafasnya dalam dan panjang.
" Nggak apa-apa.. saya cuma titip Rere.
Besok saya jemput Rere ke sekolah, lalu kalian antar saya ke Bandara... ",
" Siap pak.. ",
Ve sudah meminta izin ke guru sekolah Rere. Anak itu akan pulang sekolah sedikit lebih awal karena ikut mengantarkan Daddy nya ke Bandara.
" Rere makannya udah? ",
"Udah Dad.. ",
" Ve.. kamu mau take away aja? buat makan malam kalian nanti? ", tawar Barra.
"Makasih pak.. Rere nanti udah minta dibuatin Spaghetti.. ",
Barra mengangguk.
"Dad, Rere mau dibawain coklat dari singapura ya.. ",
" Iya sayang.., nanti Daddy bawain.. ",
Keluar dari parkiran sebuah Mall. Mata Ve menangkap pemandangan yang membuat perih hatinya.
Ken terlihat sedang bersitegang dengan seorang perempuan yang sangat Ve kenal. Belum juga dimaafkan, tapi Mici membuat Ve kembali marah. Ken memegang tangan Mici yang terus saja memberontak.
Mici bersama Ken? Jadi.. mereka berdua selingkuh..? Aku di khianati sama pacar dan sahabat aku sendiri???
"Nanti kalo Daddy pulang, jemput di Bandara lagi ya? ",
"Oke Dad..",
"Rere baik-baik ya.. ",
"Oke Dad, kan ada ncus Ve yang jagain Rere.
Iya kan ncus...? "
Ve tidak bergeming. Matanya terus saja memandang ke arah belakang meskipun mobil terus melaju. Mengamati kedua orang yang membuat hatinya hancur.
Hal ini menyita perhatian Barra yang ikut mengamati objek yang sedang Ve lihat.
"Micel..? ",
Ve yang kaget lalu melihat ke arah Barra.
"Kamu liat Micel? ", ucap Barra lagi.
Ve hanya mengangguk.
"Mau turun??? ",
" Nggak pak.. ",
"Kan kamu bisa tanya ke dia.. ",
"Percuma dia pembohong.. ",
"Gimana rasanya dibohongi?? ",
"Hati saya sakit pak.... ",
"Kamu nggak ada bedanya sama Micel, kamu juga bohong sama saya Ve...",
"Saya bohong apa pak?? ",
"Kamu nggak mau ngaku? ",
Ve menunduk. Ve menduga Barra sudah tahu tentang dirinya.
"Kamu kira saya nggak tau kalo kamu itu temen dekatnya Micel? freshgraduate? kamu bukan dari kalangan bawah Ve.., Ayah, Kakak, latar belakang keluarga mu pun saya tahu... ",
"Bapak tau dari mana? ",
"Nggak penting.. ",
"Sejak kapan pak? ",
"Sejak pertama kali kamu masuk kerja.
Sudah mau ngaku, sekarang...? ",
"Maaf pak.. ",
"Pantesan temenan sama Micel, sama-sama bohongnya.. ",
"Saya nggak apa-apa dipecat pak, tapi jangan ngomel dulu. Saya lagi pengen nangis.... ",
Setelah meminta izin, benar saja air mata Ve keluar deras. Hatinya perih, Dadanya sesak. Tangisannya pecah.
"Huuu~~hu... ~",
" Ncus.. jangan nangis.. ",
"Gitu aja cengeng. Kan saya sudah nawarin, mau balik nggak? sok-sokan bilang nggak mau..",
" Kalo kita balik.. bapak bisa ketinggalan pesawat... ",
"Oh iya.. bener juga..
Jo.. gas dikit Jo.. kita hampir telat... ",
" Siap pak... ",
Barra sampai di bandara tepat waktu. Disana sudah menunggu Papa Barra yang kali ini ikut dalam perjalanan dinas.
Tidak seperti Mama Barra, Papa nya terlihat lebih hangat pada Rere.
"Hati-hati grandPa.. ",
"Terima kasih Rere.. sampai jumpa lagi.. ",
Makan tidak enak, tidur pun tidak nyenyak. Ve masih memikirkan tentang Ken dan Mici.
"Makan siang tadi, makan dimana? makan apa sayang? ", tanya Ve kepada Ken.
"Makan di kantin kantor sayang.. ",
Bohong dasar pembohong. Jelas -jelas Ve melihat Ken dan Mici di mall saat jam makan siang. Ve yang tidak ingin gegabah, memilih mengiyakan perkataan Ken.
Tanpa mengkonfirmasi kepada Mici. Ve justru memblokir semua akses untuk sahabatnya itu. Meng-cut off Mici dari hidupnya.
Di tengah kegalauan nya, kedatangan Diana ke Apartemen milik Barra semakin menambah beban dalam pikirannya. Ve takut jika Diana ikut-ikutan salah paham mengenai dirinya.
"Mbak Di.., pak Barra nya dinas.. ",
"Iya.. saya tau kok.. saya kesini juga mau ketemu sama kamu.. ",
"Ketemu saya mbak..? ada apa..? ",
"Ini untuk Rere ya Ve... ", Di meletakkan beberapa paper bag ke atas meja.
" Terima kasih mbak.. "
" Nggak masalah, kan nantinya Rere juga jadi anak saya.. ",
"Oh iya mbak..., hehe.. ", tawa canggung Ve tercetak jelas dari raut wajahnya. Sungguh, tidak tahu harus bagaimana dia bersikap.
"Ve.. kamu tau kan? sebentar lagi, saya sama mas Barra mau nikah? ",
"Tau mbak, pernah denger.. "
"Mas Barra itu orangnya kaku, nggak bisa diajak negosiasi, suka menang sendiri, dan dia juga dominan.. ",
Ve tersenyum kecut.
Kenapa cerita sama aku, mbak Di?
"Saya juga tau kok, kalo dia itu sebenernya masih setengah hati, menjalani pertunangan ini. Kadang-kadang, saya juga merasa nggak dicintai...",
Kenapa masih dilanjutin kalo udah tahu mbak?? padahal mbak Diana cantik, baik., lemah lembut..pinter, kaya..pasti banyak yang mau.
"Tapi, saya masih menerima, karena saya yakin suatu saat nanti, Mas Barra akan berubah jadi hangat.. ",
Bakar aja mbak.. bakar biar gosong sekalian...
"Saya sangat mencintai mas Barra, Ve..
Bantu saya ya Ve..",
Ve mengangguk dan tersenyum dengan lengkungan bibir yang dipaksakan.
" Bantu apa ya mbak? ",
"Bantu saya untuk bisa dekat dengan Rere..., karna saya liat, kamu langsung bisa akrab sama dia..",
"Rere pernah bilang, kalo dia dilarang sama pak Barra untuk dekat dengan mbak Di.. ",
"Itulah mengapa saya mau minta bantuan kamu, mumpung mas Barra nggak ada, jadi saya punya kesempatan untuk mendekati Rere.
Saya menerima segala kekurangan mas Barra, termasuk dengan lapang dada menerima putrinya.. ",
Bucin banget mbak.., sumpah sayang banget mau sama pak Barra. Run mbak.. run.. kamu terlalu mewah untuk laki-laki itu.
"Oke mbak..
maaf tapi jangan sekarang, Rere sudah capek. Dia lagi istirahat.
Mbak Di, besok ada waktu? Besok Rere ada les vokal, habis itu mau saya ajak belanja di Mall ada beberapa keperluan Rere yang habis. Kita ketemuan ya mbak? ",
"Oke Ve.., terima kasih banyak.. ",
"Sama-sama.. ",
Perempuan setulus Di, harus berjibaku dengan manusia sok cool dan dingin seperti beruang kutub. Jika Ve menjadi Di, dia akan mencari laki-laki yang lebih kaya dibandingkan Barra.
Diana terlihat sangat menyayangi Rere, tulus dan memperlakukan Rere dengan lembut. Ve senang, Rere akhirnya bisa tertawa lepas bercanda dengan calon Mama sambungnya.
Ve hanya mengamati dari kejauhan, interaksi Rere dengan mbak Diana.
"Ve.. kamu kenapa? kok keliatan sedih.. ",
"Nggak apa-apa Jo.. ",
"Sini.. belanjaan Rere biar aku aja yang bawain.. "
"Makasih ya Jo.. ",
"Kamu cemburu ya lihat Rere sama mbak Diana? ",
"Nggak Jo.. aku justru seneng. Rere bisa akrab sama mbak Di..,
aku cuma nggak enak badan aja Jo.. ",
"Berobat ya Ve..? apa minta mbak Di, periksa kamu? ",
"Nanti mampir ke apotek aja ya Jo kalo pulang.. ",
Badan Ve semakin panas, padahal dia sudah meminum obat yang dibelinya dari Apotik. Ve lemas, untuk bangun pun kepayahan. Untungnya, masih ada Bejo yang pengertian, menemani Ve dan Rere di Apartement.
"Ncus.. minum dulu ya.. ",
"Makasih Rere... ",
"Ve.. aku tadi ngehubungin pak Yuda, katanya dia mau ke sini, ngecek keadaan kamu.. ",
" Jo jangan ngerepotin orang.., aku cuma kecapekan aja.. ",
"Wajah mu pucet banget lho Ve... ",
Ve hanya pasrah ketika dokter yang dibawa oleh Yuda, memeriksa keadaannya.
"Gimana dok? ", tanya Yuda.
"Tekanan darahnya rendah.., jadi drop... ",
Yuda sibuk dengan ponselnya. Ve dengan susah payah mencoba memasukkan makanan ke dalam perutnya.
" Ve.. saya pamit dulu..kamu nggak apa-apa kan? kalo malam ini berdua dulu sama Rere.. ",
" Nggak apa-apa Pak.., setelah disuntik tadi udah enakan.. ",
"Kalau butuh sesuatu bilang aja Ve,
Tenang aja, besok pak Barra udah pulang..",
" Bukannya masih lusa ya pak? ",
" Nggak tau tiba-tiba minta di reschedule.. mungkin gara-gara kamu sakit.. ",
"Hah..?",
" Ah.. nggak.. maksud saya kan kamu sakit, jadi pak Barra khawatir kalo Rere ngga ada yang urus.. ",
Masa bodoh, Ve tidak peduli.
Ve meneruskan makannya. Lalu meminum satu per satu obat yang diberikan dokter untuknya.
biar kapok Barra🥰🥰🥰
tapi jangan buat Ve kecewa ya kak,,
kesel aja trus bikin Bara bere bucin akut Ama Ve😄👍
harusnya dia jujur ke Ve ttg mamanya Rere. lanjut Saffa cantik🥰🥰🥰