Shiren dipaksa menikahi seorang pria cacat yang kaya demi melunasi hutang sang ayah. Pria itu mengalami kelumpuhan sejak dua tahun silam. Dan sekarang, kakeknya mencari istri untuk merawat dan menjaga cucunya karena dia sudah sakit-sakitan.
Namun, sikap suaminya yang kasar membuat Shiren hidup bagai di neraka. Terlebih karena dia harus menunaikan janjinya untuk tetap bertahan dengan Arthur.
Bagaimana kah kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayo, jalan-jalan
Pagi harinya, Shiren sedang sarapan bersama dengan Arthur. Keduanya tampak mengobrol dan berbincang mengenai masa kecil mereka dulu dengan melihat-lihat buku Arthur.
"Lihat, di sini aku mengatakan kalau Ren itu sangat cantik dan baik. Apa iya kau dulu cantik? Tapi mengapa sekarang biasa saja?" Arthur memerhatikan Shiren dengan seksama. Kulit wajahnya benar-benar tidak terawat.
"Ah, kalau ini, aku tidak bisa membeli skin care mahal. Hampir semua gajiku untuk membayar uang makan dan tempat tinggalku di rumah," ucap Shiren lirih. Teringat saat dulu dia sering kehabisan uang karena hampir seluruh gajinya diberikan pada ibu tirinya.
"Mengapa kau harus melakukannya? Itu kan rumah ayahmu."
"Ibu tiri ku masih belum menerima kehadiranku. Selamanya, ayah dan aku salah di matanya. Aku tahu kalau ayah salah karena berselingkuh, tapi tidak seharusnya dia dihukum seumur hidup. Lagipula ayah selingkuh karena katanya ibu tiriku tidak pernah menghargainya sebagai suami. Entalah, tidak ada perselingkuhan yang dibenarkan dan mereka tetap salah."
"Apa gak mau aku memberikan pelajaran untuk mereka?" tanya Arthur dengan tatapan serius.
"Tidak, tidak perlu. Aku sama sekali tidak merasa dendam pada mereka. Bagaimana pun juga, mereka adalah keluargaku yang sangat aku sayangi."
"Baiklah, kalau begitu, bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan saja ke mall."
"Ke mall?" tanya Shiren hampir tak percaya.
"Kenapa? Apa kau tidak suka ke sana?"
"Itu adalah tempat yang sejak lama ingin aku kunjungi. Tapi, aku tidak pernah memiliki waktu dan uang untuk ke sana. Terima kasih."
"Kalau begitu, segeralah ganti baju dan kita akan pergi ke mall."
"Baik." Shiren pun segera pergi ke kamarnya, meninggalkan Arthur yang terus menatap pintu sambil tersenyum.
"Eh, kenapa aku tersenyum? Bagaimana mungkin aku tersenyum ketika melihat seseorang bahagia karena aku?" Tersadar dan mengusap wajahnya.
Setelah selesai berganti baju, mereka pun segera pergi ke mall dengan diantar sopir dan dikawal oleh beberapa orang.
"Arthur."
"Ya."
"Kenapa berpenampilan seperti ini?" Shiren mengernyitkan dahinya ketika melihat penampilan Arthur yang sangat aneh. Dia memakai topi, kacamata hitam, dan masker mulut sehingga siapapun tidak akan bisa mengenalinya.
"Kenapa? Apa kau keberatan? Jika kau keberatan, buang saja matamu."
"Eh, tidak, aku sama sekali tidak keberatan." Shiren pun mencoba tersenyum untuk meyakinkan Arthur bahwa dia sama sekali tidak keberatan. Meskipun kelihatannya sangat aneh ketika dia bersama dengan orang yang mirip pengintai itu.
"Apa kau lapar? Bagaimana kalau makan dulu."
"Boleh."
Mereka pun segera masuk ke dalam sebuah restoran mall. Banyak mata tertuju kepada mereka karena penampilan Arthur yang tertutup. Juga para pengawal yang berjaga di dekat meja mereka.
"Kenapa mereka tidak duduk?"
"Mereka bertugas untuk menjaga kita, bukan ikut makan bersama kita."
Shiren hanya mengangguk. Entah mengapa sepertinya dia merasa jika Arthur sedang dijaga karena ingin menghindari sesuatu. Apakah saat ini nyawa Arthur terancam?
"Oh ya? Katakan, makanan apa saja yang dulu suka aku makan?" tanya Arthur yang masih penasaran dengan sosok masa kecilnya.
"Kau suka sekali makan durian. Kau bisa menghabiskan satu durian untukmu sendiri."
"Apa? Aku suka buah yang rasanya pahit itu?"
"Tidak, mereka tidak pahit. Mereka enak, kau dulu sangat suka sekali."
"Ah, lupakan saja. Aku tidak mau mendengar hal-hal aneh dari masa kecilku."
'Aneh, dia yang bertanya, tapi malah dia yang marah,' batin Shiren. Dia masih memerhatikan Arthur, hingga dahinya mengernyit ketika melihat gaya duduk Arthur yang berbeda.
'Bagaimana orang lumpuh bisa duduk seperti itu?'
aq pengin endingnya berdua bahagia.