Keduanya bertemu tanpa didasari perkenalan dan cinta satu malam terjadi begitu saja.
Sandra meninggalkan pria yang bercinta dengannya semalam. Tanpa ia tahu bahwa pria itu adalah tetangganya sendiri, Damian Ocean seorang duda yang kabarnya akan menikah lagi.
Disisi lain Sandra tengah hamil anaknya. Apa yang harus dilakukan Sandra. Apakah dia harus datang kepada pria itu dan memintanya untuk bertanggung jawab? Atau membesarkan anaknya seorang diri karena ia tidak ingin menjadi seorang pelakor. Konflik lain pun terjadi saat Sandra tahu wanita yang akan menikah dengannya adalah Ibunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjenguk
Sandra merasakan mual lagi, ia pun langsung bergegas keluar dengan alasan mau menerima telepon. Setelah itu ia berlari kecil menuju toilet umum yang ada di pertengahan lorong rumah sakit.
Tak berapa lama, Sean datang ke rumah sakit dengan wajah sedikit lebam dan goresan luka di dekat pelipis.
Damian berjalan di belakangnya, di ikuti beberapa bodyguard yang selalu mengawasinya dari kejauhan tanpa sepengetahuan Sean karena bodyguardnya itu tidak memakai seragam yang sama.
Begitu pintu ruangan dibuka, Merry terkejut dengan kedatangan Damian. Ya Damian datang atas permintaannya Sean yang menyuruhnya untuk melihat keadaan Merry dan memberinya perhatian. Setidaknya hingga kakinya sembuh.
Perkelahian dan perdebatan yang terjadi di depan perusahaan Damian berakhir dengan perdamaian asalkan Damian menemani Merry hingga lukanya pulih atau bahkan hingga Merry bisa tersenyum dan melupakan patah hatinya.
"Damian," ucap Merry lirih sambil mengerjapkan mata seolah tak percaya.
Jantungnya selalu berdegup saat bertemu dengan Damian. Perasaan cinta yang sulit ia lupakan.
"Hai Merry," sapa Damian berjalan mendekati brangkar ranjang.
"Wajahmu penuh luka," ucap Merry kemudian melihat ke arah Sean yang sedari tadi diam.
"Apa kau yang membuatnya seperti ini Sean?" terka Merry
"Hhmm," jawab Sean dengan malas kemudian duduk di sofa
"Oh tidak. Minta maaflah Sean, aku tak pernah mengajarimu berbuat berkelahi dengan orang lain," ucap Merry
"Aku hanya mewakili perasaan mu," jawab Sean setelah meneguk air mineral dalam kemasan botol
"Perasaan apa?" ucap Merry seraya menggelengkan kepala kemudian ia menoleh pada Damian, "Aku minta maaf atas nama Sean, kau mau kan memaafkannya?" tanya Merry sembari meraih tangan Damian
"Ya aku sudah memaafkannya. Wajar saja jika dia marah. Bagaimana keadaan mu, ku harap kau segera pulih," ucap Damian yang belum melepaskan tangan Merry. Ia malah menggenggamnya lalu menepuk punggung tangannya untuk menyemangati mantan kekasihnya itu.
Bagaimana pun juga Merry pernah menjadi bagian dari hatinya, meskipun kini Damian sudah menganggapnya sebagai teman dan sebentar lagi status mereka adalah mertua dan menantu
Merry tersenyum, "Terimakasih Damian, Aku senang kau kemari,"
Tak berapa lama Sandra masuk dengan hati senang, ia tidak tahu jika Damian ada disana. Hal yang dilihatnya pertama kali saat membuka pintu adalah Merry yang sedang tersenyum pada seorang pria. Sandra tidak jelas siapa yang datang karena pria itu memunggunginya. Saat Sandra berjalan mendekat barulah ia tahu jika Damian yang ada disana.
Sorot mata Sandra beralih ke bawah, di tepi ranjang ada kedua tangan yang saling berpegangan. Kemudian perasaan cemburu menerpa hatinya. Damian langsung melepaskan tangannya takut jika Sandra salah arti. Merry bisa melihat tingkah Damian yang tiba-tiba melepaskan tangannya, namun ia tak curiga sama sekali. Malah Merry berpikir memang sudah tak ada cinta dihati mantannya itu.
"Ah ini Sandra, putriku. Sandra ini Damian," ucap Merry menatap Sandra
"Hai...," Sandra menyapa Damian, tersenyum kaku, seolah-olah ia tidak mengenal Damian. Damian juga membalas senyuman Sandra.
"Hai...," balas Damian. Dia tidak mengulurkan tangan karena Sandra telah melarangnya untuk tidak akrab
"Ayo kenalan, kalian belum saling mengenal bukan?" ajak Merry
"Aku sudah mengenalnya Ibu, kau selalu bercerita tentangnya," ucap Sandra seraya melirik ke arah Damian
"Hemm rasanya tidak seru jika tidak berjabat tangan," ucap Merry melirik ke arah Damian dan menyuruhnya untuk berjabat tangan.
"Aku Damian," ucap Damian mengulurkan tangannya
"Sandra," Sandra membalas uluran tangan Damian.
"Senang bertemu denganmu," ucap Damian seraya tersenyum
Tatapan Damian yang tanpa kedip menarik perhatian Sean. Ia lantas berjaga-jaga agar pria itu tidak menggoda Sandra.
Sean beranjak dari duduknya dan mendekati Sandra
"Jangan lama-lama, nanti kau terkena rayuannya," ucap Sean meraih lengan Sandra agar jabatan tangan mereka terlepas.
"Aku membawa mu kemari agar kalian bisa berbicara satu sama lain. Kau tahu? Ibuku kecelakaan karena dia belum bisa melupakan dirimu. Selesaikan semuanya sekarang," ucap Sean seraya mendorong dada Damian dengan satu telunjuknya.
Kurasa semuanya sudah jelas. Soal Merry belum bisa melupakan, kurasa hanya butuh waktu saja. Apa aku harus menegaskan lagi? Haruskah aku mengatakan kebenarannya? batin Damian
"Sean, kenapa kau bicara seperti itu?" ucap Merry merasa tidak enak. Dia ingin menutupi hatinya yang masih belum bisa melupakan Damian
"Aku tahu dari temanmu Bu, kau tak perlu menepis ucapanku. Ayo Sandra kita keluar," Sean melangkah pergi sambil menarik lengan Sandra
Sandra menunduk, sebenarnya dia tidak ingin pergi dari sana karena Sandra ingin mendengar apa yang mereka bicarakan.
Di depan ruang perawatan, Sean mengamati Sandra yang diam di bangku sambil menutupi hidungnya dengan wewangian aromaterapi. Untuk menahan rasa mualnya dan
"Kau kenapa? Sakit?" terka Sean seraya menyelidik
Sandra mengangguk, "Iya, aku sedikit tidak enak badan. Sebenarnya aku enggan kemari tetapi Ibu jauh lebih penting,"
"Kau bisa kemari setelah sembuh, tak perlu memaksakan diri," ucap Sean
Mereka terdiam. Keadaan menjadi hening, ditambah suasana lorong rumah sakit tersebut sangat senyap. Juga tidak ada percakapan yang terdengar dari dalam kamar. Sandra menyenderkan punggungnya karena lelah.
Hormon ibu hamil sangat membuatnya cepat lelah. Apalagi harus menunggu seperti ini selain lelah, juga terasa lapar, Sandra merogoh isi tasnya untuk mengambil roti kecil yang selalu tersedia di tasnya. Selama hamil, isi tasnya selalu penuh dengan berbagai macam makanan. Setidaknya mencegah rasa lapar.
Sean mengamati Sandra, kakaknya itu tidak pernah mengantongi makanan kecil di tasnya.
"Kau mau?" tawar Sandra basa basi
"Tidak, kau saja," ucap Sean
"Lalu kenapa melihatku?"
"Haha ku perhatikan kau makin berisi ya. Apa kau tidak menjaga pola makanmu?" ucap Sean
"Ya haha mungkin karena akhir-akhir ini nafsu makanku bertambah," sahut Sandra
"Baguslah, setidaknya tubuhmu jadi lebih enak dilihat, ketimbang terlalu kurus," cibir Sean
"Enak saja mengataiku kurus, ini berat ideal tau!" Sandra melahap rotinya dengan suapan besar dan mengunyahnya dengan cepat.
Sementara di dalam tak banyak percakapan. Keduanya canggung. Merry memulai percakapan, ia mengatakan jika ia merasa tidak enak dengan tingkah Sean sementara Damian ingin menegaskan hubungannya dengan Merry yang sudah berakhir.
"Sean tidak tahu apapun tentangku, dan dia menyangkut pautkan kecelakaan ini dengan masalah asmara ku, jangan percaya dengan ucapannya," tukas Merry
"Ku rasa Sean benar, aku mengenalmu Merry. Aku tahu bagaimana kau berbohong dan menutupi perasaanmu. Kisah percintaan kita sudah berakhir. Kita berteman sekarang dan kau layak mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku," sahut Damian
"Sampai sekarang aku masih penasaran siapa wanita yang membuatmu berpaling dariku," ucap Merry pada akhirnya.
"Ahh come on, jangan ungkit lagi masalah itu. Aku bilang itu kesalahan,"
"Kesalahan apa? Kau melakukannya dengan penuh kesadaran kan?"
"Tidak, Aku tidak sepenuhnya sadar, aku sedikit mabuk karena ada permasalahan di perusahaanku. Aku bahkan pergi memancing untuk melupakan masalah ku," Damian menghembuskan napas kasar, "Ku harap kau mengerti,"
"Apa kita bisa bersama lagi? Aku akan memaafkan kesalahanmu itu Damian, kita bisa melanjutkan hubungan kita dan menikah seperti apa yang pernah kita rencanakan sebelumnya," ucap Merry menatap Damian dengan penuh harapan.
Damian terdiam lama dan menatap Merry sangat dalam. Ia harus mengutarakan isi hatinya. Rasa cinta itu sudah berganti haluan. Ia mengatakan dengan pelan agar wanita itu sepenuhnya mengerti dan melepaskan dirinya.
.
.
.
Tak berapa lama Damian keluar ruangan, ia pergi tanpa berpamitan dengan Sean maupun Sandra. Seperti permintaan Sandra sebelumnya, jika di depan Sean Damian harus terlihat cuek dan tidak akrab dengannya. Sementara Sean bergumam dan mengatai sikap Damian yang buruk dan terlampau cuek. Sean pun masuk kembali, disusul Sandra yang masih memakan roti cemilannya
Sorot mata Merry menatap ke depan, kosong dan dirinya shock. Belum bisa menerima kenyataan bahwa semuanya sudah berakhir. Cinta untuknya kandas ditengah jalan.
Dalam hatinya berteriak keras, memaki cinta yang tak bersalah. Cinta datang seperti jelangkung, datang tiba-tiba memberi kenyamanan lalu pergi begitu saja. Bukan jodoh, mungkin takdirnya hanya untuk Carlos seorang, mantan suaminya yang telah meninggal.
Selepas kepergian Damian, Merry bersikap dingin pada Sean, memarahinya namun dengan suara yang pelan.
"Puas, kau sudah membuatku malu. Jangan pernah lagi mengusik urusan pribadiku Sean," ungkap Merry menahan tangis.
"Aku minta maaf. Tapi setidaknya, dari sini kau bisa lihat, dia tak pantas diharapkan lagi!" desis Sean.
"Sudahlah, maksud Sean mungkin baik Bu. Dan Bu, kau fokuslah pada kesehatan mu sekarang. Agar kakimu cepat pulih. Aku cuma tiga hari disini," ucap Sandra berusaha menengahi.
"Katamu, kau akan disini hingga kakiku pulih dan membaik," ucap Merry
"Hemm aku berubah pikiran, rupanya pekerjaan ku tidak bisa ditinggalkan selama itu," ucap Sandra sebenarnya dia takut jika kehamilannya terbongkar. Baru sehari saja Sean sudah memperhatikan dirinya, bagaimana berminggu-minggu.
terima kasih banyak, kk author 🤗