NovelToon NovelToon
Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)

Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 5
Nama Author: Adisty Rere

Reka, seorang gadis yang kehilangan kehormatan dengan paksa. Ia mau tak mau harus menerima si pelaku sebagai suaminya demi nama baik keluarga.


Dengan terburu-buru, Irwan kejar langkah kaki Reka. Ia tarik dengan paksa tubuh Reka. Menggendongnya seakan sedang membawa sekarung beras.

"Lepasin!" Reka berteriak lantang.

Namun Irwan seolah menulikan indra pendengaran. Ia buang dengan kasar tubuh kurus Reka ke atas ranjang big size miliknya.

"Kau tidak akan bisa keluar dari sini! Ini rumahmu! Ini rumah kita! Selangkah saja kau beranjak dari sini, aku pastikan kau tidak akan pernah bertemu dengan keluargamu lagi. Ingat itu!" ancam Irwan yang masih setia dengan tatapan elang. Begitu menghunjam, membuat Reka pucat seketika itu juga.

Irwan langkahkan kaki menuju sudut ruangan. Ia keluarkan stik golf yang berada dalam tempatnya, lantas mengayunkan secara membabi buta tongkat besi itu.

Prang!

Semua yang ada di meja rias tergeletak tak berbentuk di lantai.

Beberapa detik kemudian meja besar terbelah menjadi dua. Seakan belum puas, Irwan layangkan kembali stik golf hingga mengenai TV besar 65 inci. Irwan begitu berang. Dengan derap kaki yang cepat ia hampiri Reka yang meringkuk di atas Ranjang. Reka memucat. Baru kali ini dia melihat iblis menjelma menjadi manusia.




Bisakah Reka bisa bahagia?

Akankah si pelaku memperlakukannya dengan baik?

hayo baca cerita selengkapanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adisty Rere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

posesif dan agresif

Irwan menahan degup jantungnya yang menggila. Setelah melihat pesan itu, hatinya diselimuti aura kegelapan yang siap menelan siapa saja. Beberapa foto kebersamaan Reka dan Eldi mampu mengubah perasaan seorang Irwan. Ia yang tadinya ingin bertemu karena masakan, kini berubah haluan menjadi begitu ingin memberi Reka pelajaran.

"Sialan!" Irwan kepalkan tangan, geram. Berkali-kali memukul setir mobilnya dengan kuat. "Dasar tidak tau diri! Diberi kebebasan malah begini," ucap Irwan, mengetatkan rahang. Ia lemparkan ponselnya dengan kasar seolah memawakili perasaannya yang juga sudah gusar.

****

Perkataan Irwan tadi pagi masih terngiang jelas di telinga Reka. 'Aku mengawasimu!' Teringat juga tatapan menghujam Irwan yang begitu tajam membuat Reka mendadak menahan napas, cemas. Ia edarkan pandangan melihat kesekeliling. Aku gak lagi diikutin, 'kan? Ya Allah, semoga saja tidak. Reka bermonolog dalam hati. Menenangkan perasaan yang menjadi tidak karuan setelah bertemu Eldi.

Mempercepat langkah menuju parkiran mall yang diikuti Nara dari belakang. Di sana mereka telah ditunggu oleh pak supir yang ia kenal bernama Marno. Pria tua yang sudah lama bekerja kepada suaminya.

"Pak , cepetan kita pulang," pinta Reka dengan wajah yang sudah terlihat memucat seperti mayat.

"Iya, Nyonya."

"Sebenarnya ada apa, Nyonya?" Bingung, Nara benar-benar walanghati melihat gelagat Reka yang begitu ketakutan.

Tersenyum getir kemudian menggeleng pelan. "Gak apa-apa."

Resah, perasaan takut itu semakin menjadi ketika mengetahui ada mobil sedan hitam yang membuntuti mereka semenjak keluar dari mall. Ya ampun, aku benar-benar dibuntuti.

Tibalah mereka di mansion.

Reka berjinjit masuk melewati pintu rumah yang lumayan tinggi. Mengendap-endap dengan kedua belah mata yang tak henti memperhatikan sekeliling. Alhamdulillah, dia belum pulang. Reka membatin dengan perasaan lega karena tak melihat sosok Irwan di sana. Ia hanya melihat dua orang pelayan yang sibuk mengelap dan membersihkan ruang tamu.

Dengan langkah panjang cenderung tergesa-gesa, Reka berjalan menuju kamar. Ia tutup pintu dengan menahan dentuman jantung yang semakin bertabuh. Reka harap-harap cemas, akankah Irwan menyiksanya lagi karena bercengkrama dengan pria lain? Tangannya juga gemetar, berkali-kali ia tekan bibir bawahnya. Kengerian kembali menjalar hingga ke tulang. Mangingat bagaimana beringasnya sosok Irwan bila sedang marah.

"Ya Allah, lindungi aku."

Dengan menahan hawa kengerian, Reka ambil air wudu untuk menunaikan tugasnya, salat ashar. Reka tadahkan tangannya. Berdoa dengan sungguh-sungguh. Maminta pengampunan juga perlindungan. Hatinya yang kacau ia curahkan kepada Sang Pencipta. Berserah pada Sang Khaliq pemilik semua makhluk.

Reka buka mukena dan melipatnya dengan rapi seraya meletakkannya di atas nakas. Tiba-tiba ada keributan dari arah luar. Suara Irwan dengan jelas terdengar menggelegar memanggil namanya. "Reka! Di mana kamu!".

Astaga, dia tiba. Bagaimana ini?

Dengan cepat Reka melangkahkan kaki hendak mengunci pintu. Tapi sayang, Irwan yang sudah kesetanan membuka pintu, membantingnya dengan kuat. Irwan benar-benar terlihat menakutkan. Matanya merah padam menatap nyalang pada Reka yang berdiri di samping ranjang.

Dengan kaki lebar ia melangkah cepat, menghampiri Reka. "Dasar perempuan bingal! Sudah aku katakan jangan pernah membuatku marah!" hardik Irwan, mecengkran kuat kedua belah pipi Reka.

Reka menggeleng, menatap nanar mata Irwan yang sudah melotot tajam padanya. Sikap posesif Irwan mencuat. Membuatnya kembali menyerang Reka dengan agresif.

"Bukankah kamu sudah tau kalau aku tidak suka dilawan! Kau sepertinya harus diberi pelajaran tambahan, biar otakmu ingat apa resikonya bila menentang keinginanku!" ucap Irwan lagi. Napasnya terdengar kasar. Menahan gejolak api yang semakin besar. Ia hempaskan wajah Reka hingga Reka terbanting di atas ranjang besarnya.

Reka tentu saja panik. Tubuhnya mendadak kaku, apalagi Irwan sudah membuka satu persatu kancing kemejanya.

Dengan keberanian yang tersisa Reka berlutut di depan Irwan. Ia gosok-gosokkan telapak tangannya. Barharap Irwan tidak melakukan hal yang keji seperti dua tahun lalu. Ia bahkan rela hidup seolah mati. Demi menghindari kejadian itu. Reka tak rela disetubuhi oleh Irwan, walapun sudah sah menjadi suaminya.

"Ampuni aku. Itu hanya sebuah kebetulan. Aku tidak tau kalau dia juga ada di sana," ucap Reka dengan bibir yang bergetar.

Namun, Irwan yang sudah diselimuti kebencian tak menghiraukan perkataan memelas itu. Ia tetap naik ke atas ranjang dan dengan cepat menarik rambut Reka. Menengadah, Reka kesulitan menelan ludah.

Irwan menyeringai. Wajah iblis melekat kuat di senyuman itu.

"Tolong jangan ...."

Reka kembali merintih. Meminta belas kasih seorang Irwan. Irwan hentikan kegiatannya. Ia pandangi wajah kacau Reka.

"Aku sungguh tidak melakukan kesalahan. Kami hanya berpapasan. Kau harus percaya padaku," terang Reka. Matanya masih berkaca. Tak sanggup membayangkan kegilaan apa yang akan Irwan lancarkan selanjutnya.

"Bagaimaan aku bisa mempercayai perempuan-perempuan seperti kalian!" Geram, Irwan mengunci mata berkabut ketakutan itu dengan tatapan penuh kebencian. Bayangan masa lalu selalu melekat. Bahkan wanita baik seperti Reka ia anggap sama seperti Siska.

"Aku tidak sama seperti mantan kekasihmu, Irwan. Aku wanita terhormat. Orang tuaku selalu mengajarkan yang baik-baik padaku." Masih memelas. "Tidakkah kau bertanya pada orang suruhanmu? Apakah itu kebetulan atau kesengajaan," terang Reka mencoba menyadarkan Irwan yang seperti kehilangan akal.

Sesaat Irwan terdiam, tanpa sadar membenarkan perkataan Reka dalam hatinya.

"Tolong jangan seperti ini. Percayalah padaku. Aku tidak pernah berniat kabur ataupun selingkuh."

Irwan mengusap wajahnya yang gusar. Ia beranjak dari kasur dan mengambil kemeja yang tergeletak. "Bangunlah. Aku lapar." perintahnya tanpa menoleh.

Tiga puluh menit berselang.

Dengan langkah hati-hati Reka menaiki anak tangga. Berjalan perlahan membawa nampan yang berisi puding oreo dan juga brownies dengan taburan kacang almond di atasnya.

Cih! Rasanya percuma aku membuatkan kudapan yang manis tapi perilakunya selalu jahat padaku.

Tibalah Reka di balkon rumah. Tempat Irwan biasa bersantai mengistirahatkan tubuhnya.

Dia kenapa? Kalau ingin tidur, kenapa tidak ke kamar saja?

Batin Reka kembali menggerutu melihat Irwan dengan tenang memejamkan mata di kursi santai yang terbuat dari rotan. Tubuh panjangnya terbaring indah dengan lengan menutup mata.

Bagaiama bisa dia sesantai ini setelah membuat aku begitu ketakutan? Dasar psikopath sialan!

Lagi-lagi Reka hanya bisa mengumpat dalam diam. Walaupun kebenciannya sudah menjalar ke ubun-ubun, tetap saja ketika menatap mata Irwan nyalinya kembali menciut.

"M-mas, ini cemilannya," ucap Reka terbata-bata. Dengan hati-hati Reka keluarkan isi nampan ke atas meja.

Namun, Irwan masih bergerak. Lengan masih setia menutup matanya.

Apa dia beneran tidur? Ya sudahlah, aku turun saja, batin Reka. Ia pun membalik tubuh, melangkah lumayan jauh meninggalkan Irwan.

"Tunggu!"

Suara berat Irwan menghentikan langkahnya.

1
Kotin Rahman
syukurin nyungsep tuh ben kapokk......selametin rekanya aja thor bkin reka mnghilang gtu biar tahu rasa psikopat bego.....bkin keseell 😡😡😡😡😡
Kotin Rahman
irwan ini dkter yg kena virus rabies kali ya.....cm gara" d hianati pacar stresnya kelewatan......dokter mcam apa ituu 😡😡😡😡😡
lidya
Luar biasa
Euis Kindar Wulan
up
erma wahyuningsih
Bagus
Mustika Utama Sari
bagus
arfan
up
Titik Novrianti
dokter bedah saraf,,,tau² sarafnya sendiri yang rusak🙊🙈
Yunita Sari Sari
Kecewa
siti yanti
Hatur tangkiu Othor suka cerita 😍
Siti Rofiatin
kasian thomas...
Indah Sri Rezeki
hahhahaha ending yg 🤣🤣🤣
ifech qhory
😂😂😂😂thomas
Nurliana Saragih
The Best!!!
Nurliana Saragih
Ini yang salah karena dari awal aku baca,Irwan gak ada manggil Ibu ke mertuanya malahan manggil Tante dan om,lucu kan?!
Tolong di koreksi ya Sayang.
Semangat dan selalu sehat ya.
😘😘😘
Nurliana Saragih
Lah,,, jangan pake sekop sayang, nanggung pake ini aja ya,,,🔨🔨🔨 kayaknya lebih mantep ini lagi dari pada sekop?!
😅😅😅
Siti Sri Wahyuni
Mampir 😊
Nurliana Saragih
Kayaknya aku dah pernah baca novel inilah,terus aku suka baca novel yang genrenya kayak ini,best bangetlah pokoknya.
Nurliana Saragih: Maaf ya sayang,gak ingat soalnya dah banyak baca novel hingga mau liat di rak buku, bingung.
Sorry ya Dek, pokoknya Kakak baca hampir sama.
total 2 replies
Vevy Dyana
aduh ksihan
Chandra Dollores
Dion pebinor datang
hihihihihi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!