Rasa kecewa yang berkali-kali kualami atas perlakuan suamiku, Bram, dan keluarganya yang tidak pernah mengahargai sebagai istri dan menantu, akhirnyanya terlampiaskan.
Setelah bertahun-tahun tertindas, aku akhirnya menunjukkan perlawanan.
Ternyata tanpa aku duga sebelumnya, orang tua yang mengasuhku selama ini, bukanlah orang tua kandungku.
simak kelanjutannya dan mohon dukungan dari pembaca, untuk karya baru ku ini.🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
" Rasa sakit telah terbiasa hadir menyapa, tapi tidak untuk rasa yang satu ini. Tak kala hati ini dikhianati, dalam diam aku menangis. Dalam diam jiwaku mati."
Sejak ucapan Sofi kemarin di telepon, aku masih berharap bahwa semua dugaannya salah. Andai semua itu benar, aku tidak tau seperti apa lagi bentuk hatiku menerima kenyataan itu.
Karena itulah, malam ini aku titipkan kedua anakku, sama Bu Rani. Aku bilang saja mau menjeguk temanku yang sakit.
Padahal aku hanya berencana untuk mengintai suamiku di rumah mertua. Karena sudah kebiasaannya, Bram, selalu mampir ke rumah ibu mertua sepulang kerja. Jarak rumahku dengan ibu mertua hanya kisaran 15 menit naik angkot. Berhubung menjelang magrib, angkot sudah tidak beroperasi. Aku naik becak motor saja.
Aku sengaja memakai hoodie hitam, untuk memudahkan penyamaranku. Dilengkapi juga dengan masker warna senada.
Aku telah tiba di rumah ibu mertua. Penampakan rumah ibu nampak sepi. Tapi pintu rumah terbuka. Aku mengendap lewat teras samping. Kebetulan lampu belum di nyalakan. Aku tidak melihat mobil suamiku terparkir di halaman rumah ibu mertua.
Apakah suamiku tidak datang ke rumah ibu, dan malah langsung pulang ke rumah kami? Huh, aku mendengus kesal karena aku merasa petualanganku malam ini akan sia-sia.
Baru saja aku hendak keluar dari halaman. Ketika tiba-tiba aku mendengar suara klakson mobil. Aku menjadi panik seketika. Untunglah ada bunga kertas di halaman ibu mertua. Pohonnya sangat rimbun.
Buru-buru aku lari bersembunyi ke sana. Hampir saja aku menjerit, karena ranting keringnya menggores pipiku. Perih sekali.
Kulihat mobil itu telah parkir di halaman rumah, ibu mertua. Bram keluar dari mobil, dan mengitari mobil menuju pintu yang satu lagi. Membukanya, lalu seseorang keluar dari mobil itu.
Susah payah aku menelan salivaku, saat Sarah keluar dari mobil. Perlakuan, Bram, begitu manis ke kakak ipar. Jadi, selama ini Bram dan Sarah selalu pulang pergi bersamakah, setiap kali kerja?
Sikap Bram dan Sarah yang santai seolah tak ada jarak diantara mereka.
Mendengar suara mobil, Vicky dan Martin menghambur keluar. Menyambut kedatangan mamanya. Disusul ibu mertua, yang tersenyum lebar melihat kedatangan anak dan menantunya.
"Makasih ya, Bram," ucap Sarah, diangguki senyum dari suamiku. Tatap lembut mereka beberapa saat saling tertaut. Hatiku bagai diiris menyaksikan itu semua.
Beriringan, mereka masuk ke rumah ibu seolah tanpa beban. Sikap ibu mertua begitu santai. Tidakkah beliau curiga gerak-gerik dari Bram dan Sarah? Ataukah ibu mertua sengaja menutup mata?
Aku keluar dari persembunyianku, masuk lewat teras samping. Aku ingin melihat adegan apa selanjutnya yang akan terjadi. Untunglah daun jendela dapur ibu mertua terbuat dari kaca nako. Sehingga aku leluasa mengintip dari celah tirai yang tersingkap.
Seperti suami istri saja layaknya, saat kulihat Sarah meladeni, Bram, makan. Rasanya tak kuat saat melihat suamiku selalu tersenyum lembut ke arah Sarah.
Sudah sejauh manakah hubungan mereka? Apakah Sarah juga meladeni suamiku di atas ranjang? Mengingat suaminya yang jarang pulang. Bisa saja 'kan mereka bermain api di belakangku.
Ingin rasanya aku masuk dan melabrak mereka. Tapi mengingat rencanaku yang masih banyak belum kutuntaskan. Biarlah aku bermain cantik dulu. Nantinya aku akan membalaskan semua sakit hati ini. Tunggu saja!
Diam-diam aku pergi meninggalkan rumah ibu mertua. Jadi perkataan Sofi benar adanya. Walaupun yang kulihat belum sejelas apa yang di lihat Sofi. Dari bahasa tubuh mereka, aku sudah paham bahwa antara Sarah dan Bram, suamiku telah menjalin hubungan terlarang.
Sesampainya di rumah, segera kujemput kedua anakku. Mitha sudah sempat tertidur, sehingga aku menggendongnya dari rumah, Bu Rani.
Jarum jam menunjukkan angka 10: 30, ketika kudengar suara mobil, Bram memasuki halaman. Aku sengaja menunggunya, malam ini. Aku hendak membicarakan sesuatu padanya.
Bram, sangat terkejut saat melihatku duduk di sofa, sambil memainkan ponselku. Sejak Bram suka mampir kerumah ibu, hampir setiap hari seusai bekerja. Bram selalu membawa kuncu cadangan.
Katanya, biar tidurku tidak terganggu karena dia terkadqng pulang larut.
"Belum tidur,Dek?" sapanya. Aku langsung berdiri, mengambil tas kerja dari tangannya.
"Menunggu Abang, pulang," sahutku lembut.
"Kenapa harus ditunggu, kalau adek sudah ngantuk, tidur sajalah," ucapnya seraya membuka dasinya.
"Aku tak bisa tidur, Bang. Sekalian menunggu abang, biar kita makan bersama. Sudah lama sekali kita tak pernah makan malam bersama," kutatap wajahnya sambil membantunya melepas dasi.
"Jam segini kamu belum makan, Dek?" beliaknya.
Abang sudah makan tadi, diajak teman sekantor," ucapnya menghindari tatapanku.
"Oh, ya?" sahutku enteng. Menelisik wajahnya. Yang kutatap tak mampu bersirobok mata denganku. Lihai kali kamu, Bang, berbohong bisik hatiku lirih.
"Iya, kadang kami suka gantian traktir makan, sehabis lembur," ucapnya masih menghindar tatapanku. Sementara apa yang kulihat tadi di rumah ibu mertua, melintas dipelupuk mataku.
"Kalau begitu, abang menemaniku saja, ya." ucapku pura-pura penuh harap.
"Abang, sudah capek, Dek. Mau mandi, ganti baju, kamu makan sendirilah, ya," ucapnya dengan wajah masam. Beda sekali saat berhadapan dengan Sarah.
"Sudahlah, aku tidur saja. Gak jadi makan," aku langsung pergi masuk kamar. Pura- pura ngambek. Hanya untuk menguji kepeduliannya. Seperti dugaanku, Bram, tidak berusaha untuk menahan langkahku. Aku pun langsung naik ke tempat tidur, dengan menghadap tembok.
Sekarang semakin jelas, kurasakan kalau, Bram, telah selingkuh.
Aku terjaga tengah malam karena mimpi buruk lagi. Mimpi yang terus berulang, yang pada akhirnya aku bisa menarik kesimpulan, kalau mimpi itu adalah cerminan dari masalah rumah tanggaku yang sedang kualami saat ini. Sampai terbawa dalam mimpiku.
Karena haus, aku turun dari tempat tidur. Baru kusadari, kalau suamiku tidak tidur disampingku. Adakah dia sedang ke kamar mandi? Aku, segera menuju ke dapur, mau mengambil air minum di dispenser. Segelas air putih membasahi kerongkonganku, terasa lega.
Aku melihat lampu di kamar mandi menyala, berarti, Bram, pasti di dalam, pikirku. Karena telah minum segelas air putih, mendadak aku juga mau pi**s.
Langkahku terhenti di depan pintu. Karena aku mendengar suara ******* di kamar mandi. Ngapain Bram, mendesah sendiri di kamar mandi? Sepertinya dia juga tengah berbicara dengan seseorang.
Pelan-pelan aku mundur, kuambil ponselku di kamar. Aku kembali lagi ke kamar mandi. Sepertinya aktifitas suamiku belum selesai. Malah ******* itu semakin menggila, membuatku merinding.
Aku mendorong pelan pintu yang terbuka sedikit. Saking asyiknya, Bram, tak mendengar kehadiranku di belakangnya. Aku memvidiokan Bram, yang tengah melakukan VCS. Aku benar- benar kaget, terlebih saat aku melihat siapa perempuan yang menjadi lawan mainnya.
Mendadak aku mau mual dan muntah. Segera aku undur diri. Setidaknya aku telah punya bukti atas perbuatan, Bram.
Aku menghela napas perlahan, mengatur gejolak jantungku yang masih tak beraturan. Kakiku terasa dingin sekali. Terus terang aku syok dengan apa yang barusan kulihat. Berkali-kali aku melafazkan doa menenangkan deru jantungku.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*