Semua orang pasti menginginkan kebahagiaan, begitu pula yang dirasakan Amira. Dia adalah korban keegoisan kedua orang tuanya. Apalagi setelah ibunya menikah lagi, dia semakin kehilangan kasih sayang ibunya.
Dapatkah dia bertahan dalam menghadapi kerasnya hidup, atau pergi dan mengakhiri semuanya?
Tahap Revisi 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rijal Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amel Kembali
Sehari sebelumnya....
Amira sedang duduk santai di teras rumah,Rangga belum pulang kerja,oma juga masih di rumah temannya,jadi saat itu Amira cuma sendiri saja.
Amira masih fokus membaca novel di tangannya, dia bahkan tidak menyadari kedatangan Amel saat itu.
"Ehem.." Amel berdehem, membuat Amira kaget.
Amira sudah tahu kalau yang di depannya saat ini adalah Amel temannya saat SMA,tapi karena setahu mereka dirinya sedang tidak ingat apapun,jadi dia juga berpura-pura tidak mengenal Amel.
"Kamu siapa?"
"Aku amel, pacarnya Rangga," jawab gadis itu, dia tidak heran sama sekali saat mengetahui Amira tidak mengenalnya, sebab dia sudah mendapatkan informasi tentang keadaan Amira sekarang sama Aura.
"Amira aku tahu, kamu sedang kehilangan sebagian ingatan kamu, tapi aku harap kamu menjauh sejauh-jauhnya dari dia, saat ingatan kamu sudah pulih seutuhnya"
Mendengar ucapan Amel, seketika membuat Amira kembali kehilangan harapan untuk bersama Rangga.
"Maksud kamu apa?" tanya Amira bingung.
"Aku ingin kamu jauh-jauh dari Rangga, dia itu milik aku seutuhnya, dia itu tidak mencintai kamu lagi, mungkin perasaannya saat ini hanya sisa-sisa dari masa lalu, kamu jangan terlalu berharap banyak." kecam Amel. Amira hanya terdiam saja, otaknya berputar cepat, mencoba mencerna ucapan Amel barusan.
Melihat Amira yang kebingungan, Amel langsung pergi dari sana tanpa berkata apa-apa lagi.
Amira tidak menyangka Amel kembali lagi ke indonesia, padahal kemarin dia sempat mendengar pembicaraan Rangga dan Amel di telepon, saat itu Amel masih di luar negeri, tapi sekarang dia di sini. Sepertinya dia benar-benar harus kehilangan Rangga lagi untuk kedua kalinya.
"Dia sudah sadar, tapi tidak mau bicara, mungkinkah sesuatu terjadi lagi?" tanya Aura pada Dimas.
"Aku tidak tahu, mungkin saja Rangga mengatakan sesuatu sama dia," ucap Dimas, dia tidak tega melihat keadaan Amira saat ini.
"Amira anak yang kuat, bagaimana bisa dia jadi serapuh ini," ujar pak Andi ikutan sedih.
Sedangkan bu Diandra masih berada dalam kamar Amira, berusaha membujuk Amira untuk bicara. Namun sayang, dia hanya menatap lurus ke depan, pandangan matanya kosong, jelas terlihat tak ada kehidupan di mata itu.
"Sayang .... Tolong bicara sama mama, seharian ini kamu tidak makan, tidak minum, kamu punya masalah apa? Kamu bisa cerita sama mama."
Amira mulai mengalihkan pandangannya, menatap wajah sang mama dengan dalam, kemudian bayangan-bayangan masa lalu kembali bermunculan dipikirannya. Seolah-olah kejadian itu baru saja terjadi, sang mama yang selalu memarahinya, kebencian Aura padanya, sikap sinis pak Andi, semuanya.
Semua hal buruk yang mereka lakukan, Amira juga terus melihat gadis kecil yang duduk di bawah kolong meja sambil menangis pilu, dan itu adalah dirinya saat kecil, pikirannya kacau, kepalanya sakit hingga...
"Keluar!!! Keluar dari sini!" teriak Amira, dia melempar mamanya dengan bantal.
"Amira, tenang Amira, ini mama!" wanita itu masih berusaha menenangkannya.
"Keluar!!!" dia semakin histeris
Amira melempar semua barang yang ada di sampingnya bahkan gelas pun dilempar begitu saja ke lantai, tapi anehnya tidak pecah.
Ya enggak pecahlah, kan gelas plastik, tapi orang kaya kok pakek gelas plastik ya? hihihi, ada-ada aja.
Melihat kondisi Amira yang semakin tidak bisa terkontrol, bu Diandra langsung keluar dari kamarnya dan mengunci pintu itu dari luar.
****
"Mama tenang dulu, biar papa telepon Siska, siapa tahu dia bisa bantu," ucap pak Andi.
"Siska siapa, Pa?" tanya Dimas penasaran, karena nama itu seperti pernah didengarnya
"Itu lho, anaknya pak lutfi, itu tuh cinta monyet kakak dulu," ledek Aura.
"Kamu, suasana lagi tidak baik gini ngajak bercanda lagi," tegur Dimas.
"Bagaimana kalau keadaan dia tambah buruk, duh gimana ini, Pa?" Wanita itu semakin cemas.
"Kita berdoa saja semoga semuanya segera membaik, besok pagi aku akan menyuruh Rangga ke sini," ujar Dimas, mencoba membuat mamanya tenang. Sedangkan pak Andi sibuk menelpon Siska, tapi sudah beberapa kali ditelpon, gadis itu belum mengangkat telponnya juga. Jadi lelaki itu memutuskan untuk mengirimkannya sebuah pesan singkat.
*****
Rangga, oma, dan siska. Mereka sudah ada di sana, di kamar Amira.
Pertama-tama Siska menyuruh Rangga yang berusaha mendekati Amira, mengajaknya bicara, karena Siska ingin melihat reaksi Amira.
Rangga perlahan melangkahkan kakinya menuju sisi tempat tidur Amira dan duduk di sana.
"Amira, bagaimana kabar kamu?" Rangga mulai bertanya, Amira masih tetap tidak merespon, dia masih diam termenung, tak tahu apa yang dipikirkannya sekarang.
"Mira, kamu masih ingat nggak dulu saat kita masih sekolah, kita sering menghabiskan waktu bersama, kamu masih mau kita seperti dulu tidak?" tanya Rangga, dia bingung tidak tahu mau bilang apa, jadi hanya kata-kata itu saja yang bisa diucapkannya.
Gadis itu masih tidak menjawab, membuat Rangga semakin frustasi, Rangga kemudian menggenggam tangan Amira, dan berkata.
"Kamu harus sembuh, aku janji aku bakal nikahin kamu."
Mendengar ucapan Rangga, semua orang yang ada di ruangan itu kaget, tidak menyangka, namun ternyata perkataannya tadi sukses membuat Amira menatap ke arahnya.
Amira tersenyum, membuat semua orang lega karena mereka pikir kondisi Amira akan membaik, namun siapa sangka kalau saat itu Amira akan...
"Plak!!!" satu tamparan mendarat di wajah tampannya, Dimas tertawa.
"Hahaha..." namun dia kembali diam, saat semua mata melotot ke arahnya.
"Diam! Diam kamu, kamu jahat! Kamu sudah membuang aku seperti sampah, dan sekarang pura-pura ingin menikahi aku, kamu sudah mengusir aku dari hidup kamu, kamu pergi sama Amel."
"Hiks!"
"Hiks! Kalian semua jahat, keluar kalian dari sini, keluar!" pekik Amira, dia menarik selimut dan melemparnya ke bawah lantai.
"Kalian semua kejam, kalian tidak punya perasaan, pergi! Pergi dari sini!" Amira terus berteriak, suaranya bahkan sudah parau.
"Pa, bagaimana ini?" bu Diandra sangat khawatir, oma kemudian datang dan memeluknya, berusaha memberikan ketenangan kepada gadis itu, dan ternyata kali ini berhasil.
"Om, Tante, kita keluar sebentar yuk! Siska mau ngomongin sesuatu hal yang penting," ajak gadis itu.
Akhirnya mereka semua keluar dari kamar Amira, dan hanya meninggalkan oma di sana.
"Kamu tahu, Nak. Oma sangat sayang sama kamu, kamu tidak boleh begini lagi, kamu buat kita semua khawatir," ucap oma sambil membelai penuh kasih rambut Amira.
Amira masih menangis dalam pelukan wanita paruh baya itu.
"Oma tahu, kamu sangat kesakitan menanggung ini semua sendiri, tapi oma tahu kamu anak kuat, anak baik, anak baik itu tidak ingin membuat orang lain ikut susah iya kan?Jadi, oma mau kamu harus kuat, kalau kamu tidak suka orang-orang membentak kamu, menghina kamu, kamu lawan saja! Kalau terus dipendam kamu sendiri yang akan merasakan sakitnya," jelas oma panjang lebar.
Ternyata perkataan oma telah membuat pikiran Amira terbuka, hingga dia pun mau bicara pada oma apa yang tengah dirasakannya.
"Oma, Amira ingin Rangga seperti dulu, jangan berpura-pura ke Amira, dia tidak tulus, dia sudah punya Amel tapi masih mengatakan ingin menikahi Amira, dia mempermainkan Amira," adu Amira. Oma hanya mendengarkan saja, tidak menjawab sama sekali. "Sedangkan mereka, mereka berpura-pura baik sama aku karena sekarang aku jadi orang cacat. Saat ini mereka terlihat sangat menyayangi Amira, namun, tidak akan lama lagi mereka akan kembali membuang Amira..." lanjutnya.
"Hiks!" Amira kembali menangis, jiwanya sedang terguncang saat ini.
itu sakit banget Amira, Rangga kok gitu sih