NovelToon NovelToon
JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Pendekar / Fantasi Timur
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: Lek Muheim

ENG ING ENG... ...
Selamat Tahun Baru
Serial JAGA BUANA ini akan disetop rilis episode barunya karena akan diremake dalam sebuah novel berbeda berjudul: "Bara Gentayu".
Alasan saya melakukan ini adalah karena ingin menghadirkan yang terbaik dengan karya berkualitas.
Saya memahami, bahwa ada beberapa pihak yang akan tidak puas, ada yang bersikap masa bodo dan seterusnya, tapi saat ini saya perlu fokus menggarap karya saya hingga tuntas.




Semoga, para penggemar bersedia bersabar menunggu rilis novel baru tersebut ternotifikasi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lek Muheim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misteri Bukit Tempirai

Esoknya, pagi-pagi sekali Genatayu sudah bangun dan membersihkan dirinya. Di bagian belakang rumah terdapat sebuah sumber mata air yang sangat sejuk dan bening airnya. Sangat menyegarkan sepagi itu bagi Gentayu dapat mandi dari sumber mata air tersebut.

Dari dapur, tercium aroma lezat masakan. Terlihat seorang perempuan seumuran tabib Mo keluar untuk menyiapkan sarapan. Wanita ini semalaman tidak terlihat saat dia datang ke tempat ini. Mungkinkah itu istri tabib Mo? Sementara itu, di kebun herbal pada pekarangan di belakang rumahnya, tabib Mo sedang sibuk memetik beberapa tanaman obat. Sepertinya dia memetik tanaman obat itu untuk pengobatan luka sahabatnya yang hingga saat ini belum sadarkan diri dari tidurnya setelah semalam menerima pengobatan hingga mengalami pingsan. Gentayu kemudian menyempatkan diri untuk melihat kondisi tetua Shou yang terlihat sudah lebih stabil keadaannya dibandingkan saat pertama kali di bawa ke tempat ini semalam.

“Oh, kau sudah bangun, anak muda. Silakan dinikmati. Hanya ini sarapan yang kami miliki..” Wanita tua itu mempersilakan Gentayu untuk makan pagi terlebih dahulu sementara melanjutkan dirinya melanjutkan kembali aktivitasnya di dapur. Menurut Nyonya Mo, suaminya akan agak terlambat untuk bergabung dalam kegiatan sarapan karena ada beberapa tanaman obat yang harus di ambil di puncak bukit di ujung desa ini.

Demi menghormati tuan rumah, Gentayu segera mengambil sepotong ubi jalar rebus yang dimakan bersama dengan sambal dari cabai hijau dan beberapa bahan lainnya. Selesai melahap habis ubi jalar tersebut, Gentayu segera mohon ijin kepada wanita tersebut untuk menyusul tabib Mo. Gentayu berfikir, menyertai seorang tabib dalam mengumpulkan bahan obat akan berguna baginya di masa depan.

Saat dia keluar, tabib Mo sudah bersiap meninggalkan area kebun herbalnya. Sebuah keranjang kecil berisi bermacam tanaman yang telah dipetik ditinggalkan di dekat pintu menuju keluar pekarangannya tersebut. Biasanya istrinya akan mengambilnya setelah dirinya keluar dari pagar. Sedangkan keranjang lain terbuat dari anyaman bambu dengan tali menyelempang tergantung di bahunya.

“Selamat pagi Tuan tabib, mohon izinkan aku menyertai tuan tabib” Gentayu memberikan hormatnya saat menyapa tabib tua tersebut.

“Kuharap kau sudah sarapan, anak muda. Perjalanan kita akan sedikit lama. Kemungkinan saat siang kita baru akan pulang..” tabib tersebut mengizinkan Gentayu menyertainya.

“Terimakasih, tuan tabib..”

Keduanya kemudian berjalan meninggalkan pekarangan milik tabib Mo menuju sebuah bukit di ujung Desa. Wilayah ini sebenarnya masih menjadi bagian dari Kota Sei Asin. Namun, tempat tabib Mo tinggal sudah lebih dekat dengan hutan daan wilayah perbukitan sehingga lebih cocok disebut sebagai desa daripada disebut bagian dari sebuah kota.

Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya keduanya memasuki areal hutan yang menjadi bagian dari kaki bukit Tempirai, demikian nama bukit itu.

“Namamu Gentayu bukan? Hutan ini adalah sebuah hutan kuno. Masyarakat menganggapnya sebagai hutan keramat. Satu-satunya yang mengagumkan dari hutan ini adalah banyaknya jenis tanaman obat langka yang berlimpah di sini. Tidak setiap orang berani memasuki hutan ini sebenarnya..” Tabib Mo menjelaskan kondisi hutan tersebut.

Menurut penjelasan tabib Mo, hutan ini dikeramatkan oleh penduduk karena adanya sebuah kejadian misterius dan tak pernah berhasil berhasil diungkap. Dahulu, beberapa ratus tahun lalu, para penduduk diteror ketakutan oleh kemunculan seekor kera raksasa berkekuatan dahsyat. Kera raksasa ini diyakini sebagai dalang dibalik menghilangnya banyak satwa hutan, juga hewan ternak peliharaan penduduk berikut pemilik ternak dan beberapa warga lainnya.

Kemudian datanglah seorang pendekar sakti yang berhasil mengalahkan kera tersebut. Namun ternyata, kera tersebut bukanlah pelaku teror terhadap warga di sekitar hutan ini. Pelaku teror di hutan tersebut justru belum terungkap hingga hari ini, sementara korban terus berjatuhan.

“Kalau begitu, bukankah berarti hutan ini berbahaya, tuan tabib?” Gentayu bertanya untuk memperjelas maksud dari cerita tabib Mo.

“Kurang lebih begitu. Tapi tidak amannya hutan ini juga jadi berkah bagi tabib sepertiku karena dengan tidak banyak dijamah membuat hutan ini kaya tanaman langka..” Tabib Mo membenarkan ucapan Gentayu.

Tujuan mereka adalah puncak bukit di tengah hutan tersebut. Mereka tidak mengambil tanaman apapun di hutan tersebut karena hampir semua tanaman berjenis obat telah ditanam di pekarangan rumah tabib Mo. Hutan itu sendiri tidaklah terlalu luas, sehingga tidak berapa lama kemudian mereka akhirnya tiba di punggung bukit.

“Kenapa kita berhenti, tuan?” Gentayu mempertanyakan tabib tersebut yang tiba-tiba berhenti melangkah dan memasang sikap waspada.

Tabib tersebut tidak menjawab, hanya jarinya menunjuk ke satu titik di dekat puncak bukit.

Pada titik yang ditunjuk tabib Mo, awalnya gentayu tidak melihat dan menyadari apapun. Namun ketika dia menyipitkan mata dan memfokuskannya, samar-samar dia melihat pergerakan angin yang tidak lazim. Sesuatu serupa angin tersebut memang bukanlah angin, melainkan makhluk yang entah apa dalam wujud transparan bergerak diantara puncak-puncak pohon. Gerakannya di antara pucuk-pucuk pohon itulah yang terlihat seolah ada angin yang bertiup dikarenakan wujudnya yang transparan.

Tampaknya makhluk tersebut menyadari kedatangan Gentayu dan tabib Mo di tempat tersebut.

“Tuan Mo, apakah anda pernah bertemu makhluk itu sebelumnya?” Gentayu bertanya dengan berbisik.

“Seharusnya, makhluk itu tidak di sini..” tabib Mo menjawab dengan berbisik juga

“Apa maksudnya?” Gentayu tidak mengerti

“Makhluk itu....” belum sempat tabib Mo menyelesaikan kalimatnya, kedua tangan makhluk transparan itu tiba-tiba sudah mencengkeram tubuh keduanya.

Gerakannya luar biasa cepat untuk makhluk berukuran raksasa seperti itu. Bahkan baik Gentayu maupun tabib Mo tidak melihat makhluk itu bergerak mendekat sebelum tubuh mereka dalam cengkeraman makhluk misterius itu.

“AAAAAGHHHHH........!!!” Gentayu dan tabib Mo sama-sama merasakan tubuh mereka diremas oleh jemari makhluk tersebut. Semakin mereka mencoba melawan, cengkeraman itu makin kuat.

‘Aku harus melakukan sesuatu atau kami berdua mati di sini’ Gentayu segera memutar otaknya untuk menemukan jalan keluar dari situasi yang sulit ini. Sementara di sisi lain, tabib Mo terlihat semakin kesulitan bernafas. Wajahnya mulai pucat. Sepertinya, orang tua itu sudah mencapai batasnya.

Gentayu segera memusatkan konsentrasinya untuk mempertahankan kesadarannya. Lalu berusaha mengumpulkan segenap tenaga dalamnya yang segera diubahnya menjadi energi panas dengan jurus ‘Riak Matahari’. Segera saja hawa panas berpendar keluar dari tubuh Gentayu. Semakin lama semakin panas, hingga akhirnya makhluk itu melepaskan cengkeramannya dari tubuh Gentayu. Begitu cengkeraman tangan makhluk itu terlepas, tubuhnya segera terjun bebas..

‘Gusrak! Gusrak!!’

Tubuh Gentayu menghantam dahan-dahan pohon yang cukup tinggi. Rupanya makhluk itu tengah membawa tubuhnya dan tabib Mo melayang di antara pepohonan tinggi di bukit itu.

‘BUGH!!

Suara benda cukup berat yang jatuh dari ketinggian terdengar keras. Tentu saja itu adalah suara tubuh gentayu yang jatuh menghempas tanah setelah sebelumnya tubuhnya meluncur menghantam dahan pohon di atasnya.

Gentayu segera bangkit tanpa mempedulikan rasa sakitnya akibat terjun bebas dari ketinggian yang lumayan mengerikan itu. Matanya diedarkan ke sekelilingnya mencari keberadaan makhluk itu bersama tabib Mo yang masih dalam genggamannya. Namun makhluk itu telah menghilang dengan cepat secepat kedatangannya saat menyerang mereka beberapa saat lalu.

1
Audrey Maritza Kanedy
mantap
Imam Mudjamil
good
susan to
kota daging asin
Daeng Tunca
kalo menurut saya cukup bagus, cuma kalo bisa di perbaiki lagi di endingnya..
Syakira Irawan
semua nama daerahnya koq ada di blkg rmh sy yaak/Silent//Silent/, emg ada kerajaan disana dlu taahh
didik jatirogo
Luar biasa
didik jatirogo
Buruk
asta guna
saya suka model2 MC yg nakal seperti ini. ayo Thor dilanjut novelnya
asta guna
ada kelanjutannya gak nih?
asta guna
sayang sekali baru baca sekarang
asta guna
iya. kuat saja tak cukup, perlu cerdas dalam pertarungan
asta guna
ntabs
asta guna
Luar biasa
asta guna
ha-ha-ha manteb nih
asta guna
semua guru gurunya punya ruang dimensi lain. keren
Putra Indra
semua pendekar habis, kehidupan hancur oleh orang jahat, mc ngga ada gunanya ini
Ficksu mixue
MC nya yg mana
Jhonny Afrizon
cerita bikin bingung,
Muhammad Syahlan
maantabbbb
Endang Nurhayati
ditunggu thor lanjutannya, tapi jangan lama-lama ya, trims
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!