Victoria yang baru saja lulus dari kuliah S1 nya harus menerima kenyataan pahit ketika tau orang tuanya telah dibunuh oleh seorang Mafia yang bahkan tak pernah ia jumpai sama sekali.
Dan hal lain yang lebih mengejutkan pun terjadi, sang ketua mafia yang membunuh kedua orang tua Victoria ternyata ingin menjadikan dia sebagai istrinya.
Lalu bagaimana dengan kehidupan Victoria selanjutnya? siapa sebenarnya si Mafia yang telah membunuh kedua orang tua Victoria? Akankah Victoria bisa membalaskan dendam atas kematian orangtuanya? atau justru dia akan jatuh ke dalam lubang cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiyah Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 16. Inikah Cinta?
Setelah cukup banyak mengoceh, Victoria terdiam. Perlahan dia memandangi Kai dari atas sampai ke bawah.
"Aku benar-benar tak mengerti dengan diriku saat ini, mengapa aku bisa begitu mencemaskan mu seperti sekarang? Padahal aku tau bahwa kau adalah penjahat yang telah membunuh orang tuaku, namun kenapa aku begitu tidak tega jika melihatmu sakit, seharusnya aku merasa senang bukan? Karena tujuan ku sebenarnya mau mengikuti mu kerumah besar itu, bahkan sampai menikahi mu adalah hanya untuk balas dendam. Namun sekarang...." Gumam Victoria sambil terus memandangi Kai.
"Kenapa aku merasa bahwa aku seperti mencintaimu?" Lanjut Victoria dengan lirih.
Victoria menghela napasnya dalam-dalam, dia kembali terdiam dan termenung, memikirkan tentang semua perasaan yang sedang dia rasakan saat ini.
Di satu sisi dia benci, dan kesal dengan Kai. Namun di sisi yang lain, dia juga merasa takut, dan khawatir jika Kai kenapa-napa. Terkadang dia merasa juga ingin di perhatikan, bahkan disayang oleh Kai. "Inikah Cinta?" Tanya Victoria pada dirinya sendiri di dalam hati.
"Kai, kenapa harus orang tua ku? Jika saja kau tak membunuh mereka, maka kebimbangan ini tak akan pernah kurasakan" seru Victoria lagi.
......................
Satu hari setelah Kai dirawat di rumah sakit pun telah berlalu. Dan kini karena suhu tubuh Kai sudah menurun, maka dia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.
Saat ini Victoria sedang membantu merangkul Kai yang masih sedikit lemas untuk berjalan itu. Lalu Alan juga Aluna membawa barang-barang yang mereka bawa saat Kai menginap seharian di rumah sakit tersebut.
"Kau yakin tak ingin dirawat lebih lama lagi?" seru Victoria saat masih merangkul Kai menuju ke mobil mereka.
"dokter saja sudah memperbolehkan aku pulang, Jadi untuk apa terlalu berlama-lama lagi di rumah sakit ini? aku sudah sangat bosan. Lagi pula aku sudah baik-baik saja" balas Kai dengan santai.
Mendengar jawaban Kai itu, lagi-lagi Victoria terlihat kembali kesal. "kau selalu saja mengata- kan bahwa kau baik-baik saja, namun nyatanya apa? saat kau mengatakan akan baik-baik saja setelah beristirahat, kau malah langsung masuk ke UGD!" ucap Victoria dengan nada yang kesal.
"bukankah itu bagus? seharusnya kamu mengambil kesempatan itu untuk membunuh ku bukan, tapi kenapa kau tak melakukannya?" ucap Kai dengan lirih, dia pun menghentikan langkah nya membuat Victoria juga ikut berhenti.
Kai menarik tangan Victoria yang sedari tadi memegang pinggangnya, kemudian dia pun menggenggam tangan tersebut.
"katakanlah perasaanmu yang sebenarnya, kau mencintaiku atau tidak? kau membenciku? juga apakah kau menginginkan ku mati atau tidak? Kumohon jawablah semua pertanyaan ini dengan hatimu" seru Kai dengan mata yang menatap dalam mata Victoria.
"Baiklah aku akan menjawabnya" balas Victoria setelah beberapa saat terdiam.
"jawaban dari pertanyaan yang pertama, Aku sendiri pun tidak tahu apa maksud dari kata 'aku mencintai mu' itu yang selalu lewat dipikiran ku sejak beberapa hari yang lalu. Pertanyaan kedua, aku membencimu atau tidak, maka jawabannya iya, siapa yang tak akan membenci seseorang yang telah membunuh kedua orang tuanya?. Dan yang terakhir, apakah aku menginginkan kematian mu atau tidak, maka aku juga tidak tahu apa jawaban yang paling tepat untuk kuberikan padamu. Jadi jika kau menginginkan jawaban dari pertanyaan ketiga mu itu, maka berikanlah juga jawaban yang pernah ku tanyakan padamu. Apa alasanmu tega membunuh dua orang yang tak bersalah itu?! mengapa kau tega membunuh dua orang yang paling berharga dalam hidupku?!" jawab Victoria panjang lebar dengan nada yang menaik di kalimat terakhirnya.
Sama seperti Victoria sebelumnya, Kai terdiam sejenak setelah mendengar jawaban dari Victoria tadi. Hingga akhirnya beberapa saat dia kembali berani untuk bersuara setelah cukup memikirkan apa respon yang terbaik.
"kalau begitu, maka simpanlah jawaban dari pertanyaan ketiga ku untuk suatu saat nanti. Saat ini aku benar-benar tak bisa memberitahu mu tentang alasan sebenarnya mengapa aku melakukan hal tersebut. Namun suatu saat kau pasti akan mengetahui apa alasan ku, dan di saat itulah jawab pertanyaanku" ucap Kai, Victoria benar-benar tak mengerti dengan apa yang Kai maksud, suatu saat? itu kapan.
......................
Hari demi hari berlalu sejak percakapan serius antara sepasang suami istri yang menikah bahkan tanpa tahu apakah mereka saling mencintai itu.
Entah kenapa sejak percakapan serius beberapa hari yang lalu itu, mereka menjadi lebih dekat satu sama lain. Padahal percakapan tersebut berakhir saat dua pertanyaan penting belum terjawab sama sekali.
Mereka berpikir bahwa selagi pertanyaan dari masing-masing mereka belum terjawab, maka mereka tidak yakin untuk mengambil langkah apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. Itu sebabnya untuk saat ini mereka memutuskan untuk memenuhi janji suci yang telah mereka ucapkan saat pernikahan itu terlebih dahulu.
Victoria pun juga menjadi lebih hangat dengan Kai, sikap dingin dan bencinya seolah-olah sudah mulai berkurang saat ini. Hari-hari yang berlalu itu pun telah mereka lewati dengan banyak canda tawa.
"Kai cepat kesini, tolong aku tidak sampai" teriak Victoria dari dapur, saya mendengarnya pun Kai langsung segera berlari dan pergi menuju sumber suara tersebut.
Terlihatlah Victoria yang sedang berusaha menggapai bumbu-bumbu dapur yang letaknya cukup tinggi di salah satu rak.
"Aisshh kenapa rak nya begitu tinggi sih!" gumam Victoria kesal juga sudah mulai depresi.
"Bukan salah rak nya yang tinggi, tapi salah tubuh mungil wanita yang ingin mengambilnya" bisik Kai di telinga Victoria secara tiba-tiba, Kai yang berdiri tepat di belakang Victoria pun langsung mengangkat tangannya dan mengambil bumbu- bumbu dapur itu.
"Mau ke gym bareng ku lain kali? Mungkin kamu bisa menambah tinggi mu setidaknya beberapa centimeter lagi" bisik Kai lagi kembali tepat di telinga Victoria.
Bisikan pertama tak terlalu membuat Victoria kesal, namun bisikan untuk yang kedua kalinya itu, selain Kai mengatakan hal yang menyebalkan, dia juga menambah damage suaranya saat bisikan kedua tersebut, membuat Victoria yang mendengarnya kaget sekaligus merasa geli.
"Enak saja! Tinggi ku ini sudah 168 cm ya, itu sudah tinggi tau! Lagian mana bisa tinggi seorang wanita cantik dibandingkan dengan tinggi para pria mafia yang menyeramkan!" Ucap Victoria dengan kesal, kemudian balik mengejek Kai.
Kai pun menaikan salah satu alisnya, dan meletakkan kedua tangannya secara menyilang di atas perutnya. "Pria mafia menyeramkan hah? Kamu sekarang berani berkata seperti itu ternyata" seru Kai dengan datar dan wajah yang mulai berubah menjadi menyeramkan.
"K-kenapa emangnya? Salah?" Balas Victoria yang sudah mulai ketakutan itu. "Salah besar" ucap Kai yang kemudian melepas ikatan rambut Victoria, kemudian dia berlari menjauhi Victoria.
"KAI!!" Teriak Victoria sedikit terlambat menyadari bahwa Kai telah melepas ikatan rambutnya. Segera dia mengejar Kai untuk mengambil karet rambutnya itu.
Kai berlari dan terus berlari, Victoria pun terus ikut mengejar Kai. Kai berlari dengan tawa namun Victoria berlari dengan kesal. Tapi lama kelamaan Victoria pun ikut terbawa suasana.
Victoria mengejar Kai dengan tawa bahagianya juga, beberapa saat kemudian dia pun berhasil mengambil karet rambutnya itu, dan bergantian Kai lah yang mengejarnya.
"Hahaha ketangkap putri kecil!" Seru Kai tertawa saat berhasil meraih tangan Victoria, secara spontan dia pun menarik pelan tangan Victoria hingga Victoria jatuh ke pelukannya. Tangan Kai bergerak dari tangan Victoria menuju pinggang Victoria, dia pun memeluk erat istrinya itu. Victoria juga ikut tertawa, semakin terlihat bahagia saat mereka sudah sedekat itu.
"Inikah cinta? Sekarang aku jadi semakin lebih sering tertawa dengannya, aku bahagia juga sangat merasa senang. Tak ingin kehilangannya, juga selalu ingin seperti ini. Dan benarkah cinta seperti ini? Tapi kenapa cinta membuat ku lupa tentang hal yang paling menyakitkan yang pernah dia lakukan?"