Tania dianggap sebagai pembawa sial karena semua pria yang berpacaran dengannya selalu berakhir dengan kematian tragis.
Hingga seorang detektif kepolisian bernama Zayn pun turun tangan karena ingin mengusut misteri kematian adiknya setelah berpacaran dengan Tania. Dia menyamar dan berpura-pura menyukai Tania untuk mendapatkan informasi darinya.
Namun, apakah yang akan terjadi ketika Zayn akhirnya benar-benar jatuh cinta pada Tania? Dan apa yang harus dilakukannya ketika berada di persimpangan dilema ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuduhan
Tania sudah bekerja di perusahaan papanya sebagai wakil direktur. Karena pada dasarnya ia gadis yang pintar, ia dapat bekerja dengan baik. Hamdan pun sering memuji pekerjaannya. Bahkan ia sering menawarkan Tania untuk menggantikan posisinya namun Tania menolak.
Hari ini, tepat sebulan setelah Tania bekerja. Dan hari ini juga adalah jadwal meeting dengan Zayn, selaku salah satu investor di perusahaannya.
Meeting dilakukan di sebuah restoran. Di sana, Tania hanya sendiri karena Hamdan sedang pergi menjenguk kliennya yang sedang sakit.
"Apa kabar Tania?" tanya Zayn saat mereka sudah berada di restoran.
"Baik, Pak," sahut Tania.
"Sudah berapa kali saya katakan, panggil Mas saja. Jika kamu memanggil Pak, saya berasa jadi om kamu."
"Saya nggak enak, Pak."
"Saya juga nggak enak kamu panggil Pak."
"Iya, baiklah. Mas Zayn. Saya ingin menunjukkan laporan bulan ini untuk Mas lihat." Tania menyerahkan sebuah amplop berisi laporan.
"Hmm perkembangannya sangat baik. Kamu berhasil memimpin perusahaan dengan baik."
"Saya hanya wakil, Mas."
"Kenapa kamu nggak mau jadi pemimpin saja. Kamu udah pantas kok."
"Nggak Mas. Saya nggak mau. Biar Om Hamdan saja yang menjalankan perusahaan."
"Tapi bagaimana pun perusahaan itu kan milik kamu."
"Kalau sudah selesai dengan laporannya, saya akan kembali ke kantor, Mas." Tania seolah mengalihkan pembicaraan.
"Makan sianglah dulu bersama saya. Maaf jika saya lancang berbicara tadi." Zayn seolah mengerti bahwa Tania merasa risih dengan ucapannya yang terkesan mengintimidasi.
"Tapi saya nggak lapar," tolak Tania sembari berdiri. Namun, suara perut Tania membuat keheningan yang sempura.
"Apa sekarang masih nggak lapar?"
Dengan wajah Semerah tomat, Tania kembali duduk dan melihat daftar menu makanan. Zayn hanya menggelengkan kepalanya.
*****
"Makasih atas makan siangnya, Mas," ucap Tania yang baru saja meletakkan gelas berisi jus yang baru saja diminumnya.
"Sama-sama." Zayn tersenyum.
Tania ingin berdiri, namun sapaan seseorang mengurungkan niatnya.
"Tania! Nggak nyangka banget bakalan ketemu di sini." Sima, yang merupakan mantan sahabat Tania menghampiri mereka dan duduk tanpa dipersilahkan.
Tania yang melihat Sima langsung ciut. Dia masih ingat saat Sima datang ke rumahnya dan memakinya serta menyebutnya sebagai pembawa petaka.
"Apa kabar, Tan?" Sima menatap Tania dengan tatapan tajam namun masih dengan senyuman.
Tania hanya diam dan menunduk. Melihat reaksi Tania, Sima tersenyum puas. Ia beralih menatap Zayn yang terlihat bingung dengan tingkah Tania.
"Mas siapanya? Teman atau pacar?" tanya Sima tanpa segan.
"Saya rekan bisnisnya."
"Bisnis? Oh jadi sekarang Tania udah kerja? Hebat banget Tan. Setelah lo nyebapin banyak orang meninggal, lo masih bisa tenang dan kerja? Wah, salut gue sama lo." Sima bertepuk tangan.
Tania masih diam dan menunduk.
"Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu? Apa maksud kamu?" tanya Zayn yang berpura-pura tidak tahu.
"Mas nggak tau? Dia ini udah bikin tiga laki-laki meninggal dengan cara tragis. Bahkan ada yang berstatus Abang dan Adik. Keduanya meninggal karena dia." Sima menunjuk Tania yang masih saja menunduk. Bulir air mata mulai membasahi pipinya.
"Apa maksud kamu? Tolong jaga bicara kamu. Kamu jangan seenaknya menuduh orang tanpa bukti." Zayn berpura-pura membela Tania.
"Bukti? Saya memang nggak punya bukti? Tapi alam sudah menunjukkan bukti itu. Apa menurut Mas kebetulan kalau ketiga pacar Tania meninggal dengan berbagai kecelakaan tragis? Mereka semua menginggal dengan kondisi mengenaskan. Dan itu terjadi setelah mereka berpacaran. Apalagi itu kalau bukan pembawa petaka?" Sima semakin memojokkan Tania.
"Kamu jangan sembarangan berbicara. Jika seseorang meninggal itu karena memang sudah takdir. Kamu mana bisa menuduh orang sebagai pembawa sial. Ini zaman modern, kenapa malah berpikir kuno."