Pernikahan atas dasar cinta adalah pilihan setiap umat manusia, tetapi bagaimana jadinya jika di dalam kata cinta dan pernikahan itu ada orang ketiga?
Begitulah kisah Bima dan Nadia, kehidupan rumah tangga yang sangat harmonis telah mereka rasakan hingga pada akhirnya Bima memutuskan untuk mendua lalu membuat pernikahan mereka berujung perceraian.
Disaat sedang patah hati, Nadia di pertemukan oleh seorang pria dewasa dan karena kebersamaan mereka akhirnya benih-benih cinta pun mulai tumbuh. Namun, sebuah kejutan mengangetkan Nadia yang mana ternyata pria itu adalah Ayah dari selingkuhan Bima.
Bagaimana kisah Nadia selanjutnya?
So Stay Tune 🥰
Follow Ig: ningsihartono ❣️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Pembalasan Untuk Suamiku
Bima terbangun dari tidurnya, matanya melihat ke sekeliling ruangan yang dia yakini jika itu adalah sebuah kamar. Tetapi dia heran ketika meneliti kamar tersebut yang ternyata bukanlah kamarnya, bola mata Bima terus bergulir menyusuri setiap ruangan dan dia terkejut ketika mendapati Aira tengah tertidur pulas di sampingnya dan lebih parahnya lagi, Aira menutupi tubuhnya menggunakan selimut. Pikiran Bima sedang bertanya-tanya ada apa sebenernya ini.
"AIRA!" bentak Bima dengan suara keras dan mampu membuat Aira terbangun.
Aira mengucek kedua mata dan dia menatap Buka dengan ketakutan.
"M—mas!"
"Apa yang sudah kita lakukan?" Bima masih berbicara dengan nada tinggi.
Aira menunduk dan air mata berderai di pipinya.
"Apa kamu lupa dengan apa yang sudah kamu lakukan padaku tadi?" Aira pun semakin terisak.
Bima mencoba mengingat sesuatu tetapi yang dia ingat hanyalah kepalanya terasa pusing.
"Setelah aku minum jus buatanmu kepalaku menjadi pusing, jangan-jangan—?" Bima menduga tentang kejelekan yang Aira lakukan.
"Fitnah kamu, Mas! Aku yakin kamu ingin menuduhku sudah memberikan sesuatu di minuman itu dan aku sengaja merencanakan semua ini, iya!" teriak Aira seperti frustasi.
Bima hanya mampu diam dan matanya terhenti pada bercak darah yang ada di sprei.
Aira tersenyum tipis dan dia kembali berakting.
"Lihat, Mas! Lihat akibat kebejatan yang telah kamu lakukan padaku!" Aira menunjuk bekas bercak darah itu.
Bima diam membisu karena dia masih tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi.
"Tidak mungkin, ini tidak mungkin." Bima pun menggeleng seperti orang gila.
Bima menyugar rambutnya dengan kasar sambil berteriak. Setelah itu, dia bergegas bangkit dari ranjang dan memakai kembali pakaiannya.
"Kamu mau kemana, Mas? Ketika kamu sudah berhasil merenggut kegadisanku sekarang kamu ingin pergi begitu saja, iya?'' Aira masih betah duduk di atas ranjang sambil memegangi selimut agar tidak melorot.
Bima tidak memperdulikan ucapan Aira, selesai berpakaian dirinya langsung pergi dari kamar tersebut.
Aira langsung bersorak riang, rencananya berhasil saat ini.
"Yes! Tidak sia-sia aku berakting dan mengiklaskan keperawananku untuk Mas Bima. Setelah ini aku yakin jika Mas Bima pasti akan sulit untuk menjauhiku." Aira teringat permainan ganas yang Bima lakukan tadi saat mereka melakukan penyatuan.
[Bayaranmu akan ku krim nanti, kerja yang bagus dan aku akan memberi bonus untukmu.] Sebuah pesan singkat yang Aira kirimkan pada seorang pria perampok tadi.
Aira pun sengaja menambahkan sebuah obat pil ke dalam minuman milik Bima, obat itu mampu membuat siapapun yang mengkonsumsinya mudah berkhalusinasi lalu membayangkan seseorang yang ada bersamanya adalah orang tercinta.
🌺🌺🌺
Bima sampai di hotel tempatnya menginap, dia segera bergegas menuju kamar karena ingin bertemu dengan Nadia.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka dan Bima langsung masuk ke dalam.
"Nadia?" panggilnya dengan lembut ketika melihat Nadia yang duduk di tepi ranjang.
Nadia mendongak dan senyuman manis pun terbit di bibirnya.
"Kok kamu baru pulang, Mas?" Nadia mencium punggung tangan Bima.
"Maaf ya, tadi kelamaan ngobrol bareng klien dan dijalan juga sedikit macet." Alasan yang Bima berikan agar Nadia tidak curiga.
Nadia hanya mengangguk.
"Kamu mandi ya? Aku akan menyiapkan air hangat untukmu." Nadia tersenyum seraya berlalu ke kamar mandi.
Bima yang melihat Nadia sangat merasa bersalah karena dirinya sudah mengkhianati pernikahan.
'Maafkan aku Nadia, aku benar-benar khilaf.' batinnya bersedih.
Bima segera melepaskan pakaian dan dia berjalan kamar mandi.
•
•
**TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN. TERIMA KASIH BANYAK 😘**