Emin Erdana gadis cantik nan rupawan, usia 18 tahun terpaksa harus menikah dengan Tuan muda Abelano putra tunggal Tuan Basten dan Nyonya Agatha. Untuk menyelamatkan reputasi Keluarga Besar Basten. Setelah pernikahan Putranya Abelano gagal karna sang kekasih lebih memilih pria lain.
Akankah Emin Erdana menerima pernikahannya dengan Abelano?
"Apakah Abelano dapat menerima pernikahan itu? simak ceritanya di "Contrac wedding 30 day's with CEO "
by Morata
FB Nolan s
Ig Sihalohoherlita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Morata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16. MULAI PROTES
Pertanyaan Nyonya Agatha kepada Abelano mengenai nafkah lahir dan batin yang diberikan oleh Abelano kepada istri yang baru ia nikahi beberapa minggu yang lalu.
"Jangan pernah melakukan kesalahan Jika kamu tidak ingin menyesal nantinya. Nyonya Agatha mengingatkan putranya untuk memperlakukan Emin dengan baik.
Nyonya Agatha meminta kepada Abelano agar dirinya tidak mengizinkan Emin bekerja di perusahaan yang lokasi kantornya berada di dekat komplek perumahan tempat mereka tinggal saat ini.
Setelah selesai berbicara dengan Nyonya Agatha, Abelano memilih untuk kembali ke kamar. ketika ia sudah tiba di sana ia tidak menemukan sosok Emin berada di kamar yang selama ini ia tempati.
"Dimana dia?
"Mengapa dia selalu mencari masalah di rumah ini? gumam Abelano dalam hati sambil menelisik seisi ruangan. Tetapi ia tidak melihat sosok yang ia cari. Emin memilih untuk duduk di balkon meratapi nasibnya yang ia alami selama ini.
Ia bingung harus bercerita kepada siapa. Jika ia memberitahu tentang pernikahan bohongan ini kepada kedua orang tuanya. tidak menutup kemungkinan kedua orang tuanya akan marah besar kepada Emin.
Suara deringan ponsel milik Emin terdengar jelas di telinganya. Ia melihat nomor Ponsel Daren yang menghubunginya. "Ada apa Darren menghubungiku? gumamnya dalam hati sambil langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya, agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Daren.
Asik ngobrol bersama Darren di dalam sambungan telepon seluler, membuat Emin tidak menyadari kalau suaminya sudah berada di belakangnya mendengar apa yang mereka bicarakan.
Terlihat begitu happy ketika berbicara dengan Daren di dalam sambungan telepon seluler, membuat emosi Abelano semakin memuncak.Abelano langsung meraih ponsel dari tangan Emin. Membuat Emin menggelengkan kepalanya. Ia khawatir Abelano akan berbicara yang tidak-tidak kepada Daren.
Daren Yang penasaran Mengapa tiba-tiba Emin memutuskan sambungan telepon selulernya, ia kembali mengirim pesan Whatsapp kepada nomor WhatsApp Emin. "Suami datang bukannya berada di kamar melainkan kamu asik ngobrol dengan lelaki lain!" wanita macam apa seperti itu?" teriak Abelano.
Maaf Tuan sebelumnya dikontrak pernikahan kita, kalau aku bebas menjalin hubungan dengan lelaki lain sama seperti anda juga. Mengapa Anda memarahiku setiap kali aku berbicara kepada sahabatku? bukankah itu merupakan privasiku?Emin mulai protes akan tindakan yang dilakukan oleh Abelano kepadanya.
Abelano langsung terdiam. Ia pun bingung Mengapa dirinya sampai saat ini merasa tidak terima kalau Emin dekat dengan pria lain.
Dua puluh sembilan hari kontrak pernikahan Itu sudah berlalu. Malam itu Emin sudah membereskan barang-barangnya memasukkannya ke dalam tas miliknya. Karena setelah itu Emin harus meninggalkan rumah utama keluarga Basten.
Ketika Abelano sudah pulang dari kantor, ia terhenyak melihat barang-barang yang sudah terkumpul di satu tempat dengan rapi. Ia juga melihat tas yang berisikan baju-baju milik Emin. Tetapi Emin tidak ada di kamar. Abelano berniat untuk mencari Emin yang dicari, malah asik ngobrol dan bercanda gurau dengan Bi Astuti.
Abelano memilih untuk menunggu di kamar. sebelumnya Emin tidak mengetahui kalau suaminya sudah pulang. Karena setiap Abelano pulang dari kantor, tidak ada tegur sapa sama sekali. Kini Emin sudah berpamitan kepada Bi Astuti, membuat bi Astuti merasa sedih dan menangis sesungguhkan.
"Bi, aku pasti merindukanmu. mudah-mudahan di tempatku yang baru aku betah bekerja ya Bi." ucap Emin sambil meneteskan air matanya. ia tidak sanggup harus berpisah dengan Bu Astuti, yang selama ini menemani hari-harinya selama berada di rumah utama keluarga Basten menggantikan sang ibu.
Malam hari telah tiba, setelah menyantap menu makanan yang dihidangkan di atas meja, Emin berniat untuk berpamitan kepada Nyonya Agatha dan Tuan Basten. tetapi ia tidak sanggup untuk mengeluarkan suaranya membuat Emin mengurungkan niatnya untuk berpamitan kepada Nyonya Agatha dan Tuan basten.
Drama makan malam telah usai, kini masing-masing anggota keluarga mengambil aktivitas mereka masing-masing ada yang Langsung tertidur dan ada juga yang melakukan aktivitasnya seperti biasa.
Emin berlalu ke kamar. Sakit rasanya di usia 18 tahun Emin harus menyandang gelar janda. Sakit benar-benar sakit dirasakan Emin saat ini. Pernikahan bohongan yang dilangsungkan satu bulan yang lalu membuat Emin tidak sanggup berbicara apa-apa. Dalam jangka satu bulan ia sudah menjadi seorang janda.
Emin duduk di kursi rias sementara Abelano memilih untuk duduk di sofa. "Kamu mau ke mana? Mengapa barang-barang kamu, kamu kumpulkan semua?" tanya Abelano yang belum menyadari kalau hari itu usia pernikahan mereka tepat 30 hari. Itu artinya kontrak pernikahan itu akan berakhir.
Emin tidak menjawab. lalu memberikan kontrak pernikahan itu kembali kepada Abelano. lalu ia membentangkan ambal di lantai untuk sekedar membaringkan tubuhnya yang sudah terasa ngantuk.
Emin membaringkan tubuhnya di atas lantai beralaskan ambal. Sementara Abelano masih tetap diam memperhatikan Apa yang dilakukan gadis kecil itu. Entah karena merasa ngantuk Emin Langsung tertidur pulas tanpa mempedulikan mimik wajah suaminya yang sebentar lagi hubungan di antara mereka sudah tidak ada lagi.
****
Pagi harinya Emin terbangun dari tidurnya. seperti biasanya sebelum dirinya melakukan aktivitas lainnya, ia selalu sholat terlebih dahulu. Emin tidak ingin melewatkan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Setelah selesai sholat subuh. Kini Emin berniat bergegas pergi dari rumah utama keluarga Basten. Pelan-pelan Emin mengangkat barang dan seluruh pakaiannya. sementara Abelano masih tertidur pulas di atas ranjang yang berukuran King size itu.
Perlahan demi perlahan Emin keluar dari rumah utama keluarga Basten, tentunya setelah meminta izin kepada Bi Astuti dan menitipkan sebuah surat kepada Nyonya Agatha. Di dalam amplop itu tertera surat perjanjian kontrak pernikahan antara Abelano dan juga Emin.
"loh neng Emin mau kemana?" tanya petugas keamanan yang bekerja di rumah utama keluarga Banten. "Tidak kemana-mana mang hanya saja seluruh pakaianku yang ada di sini ingin aku donasikan saja." sahutnya berbohong.
Bersambung......
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏🙏🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓💓
JANGAN LUPA FOLLOW OUTHOR MORATA KARNA AKAN ADA GIVEAWAY DI SANA AKHIR BULAN
Dan semoga Emin selalu sukses di luar sana,Jgn mau di pujuk pulang oleh pria tua itu lagi iya Emin..👍🏻