Dikhianati pasangan yang telah lama bersama sejak sekolah & bahkan nyaris menikah membuat Reza memilih meninggalkan apartemen yang sebelumnya ia beli untuk nantinya bisa ditinggali bersama kekasihnya.
Pindah ke tempat baru dengan harapan akan memiliki takdir baru nyatanya memang terjadi pada diri Reza.
Ia bertemu dengan gadis ayu namun misterius.
Yuk, kita temani Reza mencari tahu siapa sosok gadis misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Dia Bernama Dea
Tiga hari berlalu setelah malam itu, Reza yang semakin tak tenang karena Dea tak juga memberikan kabar akhirnya memutuskan untuk sore nanti akan pulang kerja lebih cepat dan mampir ke rumah Dea,
Ya...
Meskipun mungkin nantinya Dea akan membencinya karena memberanikan diri datang ke rumahnya,
Meskipun mungkin nantinya Dea akan memarahinya dan mengatakan mereka tak perlu kenal lagi,
Tapi, itu rasanya jauh lebih baik daripada Reza dalam posisi seperti saat ini yang bahkan tidak tahu keadaan Dea seperti apa,
Paling tidak, sekalipun Dea marah, yang penting Reza bisa bertemu dengannya, bisa melihat keadaannya, memastikan dia baik-baik saja,
Tidak terluka, tidak sakit atau terjadi sesuatu yang buruk padanya,
Ah' entahlah, sejatinya Reza tahu jika Dea di rumah memiliki seseorang yang ia khawatirkan, yang bisa saja itu adalah kekasihnya, atau suaminya atau malah kucingnya,
Pokoknya, Reza juga tetap tak mau peduli dulu soal itu, yang ia tahu, ia hanya ingin mengetahui secepatnya kondisi Dea,
"Tidak sarapan lagi Bang?"
Tanya Herman yang melihat Reza buru-buru keluar dari rumah menuju mobilnya,
"Kau tahu bukan, aku akan sarapan di kantin kantor,"
Kata Reza,
Herman tampak mantuk-mantuk, ia pikir ia masak nasi goreng agak banyak dan sangat pagi sudah siap, siapa tahu majikannya itu akan bisa lebih hemat dengan makan sarapan di rumah saja,
"Bagilah saja dengan supir sebelah rumah, atau siapa lah yang kamu kenal di sini,"
Kata Reza lagi,
Herman pun mantuk-mantuk,
"Siap,"
Sahut nya pula,
Reza masuk ke dalam mobil, sedangkan Herman tentu saja berlari ke arah pintu pagar rumah untuk membukanya,
Reza baru akan menyalakan mobilnya, manakala ada telfon masuk, khawatir itu Dea, tentu saja Reza sigap mengambil hp nya dari kantung jas kantornya,
Sayangnya...
Mama,
Ternyata panggilan masuk dari sang Mama,
"Za,"
Langsung terdengarlah suara Mama begitu panggilannya tersambung,
"Ya Ma,"
Sahut Reza, yang sambil menyalakan mesin mobil,
"Sore nanti mampir ke rumah Mama, kita ke rumah sakit,"
Ujar Mama,
"Rumah sakit? Mama sakit?"
Tanya Reza khawatir,
Mama terdengar menghela nafas,
"Bukan Mama, kita jenguk Maura, dua hari lalu dia sadar dari koma, dia kan sudah dipindah ke rumah sakit di Jakarta,"
Kata Mama,
"Buat apa ke sana Ma?"
Reza jelas saja mengeluh karena membayangkan bertemu Maura lagi membuatnya belum apa-apa sudah malas,
"Tapi pertama dia bangun yang dia panggil itu nama kamu Za, kasihan dia, nangis terus dia nyari kamu,"
Ujar Mama,
"Ma, Mama lupa dengan apa yang ia lakukan pada Reza, dia berkhianat dari Reza, Ma, buat apa kita kasihan lagi,"
Reza jadi kesal, karena Mamanya malah masih memikirkan nasib Maura setelah semua yang ia perbuat padanya,
"Za, jangan menjadi pendendam, itu akan menutup keberuntunganmu, sudahlah, maafkan saja Maura, yang penting kamu tidak perlu memberikan kesempatan lagi untuk ia kembali menjadi pasangan,"
Kata Mama membujuk,
"Tapi Ma..."
"Reza, percayalah pada Mama, ketika kamu melepaskan hal buruk dengan ikhlas, maka hal baik lain akan langsung menggantikan. Kamu yang masih marah dan membenci, adalah justeru menandakan kamu masih mencintai Maura,"
"Tidak Ma,"
"Kalau tidak maka sudahi dendamnya, Mama tahu ini berat, tapi kamu tak bisa membawanya seumur hidup, kamu nanti tidak bisa bahagia kalau seperti itu terus,"
Mendengar kata-kata Mamanya, akhirnya Reza pun menyerah,
"Tapi, haruskah sore ini Ma? Aku ingin menjenguk teman, sudah tiga hari ia tak ada kabar,"
Ujar Reza,
"Teman? Siapa? Perempuan? Teman Kantor?"
Tanya Mama seperti memberondong,
"Perempuan Ma, nanti kapan-kapan Reza ceritakan dengan lengkap, siapa dia, namanya, ukuran sandalnya, lingkar badannya, lebar bahunya, tinggi badannya, hobinya, cita-citanya, warna favoritnya, atau bahkan bila perlu jumlah giginya,"
Kata Reza pada Mama,
"Ya ya... baiklah, Mama tentu harus tahu, baguslah jika kamu ternyata diam-diam sudah membuka hati untuk gadis lain, tapi sedikit lah bocoran, kasih tahu Mama sekarang siapa namanya,"
Ujar Mama,
"Nanti sajalah Ma,"
"Tidak bisa, kalau nama Mama harus tahulah,"
Mama memaksa,
Tentu saja, bukan emak-emak jika tidak memiliki jiwa untuk memaksakan sesuatu pada anak,
Reza yang dipaksa pun akhirnya menyerah,
"Dea Ma, dia bernama Dea,"
Kata Reza akhirnya memberitahu nama gadis yang belakangan memang mulai memenuhi pikiran nya,
Sekalipun setiap Dea tertawa membuat Reza bergidik, tapi Reza merasa itu tidak berpengaruh pada perasaannya atas Dea yang baginya gadis yang menarik hati sanubari,
"Dea, apa Dea imut?"
Tanya Mama sekenanya,
Reza menghela nafas, menggeleng-gelengkan kepalanya,
Mama nya memang kadang begitu, agak mirip dengan othor, jadi Reza berusaha memaklumi.
...****************...