Aku tidak pernah merencanakan akan jatuh cinta pada siapa. Bukan kuasaku untuk menjatuhkan pilihan sang cinta pada pemiliknya yang entah siapa.
Semula, semua terasa mudah. Semula, aku merasa mampu bertahan dengan segala gejolak yang ada di dalam hati, yang menuntut untuk diperjuangkan. Semula, semua terasa cukup, mengetahui kau akan selalu ada disisiku.
Nyatanya, semua tidak semudah yang kubayangkan.
Ketika keadaan semakin menuntutku untuk memilih, manakah yang harus aku pilih? Karier atau cinta, yang keduanya bahkan baru sama-sama dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Belinda Marchely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Tak Tertulis (1)
Anetta's POV
“Lana! Akhirnya kamu masuk, juga,” seruku.
Hari ini Lana sudah masuk kerja kembali, setelah selama dua minggu kemarin mengambil cuti menikah.
Aku baru saja tiba di kantor dan langsung berteriak senang melihat Lana sudah duduk manis di balik meja kerjanya.
“Gimana liburanmu?” tanyaku. Aku turut senang melihat kebahagiaan terpancar dari wajah berseri Lana.
“Great! Lalu, gimana keadaan kantor selama aku tinggal?” tanya Lana begitu aku duduk.
“Baik-baik aja. Semua pekerjaan berjalan lancar,” jelasku.
“Apa ada berita yang aku lewatkan?” tanya Lana menyelidik dengan tatapan usil. Dia memain-mainkan alis matanya turun naik.
“Berita apa, ya? Aku bingung harus menceritakan apa ke kamu, Lana.” Aku tersenyum usil pada Lana, berbalik menggodanya.
“How about Bos Marco (1)?” tanyanya lagi.
“How about him? About what (2)?” Aku tidak bisa menyembunyikan getaran dalam suaraku ketika menjawab pertanyaan Lana.
“Apa dia udah mulai ‘lunak’?” Lana terkekeh.
“Memangnya ikan tulang lunak!” cibirku.
“Ayolah, Netta ... Aku udah memberikan kesempatan dengan mendelegasikan proyekku ke kamu. Masa enggak terjadi apa-apa selama kalian bekerja sama?” Lana sok putus asa.
Aku jadi bertanya-tanya sendiri terhadap penjelasan Lana. Memangnya kenapa dia harus dengan sengaja memberiku kesempatan untuk bekerja sama dengan Marco?
Walaupun akhirnya aku harus berterima kasih pada Lana, karena sekarang aku menjadi lebih dekat dengan bosku yang tampan itu. Oke, aku mulai posesif.
“Sepertinya memang ada yang aku lewatkan, ya?”
Aku terkesiap mendengar pertanyaan jtu. Mataku membeliak, lalu tersenyum penuh arti.
“What do you want to hear (3)?”
“Whatever I’ve missed (4).”
Aku menceritakan semua pada Lana. Mulai dari kejadian di mansion Mr. Raul Diaksa, makan siang bersama Marco hingga berakhir permintaan maaf darinya, acara makan malam di kediaman Tuan Danias Tjiptaditama, hingga saat Marco menemaniku latihan teater dan menanyakan apakah memang belum pernah ada laki-laki yang menemaniku berkegiatan.
Lana tersenyum semringah mendengar penjelasanku.
“Jadi, kalian sudah pacaran?” tanya Lana langsung. Aku merasa tidak siap dengan pertanyaan itu dan aku jadi bingung sendiri hendak menjawab apa.
Marco memang seperti menanyakan ‘apakah-aku-sudah-punya-pacar-atau-belum’, tapi dia tidak menyatakan perasaannya padaku.
Aku mengedikkan bahu. “Belum ke arah sana, sih, tapi intinya ya ... kami berhubungan baik.”
“Ya, seenggaknya Bos Marco mulai melembut hatinya. Mudah-mudahan berimbas juga ke kita-kita, jadi enggak akan sport jantung terus setiap ngerjain proyek.”
“Maksudnya aku jadi tameng?”
“Kalau itu memang berguna?” Lana terkikik geli, lalu tiba-tiba terdiam setelah mendengar suara kenop pintu terbuka. Dia beralih pandang ke arah pintu ruang kerja Marco.
Aku mengikuti arah pandangan Lana dan menemukan Marco sedang berdiri di meja asistennya. Dia melirik sekilas ke arahku. Melihat wajahnya yang berekspresi datar itu saja sudah membuat hatiku bergetar.
Dia berlalu ke arah pantri. Pasti dia ingin mengambil kopi, pikirku.
Aku melanjutkan rutinitasku seperti biasa, menyelesaikan satu demi satu desain interior untuk para klien sambil sesekali meladeni Lana yang sedang berbagi kisah bulan madunya.
~
Hari sudah lewat magrib, aku terpaksa lembur untuk menyelesaikan sebuah laporan yang tenggat waktunya besok pagi.
Tanpa sadar, Marco sudah berdiri di depan mejaku dan menyodorkan secangkir teh hijau kepadaku. Aku menerima dan menyesap teh hijau tersebut. Sangat menenangkan. Lalu kembali melanjutkan pekerjaanku.
Marco meminjam bangku Frans, lalu duduk di sebelahku.
“Kamu belum mau pulang?” tanyanya.
“Belum selesai. Tadi saya menyelesaikan beberapa desain dulu, sampai hampir lupa besok pagi ini harus di submit.”
“Geser!” perintahnya. Aku menurut saja.
Dia kini berhadapan dengan monitor komputerku dan dengan cekatan bermain dengan keyboard serta mouse-ku.
“Selesai. Ayo kita pulang!” katanya sambil tersenyum.
“Wah, terima kasih, Pak!” seruku senang. Aku memang sudah terlalu suntuk untuk mengerjakan laporan itu. Kalau tidak ada Marco, entah sampai jam berapa lagi aku harus berada di kantor.
“Marco, Netta ...” koreksinya cepat.
“Tapi, ini masih di kantor ...” desisku.
“Tidak ada karyawan lain lagi di sini,” protesnya tak mau kalah.
Aku melirik sekeliling, sepertinya tadi masih ada Sony dan Olla. Berarti aku terlalu asik dengan pekerjaanku sendiri sehingga tak menyadari kepergian mereka.
“Jadi kamu nungguin aku?”
“Mana tega aku membiarkan kamu pulang sendirian jam segini, ” jawabnya sambil membantu membereskan berkas-berkas di mejaku.
Kami berjalan bersama menuju parkiran mobil. Suasana kantor sudah sangat sepi. Cepat-cepat aku masuk ke dalam mobil, naluri korban terlalu banyak nonton sinetron dalam diriku bergejolak saat sepi begini.
Aku selalu takut ada tangan yang membekapku dari belakang sebelum aku masuk ke dalam mobil. Hihi, aku sendiri merasa geli setiap mengingat ketakutan tak beralasanku itu. Mobil pun melaju meninggalkan kantor Mills.
Di keheningan, aku mendengar suara perut yang berbunyi karena lapar. Aku melirik Marco dengan sungkan. Dia juga melirikku, sambil tersenyum malu.
“Aku lapar sejak sore tadi, tapi aku menunggu kamu untuk makan malam sama-sama.”
Aku jadi tidak enak mendengarnya. Dia kelaparan selama menungguku.
“Kita makan dulu, ya?” tanyanya sambil terus berkonsentrasi menyetir.
Aku mengangguk. Setelah itu, mobil berbelok memasuki sebuah restoran Chinese Food.
Setelah memarkirkan mobil, kami langsung disambut oleh waitress dan diantar ke salah satu meja yang kosong.
Beberapa saat menunggu, pesanan kami datang juga. Marco langsung lahap menyantap makanan pesanannya. Dia memang terlihat sangat lapar.
Tiba-tiba ....
“Eh, lihat, tuh! Itu cowok yang kemarin, kan, ya? Eh, sekarang ceweknya udah dibayarin makan. Hihihi ....”
Aku dan Marco sama-sama menoleh ke sumber suara bisik-bisik berisik itu dan kami menemukan dua gadis yang pernah kami temui di restoran cepat saji dulu. Dengan keadaan yang hampir sama, saat kami tengah makan berdua dan mereka sambil lalu dari sebelah meja kami. Bedanya, kali ini aku tidak sedang memakan bekal yang aku bawa sendiri.
Aku sadar Marco beralih pandang menatapku, dengan tatapan malu bercampur perasaan bersalah yang malah membuatku merasa sedikit geli.
“Kenapa?” tanyaku.
Marco hanya mengedikkan bahu sambil mengangkat alisnya lucu.
“Selalu ada orang kepo di sekeliling kita dan mungkin mereka dikirim ke mana-mana untuk itu,” kataku sambil tertawa.
Selesai makan malam, Marco mengantarku pulang. Sebelum turun dari mobil, dia bertanya padaku.
“Besok pagi aku jemput, ya?”
“Enggak usah, Marco. Aku bisa naik angkot sendiri. Aku enggak enak kalau yang lain melihat kita terlalu dekat.”
Dia mengernyitkan dahi. “Memangnya kenapa?” tanyanya bingung.
“Aku, kan, masih baru di Mills, aku takut orang berpikiran aku mendekati kamu untuk memuluskan pekerjaanku …” jelasku akhirnya.
Memang, selama beberapa waktu setelah kedekatan kami semakin intens pun aku tidak pernah berangkat ke kantor bersama Marco. Aku tidak enak hati kalau sampai karyawan lainnya melihat kedekatan kami lalu berpikiran yang tidak-tidak terhadapku.
Untuk pulang kerja saja, hanya di beberapa kesempatan saja Marco bisa mengantarku pulang, seperti jika kebetulan kami sedang tugas di luar atau seperti hari ini ketika aku lembur. Itu juga kalau dia tidak ada meeting dengan kliennya sendiri yang membuat dia tidak kembali ke kantor lagi.
Marco tampak berpikir, lalu akhirnya mengangguk pelan.
“Kamu benar. Aku juga tidak mau merusak reputasi kamu hanya karena gosip murahan, karena aku tahu kamu tidak seperti itu.”
Dia mengusap pipi kananku dan itu membuat sengatan kecil di jantungku. Aku menatapnya lama dan tersenyum.
“Baiklah, sebaiknya kamu masuk dan istirahat. Sampai ketemu besok di kantor.”
Marco mendekat dan mengecup pipi kananku. Kali ini sengatan yang terasa di jantungku semakin dahsyat. Wangi maskulin parfum Marco begitu intens merasuk indera penciumanku. Bahkan di saat sudah seharian beraktivitas pun dia masih wangi saja.
“Sampai ketemu besok,” ucapku padanya.
••••••••••
(1) Bagaimana dengan Bos Marco?
(2) Bagaimana dengan Bos Marco? Soal apa?
(3) Apa yang mau kamu dengar?
(4) Apa saja yang sudah aku lewatkan.
love u
selalu ku tunggu ceritamu
melelehh hati abangg.
kamu thor sweet bangettt
selalu semangat yaa
pasti jadi romantis duet kalian.. 😍😍