NovelToon NovelToon
Teror Mahar Mewah

Teror Mahar Mewah

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Horor / Perjodohan / Balas Dendam / Pembunuhan / Tamat
Popularitas:30.6k
Nilai: 5
Nama Author: syahri musdalipah tarigan

Penuh dengan Misteri. 👺👺

Vivana Gadis desa berusia 21 tahun di paksa menikah dengan seorang pria kota yang baru saja bertemu dengan Ayahnya.

Hanya karena pria tersebut memberikan sebuah perkebunan yang cukup luas, Ayahnya rela menjadikan Vivana syarat pembayaran buat menikah.

Bukannya kebahagiaan di dapatkan Vivana setelah menikah. Pria yang menikahi Vivana adalah seorang Psikopat dan MAHAR MEWAH bernilai fantastis pemberian pria tersebut malah menjadi TEROR yang merenggut beberapa orang tercinta dan terdekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Apa yang harus aku kembalikan?

Aku mengangguk, kedua mata ketakutan ku arahkan ke sekeliling koridor lantai dua. Aku segera menutup pintu dan mengunci pintu kamarku, menyandarkan tubuh di daun pintu. Wajah panik, ketakutan dan cemas menjadi satu, nafas memburu terlihat dari baju gaun yang aku kenakan naik turun sangat cepat.

“Tidak mungkin hantu wanita itu mengikutiku sampai ke sini.”

Tergesa-gesa aku mengambil ponsel dari dalam sling bag yang masih melingkar di bahu kananku. “Fanny. Ia! aku harus segera menghubungi Fanny.” Kedua tangan gemetar memegang benda pipih, jari jempol tangan kanan yang gemetar menekan nomor ponsel milik Fanny.

Tutt! Tuttt.

Suara panggilan telpon masuk. Aku mondar-mandir di depan pintu kamar, menggigit jari-jemari kuku kiri, wajah terlihat panik saat panggilan telpon dariku tak di angkat oleh Fanny.

Aku menghentakkan kaki ku saat panggilan telepon yang ke 10 kali. “Ayo dong, Fanny. Angkat!” Gerutuku pelan

Ketakutan tiba-tiba melanda diriku saat Fanny tak mengangkat panggilan telepon dariku, aku duduk di depan pintu kamar, kedua kaki aku tekuk, kedua tangan menggenggam erat rambut kanan/kiri ku. “Kenapa jadi seperti ini.” Keluhku seperti seorang depresi.

Drrtt!drtt!!

Aku segera berdiri, tangan kanan yang gemetar memegang ponsel yang terus berdering, terlihat nama panggilan 'FANNY IMUT', saat aku hendak mengangkat panggilan telpon dari Fanny, ponsel milikku tiba-tiba mati total.

“Kok mati.” Keluhku, aku menekan tombol untuk menghidupkan namun ponsel milikku tak merespon sama sekali. Aku segera mengeluarkan charger dari dalam sling bag, berjalan sedikit mendekati meja rias, dan mencolok charger. “Mungkin baterainya habis.” Ucapku segera mengecas ponsel milikku, dahiku mengerut sehingga memunculkan kerutan halus saat melihat baterai ponsel yang sedang di cas menyala. “Masih 85% lagi, tapi kenapa ponselku tiba-tiba mati total.” Jari jempol tangan kanan kembali menekan tombol power on/off yang berada di sisi kanan.

Kain gorden yang berada di jendela kamar tiba-tiba terbang sangat kencang padahal daun pintu jendela kamar tidak terbuka dan tidak ada celah juga di dalam kamar. Aku segera mencabut ponsel dari charger, wajah panik, kedua mata ketakutan menatap sekeliling kamarku.

“Aku harus keluar dari kamar ini.” Ucapku pelan.

Aku berbalik badan, saat hendak kaki kanan melangkah, dahiku tiba-tiba menyentuh sesuatu dan aku mencium bau busuk yang teramat menyengat, kedua mata yang menatap lantai kamar perlahan bergerak naik ke atas. Susah payah aku menelan saliva saat mengetahui ada kedua kaki menggantung di atas lantai, jari kuku hitam di penuhi tanah. Aku menghentikan tatapanku setelah aku mengetahui siapa yang berada di depanku, kedua mata aku pejamkan, aku memalingkan wajahku ke sisi kanan.

“To-tolong menjauh dariku. Aku tidak mengerti kenapa kamu terus mengikutiku, dan apa yang kamu inginkan dariku?”

Dengan susah payah aku mengeluarkan suara untuk bertanya pada hantu wanita tersebut. Walau kedua mata terus aku pejamkan, keringat jagung mengalir dari rambut bagian dalam hingga tubuhku.

“KEMBALIKAN….KEMBALIKAN…KEMBALIKAN.”

Hantu wanita tersebut berbicara dengan nada suara kuat hingga memekakkan kedua gendang telingaku, suara kuat berputar-putar di dalam kamar, pikiran dan kedua gendang telingaku.

Aku langsung jongkok, kedua tangan menutup kedua telinga yang masih mendengar suara teriakan hantu wanita tersebut. Kepalaku menggeleng pelan, kedua mata masih terus aku tutup karena aku tidak sanggup melihat raut wajah hantu wanita tersebut.

“Pergi! Pergi kamu dari kehidupanku. Pergi.” Teriakku sekuat mungkin.

Saat aku terus menghalau hantu wanita yang terus mengusikku, sayup-sayup ku dengar suara Fanny.

“Vivana kamu kenapa?”

Tanya Fanny membuka pintu kamarku dan berlari masuk bersama Baskara. Melihat aku jongkok ketakutan, dengan tubuh gemetar, kedua tangan di letak menutupi kedua telingaku. Fanny langsung jongkok, memeluk tubuhku yang gemetar ketakutan. Fanny membelai lembut punggungku, kedua matanya menatap Baskara yang sedang berdiri di belakangku.

Tatapan seperti sedang bertanya kenapa diriku, dan apa yang harus di lakukan mereka.

Merasakan belaian lembut dan hangat dari tangan mungil Fanny, segera ku buka kedua mataku, wajah pucat, kedua bola mata yang masih di landa ketakutan menatap wajah Fanny yang masih memeluk diriku.

“Fan. Aku sangat takut, aku sangat takut Fan.” Keluhku menggoyangkan tubuh Fanny.

“Begini saja, gimana kalau kamu malam ini ikut bersama kami mengaji dan mendengarkan ceramah di Masjid. Selesai mengaji dan mendengarkan ceramah, kamu juga bisa bertanya kepada pak Ustad. Siapa tahu ada solusi dengan teror yang kamu alami selama ini.” Usul Baskara memberikan ide yang baik kepadaku.

“Aku tidak pandai mengaji.” Sahutku yang sedikit mulai tenang. Jujur saja aku memang tak bisa mengaji karena dari kecil Ayah menjauhkan aku dari huruf Al-Qur'an, dan kegiatan yang berbau islami.

“Ya Allah, Vivana.” Sahut Baskara, dan Fanny serentak sambil menepuk dahi.

Fanny berdiri, berkacak pinggang, tatapan serius menatap diriku perlahan berdiri. “Umur kamu berapa tahun Vivana?” Tanya Fanny terdengar dingin.

“21 Tahun, Fan.”

“Selama 21 tahun kamu hidup di atas muka Bumi, menginjakkan kedua kaki di atas tanah, menghirup udara segara, dan menikmati semua ciptaan Allah dengan mudahnya. Tapi kamu tidak tahu mengaji!” Fanny menggeleng. “Astaghfirullah al’azim. Ya, Allah.” Teriak Fanny di akhir kalimat terdengar geram.

“Kamu kenapa Fanny?” Tanyaku polos.

“Malah bertanya pula. Cepat mandi dan pakai baju muslim yang sopan, jangan lupa bawa selendang atau jilbab.” Ucap Fanny menarik tangan kananku menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarku.

“Fan! Kita mau kemana?”

“Ngondek.”

Baskara menggelengkan kepalanya. “Pantes saja aku tidak pernah melihat Vivana ikut gabung baik mengikuti remaja Masjid atau kegiatan sosial lainnya yang bertujuan tentang Agama islam. Apa semua ini ulah tuan takur yang tak mengizinkan Vivana melakukan kegiatan tersebut.” Gumam Baskara pelan menatap kepergian aku dan Fanny.

Baskara menaik-naikan kedua bahunya, tangan kanan mengelus tengkuk. “Lah! Kok aku tiba-tiba merinding, ya.” Baskara menolehkan pandangannya ke sisi kanan. Kedua matanya langsung terpejam. “Astaghfirullah al’azim. Pergilah kau setan dari pandanganku sebelum aku membacakan Ayat kursi yang akan membuat diri kamu hangus terbakar.”

Hantu wanita itu pun menghilang, Baskara membuka kedua matanya, tangan kanan mengelus dada. “Alhamdulillah.”

Tok!tok.

“Nona muda, tuan Baskara dan nona Fanny. Makan malam sudah siap, mari makan bersama dengan tuan takur di bawah.”

Ajak bibi dari pintu luar kamarku memanggil aku, Fanny dan Baskara untuk makan malam bersama Ayah.

Kenapa Ayah menerima Fanny dan Baskara masuk dan berteman dengan ku? Karena Fanny dan Baskara adalah keluarga terpandang nomor 2 dan 3 di kampung ini setelah Ayah. Jadi Ayah menerima mereka berteman denganku karena mereka anak orang kaya raya dan cukup terpandang.

“Baik Bi. Aku akan turun.” Sahut Baskara lembut.

Baskara membuka pintu kamar, bibir bibi tersenyum manis menatap Baskara yang berdiri di depan pintu kamar yang sudah terbuka lebar.

“Tuan. Mari kita ke bawah karena tuan takur sudah menunggu.” Ajak bibi, tapi kedua mata menatap sekeliling kamarku. “Nona muda dan nona Fanny kok tidak ada di dalam?” Tanya bibi penasaran saat melihat Aku dan Fanny tidak ada di dalam padahal bibi tahu jika aku sedari tadi belum ada keluar dan turun setelah berpamitan untuk istirahat.

“Oh! Mereka berdua lagi di kamar mandi.” Sahut Baskara tenang, jari jempol mengarah ke pintu kamar mandi.

“Kamar mandi?” Sahut bibi seperti penuh dengan pertanyaan.

Baskara segera menutup pintu kamarku, kedua tangan kekar miliknya memegang kedua lengan bibi yang gemuk. “Mari kita tunggu di bawah, urusan para gadis biar mereka yang selesaikan berdua di dalam.”

“Tapi Tuan.”

...Bersambung...

1
Nengnong Ipin
horor bgt si thor
Nengnong Ipin
spertinya bara dan Santo pelakunya...sadis bgt mereka
Nengnong Ipin
sepertinya emang bara yg merampas harta janda kaya raya itu...
makanya datang terus meneror
Nengnong Ipin
kyanya hntu itu yg menyerupai s bibi
sereeeemmm
Nengnong Ipin
ayah yg dbutakan harta
Nengnong Ipin
semua masih misterius....
Nengnong Ipin
itulah akibatnya klo mnyombongkn diri
Nengnong Ipin
seneng deh SMA Fanny...
Nengnong Ipin
orang misterius LG🤔
Nengnong Ipin
kasihan vivana...jdi dia yg terus d teror
Nengnong Ipin
Fanny yg sewot...🤣
Nengnong Ipin
ayah tirikah...🤔
Nengnong Ipin
makin seru...
Nengnong Ipin
kasian vivana jdi korban
Nengnong Ipin
lanjut Thor...
Nengnong Ipin
kyanya itu kalung punya janda kembang yg meninggal
Nengnong Ipin
gregetan SM fanny
sari. trg: terimakasih sudah mampir kak, ☺️😊
total 1 replies
Nengnong Ipin
kasian vivana n Valdi cintanya terhalang mahar😞
Nengnong Ipin
lanjut kak
Rini Antika
Aku rasanya ingin pingsan dengar emas 10 kg..😱😱
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!