Selamat datang di karyaku yang ke-18
Tidak sengaja membuat nyawa seorang pria melayang, Winda harus menanggung akibatnya. Memiliki ibu yang mengalami ganguan mental, membuat Winda berani melakukan apa saja, tak kecuali menjadi kekasih bayaran seorang pria yang tiba-tiba muncul merubah segalanya.
Follow IG: Sept_September2020
Ikuti IG Sept dan banyak Give Away setiap bulan menanti pembaca setia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Ember
Kekasih Bayaran Bagian 16
Oleh Sept
"Siapa dia? Apa keluarganya?" tanya seseorang yang kepo karena seorang pemuda tiba-tiba masuk dan meminta semua orang meninggalkan kediaman Winda.
"Saya mohon, semuanya yang tidak berkepentingan untuk meninggalkan rumah ini," usir Kavi halus karena orang-orang malah bisik-bisik dan tidak segera membuyarkan diri.
"Anda siapa? Tiba-tiba datang dan mengusir warga sini? Dan setahu saya Winda tidak punya saudara!" celetuk tetangga Winda yang mengerti silsilah keluarga Winda.
"Saya teman kantornya!" jawab Kavi ketus karena kesal dengan ucapan warga sejak tadi.
Warga pun kembali kasak-kusuk dan kemudian pergi satu persatu. Menyisahkan Winda yang masih terguncang karena kabar kematian Pak Lukman, pria yang harus kehilangan nyawa. Dan itu semua karena ibunya.
Sesaat kemudian
Ketika rumah Pak Lukman ramai datang para pelayat, rumah Winda tampak sepi sekali. Jauh berbeda dengan pemandangan beberapa saat yang lalu. Kavi masih di sana, ia duduk di ruang tamu menemani Winda yang hanya diam dan menangis.
"Kamu pulang saja," ucap Winda dengan suara serak. Ia ingin sendiri.
'Melihat dia seperti ini, bagaimana aku bisa pulang?' Kavi memperhatikan Winda dan merasa kasihan.
"Kamu nggak dengar? Tolong tinggalkan rumah ini!" pinta Winda sekali lagi.
Kavi menghela napas dalam-dalam, ia kemudian berbicara.
"Aku dengar kamu mencari pinjaman ke orang-orang ... mungkin aku bisa bantu. Sepertinya kamu butuh banyak uang."
"Tolong jangan ikut campur, terima kasih karena sudah peduli. Silahkan ... tinggalkan tempat ini."
'Kau bahkan sudah terdesak tapi tetap sombong,' batin Kavi.
Sementara itu, Winda memilih membuang muka. Ia pikir apa Kavi mampu meminjamkan padanya uang? Masalahnya bukan satu dua juta, atau bahkan belasan juta. Bukan, ini lebih dari itu. Apalagi Pak Lukman sudah meninggalkan. Sudah jadi beban mental bagi Winda, ia harus mendapat banyak uang untuk keluarga itu.
Bukan untuk sebuah tuntutan hukum, bukan. Tapi demi rasa bersalahnya. Demi rasa kemanusian yang mengoyak hati Winda. Sebab karena ibunya nyawa melayang. Ini bukan perkara uang, karena nyawa tidak bisa dibandingkan dengan nominal rupiah. Hanya saja, Pak Lukman juga mempunyai anak yang ditinggal. Rasanya Winda tidak akan hidup tenang jika tidak bisa memberikan apa yang ia miliki untuk keluarga tersebut.
"Kau butuh berapa?" suara Kavi membuat Winda yang sempat melamun terhenyak.
Wanita itu kemudian tersenyum miris. Pegawai biasa seperti Kavi, yang tiap hari naik motor, paling dalam tabungan pria itu tidak seberapa.
"Sudahlah, Kav. Terima kasih banyak. Aku sedang banyak pikiran, jadi tolong tinggalkan aku sendiri."
"Aku tanya serius!" ucap Kavi lama-lama kesal.
"Kav ... cukup. Jangan ganggu aku lagi."
"Siapa yang menganggu? Aku bahkan berusaha selalu menolong meski setelah itu kau sama sekali tidak mengucap terima kasih!" tukas Kavi sedikit emosional.
Winda tidak tahu apa maksud pria tersebut, memikirkan ucapan Kavi hanya membuatnya tambah pusing.
"Sumpah, Kav. Kepalaku mau pecah ... masalahku banyak. Jadi tolong jangan buat aku makin stress!"
"Cihh ... masalahmu cuma satu, kan? Uang! Katakan kau butuh berapa sekarang?"
Winda mengusap wajahnya dengan kasar, ia jengkel sekali dengan Kavi yang memancing amarahnya.
"Yaaa!! Aku memang butuh uang ... uang yang sangat banyak. Kenapa? Kamu gak mungkin bisa bantu setelah aku menyebut nominalnya. Jadi sebelum aku benar-benar marah kamu sebaiknya pulang. Jangan suka ikut campur dengan urusan orang."
"Berapa? Stratus? Dua ratus? Katakan?" tanya Kavi yang sama kesalnya dan hilang kesabaran. Karena ia tahu Winda butuh yang dari apa yang ia dengan di perusahaan Winda mencari pinjaman pada orang-orang.
"1 M!" jawab Winda ketus dengan mata yang memerah. Ia hampir menangis karena memang benar-benar butuh uang.
'Gilaa! Untuk apa yang sebanyak itu?' pikir Kavi dalam hati.
"Cuma 1 M?"
Winda mendongak, menatap Kavi yang menurutnya sudah gila. 1 M kok cuma? Kavi sepertinya kurang waras.
"Aku berikan!"
Winda tersenyum getir kemudian menimpali ucapan Kavi yang banginya seperti lelucon tidak lucu tersebut.
"Kav! Jangan gilaaa. Sudah ... pulanglah. Lama-lama aku bisa ikut tidak waras!"
"Besok! Besok aku berikan 1 M!"
'Pria gila!' Winda mengumpat kesal dan bersambung.
Jangan absen Komen yaaa, masih Sept pantau hihihih. Paling banyak Komen 99 persen dapat Hampers. Semangat! Jangan kasih kendorr.
IG Sept_September2020
Fb Sept September
coba ketik/nyari di sini knp gaada thor?
eee thor mo baca *seruni dendam istri pertama nya knp gak bs di buka ya, di pencarian jg kayk gaada,? mksih info
bilang klo Winda jd pembokat di rmh mu jg buat duit yng km minta dl ke mm mu