Ayana yang baru turun dari pesawat komersil, di bandara kota paris perancis ingin mengambil kopernya di bagasi, ruang kedatangan.
Karena kecerobohannya yang tidak melihat dulu negara asalnya, ia malah salah mengambil koper milik salah seorang penumpang yang bukan berasal dari negara yang sama dengannya.
Dengan polosnya gadis ini membawa koper itu naik taksi menuju hotel yang sudah dipesannya terlebih dahulu, hingga akhirnya ia dijebak oleh seorang sopir taksi yang ingin merampoknya.
Kopernya di ambil dan ia di turunkan di tengah jalan dengan alasan taksi itu mogok, ketika ia turun taksi itu membawa kabur koper miliknya, dengan kesal ia memaki sopir taksi itu yang sudah menghilang entah ke mana.
Di hotel ia mencari nomor telepon pangkalan taksi itu yang selalu mangkal. Sebelum ia menghubungi nomor pemilik taksi itu, ia kedatangan dua orang lelaki bertubuh besar, karena tidak mengetahui kedatangan dua lelaki itu, ia membuka pintu kamarnya dan seketika mulutnya dibekap dengan kain yang sudah dicampurkan obat bius, ia pun pingsan dan dibawah ke pemimpin mafia untuk menanyakan keberadaan koper milik ketua mafia yang telah dibawanya.
"Bagaimana keadaan Ayana setelah berada di istana mafia itu yang memperlakukan dirinya seperti mata-mata?
"Apakah cinta keduanya tumbuh setelah koper milik mafia itu telah di temukan kembali?"
"Bagaimana nasib Ayana selanjutnya setelah bebas dari cengkraman lelaki mafia itu?
Yuk! ikutin terus kisah Ayana yang harus menebus koper itu dengan kesuciannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. PART 16
Dokter Nathan mengantar dokter Ayana pulang ke apartemennya. Tapi di tengah perjalanan, dokter Nathan bingung harus mengantar ke apartemen mana, karena ia belum tahu kediaman dokter Ayana.
Dokter Nathan menepikan mobilnya, iapun mencoba membangunkan dokter Ayana untuk menanyakan alamat gadis itu.
"Dokter Ayana!" Dokter Ayana!"
Panggil dokter Nathan beberapa kali namun tidak ada sahutan dari bibir Ayana.
Dokter Nathan mencoba menyentuh tangan Ayana yang tertidur pulas sambil meringkuk seperti orang kedinginan.
Ketika tangan Ayana disentuh, dokter Nathan merasakan tangan itu sangat panas. Iapun beralih menyentuh kening Ayana.
"Astaga! dia demam!" Ujar dokter Nathan lalu melajukan lagi mobilnya membawa Ayana ke mansionnya.
Setibanya di mansion, Ayana di baringkan di ranjang miliknya. Pelayan juga ikut masuk ke kamar tuan mereka karena takut dibutuhkan saat ini.
"Tolong bawakan air hangat dan kain untuk kompres!" Titah dokter Nathan pada pelayannya.
"Dan kamu Ratna, tolong bilang pada chef untuk buatkan bubur ayam dua mangkuk."
"Baik Tuan!"
Dokter Nathan memeriksa keadaan tubuh Ayana.
Ternyata dokter Ayana hanya mengalami demam dan kelelahan, tapi ada masalah yang saat ini membuatnya juga setress.
Setelah di kompres oleh dokter Nathan, demamnya sudah mulai menurun. Ayana mengerjapkan matanya dan melihat dokter Nathan sudah duduk di sampingnya.
"Oh, kepalaku kenapa tiba-tiba pusing?" Keluh Ayana yang belum sadar saat ini dia sedang berada di kamar pribadi milik dokter Nathan.
"Kamu belum makan apapun dokter Ayana, makanya kamu merasa sangat pusing. Sekarang kamu makan dulu supaya bisa minum obat."
Dokter Nathan menyuapkan bubur ayam untuk Ayana. Tubuhnya diposisikan setengah berbaring agar makanan yang masuk tidak membuat gadis ini tersedak.
Hanya beberapa suap bubur saja yang bisa ditelan oleh Ayana. Ia pun menolak bubur itu karena lidahnya terasa begitu pahit.
"Baiklah, kalau begitu kamu minum obat saja dan kembalilah tidur dokter Ayana!" Pinta dokter Nathan seraya membantu gadis itu minum obat.
"Dokter, ini bukan kamarku, apakah aku berada di kamar anda?" Tanya dokter Ayana yang masih kelihatan sangat lemah.
"Maaf dokter Ayana!" Aku tidak tahu alamat apartemenmu dan ketika menyentuh tanganmu untuk menanyakan alamatmu, tubuhmu sangat panas dan aku berinisiatif membawa pulang kamu ke mansionku." Ucap dokter Nathan apa adanya.
"Kalau begitu, sebaiknya aku pulang dokter Nathan, alamat apartemenku di kawasan Kebayoran baru Jakarta Selatan. Tolong antar aku ke apartemennyaku." Pinta dokter Ayana lirih.
"Apakah di apartemenmu ada orang yang membantumu di sana?"
Ayana menggeleng lemah, iapun ingin turun dari tempat tidur milik dokter Nathan, namun dicegah oleh dokter Nathan karena tubuh Ayana masih begitu lemah.
"Aku tidak akan mengantarmu pulang ke apartemenmu sampai kamu sembuh Ayana. Apa lagi di sana kamu tidak ada pelayan yang bisa menolongmu di saat kamu sakit seperti ini." Ujar dokter Nathan.
Karena sudah minum obat penenang, Ayana kembali tidur dan tidak lagi memaksa dokter Nathan untuk mengantarnya pulang ke apartemen miliknya.
"Tolong ganti bajunya dengan baju tidur milik mami, Sela!" Pinta dokter Nathan pada kepala pelayannya.
Dokter Nathan sendiri membersikan tubuhnya ke kamar mandi dan meminta pelayannya menjaga Ayana yang sedang tidur pulas.
"Apa yang terjadi padamu Ayana, hingga membuatmu sampai jatuh sakit?" Dokter Nathan bermonolog.
Pria pemilik rumah sakit ini buru-buru membersihkan tubuhnya karena ia tidak ingin meninggalkan dokter Ayana sendirian, walaupun saat ini sudah di awasi oleh dua pelayannya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Dokter Nathan tidur di sofa sambil mengawasi Ayana yang masih terbaring lemah dengan selang infus yang sengaja di pasang oleh dokter Nathan.
Keduanya sama-sama mengajukan ijin kerja karena sama-sama sakit. Dokter Nathan mengirim pesan ijin untuk Ayana dengan ponsel gadis itu. Kebetulan ponsel Ayana tidak menggunakan sandi membuat pria tampan ini bisa mengakses ponsel gadis itu hanya mengirim pesan singkat pada temannya.
Beruntunglah, dokter Ayana sudah menghapus semua foto kekasihnya James sehingga dokter tidak melihat hal apapun pada ponsel Ayana, walaupun ia sendiri segan untuk mencari tahu rahasia kehidupan Ayana.
Dua hari kemudian, Ayana sudah merasa lebih baik. Ia pun bangun dan mencabut sendiri selang infus yang masih menancap di tangannya.
"Ya Tuhan, ini sudah tanggal berapa?" Sepertinya aku sudah lama berbaring di kamar ini. Lebih baik aku segera pulang." Ucapnya lalu turun perlahan-lahan mencari tas dan pakaiannya yang tergantung di kamar Nathan.
"Dokter Ayana, kamu sudah baikan?" Tanya dokter Nathan yang baru saja keluar dari walk in closet dengan penampilan yang sudah rapi siap untuk berangkat ke rumah sakit.
"Maafkan saya dokter Nathan!" sudah menyusahkan anda. Tapi saya ingin pulang ke apartemen milik saya karena saya lebih nyaman berada di rumah sendiri." Ucap Ayana berusaha kelihatan segar di hadapan dokter Nathan.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengantarmu pulang dan aku harap tubuhmu tidak lemah lagi untuk melakukan sesuatu sendiri setelah berada di apartemenmu."
"Aku sudah lebih kuat dokter, saya harap anda tidak perlu kuatir keadaan saya." Ucap dokter Ayana.
Dokter Nathan menggenggam tangan Ayana agar gadis itu tidak mudah jatuh karena mereka akan menuruni anak tangga.
"Apakah kamu kuat turun melewati tangga ini?"
"Kuat dokter."
"Jika kamu jatuh, aku akan membawamu lagi ke kamarku." Canda dokter Nathan namun ditanggapi dingin oleh Ayana dengan wajah yang masih datar.
Dokter Nathan memasang seat belt ke tubuh Ayana lalu untuknya sendiri. Mobilnya kembali bergerak menuju ke apartemen milik Ayana.
Setibanya di apartemen Ayana, Dokter Nathan mengernyitkan dahinya menatap apartemen mewah itu dengan perasaan heran.
"Apakah gadis ini memiliki warisan yang begitu banyak hingga bisa membeli apartemen mewah ini.
Kalau dilihat dari gajinya seorang dokter umum, Ayana tidak mampu membeli apartemen ini kecuali ia memiliki kekasih atau jadi simpanan seorang bos kaya atau dia memang seperti itu?" Tanya dokter Nathan dalam hatinya.
"Dokter, sebaiknya sampai di loby saja, karena saya tidak ingin anda mengantarkan saya sampai ke kamar apartemen. Saya mohon pengertiannya dokter." Ujar dokter Ayana.
"Boleh tahu berapa nomor kamar apartemenmu dokter Ayana?"
"201!"
"Terimakasih dokter Ayana, saya akan berkunjung setelah pulang kerja, agar saya yakin keadaan anda sudah baikan saat ini." Ujar dokter Nathan lalu meninggalkan dokter Ayana yang masih berdiri melihat mobilnya menghilang dari pandangannya.
Ayana meneruskan langkahnya dan menuju lift khusus menuju ke kamar apartemennya.
"Ya Tuhan, jadi aku sudah empat hari menginap di mansion milik dokter Nathan?" Ayana menekan nomor sandi pintu apartemennya.
Ketika ia membuka pintu kamar apartemennya, Ayana begitu syok ketika melihat sesosok tubuh yang sedang terbaring di sofa ruang tamu miliknya.