Nova adalah gadis cantik sekaligus ratu mafia, ia harus menutupi jati dirinya menjadi wanita yang baik baik bak seorang peri untuk melancarkan niatnya balas dendam kepada keluarga dari seorang polisi.
Ketika dendamnya mulai terbalaskan, justru ia merasa satu persatu masalah mulai muncul dan harus ia hadapi sendiri hingga membuat satu demi satu rahasia yang di sembunyikan oleh kakaknya terungkap oleh Nova.
Rencana balas dendam yang Nova kira bertujuan untuk menghancurkan hidup seseorang justru di tujukan kepada Nova agar hidup Nova hancur.
Nova yang menyadari hal itu menyesal sudah menuruti kakaknya. Ketika ia berusaha melepaskan diri dari semua itu, tiba tiba orang orang di masa lalunya kembali dan membuat hidup Nova semakin menderita.
Apakah kisah yang selanjutnya? Dan rahasia apa lagi yang di sembunyikan oleh Kakak Nova? Mampukah Nova menghadapi semuanya ataukah ia terburuk dan terjerat masalah yang ia hadapi?
Jangan lupa follow Ig: @julisaputra2004 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutraJuli1302, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitnah gagal
Makan malam yang di lakukan oleh keluarga Ridwan dan Siska untuk menyambut kedatangan Ayah Ridwan terlihat sudah berakhir, kebahagiaan terpancar sangat jelas di raut muka kedua keluarga tersebut, bahkan mereka saling bercanda untuk saling menjodohkan Ridwan dengan Siska. Namun, saat ia mendengar perjodohan yang di lakukan oleh Ibu Ridwan dengan keluarga Siska sangat di tolak keras dengan Ridwan, bukan tanpa sebab ia menolak mentah mentah perjodohan itu. Ia melakukan hal itu karena ia mencintai orang lain dan orang itu bukan Siska melainkan Nova. Saat itu Ridwan tidak memberi tahu siapa orang yang ia cintai, ia hanya mengatakan kalau dirinya menolak perjodohan itu dan mengatakan kalau cinta dengan orang lain. Siska yang mendengar ucapan itu, ia langsung menyadari kalau orang yang di cintai oleh Ridwan adalah Nova. Saat itu Siska terlihat sangat kesal mendengar ucapan itu, ia seakan ingin menerkam Ridwan dan memakan mentah mentah tubuh Ridwan. Menyadari kalau Siska marah dengan dirinya, Ridwan hanya memandangi Siska dengan tatapan yang terlihat juga marah.
Melihat tatapan mata itu, Siska pun langsung bergegas dari duduknya dan ia meminta izin kepada Ibu Ridwan untuk pergi ke toilet. Saat itu Ridwan menatap mata Siska dengan penuh kemarahan di dalam hatinya. Ia seakan tidak membiarkan untuk Siska hilang dari pandangannya.
Beberapa saat kemudian, Siska sampai di dalam kamar mandi. Ia terlihat ke sana kemari dengan gelisah, gugup dan khawatir.
"Apa apaan sih Ridwan. Kenapa dia menolak untuk di jodohkan dengan aku? Aku tahu, ini pasti karena Nova, kurang ajar. Bagaimana pun caranya aku harus membuat Nova keluar dari rumah ini?" ucap Siska dalam kamar mandi dengan sesekali seperti orang yang tengah berpikir untuk mencari cara.
Di ruang makan terlihat, Nova tengah membereskan piring piring dan gelas gelas yang ada di atas meja setelah di pakai makan oleh kedua keluarga itu. Ketika Nova tengah membersihkan barang barang itu, Nova berpapasan dengan Siska. Saat itu Siska terlihat melihat ke arah Nova dengan kesal dan jijik selama beberapa saat, melihat hal itu Nova pun hanya menundukkan kepalanya dan ia kemudian pergi meninggalkan Siska, ia pergi ke dapur.
"Maaf ya, pasti Tante nungguin aku lama, " ucap Siska dengan pede lalu ia kembali ke tempat duduknya.
"Iya tidak papa Siska, lagian kamu itu kan calon mantu Tante!" goda Ibu Ridwan kepada Siska, Siska yang melihat hal itu ia hanya tersenyum senyum sendiri dengan berpura pura malu dengan godaan itu. Berbanding terbalik dengan Siska, Ridwan justru sangat kesal dengan godaan itu, ia bahkan memukul meja dengan sangat keras hingga membuat keluarga Siska sangat terkejut begitupula ibunya. Tidak hanya ibunya, Nova yang saat itu berada di dalam dapur terlihat juga terkejut dan ia langsung berbalik melihat ke arah Ridwan yang terlihat sangat marah dengan ibunya.
"Ma, aku sudah katakan sama Mama. Aku tidak mau di jodohkan seperti ini!" jawab Ridwan dengan mata yang melotot dan nada bicara yang meninggi. Ia kemudian pergi dari ruang itu tanpa mempedulikan kedua keluarga itu lagi. Melihat kepergian Ridwan dengan sangat marah, orang orang yang saat itu tengah duduk di ruang makan tiba tiba langsung bangun dari duduknya dan melihat ke arah Ridwan yang pergi.
Tidak hanya orang orang yang ada di ruangan itu, Nova pun terlihat hanya melihat ke arah Ridwan yang pergi dari ruang makan itu.
"Tante, gimana dong ini? Saya tidak ingin kamu Ridwan marah seperti ini, saya mohon Tante tolong bujuk Ridwan agar dia tidak marah lagi!."
"Maafkan Tante, Siska. Bukannya Tante tidak ingin untuk meminta maaf dengan Ridwan atau pun membujuk Ridwan, tapi....., tapi Tante sangat tahu betul, kalau Ridwan sudah marah seperti ini. Maka dia akan sangat sulit untuk luluh! " jawab Ibu Ridwan dengan nada lembut dan mata yang terlihat sedih.
Ketika semua sibuk dengan Ridwan yang pergi dengan amarah yang luar biasa, Siska pun mulai meluncurkan rencananya. Tiba tiba ketika Ibu Ridwan dan orang tuannya tengah sibuk dengan urusan Ridwan, dengan ekspresi bohong dan skenario palsu yang di ucapkannya ia tiba tiba seperti kebingungan dan kehilangan sesuatu. Ia mencari ke sana kemari dengan raut muka gelisah. Ketika Ibu Ridwan dan orang tua Siska mengetahui kalau Siska kehilangan sesuatu mereka pun langsung terlihat sangat khawatir dan menanyakan kepada Siska barang yang hilang darinya tersebut. Mendengar pertanyaan semacam itu, Siska pun mengatakan kalau ia kehilangan beberapa barang mahal nya seperti handphonenya.
"Ma, gimana dong kalau aku kehilangan handphone itu? Mama kan tahu kalau handphone itu sangat berarti bagi hidup ku! Handphone itu sangat mahal kan, aku yakin. Pasti ada yang mengambil ponsel ku aku yakin itu!" ucap Siska, karena ia ingin memprovokasi keluarganya dan membuat keluarganya percaya dengan ucapannya.
"Tenang ya, pasti ponsel kamu ada di sekitar tempat ini!."
"Tante, bagaimana bisa saya tenang Tante? Handphone itu penuh kenangan dan penuh dengan arti, mana mungkin aku bisa tenang!" jawab Siska dengan berpura pura mengeluarkan air mata. "Saya mohon dengan Tante, tolong periksa semua ruangan yang ada di tempat ini mungkin Tante bisa menemukan handphone saya di salah satu ruangan ini. Saya mohon Tante," pinta Siska dengan sedih berurai air mata. Mendengar ucapan itu, Ibu Ridwan pun akhirnya ia memberikan sebuah izin untuk memeriksa semua kamar di rumahnya.
Mereka semua pun akhirnya memeriksa satu demi satu dengan mengumpulkan semua orang yang berada di dalam rumah itu, namun ketika rumah sudah di geledah tidak ada satu tempat pun yang terlihat sebuah handphone. Kini tinggal kamar dari Nova dan satu pembantu yang lainnya.
Pada awalanya, Ibu Ridwan percaya kalau handphone Siska berada di dalam kamar Nova, namun saat ia sudah memeriksa kamar Nova, betapa terkejutnya ia karena ia melihat Handphone dengan harga mahal berada di dalam salah satu tas yang ada di kamar yang di tempati oleh Nova.
Nova yang melihat hal itu terlihat sangat terkejut dan dirinya tidak dapat berkata kata dengan kejadian yang ia alami. Menyadari kalau ternyata handphone mahal milik Siska berada di dalam kamar Nova, Nova tampak sedih. Ia berusaha membela dirinya sendiri dan mengelakkan tuduhan yang di lontarkan oleh Siska.
"Jadi kamu Nova yang mengambil ponsel milik Siska? Saya benar benar tidak percaya kamu mengambil barang yang bukan milik kamu!" ucap Ibu Ridwan dengan tatapan mata marah, kesal dan sedih dengan apa yang di lihatnya.
"Tunggu, ingin tidak mungkin. Tidak mungkin Nova melakukan itu, aku tahu sikap Nova yang sebenarnya. Ia tidak mungkin melakukan hal itu," sahut Ridwan untuk membela Nova namun saat itu ucapan Ridwan di balas oleh Siska yang berusaha menjelekkan Nova.
"Kamu kenapa sih masih membela Nova, Ridwan? Padahal kan sudah jelas, kalau Nova itu salah. Dia yang mengambil ponsel mahal ku dan menyembunyikan nya di dalam kamarnya, lalu kenapa? Kenapa kamu masih membela dirinya?" tanya Siska dengan nada marah kepada Ridwan.
Mendengar ucapan itu, Ridwan pun menghampiri Siska dan memegangi kedua lengan Siska dengan sangat erat, lalu ia melihat ke arah Siska dengan sangat tajam.
"Karena aku tidak percaya dengan semua yang kamu katakan! Aku lebih yakin dan lebih percaya dengan Nova dari pada kamu!" jawab Ridwan dengan tatapan mata terlihat tegas dan serius. Ia kemudian mendorong Siska hingga Siska mundur beberapa langkah dari tempat itu.
Melihat hal itu, Ibu Ridwan terlihat sangat marah dan kesal dengan Ridwan. Namun, saat itu ia tidak memarahi Ridwan ia masih menahan amarahnya karena ada keluarga Siska di hadapan nya.
once we get married 💍 fb yu
siap mendukung kak 👍