Sekuel Istrinya Ustadz?
Ustadz Afkha atau Adzraffa Khayru Al-jaris tidak pernah bermimpi untuk menikah lagi, apalagi memiliki niat berpoligami. Terlebih usia pernikahannya dengan Shanum atau Rhaishanum Almahyra Qurby baru beberapa bulan saja.
Akan tetapi suatu insiden, membuat Ustadz Afkha di minta bertanggung jawab oleh sang Istri untuk menikahi Zeeta Alghiz atau Zeetasha Umaiza Alghiz. seorang model cantik. Namun, seusai insiden tersebut, kehidupannya menjadi tak memiliki arti. Ia buta dan juga mengalami kelumpuhan pada kakinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Onet.
'Huk huk huk hukukuk ....' suara dari seekor monyet kecil, yang baru saja loncat dari atas pohon dan mendarat di bahu Aftha.
"Astagfirullah ... monyet kecil!" pekik Aftha dan juga dua santri putra.
'A ... aa ... huk ... huk ...." suara monyet kecil lagi. Dia berjingkrak dan jungkir balik dengan heboh dihadapan Aftha dan juga dua santri putra.
"Masya Allah, monyet-nya lucu." Salah satu santri putra malah merasa terkagum-kagum melihat kera kecil yang nampak lucu itu.
"Iya juga ya, lucu dan juga menggemaskan. Akan tetapi kita harus berhati-hati, takutnya monyet liar yang galak dan memiliki kelompok tinggal di daerah sini. Tetap waspada, di khawatirkan adanya penyerangan dari indukannya." Aftha merentangkan kedua tangannya sebagai tanda waspada dan memindai tempat tersebut seakan mencari keberadaan induk si monyet.
Monyet tersebut masih jungkir balik dengan lincahnya diatas dahan kecil pada sebuah pohon tidak terlalu besar yang ada dihadapan mereka. Monyet itu juga tidak kunjung diam, mulutnya terus saja berbunyi khas monyet.
"A Aaf. Sepertinya monyet itu ingin menunjukkan sesuatu." santri putra yang satunya seperti memiliki kemampuan membaca gelagat sang monyet.
Aftha yang masih merasakan bahunya sedikit sakit akibat tercengkram pinjakan si monyet tadi, ia berusaha menghampiri monyet kecil itu, tidak lupa membaca Basmallah sebelumnya.
"Hai, anak monyet. Apakah ada sesuatu hal yang ingin kamu sampaikan? jika tidak segeralah pergi. Aku takut, tiba-tiba ibu-mu datang dan salah paham, berpikir kami akan mencelakai kamu, bisa saja dia menyerang kami. Maafkan kami jika malam-malam begini mengganggu ketenangan-mu. Kami sedang mencari seseorang yang tersesat di sini. Tidak ada maksud mengganggu penghuni bukit ini," ujar Aftha seperti berbicara kepada manusia.
'Hu hu ... ua ua' suara monyet tersebut sembari berjingkrak ria. Sepertinya ia senang karena manusia dihadapannya mengerti akan maksud dirinya. ( anggap aja suara monyet, maaf ya kalau gak mirip. Author belum paham bahasa monyet, coz belum pernah berteman dengan sebangsa primata ini✌️🤣)
"Baiklah anak monyet. Aku tidak mengerti bahasa-mu. Akan tetapi, jika kamu mau menunjukkan sesuatu, maka tuntun kami." Tantang Aftha pada akhirnya, dengan tak gentar.
'Haaa, huuuu, uuu aaaa' monyet Kecil itu berteriak senang dan segera meloncat ke dahan lain, seolah mengajak Aftha dan kedua santri agar mengikutinya.
"Dia meminta kita mengikutinya." Pekik salah santri putra.
"Ia, mari!" Aftha berusaha mengikuti monyet tersebut yang sudah loncat melewati dua pohon.
Setelah sekitar lima menit mengikuti anak monyet tersebut. Aftha dan dua santri putra sampai di dekat tebing air terjun.
Monyet kecil nampak berhenti disebuah pohon dan ia kembali berjingkrak serta berteriak khas-nya. Tidak bisa tenang kelihatannya dan nampak panik.
"Kalian tunggu disini. Aku kesana dulu, ada apa dibalik pohon itu? sepertinya si Onet mau menunjukkan sesuatu," ucap Aftha kepada kedua santri putra dan panggilan untuk monyet ia samarkan agar terdengar lebih sopan.
"Baik A. Hati-hati!" balas kedua santri putra.
Aftha berjalan perlahan dan mendekati lereng yang agak curam itu. Di bawah pohon itu ada akar besar yang merambat naik dan akar paling bawah nampak seperti tangan yang terbuka dan menahan tanah.
Aftha mengerjapkan mata berkali-kali saat melihat sebuah kaki nampak tersangkut akar dan bagian tubuhnya belum terlihat, karena Aftha harus memutari pohon agar dapat melihat tubuh dari pemilik kaki tersebut.
"Apakah ini mayat? atau seseorang yang masih hidup?" tanya Aftha pada dirinya, sedangkan si monyet masih heboh di atas dahan pohon.
Aftha berucap Basmallah dan ia memberanikan diri memutari pohon tersebut dengan berpegangan kuat pada akar-akar yang menonjol dari tanah.
"Astagfirullah .... Ky!" pekik Aftha sungguh terkejut, ternyata itu Kyra.
Setelah Aftha mendekati Kyra. Onet diam dan nampak tenang. "Net, ternyata ini yang mau kamu tunjukkan padaku? terima kasih, ya."
Onet hanya melihat Aftha dengan tatapan polos dan lugu serta mata berbinar. Betul- betul amat menggemaskan.
"Hai ... Rif, San! tolong aku di bawah sini. Alhamdulillah Kyra sudah ketemu. Ternyata Kyra ada dibawah sini dan Kyra terjebak di akar. Sepertinya ia terpeleset dan tidak sadarkan diri." Teriak Aftha kepada kedua santri putra, setelah ia memeriksa keadaan Kyra dan dipastikan masih hidup. Aftha menyimpulkan, bahwa Kyra hanya tidak sadarkan diri.
"Alhamdulillah ... sudah ketemu," ujar santri putra dengan saling pandang.
"Baik!" balas kedua orang santri putra akhirnya, dengan suara lantang. Membalas Aftha.
"Hati-hati, medan agak curam dan licin." peringatan Aftha.
"Insya Allah." jawab keduanya dan tak berapa lama kedua santri putra sudah sampai di dekat Aftha.
"Demi Allah. kalau bukan karena darurat dan ingin menyelamatkan nyawanya. Aku tidak akan pernah menyentuh Kyra, karena kami bukan mahram, tolong kalian menjadi saksi. Bagaimana?" tanya Aftha.
"Kami siap menjadi saksi. Bahwa A Aftha menyentuh karena kondisi darurat, untuk menyelamatkan nyawanya." ucap kedua santri putra tersebut secara bersamaan.
"Bismillah ... Ky! maafkan aku karena telah lancang menyentuh-mu!" ucap Aftha dan ia segera mengangkat tubuh Kyra untuk dibawa naik ke area lebih landai dan aman.
Menggendong Kyra dibagian belakang tubuhnya. Sedikit memaksakan diri.
"Kami berjalan didepan, berpegangan pada tongkat ini A!" tawar salah satu santri putra.
"Baik!" ucap Aftha, "Net ayo, kamu juga ikut naik!" tidak lupa Aftha mengajak Onet.
Setelah berjuang beberapa menit. Akhirnya mereka sampai diarea landai dan ada rerumputan yang bisa dibuat alas untuk duduk.
"Ky, kamu kenapa bisa sampai ada dibawah sana dan yang lain tidak menyadarinya?" tanya Aftha, sembari membaringkan Kyra dengan hati-hati diatas rumput yang tidak begitu basah karena gerimis, lalu ia tutupi tubuh Kyra menggunakan jaket juga hoddie-nya.
"Sekarang bagaimana, A?" tanya salah satu santri putra.
"Ia, kita butuh tandu untuk membawa teh Kyra turun ke bawah." sambung santr wai putra yang satunya.
"Coba hubungi team SAR. Kabarkan bahwa Kyra sudah diketemukan dan minta beberapa orang naik kesini, beberapa orang lagi mendirikan tenda di kaki bukit. Kita tidak mungkin bisa pulang sekarang, jembatan di bawah sana rapuh, besok pagi saja ambil jalan memutar." Pinta Aftha.
"Baik A! kami mencoba menghubungi team SAR terlebih dahulu." jawaban kedua santri putra, lalu mereka mengeluarkan Handy Talky, karena menghubungi melalui ponsel tidak ada signal.
"Ky, mengapa sih kamu itu harus jadi cewek pemberani? jadinya begini deh. Dalam keadaan tidak sadarkan diri saja, kamu itu bahagia banget bikin aku susah!" dengus Aftha.
Aftha duduk bersandar di pohon yang cukup besar. Disisi kanannya Kyra yang masih tergeletak begitu saja. Di sisi kirinya Onet ikut duduk dengan gayanya. Monyet itu terlihat tenang dan hanya diam saja.
"Ky, Ky ... coba waktu itu kita menikah. Sudah aku pastikan, kamu akan selalu aku jaga siang dan malam. Ini malahan ngerjain aku." Aftha mengekeh mengingat kejadian setelah Kyra meminta Waktu untuk melakukan sesuatu.
Kembalikan ke delapan bulan lalu.
Ternyata Kyra memanggil para gadis hingga janda yang siap nikah, dari berbagai penjuru kota tersebut, baik tua maupun muda. Tujuannya untuk dipilih Aftha sebagai calon istrinya. Karena Kyra mengatakan tidak bisa menikah sebelum lulus kuliah.
"Kalau Kak Aaf kebelet nikah. Pilih saja salah satu dari mereka," ujar Kyra.
"Yang aku ajak nikah itu kamu. Koq malah mengundang orang lain? aku tidak mau. Aku maunya nikah sama kamu!" tegas Aftha.
"Aku belum mau!" tukas Kyra.
Kehebohan memenuhi pesantren sore tersebut. Hingga para gadis dan janda itu saling berbaris, berharap mereka yang akan dipilih untuk menjadi istri salah satu putra mahkota penerus Hubbul Wathan.
Afkha dan Arsya yang baru saja pulang dari bepergian tak luput dari kejaran para kandidat, hingga ia menelepon sang ayah agar melihat keadaan pesantren yang mulai Kacau.
Beberapa saat kemudian.
Afnan dan Ubaydillah serta Hasna dan Lintang-pun tiba. "Subhanallah, ada apa ini?" tanya Afnan kepada Zainal.
"Ulah Dik Aaf dan Dik Kyra." Jawab Zainal sampai Afnan dan juga Ubaydillah terkejut, lagi, mereka membuat gaduh pesantren.
"Memang apa yang sedang mereka rencanakan?" tanya Hasna.
"Jadi ...." Zainal menceritakan kejadian Aftha yang mau melamar Kyra, sampai pada akhirnya Kyra menolak dan malah banyak menghadirkan para gadis dan juga janda untuk di pilih Aftha.
"Dimana mereka sekarang?" tanya Ubaydillah.
"Dibawa pulang oleh A Afkha dan Abang Arsya," jawab Zainal.
"Baik. Mari temui mereka." ajak Afnan.
"Lalu bagaimana dengan mereka?" tanya Zainal.
"Minta mereka membubarkan diri. Katakan besok kembali lagi." Lalu Afnan membisikkan sesuatu kepada Ubaydillah.
"Bagaimana Dek? mengerti?" tanya Afnan kemudian.
"Mengerti!" balas Ubaydillah dengan mengangguk.
Bersambung ...
ah coba Afka dengar