NovelToon NovelToon
Terpesona Oleh Bu Rt

Terpesona Oleh Bu Rt

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: SEBUAH KATA YANG TERLAMBAT

Keheningan yang membeku di sudut ruang tunggu Kantor Polsek itu mendadak terasa kian mencekat. Di luar, semburat cahaya fajar mulai mengintip dari balik celah ventilasi udara, membawa warna abu-abu keperakan yang suram. Aldi masih setia menatap lurus ke depan dengan punggung tegapnya, membiarkan memar di buku jarinya berdenyut nyeri seiring dengan detak jam dinding yang berisik.

Jasmine menatap punggung tegap pemuda di sampingnya. Ada rasa sesak yang kian membubung tinggi di dalam dadanya, rasa takut kehilangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya sejak ia memutuskan hidup mandiri bersama Nadeo. Ia tahu, jika ia membiarkan keheningan ini terus berlanjut, jarak di antara mereka akan menjadi permanen dan tidak akan pernah bisa dijembatani lagi.

Sambil meremas ujung jilbab khakinya dengan jemari yang gemetar, Jasmine menarik napas sedalam-dalamnya. "Mas Aldi..." panggilnya lagi, kali ini dengan nada suara yang lebih tegas, menolak untuk diabaikan.

Aldi tidak bergemir, masih mempertahankan posisi duduknya yang kaku.

"Soal ucapan Mas Aldi di depan rumah saya dua hari yang lalu..." Jasmine menjeda kalimatnya, mencoba menstabilkan debar jantungnya yang berpacu liar. "Saya sudah memikirkannya dengan matang. Dan malam ini, di sini... saya mau bilang kalau... saya terima kok maksud baik Mas Aldi mau nikahin saya."

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Jasmine. Sebuah pengakuan jujur yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah keputusan besar yang ia ambil setelah menimbang segala ketulusan dan keberanian yang selama ini Aldi tunjukkan untuk melindungi dirinya dan Nadeo.

Namun, reaksi yang ditunjukkan oleh Aldi justru di luar dugaan Jasmine.

Bukannya terkejut, bahagia, atau langsung menoleh dengan mata berbinar seperti yang Jasmine bayangkan, pundak jangkung Aldi justru tampak berguncang pelan. Sebuah suara tawa pendek terdengar lolos dari tenggorokan pemuda itu.

"Hahaha..." Aldi tertawa. Namun, itu bukanlah suara tawa bahagia. Itu adalah suara tawa yang sangat kecut, getir, dan dipenuhi oleh rasa ironi yang teramat sangat.

Aldi perlahan memalingkan wajah tegapnya, menatap lurus ke dalam manik mata Jasmine. Sorot mata elangnya kini memancarkan rasa lelah yang teramat dalam, bercampur dengan sisa-sisa harga diri seorang pria muda yang telanjur terluka.

"Saya? Diterima? Jangan bercanda, Bu," ujar Aldi, nadanya terdengar sangat sinis namun diucapkan dengan volume suara yang sangat rendah, hampir seperti bisikan yang menyengat.

Jasmine tersentak, matanya melebar menatap reaksi dingin Aldi. "Mas Aldi, saya tidak sedang bercanda—"

"Udahlah, Bu Jasmine," potong Aldi cepat, melambaikan tangan kirinya di udara dengan gerakan yang tampak sangat letih. Ia memundurkan posisi duduknya, bersandar ke kursi besi kelabu yang dingin. "Gausah kayak yang gak enakan gitu sama saya. Gak usah maksain diri cuma karena merasa berutang budi atau kasihan liat saya yang kayak orang bego nungguin jawaban."

Aldi mengembuskan napas panjang, menatap memar kebiruan di buku-buku jarinya sendiri sebelum kembali menatap Jasmine dengan pandangan yang benar-benar datar. "Udahlah, lupain aja apa yang pernah saya bilang sore itu di depan rumah Ibu. Anggap aja angin lalu. Bu Jasmine hidup aja sebagaimana Bu Jasmine hidup selama ini. Gak perlu mikirin perasaan saya lagi."

Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Aldi terasa bagaikan balok es yang dihantamkan tepat ke dada Jasmine. Seolah menegaskan bahwa posisi mereka kini telah kembali ke titik nol—kembali menjadi sekadar Ketua Karang Taruna dan seorang Ketua RT yang tidak memiliki hubungan personal apa pun.

Belum sempat Jasmine mencerna seluruh rasa sakit dari kalimat penolakan balik tersebut, seorang petugas penyidik kepolisian keluar dari ruangan sebelah sembari membawa selembar kertas beralas papan jalan.

"Mas Aldi, ini berkas laporannya sudah selesai ditandatangani oleh saksi utama dan korban di rumah sakit tadi. Proses selanjutnya akan kami kabari lewat telepon ya," ujar petugas polisi itu ramah.

Aldi langsung bangkit berdiri dari kursinya dengan sigap, merapikan letak kaos oblong hitamnya yang sedikit kusut. Ia memberikan penghormatan formal kepada petugas tersebut. "Baik, Pak. Terima kasih banyak atas bantuannya malam ini."

Setelah petugas itu kembali masuk ke dalam ruangan, Aldi menoleh sekilas ke arah Jasmine yang masih duduk terpaku di kursinya dengan wajah pucat pasi.

"Berkasnya sudah beres semua, Bu. Saya permisi duluan mau balik ke rumah sakit, mau nemenin Kenan sama Sendy lagi," ujar Aldi pendek, memberikan sebuah anggukan kepala yang sangat formal tanpa menunggu respons dari wanita di hadapannya.

Tanpa membuang waktu lagi, Aldi langsung berbalik dan melangkah lebar meninggalkan ruang tunggu Polsek. Langkah kakinya yang jangkung bergaung di sepanjang selasar koridor yang sepi, membawanya pergi menembus kabut subuh yang mulai menipis di halaman kantor polisi.

Jasmine tertinggal sendirian di atas kursi besi yang dingin. Tubuhnya mendadak terasa lemas, dan sepasang matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya meneteskan air mata yang hangat di pipinya. Ia menatap kosong ke arah pintu keluar tempat bayangan Aldi baru saja menghilang.

Rasa kaget, bingung, dan penyesalan yang teramat sangat mendadak berkecamuk hebat di dalam kepala Jasmine. Ia benar-benar tidak habis pikir kenapa sikap pemuda yang biasanya begitu lembut dan penyabar itu bisa berubah menjadi sedingin es dalam waktu singkat. Jasmine sama sekali tidak tahu tentang cerita dari Kenan dan Sendy soal sosok Afrizal di pasar kuliner sore itu; yang ia tahu hanyalah perubahan drastis ini terjadi setelah ia menunda jawabannya.

Sembari meremas dadanya yang terasa sangat sesak oleh rasa bersalah, Jasmine berbisik lirih di tengah kesunyian ruang tunggu yang sepi.

"Apa... apa gara-gara aku kelamaan mikir ya, Mas? Sampai kamu berubah sejauh ini?"

1
Neny Tryana
👍🏻👍🏻
anggita
like iklan👍☝, buat bu rt.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!