Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.
Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.
Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.
Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.
Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TITIK LEMAH SANG IMAM.
Ardiah mengusap sisa air mata di pipinya, lalu menatap Haikal dengan pandangan yang masih dipenuhi keraguan. "Haikal, tolong beri aku waktu. Aku belum bisa berpikir jernih sekarang. Semuanya terlalu cepat untukku."
Sebelum Haikal sempat merespons, suara dehaman pelan dari sang Nenek langsung memotong pembicaraan. Wanita tua itu menggelengkan kepala tanda tidak setuju. "Tidak bisa begitu, Nduk. Dalam agama kita, suami istri itu tidak boleh berlama-lama memelihara pertengkaran. Paling lama itu tiga hari, setelah itu harus saling memaafkan dan berbaikan kembali."
"Tapi, Mbah..." Ardiah mencoba menyela, namun tatapan tegas sang Nenek membuatnya kembali bungkam.
Nenek beralih menatap Haikal yang masih berlutut di tanah. Tatapan tajam orang tua itu perlahan berubah menjadi penuh rasa iba saat memperhatikan detail wajah cucu menantunya. Wajah Haikal tampak teramat pucat, bibirnya kering, dan ada lingkaran hitam yang sangat tebal di bawah matanya. Tubuh tegap itu bahkan sesekali tampak sedikit limbung.
"Ngger, wajahmu pucat sekali," ujar Nenek dengan nada khawatir. "Malam ini, kamu menginap saja di sini. Istirahat di gubuk Nenek."
"Jangan, Mbah! Gubuk kita kecil, tidak akan muat kalau ditambah dia," larang Ardiah dengan refleks.
"Diah! Kenapa bicaramu ketus begitu pada suami?" tegur Nenek, membuat Ardiah langsung menundukkan kepala.
Haikal memaksakan sebuah senyuman tipis, mencoba meyakinkan wanita tua di depannya. "Tidak apa-apa, Mbah. Haikal bisa menginap di penginapan dekat pasar bersama supir Haikal. Haikal tidak mau merepotkan Mbah dan membuat Kak Diah merasa tidak nyam..."
Bruk!
Belum sempat Haikal menyelesaikan kalimatnya, sepasang mata elang itu mendadak terpejam rapat. Tubuh tinggi tegapnya langsung ambruk ke depan, jatuh tidak sadarkan diri tepat di pangkuan kaki Ardiah. Pirasat sang Nenek terbukti benar; kondisi fisik pria itu sudah berada di batas paling bawah.
"Haikal!" teriak Ardiah histeris. Kepanikannya seketika membubung tinggi saat menyentuh kening Haikal yang terasa sangat dingin dan dibanjiri keringat. "Haikal, bangun! Jangan bercanda seperti ini! Haikal!"
Nenek yang ikut panik langsung memanggil Roni yang sejak tadi menunggu setia di dalam mobil di ujung jalan setapak. Roni berlari kencang menghampiri gubuk, lalu bersama-sama dengan Ardiah, mereka membopong tubuh tidak berdaya Haikal masuk ke dalam mobil.
"Mbak Ardiah, kita harus bawa Pak Bos ke puskesmas terdekat sekarang juga!" ujar Roni dengan wajah yang tidak kalah panik.
"Iya, Ron! Ayo cepat jalankan mobilnya!" sahut Ardiah yang kini duduk di kursi belakang, menopang kepala Haikal di atas pangkuannya.
Mobil mewah itu melaju cepat membelah jalanan pedesaan yang bergelombang menuju pusat kecamatan. Di kursi belakang, Ardiah terus menggenggam tangan Haikal yang terasa sedingin es. Perasaan bersalah mulai menyelinap masuk ke dalam relung hatinya saat melihat wajah suaminya yang tampak begitu rapuh, sangat berbeda dari sosok Haikal yang biasanya tengil dan selalu percaya diri.
Roni yang fokus mengemudi sesekali melirik ke kaca spion tengah. Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka suara. "Mbak Ardiah, sebenarnya saya tidak berhak ikut campur. Tapi melihat kondisi Pak Bos seperti ini, saya benar-benar tidak tega."
Ardiah mendongak, menatap punggung Roni. "Memangnya... apa yang terjadi selama tiga hari ini, Ron?"
"Pak Bos tidak tidur sama sekali sejak Mbak Diah pergi dari rumah sakit," cerita Roni dengan nada suara yang bergetar. "Setiap malam dia hanya memandangi foto Mbak Diah. Dia menyuruh saya melacak taksi, memeriksa setiap CCTV, hingga mondar-mandir mendatangi apartemen lama Mbak Diah yang kosong itu."
Ardiah tertegun, mendengarkan setiap patah kata dari Roni dengan dada yang terasa kian sesak.
"Bahkan saat kami memutuskan langsung berangkat ke Jawa Tengah malam itu, Pak Bos menolak untuk bergantian menyetir," lanjut Roni, menyeka sudut matanya yang sedikit basah. "Dia memprosir seluruh tenaganya tanpa istirahat. Selama tiga hari menetap di penginapan pasar, dia hampir tidak menyentuh makanannya sama sekali. Dia terus berjalan kaki mengitari desa demi mencari keberadaan Mbak Diah. Ini adalah titik terakhir kekuatannya, Mbak. Pak Bos tumbang karena fisiknya benar-benar sudah habis."
Mendengar penuturan jujur dari Roni, hati Ardiah seketika terenyuh hebat. Air matanya kembali menetes tanpa bisa dibendung. Rasa bersalah yang teramat sangat kini menghantam dadanya seperti hantaman ombak yang kuat. Wanita itu memandangi wajah sayu Haikal yang terpejam di pangkuannya.
'Ya Allah... jadi dia sampai seperti ini hanya demi mencariku? Mengapa aku begitu buta hingga tidak melihat ketulusannya sejak awal?" batin Ardiah dipenuhi penyesalan.
Sesampainya di puskesmas kecamatan, Haikal langsung dilarikan ke ruang tindakan darurat. Seorang dokter umum dan dua orang perawat sigap memasang alat bantu pernapasan serta menancapkan jarum infus di punggung tangan kiri Haikal. Ardiah dan Roni menunggu di luar ruangan dengan perasaan cemas yang tidak menentu.
Setelah tiga puluh menit berlalu, dokter keluar dari ruangan dengan membawa sebuah papan catatan medis. Ardiah langsung berdiri menghampirinya. "Bagaimana kondisi suami saya, Dokter?"
Dokter mengulas senyum tipis untuk menenangkan. "Fisik suami Ibu terlampau lemah. Tekanan darahnya drop drastis akibat kelelahan yang ekstrem, ditambah dehidrasi karena tidak ada asupan makanan yang masuk selama beberapa hari terakhir. Lambungnya juga sedikit meradang."
"Lalu, apakah dia harus dirujuk ke rumah sakit kota, Dok?" tanya Roni ikut memastikan.
"Untuk saat ini tidak perlu. Namun, karena kondisinya yang sangat lemah, dia wajib menjalani rawat inap di sini selama beberapa hari ke depan agar cairan tubuh dan nutrisinya bisa pulih sepenuhnya melalui infus," jelas Dokter sebelum berpamitan untuk memeriksa pasien lain.
Setelah Haikal dipindahkan ke ruang rawat inap sederhana yang bernuansa tenang, Roni tampak ragu-ragu menatap Ardiah. "Mbak Diah, kalau begitu biar saya saja yang menjaga Pak Bos di sini. Mbak Diah bisa pulang ke rumah Mbah untuk istirahat."
Ardiah menggelengkan kepala dengan tegas. Ia berjalan mendekati ranjang rumah sakit, lalu duduk di kursi plastik yang disediakan di samping tempat tidur Haikal. "Tidak, Ron. Kamu sudah sangat lelah menyetir dan menemaninya berhari-hari. Sekarang giliranmu untuk kembali ke penginapan dan istirahat yang cukup. Biar aku yang menjaga dan merawat Haikal di sini."
Roni menatap Ardiah dengan binar mata lega. "Baik kalau begitu, Mbak. Saya permisi dulu. Jika ada keperluan apa pun, segera hubungi saya."
Setelah Roni pamit beranjak pergi, ruangan rawat inap itu kini hanya menyisakan keheningan di antara sepasang suami istri tersebut. Ardiah mengulurkan tangannya, menyentuh jemari tangan kanan Haikal yang kini perlahan mulai terasa sedikit hangat berkat cairan infus yang mengalir.
Ardiah menatap wajah tidur Haikal dengan pandangan yang kini sepenuhnya melunak, tidak ada lagi kilat kemarahan atau ketakutan masa lalu di sana. Yang tersisa hanyalah rasa haru dan bibit-bibit perasaan baru yang mulai tumbuh di dalam hatinya yang paling dalam.
"Maafkan aku, Haikal," bisik Ardiah lirih di dekat telinga suaminya, air matanya menetes mengenai punggung tangan Haikal. "Terima kasih karena tidak menyerah untuk mencariku. Cepatlah bangun, suamiku..."
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️
udah tak kasih kopi buat temen begadang...