NovelToon NovelToon
Suami Yang Tak Di Inginkan

Suami Yang Tak Di Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33 : Sikap Cuek Revan

Queen langsung membeku. "Hah?"

Revan menatapnya datar. Tidak marah. Justru itu yang membuat Queen semakin gugup.

"Saya telepon Anggi."

Mata Queen langsung membulat.

"Dan Anggi bilang dia sudah pulang dari sore."

DEG.

Jantung Queen serasa jatuh. "Mas... saya bisa jelasin..."

"Belum selesai."

Queen langsung terdiam.

Revan menghela napas pelan. "Saya tanya lagi ke Anggi. Lalu dia bilang kamu pergi ketemu Nathan."

Astaga. Dalam hati Queen langsung menggerutu. Anggi! Dasar pengkhianat!

Namun sebelum sempat kesal lebih jauh, ia melihat wajah Revan. Dan seketika rasa kesalnya hilang, karena pria itu terlihat sangat lelah.

"Mas..."

"Saya telepon kamu."

Queen menunduk.

"Tapi tidak diangkat. Saya kirim pesan. Saya tunggu." Lalu Revan tertawa kecil. Namun entah kenapa tawa itu justru terdengar menyakitkan. "Dan saya tahu dari orang lain kalau istri saya ternyata pergi dengan laki-laki lain."

DEG.

Queen langsung mengangkat kepala. "Bukan gitu, Mas."

"Lalu bagaimana?"

"Saya cuma mau menyelesaikan semuanya sama Nathan."

"Kenapa kamu tidak bilang?"

Queen terdiam. Karena ia tidak punya jawaban.

Revan menatapnya cukup lama. "Kamu tahu apa yang ada di kepala saya selama dua jam terakhir? Saya takut kamu kenapa-kenapa." Suara Revan mulai terdengar lebih berat. "Saya sampai telepon Anggi."

"Mas..."

"Tapi ternyata kamu baik-baik saja."

Queen langsung menunduk.

Revan tertawa hambar. "Hebat ya."

"Mas, Saya minta maaf."

"Saya tidak marah, tapi saya cukup kecewa sama kamu. Karena kamu tidak jujur sama saya."

DEG.

Wajah Queen langsung berubah. "Saya tidak pernah melarang kamu ke mana-mana. Saya tidak pernah mengatur hidup kamu. Tapi kamu perlu tahu satu hal... saya ini suami kamu."

Kalimat itu kembali menghantamnya.

"Saya bertanggung jawab atas kamu, Queen." Suara Revan semakin rendah. "Kalau sesuatu terjadi sama kamu malam ini, saya bahkan tidak tahu kamu ada di mana."

Air mata mulai memenuhi mata Queen.

"Mas..."

Namun Revan justru menggeleng pelan. "Kenapa? Kamu mau marah sama Anggi?"

Queen langsung membeku. Karena memang itulah yang pertama kali ia pikirkan saat mendengar nama Anggi disebut.

Revan tersenyum tipis. "Saya itu khawatir sama kamu. Saya ini suami kamu. Kamu masih tanggung jawab saya." Suara Revan tetap tenang.

Namun setiap katanya terasa jauh lebih menyakitkan daripada teriakan. Lalu pria itu menarik napas panjang. Dan mengucapkan sesuatu yang membuat Queen langsung mengangkat kepala.

"Kalau memang kamu maunya saya tidak peduli lagi sama kamu..." Revan terdiam sesaat dan menatap wajah Queen. "Baik. Saya akan lakukan itu."

Mata Queen langsung membesar. "Mas..."

"Tapi jangan pernah anggap saya jahat."

Air mata Queen langsung jatuh semakin deras. Karena untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Revan terdengar menyerah.

Revan mengangguk kecil. "Malam sudah larut. Sebaiknya kamu tidur." Lalu pria itu berbalik.

"Mas!" Queen refleks memanggil.

Namun Revan tetap berjalan.

"Mas Revan!"

Langkah pria itu sempat berhenti sesaat. Harapan langsung muncul di mata Queen. Namun tanpa menoleh, Revan berkata pelan, "Saya capek, Queen."

DEG.

Kalimat sederhana itu justru menghancurkan pertahanan Queen. Karena selama ini Revan selalu sabar. Selalu mengerti, selalu menunggu, dan malam ini Queen melihat lain pria itu. Sisi yang selama ini terus terluka tetapi memilih diam.

Tak lama kemudian Revan masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Queen sendirian di depan gerbang. Malam terasa begitu sunyi. Queen berdiri mematung dengan air mata yang terus mengalir.

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, ia benar-benar takut. Takut kehilangan seseorang yang selama ini selalu ada untuknya.

Malam itu...

Queen tidak masuk ke rumah selama beberapa menit. Ia masih berdiri di depan gerbang dengan air mata yang terus mengalir tanpa bisa dihentikan.

Angin malam berembus pelan. Namun tidak mampu menghilangkan sesak yang memenuhi dadanya.

"Saya capek, Queen."

Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Berulang kali. Semakin diingat, semakin terasa sakit. Karena selama ini Revan tidak pernah mengeluh, tidak pernah marah, dan tidak pernah menuntut apa pun darinya.

Dan justru karena itu Queen tidak pernah menyadari seberapa banyak pria itu menahan diri. Perlahan Queen masuk ke dalam rumah. Rumah terlihat sunyi, lampu ruang tamu masih menyala.

Namun tidak ada Revan. Biasanya pria itu akan menunggu sampai ia masuk ke dalam rumah. Biasanya akan bertanya apakah ia lapar atau tidak. Tapi malam ini tidak, Revan benar-benar masuk lebih dulu. Dan itu membuat hati Queen semakin tidak tenang.

Di kamar...

Queen duduk di tepi ranjang sambil memeluk lutut. Ponselnya berada di samping, beberapa kali ia membuka ruang chat Revan. Mengetik, menghapus, mengetik lagi, lalu menghapus lagi.

Pada akhirnya tidak ada satu pesan pun yang terkirim. Karena kata maaf saja rasanya tidak cukup. Air mata kembali jatuh, malam semakin larut. Jam menunjukkan pukul satu dini hari.

Namun Queen tetap tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, wajah Revan selalu muncul di kepalanya. Wajah lelah pria itu, tatapan kecewanya. Dan kalimat yang paling menyakitkan.

"Kalau memang kamu maunya saya tidak peduli lagi sama kamu... baik."

Queen langsung menutup wajahnya. Tangisnya pecah lagi. Kini ia baru sadar bahwa ia tidak takut pada kemarahan Revan. Ia takut jika Revan benar-benar berhenti peduli.

Keesokan paginya...

Queen bangun dengan kepala yang terasa berat. Matanya sembab, tubuhnya lemas. Semalaman ia hampir tidak tidur sama sekali. Begitu melihat jam, ternyata sudah hampir pukul delapan pagi. Biasanya jam segini ia sudah bersiap berangkat kuliah.

Namun hari ini, ia benar-benar tidak sanggup. Kepalanya pusing, dadanya juga terasa sesak. Queen akhirnya memutuskan tidak masuk kuliah. Dengan langkah pelan ia turun ke lantai bawah.

Dan saat sampai di ruang makan, langkahnya langsung terhenti. Revan ada di sana, duduk sendirian di meja makan. Mengenakan kemeja kerja berwarna gelap. Di depannya hanya ada dua potong roti panggang dan secangkir kopi hitam.

Tidak ada sarapan lengkap seperti biasanya. Tidak ada makanan favorit Queen yang sering diam-diam disiapkan pria itu.

DEG.

Queen langsung merasa dadanya menegang. Karena baru kali ini Revan terlihat sangat cuek. Revan sedang membaca sesuatu di tablet kerjanya. Dan bahkan tidak menyadari keberadaan Queen atau mungkin menyadari. Tapi ia memilih diam.

Queen berdiri beberapa saat sebelum akhirnya berjalan mendekat. "Pagi Mas..." Suaranya pelan.

Revan mengangkat kepala. "Pagi."

Hanya itu, lalu kembali melihat tabletnya. Tidak ada pertanyaan, tidak ada senyum.

"Kamu mau makan. Kamu bisa siapkan sendiri."

Queen membeku. Biasanya Revan akan langsung mengambilkan piring. Menyuruhnya duduk, mengomel kalau ia telat sarapan. Tapi sekarang Revan menyuruhnya menyiapkan sendiri.

Queen menelan ludah. Matanya perlahan beralih ke meja makan. Tidak ada sarapan untuknya, Queen merasakan sendiri bagaimana rasanya ketika Revan benar-benar menarik diri.

Perlahan ia duduk di kursinya. Tangannya mengepal di bawah meja. "Mas..."

"Hm?"

"Aku nggak kuliah hari ini."

Biasanya Revan pasti akan langsung bertanya kenapa. Sakit? Demam? Pusing? Atau apa pun.

Namun kali ini, Revan hanya mengangguk kecil. "Oke."

DEG.

Itu saja. Queen langsung menunduk. Tenggorokannya terasa perih. Karena sekarang ia benar-benar mengerti. Revan tidak membentaknya, tidak memarahinya, tidak menghukumnya. Tapi sikap dingin pria itu, jauh lebih menyakitkan daripada semua itu.

1
Amoera
gilaa, gong banget thoor si mokondo mau tunangan smaa Sherena anak pejabat🤣
It's me Sky: 🤣🤣 iya ya ka
total 1 replies
Amoera
Queen jangan khianatin pak Revan. kasian dia. lagian mau aja sama sih mokondo🤣
Arditya
cie... akhirnya nikah juga🤭
It's me Sky: hhheeee🤣
total 1 replies
Arditya
sejauh ini keren banget thoor👍
Siska Amelia
good
It's me Sky: terimakasih kaka🙏
total 1 replies
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉






Saling support sabi kali ya😉
It's me Sky: wihh makasih kakak/Smile/
total 1 replies
Reichan Muhammad
ya ampun torrr keren bgttt kmu punya 4 novel yg on going semua
It's me Sky: iya kakak, selama lagi ada ide jalan terus🤭
total 1 replies
Arditya
jadi inget inggit dan mas Arya, tapi ini kemasannya beda top lah thoor👍
It's me Sky: wkwkwkwkwk🤭
total 1 replies
Arditya
wajah di baca ini cerita menarik banget, remajanya dapet kisahnya fresh. suka sma Revan dan Queen. sukses thoor/Smile/
It's me Sky: makasih bnyk/Hey/
total 1 replies
Arditya
seru banget thoor😍
It's me Sky: wihhh makasihhh/Tongue/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!