NovelToon NovelToon
Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Oktavianiputri77

Mereka mengenalnya sebagai gadis cupu—pendiam, berkacamata, selalu sendiri, dan sering diremehkan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya, tersembunyi sosok paling berbahaya di kota.
Saat malam tiba, dia berubah menjadi ketua mafia yang dingin dan tak tersentuh. Dengan tatapan tajam dan langkah penuh wibawa, semua orang tunduk pada satu perintahnya. Bukan hanya itu, dia juga CEO muda dari perusahaan terbesar yang menguasai berbagai industri.
Cantik, cerdas, dan mematikan.
Dia tidak pernah membalas hinaan dengan kata-kata—dia membalasnya dengan kekuasaan.
Dulu mereka menertawakan gadis cupu itu.
Sekarang, mereka bahkan takut menatap matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Oktavianiputri77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Saat Nama Hampir Terkelupas

Ruangan tua itu tidak lagi sunyi.

Udara terasa berat.

Seperti menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ingin keluar.

Selene berdiri di ambang pintu.

Arsen di tengah ruangan.

Dan di antara mereka—

gelang logam kecil yang masih digenggam Arsen seperti bukti kejahatan yang belum selesai dibaca.

Selene melangkah masuk.

Pelan.

Tapi pasti.

“Jadi ini tempatnya,” katanya pelan.

Matanya menyapu ruangan hangus itu.

“Tempat Anya dulu hilang.”

Arsen menatapnya dingin.

“Keluar dari sini.”

Selene tertawa kecil.

“Kenapa? Takut aku tahu sesuatu?”

Arsen tidak menjawab.

Tapi tatapannya cukup untuk membuat orang lain mundur.

Namun Selene tidak mundur.

Justru maju satu langkah.

“Aku sudah lihat semuanya,” lanjut Selene.

Ia mengangkat file di tangannya.

“Data yayasan. Foto lama. Catatan evakuasi.”

Baskoro langsung menegang.

“Tuan… ini berbahaya.”

Arsen tidak bergerak.

“Lanjutkan bicaramu,” katanya dingin.

Selene menatap Arsen.

Lalu tersenyum.

“Anya Clarissa itu bukan siapa yang kalian pikir.”

Hening.

Arsen menyipitkan mata.

“Jelaskan.”

Selene membuka file itu.

Tangan sedikit bergetar, tapi suaranya tetap tajam.

“Dia tidak tercatat sebelum kebakaran.”

Ia menunjuk dokumen.

“Tidak ada akta. Tidak ada riwayat awal. Tidak ada keluarga.”

Ia berhenti.

Lalu menatap Arsen.

“Dia muncul setelah api.”

Sunyi.

Angin masuk lewat jendela pecah.

Membuat debu berputar seperti sesuatu yang hidup.

Arsen menatapnya lama.

“Kamu tidak tahu apa yang kamu bicarakan.”

Selene tertawa kecil.

“Aku justru satu-satunya yang mulai mengerti.”

Ia melangkah lebih dekat.

“Kalau dia benar-benar korban…”

“Kenapa semua data tentang dia dikunci?”

Arsen tidak menjawab.

Tapi rahangnya mengeras.

Selene mengangkat file terakhir.

Dan itu—

membuat suasana berubah.

“Dan ini lebih menarik.”

Ia menunjukkan foto.

CCTV lama.

Anya kecil.

Di depan api.

Selene menunjuk.

“Lihat baik-baik.”

Arsen menatap.

Dan untuk pertama kalinya—

matanya sedikit menyempit.

Karena Anya kecil di foto itu…

tidak menangis.

Tidak berlari.

Tidak panik.

Dia hanya berdiri.

Menatap api.

Seolah… memahami sesuatu.

“Dia tidak seperti korban,” bisik Selene.

“Dia seperti… bagian dari kejadian itu.”

Hening.

Arsen akhirnya berbicara.

“Berhenti.”

Suara itu tidak keras.

Tapi cukup untuk menghentikan Selene.

“Kalau kamu terus bicara tanpa dasar…”

“…aku akan menganggap ini fitnah.”

Selene tersenyum tipis.

“Fitnah?”

Ia menatap Arsen.

“Lalu kenapa kamu yang paling gelisah?”

Kalimat itu tepat sasaran.

Arsen tidak menjawab.

Tapi tangannya mengepal sedikit.

Dan di saat itu—

suara langkah cepat terdengar dari luar bangunan.

Baskoro langsung siaga.

“Tuan… ada orang mendekat.”

Arsen langsung menoleh ke pintu.

Selene juga ikut menatap.

Langkah itu berhenti di ambang pintu.

Dan sosok itu muncul.

Anya.

Tidak lagi di sekolah.

Tidak lagi dengan kacamata.

Tidak lagi dengan topeng lemah.

Hanya dia.

Tenang.

Tapi matanya… tajam.

Selene langsung terdiam.

“...kamu.”

Anya melangkah masuk.

Dan ruangan itu langsung terasa lebih dingin.

Matanya menyapu Selene.

Lalu Arsen.

Lalu dokumen di tangan Selene.

“Sudah cukup,” kata Anya pelan.

Selene tertawa kecil.

“Cukup? Kamu pikir kamu bisa berhentiin ini sekarang?”

Anya tidak menjawabnya.

Matanya hanya pada Arsen.

Dan Arsen menatap balik.

Diam.

Tidak bergerak.

Untuk pertama kalinya—

tidak ada kata.

Hanya ketegangan yang terlalu padat.

Anya akhirnya berkata:

“Keluar, Selene.”

Selene terkejut.

“APA?”

Anya melangkah satu langkah maju.

Dan hanya itu sudah cukup membuat suasana berubah.

“Ini bukan tempatmu.”

Selene mengepalkan tangan.

“Aku hampir tahu semuanya!”

Anya menatapnya dingin.

“Dan kamu akan menyesal kalau tahu lebih banyak.”

Sunyi.

Arsen menatap Anya.

“Jadi ini alasan kamu datang.”

Anya tidak menoleh.

“Tutup ini.”

Arsen menyipitkan mata.

“Menutup apa?”

Anya akhirnya menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya—

ada sedikit kelelahan di sana.

Bukan lemah.

Tapi… beban.

“Pertanyaan ini.”

Selene langsung tertawa.

“Wah, jadi kamu takut sekarang?”

Anya menoleh tajam ke Selene.

Dan itu cukup.

Selene langsung diam.

Arsen memperhatikan semua itu.

Lalu berkata pelan:

“Kamu datang bukan untuk menjawab.”

Anya menatapnya.

“Tepat.”

Arsen mengangguk kecil.

“Jadi kamu datang untuk menghentikan.”

Anya tidak membantah.

Dan itu justru membuat Arsen semakin yakin.

Selene mengangkat file lagi.

“Kalau kamu nggak mau jawab, aku akan bawa ini keluar.”

Anya langsung bergerak.

Cepat.

Dalam satu langkah—

dia sudah berada di depan Selene.

Dan tangan Selene berhenti di udara.

Tanpa menyentuh.

Tanpa kekerasan.

Tapi cukup untuk membuat Selene membeku.

“Letakkan,” kata Anya pelan.

Selene menelan ludah.

Arsen melihat itu.

Dan untuk pertama kalinya—

dia sadar.

Selene bukan ancaman terbesar.

Anya yang sebenarnya sedang menahan sesuatu.

Baskoro berbisik pelan.

“Tuan… dia bukan seperti yang kita pikir.”

Arsen tidak menjawab.

Matanya tidak lepas dari Anya.

Dan Anya…

akhirnya menutup matanya sebentar.

Lalu berkata pelan:

“Kalau kalian terus menggali ini…”

“…aku tidak akan bisa menjamin apa yang terjadi selanjutnya.”

Selene tersenyum gugup.

“Ancaman lagi?”

Anya membuka mata.

Dan kali ini—

tidak ada permainan.

“Ini bukan ancaman.”

Hening.

“Ini peringatan.”

Ruangan itu diam.

Tidak ada suara.

Tidak ada gerakan.

Hanya tiga orang yang akhirnya sadar:

mereka sudah terlalu dalam.

Dan di luar bangunan—

langit mulai gelap lagi.

Seolah sesuatu yang lebih besar baru saja ikut membuka mata.

1
Night Watcher
seharusnya cerita yg bagus, tp mc dibuat terlalu monoton, shg cerita jd kaku dan menjemukan.
kasih sedikit gaya relax deh... biar lebih nyantai bacanya🙏
Night Watcher
sekolah kelas atas masa lantainya semen? granit kek, marmer, minimal keramik lah ..😇
Night Watcher
katanya dlm 2 hr, selene hancur. tp msh ttp aja berjaya?
Night Watcher
mungkinkah aku reader pertama?
Night Watcher
coba mampir..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!