NovelToon NovelToon
PUDARNYA PESONA WANITA PENGGODA

PUDARNYA PESONA WANITA PENGGODA

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:81.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lel

"Aku cantik, lo mau apa??" (Evelyn Radistya)

"Lo emang cantik daripada gue, tapi lo gak akan bisa merebut Tristan dari gue." (Atalia Prameswari)

"Aku laki-laki mapan, masih muda dan tampan, kenala harus memilih barang bekas kalau yang ori bisa didapat." (Tristan Wijaya Ramadhan)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

INTROGASI TRISTAN

Kadang julid itu mengasyikan, kecanduan pula, seperti inilah yang dirasakan netizen Tristan, menunggu kabar Arik, sang asisten. Bahkan ia tak menghubungi Ata setelah mengantarkan sang kekasih pulang, berkali-kali ia mengetik pesan untuk Arik tapi tak kunjung dibalas.

Sialan. Terlalu kepo akan kelanjutannya, pasti seru. Tristan begidik ngeri kala mengingat begitu keponya malam ini. Setelah membersihkan diri dan sholat isya, ia merebahkan diri di ranjang. Kebiasan ia tinggalkan, pergerakan saham tak menariknya malam ini.

Me: Bro gimana istri orang?

Begitu chat yang dikirim Tristan pada Arik, menjengkelkan memang, apaan bahas istri orang.

ARIK : Beres, tanpa ada rugi dipihak gue.

Me: Alhamdulillah, sukur deh. Btw, lo punya bukti apa sampai 'dia' bebasin lo dari tanggung jawab.

ARIK: Mau gue kirim?

Me: Apaan emang?

ARIK: Foto dan video syuuuuuuuuuuuuuuuuuur.

Me: gak usah, gak minat.

ARIK: Yakin?

Me: Teman lucknut lo.

ARIK: 🤪🤪🤪, sabar bro.....kalau lo lihat bahaya, gak ada pelampiasannya.

Me: Sialan lo.

ARIK: Ya iyalah, pelampiasan lo cuma sama jari. Udah ah, gue mau out dulu, mau ganti 'oli'

M****e : Kapan tobatnya ....CK

Meski keduanya dekat, tak serta merta Tristan mengikuti jejak Arik. Omelan mama dan Ata adalah pawang bagi Tristan. Sangat berpengaruh dua wanita yang amat ia sayangi. Dia sadar, pergaulannya sangat berbeda dengan rekan bisnisnya yang selalu mengandalkan uang dan wanita. Mungkin Tristan memang dicetak menjadi anak rumahan.

Keesokkan harinya, dari lobi Evelyn terus mengimbangi langkah Tristan. Bahkan dengan percaya dirinya mengajak bicara bos ganteng itu, meski tak dihiraukan sama sekali.

"Jual mahal banget sih kamu, Yan. Belum tahu aja kalau udah masuk dekapanku, pasti ketagihan," gumamnya sambil tersenyum sinis, menatap kepergian si bos masuk ke dalam lift khusus.

Puk

Tingkah centilnya kuamati saja, sejauh mana ia akan menggoda calonku. Begitu dia terpaku di persimpangan lift khusus dan karyawan, kuberanikan menepuk pundaknya.

Terkejut, pastinya, tapi namanya Evelyn dia mah udah kuat mental kepergok seperti ini. "Biasa aja kali, Ta. Pak Ian masih milik umum, gue pun boleh mencobanya."

Aku memutar bola mata jengah, kenapa ada perempuan yang gak punya harga diri serendah ini sih, sebegitu haus belaian lelaki. Penasaran saja bagaimana suaminya.

"Perempuan kaya' gitu, kalau belum kena penyakit kelamin gak bakal berhenti," komentar pedas Alya, salah satu korban Evelyn juga. Pasalnya, kekasih Alya, Hendri, staff HRD pernah memakai Evelyn juga, sejak saat itu Alya putus dengan Hendri.

"Eh tapi Hendri pernah bobok bareng berarti?" tanyaku ketika kami masuk lift, untung saja hanya kuta berdua jadi lebih bebas ngobrol.

"Kalau gak bobok bareng, gak bakal gue putusin kali, Ta."

"Siapa aja laki-laki yang pernah sama dia?"

"Banyak gak keitung."

"Dan mereka meniduri dia?"

"Dilihat dari gelagat si cewek sih, mana ada yang menolak sih, Ta."

" Ya tapi kan sudah menjadi rahasia umum kalau dia player, apa mereka gak risih main sama bekas orang?"

"Hanya orang bodoh yang mau melakukan sama dia."

Ting

Pintu lift terbuka dan sialnya Hendri yang masuk, suasana lift begitu canggung. Rasanya mau nafas saja susah, aku yang gak terlibat langsung saja menggerutu kenapa lift ini berjalan lambat sekali sih.

"Lo kudu hati-hati, Ta, yang namanya laki-laki pasti ada sisi buayanya." Aku kaget saja, Alya masih meneruskan obrolan kita. Hem....mungkin keberadaan Hendri tak dianggap.

"Iya makasih sarannya, cuma pacarku pernah bilang kok kalau dia gak suka sama bekas orang, kalau bisa dapat yang halal dan ori kenapa harus dapat barang bekas." Entahlah setelah ngomong begitu aku melirik Hendri yang semakin menunduk dan pura-pura bermain ponsel. Rasanya puas saja menyindir laki-laki yang pernah kencan dengan Evelyn, tak habis pikir saja lebih memilih perempuan nackal ketimbang gadis baik. Huft segera aku beristighfar, jangan sampai Tristan terlibat juga. Haduh....

"Gue ke ruangan dulu ya, Ta. Mari Pak Hendri," pamit Alya, aku menatap punggungnya hingga perlahan menghilang, kulirik Hendri yang menghembuskan nafas berat. Ku kira, Alya yang tekanan batin berdekatan dengan Hendri, justru sebaliknya.

Begitulah kalau orang salah, akan merasa tak nyaman dengan seseorang yang telah disakiti. Perubahan raut Hendri tampak jelas, bahkan terdengar beberapa kali beristighfar. Eh bentar...main serong dengan istri orang masih bisa istighfar ya?

"Mau ke ruangan Pak Ian, Ta?" tanya Hendri saat aku juga mau keluar, memang di lantai ini ruangan Tristan berada, aku yang memang sudah dikirim pesan sejak tadi malam kalau sampai kantor disuruh ke ruangan dan diminta kerja di ruangan Tristan juga.

"Iya, Pak Hendri," jawabku ramah. Aku tak punya masalah dengan Hendri, wajarkan ya masih bersikap ramah.

"Ouh ya sudah, kamu duluan aja."

"Eh....tapi saya sampai pulang kerja loh di ruangan Pak Tristan."

Hendri melongo seketika, tak menyangka hubungan keduanya seintim itu, lebih dari 5 jam berduaan di ruangan, ngapain aja? Mendadak otak Hendri traveling.

Dan benar saja, begitu memasuki ruangan Tristan, aku sudah disuguhi laptop di meja kerja Tristan, beserta beberapa dokumen yang baru Lita bawa.

"Makasih ya, besok gue traktir," bisikku ketika Lita hendak keluar.

"Santai aja, bos kok yang nyuruh," jawabnya sedikit kesal. Aku paham sih, ini masih belum masuk jam kerja, dan Lita sudah disuruh bos bekerja, biasanya jam segini dia akan menyeruput sereal instan di pantry.

"Jadi, bisa dipindah ke cabang lain?" tanya Tristan, aku hanya memdengar sambil mengerjakan tugasku.

"Bisa, Pak, dan ini surat jalannya." Kulirik Hendrik menyodorkan map yang ia bawa, tak lama kemudian Tristan membaca sekilas lalu membubuhkan tanda tangannya. Wah jiwa kepoku meronta nih.

Kuhentikan menggambar desain flyer promosi, aku mendekat ke sofa di mana Tristan berada. Tampak dia menyandarkan kepalanya di sofa lalu memijitnya.

"Kenapa?"

"Pusing."

"Belum sarapan?" tanyaku khawatir, ku letakkan punggung tanganku di keningnya, tapi tak panas.

"Belum dicharge lebih tepatnya."

"Hah?" apa maksudnya coba, dan ini masyaAllah tatapannya kenapa tiba-tiba setajam itu ke aku. "Kamu kenapa sih?"

"Boleh peluk gak?" tanya Tristan tiba-tiba, aku langsung merinding disko, selama kita seruangan begini tak pernah Tristan semanja ini, aneh sekali.

"Bentar deh, kamu jawab dulu kamu kenapa?" Aku menahab tubuhnya yang akan memelukku.

"Aku pusing---"

Makin gak jelas saja nih orang, apalagi dia membisikkan sesuatu dan berhasil membuat pandanganku seketika menuju arah bawah perut, sumpah mataku ternodai. Kupukul lengannya berkali-kali, kenapa semakin dekat hari pernikahan semakin mesum begini sih.

"Aku balik ke ruanganku aja," sentakku, namun lenganku langsung ditarik, dan aku terduduk kembali.

"Beneran aku mau peluk aja," ucapnya gemas dan benar memelukku tapi erat banget, sampai aku merasakan benda terlarang itu mengenai sisi pahaku. Astaghfirullah.

"Kenapa bisa bangun?" bisikku yang semakin membuatku dipeluk erat, salah deh, suara lirihku terkesan memancing hasratnya.

"Lihat video." Aku paham, aku bukanlah perempuan polos yang tidak tahu maksud video itu.

"Kenapa lihat pagi?"

Tristan tiba-tiba tergelak, lalu melepas pelukannya. "Pertanyaanmu lucu tau, terkesan melarang melihat pagi, berarti malam boleh? gitu?"

Aku hanya nyengir, ya aku baru tahu Tristan seperti ini, soal adegan 21+ kita tak pernah membahas dan tak mau membahas, takut terbujuk setan saja. Dari obrolan berlanjut ke praktik, bahaya kan. Tapi pagi ini memberikan pengalaman berbeda, aku baru tahu Tristan sehasrat ini, dan bisa mengontrolnya.

"Ya gak usah lihag kalau gitu."

"Gara-gara Arik tuh, sengaja banget bikin 'bangun' pagi-pagi, di kantor lagi."

"Lah emang videonya siapa?"

Glek

Tristan merutuki kebodohannya, kenapa bisa keceplosan begini, hasil introgasi Tristan dari Arik berupa video hot Pak Dar dan Evelyn, untung saja Pak Dar di atas dan sedang memeluk Evelyn, tapi suara mistis mereka yang membuat adik kandung Tristan bangun.

"Videonya Evelyn?" tebakku curiga.

"Eh...enggak," jawabnya gelagapan bahkan sambil melotot.

"Hp," aku sudah mengadahkan tanganku, mau cek ponselnya.

"Yaaaaaaaaaangggg," rengek Tristan mati kutu.

1
Ray Aza
tega bgt km thor anak baik2 gitu km kasih pasangan psk. 😓
Lel: hwkwkkw nyatanya ada di dunia kerja kakak
total 1 replies
siti salamah
nge gabtung giini akhirrnyaa yao kaka
Sartika Thika
kak,ini gmn?kok gantung?
Sri Ariyanti
hallo othor, beneran end kah? koq berasa gantung ya?

yg jelas ditunggu kelanjutannya
Sri Ariyanti
ok
Sri Ariyanti
selalu suka karyamu. pokoknya ok lah
falea sezi
najis dpet jalang
Quinza Azalea
gak rela banget si Abi sama Evelin thor😭
Quinza Azalea
ceritanya bagus bagus thoor
Lel: terimakasih kak
total 1 replies
Quinza Azalea
bagus
pipi gemoy
thor lanjutannya mana Thor 🌹5x
pipi gemoy
astoge setres ya ini org ckckck😡😤
pipi gemoy
mampus lelaki penghianat n murahan ludahin aje trus buang ke sampah😂😂😂😂👻
pipi gemoy
sabar Tris 😂😂😂😂😂😂😂👻
pipi gemoy
cerdas Ata👻👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼
pipi gemoy
Gonta ganti itu WC umum 😂😂😂😂👻
pipi gemoy
Tristan 👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼🌹
pipi gemoy
hadir Thor ☝🏼
Gracela Gultom
thor kenapa gantung
Vera Uni
cerita nya kok semua gantung thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!