Geng Bad Boy yang terkadang melakukan aktifitas - aktifitas sesuatu untuk berupaya mencari penghasilan namun tanpa ada yang tau termaksud lingkungan kampus LV universitas serikat Internasional hingga citranya mereka yang terlihat sekelompok cowok ganteng yang pintar dalam berbagai bidang.
Tapi mereka terjebak dengan balas dendam masa lalu dan berniat untuk membunuh, disaat itu juga mereka dekat dengan para gadis yang mempunyai keperibadian unik akankah para gadis itu bisa mebuat mereka sadar masa depan itu lebih penting dari masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L. T03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. KBB
Di rumah kost itu telah berkumpul kami berempat ditambah seorang gadis dengan santainya langsung duduk di samping Felix yang sedang asik bermain gamesnya.
" Loe ngapai disini? " seru Felix belum mengerti.
" Iya.... Pokoknya mau disini ajah, gak ada alasan " Zea bingung mau jawab apa
" Emmhh... Dasar aneh " gerutut Felix lagi
Blen meninggalkan Zea di ruang tamu bersama Felix sedangkan Blen pergi ke kamarnya.
" Ngapi Loe kesini, apa loe gak punya rumah " seru Gavin dingin beserta Cuek setengah mati
" Mau ganggui loe, biar bisa nerima gue " memutar bola mata karena jengkel juga sama sifat Gavin tapi tenang Zea udah kebal
Mata Zea tertuju pada seseorang di sudut ruangan yang sedang menunju - ninju saksak seperti bantal yang tergantung melayang ditengah terhubung dengan tali diatasnya.
" Waw... Kak Leon bagus banget badannya, latihan terus toh " pandangan Zea tidak bisa terputus dari otot perut yang perfeck serta otot lengan ohhh aduhai.
" Benarkah, aku sedikit tersanjung dapat pujian dari ratu kampus. Tapi lebih keren aku atau Gavin " Leon dengan tatapan menggoda
" Gavin " Zea singkat padat sekilas menoleh ke arah Gavin tapi dia cuek masih memperhatikan laptopnya.
" Masih ajah, orangnya gak goyah sama sekali " sindir Felix
Zea menghampiri Felix dan memukul pundaknya dengan keras.
" Lebih baik aku mengganggumu " mengambil stik gamesnya.
" Kau bisa memainkannya " ujar Felix sedikit khawatir.
" Tidak, ini baru pertama kali " Zea memainkannya dengan santai
" Matilah aku, rangkingku akan turun " pergi ke kamar.
Blen keluar dari kamarnya membawah handuk yang cukup besar lalu memberikannya ke Zea.
" Bersihkan dirimu, lalu kau akan tidur di kamarku "
" Tidak usah, aku akan tidur disini saja. Ini nyaman " Zea menepuk - nepuk tempat favorit Blen itu.
Blen mendekatkan diri hingga tepat didekat telinganya.
" Kau tidak lihat kami semua laki - laki, Kami punya kebutuhan biologis terkadang banyak laki - laki melakukan permainan solo sambil membayangkan tubuhmu, gak ada jaminan kami gak buas melihatmu " Blen berbisik tapi setiap kata penuh dengan penekanan.
" Baiklah aku akan di kamar saja " Zea seakan bergidik ngeri saat mendengar yang di katakan Blen dan langsung berlari meninggalkan mereka ke kamar Blen yang ditunjuk tadi.
" Jangan lupa kunci kamarnya " seru Blen meninggikan suara.
Gavin
Saat keadaan lebih tenang mulailah diskusi mereka.
" Kenapa kau bawah dia kesini? " beralih pandanganku menatap Blen
" Aku tak sengaja membawahnya kesini, dia takut di rumah karena dia disana sendirian " tutur Blen membela diri
" Apakah dia tidak ada keluarga " Leon menambahkan
" Sejauh kulihat dia sendiri, aku tidak tau dia mempunyai keluarga atau tidak " Blen mengambil buku yang belum selesai dia baca.
" Kita ada misi, besok target kita akan kembali ke Indonesia dari Belanda. Tugas kita mengawal mereka " penjelasanku
" Tidak susah, cukup muda " seru Felix.
Zea
Saat aku memasuki kamar Blen nunsanya tenang bagaimana tidak warna catnya biru laut mudah pundar.
" Apakah dia suka biru, wauuu... Banyak bukunya "
Disana ada 2 rak buku terjuntai tinggi ke atas seperti punya perpustakaan serta satu lemari dan rak paling di atas di isi dengan buka.
Kasur serta selimut yang bewarna krim susu membuat aku semakin mengantuk, tenang sekali disini ditambah aku suka bau Blen sepertinya ini bau tubuhnya aku masih ingat saat kami berciuman di pantai itu.
" Aku tidak pernah menginap di rumah cowok walupun profesiku membuat orang berpikir miring kalau hal ini adalah hal lumrah tapi faktanya aku lebih memilih hotel ataupun rumahku sendiri tapi kali ini aku lebih nyaman di samping laki - laki yang selalu menyelamatkanku itu " aku tersenyum melihat beberapa foto yang terpampang di meja belajarnya.
Aku ambil buku novel yang cukup menarik terlihat dari sampulnya dan beberapa buku lain membawahnya ke kasur lalu aku tidur dengan tengkurap mataku masih fokus membaca tapi itu hanya bertahan 15 menit setelah itu mataku sangat berat dan akhirnya aku tidak bisa menahanya.
Blen
Aku berniat mengambil buku untuk ku baca
" Tok.... Tok... "
Aku mengetuk pintu berulang kali tapi tak kunjung di buka aku langsung saja buka pintu walaupun aku tidak tau sudah di kunci atau belum tapi ternyata belum di kunci.
" Zea... Ngapai.. " aku masuk dan kata - kataku tak ku teruskan karena melihat sang empunya nama tertidur pulas di ranjangku dengan di sampingnya ada beberapa buku.
" Astaga cewek ini, sudah pintu tidak dikunci, memberantakan buku - buku lagi dan lihat cara tidurnya begitu santai apakah dia tidak takut kami disini semuanya cowok "
Aku kesal sekali orang yang ada dihadapanku selalu saja aku khawatiri tapi dirinya sendiri...
Aku membereskan bukuku lalu aku selimuti dia tidur, aku melihat wajahnya tertutup rambutnya yang panjang, aku sedikit menyibak rambut yang ada diwajahnya takutnya dia akan kehabisan oksigen.
" Aku paling benci cewek bodoh tapi kenapa aku terus terjebak dengan kepentingan gadis bodoh ini yang disuruh menunggu dan dia terus menunggu sampai hal itu terjadi " aku mengelus kepalanya pelan lalu pergi dari situ.
Aku kembali ke ruang tamu yang sepi karena rata - rata orang sudah kembali ke kamarnya kecuali Gavin.
" Lo gak tidur Gavin ?"
" Tidur, masih ada kerjaan dikit "
" Baiklah " aku tidur disinggasanahku membaca buku yang baru aku bawah.
" Kau benar akan tidur disini, bukannya seharus dia yang tidur disini dia kan tamu " ucap Gavin datar.
" Aku tau dia tamu tapi dia juga wanita aku tidak percaya pada kalian semua laki - laki dan aku juga gak percaya pada diriku sendiri " ujarku masih membaca buku.
" Terserah kau lah "
.
.
Zea
Jam masih menunjukan pukul 3:10 dini hari.
Aku membuat panggilan untuk menajerku
" Halo "
" Ada apa Zea, pagi sekali kau menelponku "
" Pak buatkan aku artikel tentang aku mundur dari dunia modeling, aku siap bertempur "
" Maksudnya kau akan mundur bukannya kau sudah dapat kontrak "
" Sudahlah, kau lakukan saja apa yang aku katakan padamu mungkin hari ini adalah hari terakhir kau bekerja sebagai menajerku "
" Baiklah kalau itu memang keputusanmu "
" Aku akan memberi gaji terakhirmu "
" Yang ku pikirkan bukan gaji tapi bagaimana dengan impianmu, aku tau kau Zea sangat ingin sekali menjadi model dunia "
" Terimakasih sudah mengakhwatiriku, aku baik - baik saja "
Setelah itu aku pergi membersihkan diri beserta mengganti baju karena aku berniat pergi sekarang juga.
Saat selesai aku melihat Blen beringku seperti ulat yang meliukkan tubuhnya karena merasa dingin.
Aku mengambil selimutku lalu keselimutkan dirinya
" Terimakasih untuk sekian kalinya kau selalu ada untukku " aku mencium pipinya lalu pengambil kertas yang sudah aku aku tulis lalu menempelkannya di dinding yang bisa terlihat jelas.
masih setia menunggu🥰
sudah ku like semua ya.. jangan lupa mampir balik ke karya ku ya..🤗❤
zea~blen sama jovan~felix