NovelToon NovelToon
Selir Rahasia CEO Casanova

Selir Rahasia CEO Casanova

Status: tamat
Genre:Badboy / Nikahkontrak / Tamat
Popularitas:316.1k
Nilai: 5
Nama Author: Irma Rahmawati

"Mungkin aku memang pemain wanita, tapi aku tidak akan menelantarkanmu karena kamu sedang mengandung anakku." Adrian.

"Jika aku tidak mengandung anakmu, apakah kamu tetap akan bertanggung jawab padaku?" Amira.

Sebuah kecerobohan yang dilakukan Amira membuatnya harus kehilangan kesuciannya dan mengandung benih dari Adrian, pria yang terkenal dengan julukan casanova. Amira harus menjadi selir rahasia dari Adrian sampai ia melahirkan bayinya.

Follow ig : Siran_rhmwtii6
facebook : Siran Ran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meminta Bantuan?

Adrian Widiatama

Amira

Tasya

y

"Mira!" Seseorang berteriak dengan membelalakan matanya. "Kau sedang apa disini bersama laki-laki ini?!" Ia bertanya dengan suara yang cukup lantang, mengundang perhatian seluruh orang yang tengah berada di toilet pria tersebut.

"Vi-Vika!" Mira tergagap, ia sangat takut sahabatnya akan berpikir yang tidak-tidak.

Adrian melepaskan tangan Mira, kemudian menatap Mira yang terlihat ketakutan.

"Mira, kenapa kau disini bersama pria ini?!" Vika menunjuk Adrian yang masih berpikir cara menghadapi Vika yang sudah sangat mencurigai Mira.

"A-aku..."

"Kenapa tidak menjawab?! Apa kamu..."

"Ekhem...!" Adrian berdeham, mengalihkan perhatian Vika padanya seketika. Setelah itu, ia memberi isyarat pada Mira agar menjauh dari Vika diam-diam.

"Temanmu itu sepertinya sudah tersesat, aku hanya melindunginya!" Ucap Adrian yang seketika menenangkan hati Mira yang sudah berada di dekat pintu keluar toilet pria.

"Baru saja aku akan membantunya keluar, tapi, bagaimana kau bisa ada disini juga? Apa kau tersesat dan ingin aku antarkan keluar juga?" Mira menatap Adrian tajam dari kejauhan, ia kini tengah menduga bahwa tingkah laku Adrian yang seorang casanova sudah kembali muncul.

"Cih," Vika tak menjawab, ia membalikan tubuhnya dan melangkah menuju Mira yang masih berada di dekat pintu keluar toilet.

"Ayo, Mir! Kita pulang saja, aku takut casanova itu semakin menjadi-jadi!" Ia menarik tangan Mira, kemudian membawanya keluar dari lingkungan mall. Suasana yang tadinya menyenangkan kini membuat Mira menjadi harus berhati-hati dalam segala tindakannya, terutama saat berhadapan dengan Vika.

Sepanjang perjalanan Mira hanya diam, ia ingin lebih banyak diam saja agar tak mengatakan hal yang akan memancing kecurigaan Vika.

"Kamu mau diantar kemana?" Tanya Vika secara tiba-tiba, membuat Mira sedikit terperanjat dan lamunannya buyar seketika.

"Ke rumah sewa saja," ucap Mira dengan suara pelan namun terkesan berhati-hati.

Vika menangkap sesuatu yang aneh lagi dalam sikap temannya, pasalnya dulu Mira adalah tipe wanita yang banyak berbicara. Tapi hari ini, ia merasakan perubahan yang amat besar dalam diri Mira.

Mira menyadari bahwa Vika sedang memikirkannya, iapun sesegera mungkin mencari topik yang tepat untuk memulai percakapan.

"Vik, aku penasaran gimana sekarang keadaan rumah milik ayah."

Vika terlihat memelankan laju mobilnya sebelum menjawab percakapan dengan Mira, ia tipe orang yang sangat berhati-hati dalam berkendara.

"Mau lihat ke sana?" Tawar Vika yang di balas anggukan antusias Mira. Mira sangat penasaran, bagaimana keadaan rumahnya saat ini.

Vika memutar setir ke arah berlawanan dengan rumah sewa yang sebenarnya sudah tak ditempati Mira. Kini mobilnya sudah terparkir di depan gerbang rumah bertingkat 3 dengan halamannya yang sangat luas.

Mira memperhatikan rumah yang seharusnya kini menjadi tempat tinggalnya tersebut, masih tetap sama, seperti saat ia meninggalkannya. Namun ada yang sangat berbeda dari sana.

Ia merasa rumah itu semakin tak terurus. Terutama saat gerbang terbuka, menampilkan halaman yang ditumbuhi rumput-rumput panjang dan bunga-bunga banyak yang telah mati. Tak lupa, pohon-pohon dengan daun yang telah berguguran memenuhi tanah. Daunnya dibiarkan begitu saja, tak ada yang membersihkannya.

Miris.

Itulah yang saat ini Mira rasakan akan keadaan rumahnya.

Kapan aku bisa mengambil alih rumah ini kembali? Kenangan ayah dan ibu satu-satunya. Batinnya dengan mata yang sudah digenangi air yang sebentar lagi akan mengalir deras jika tanggulnya jebol.

"Kamu pasti bisa mendapatkan rumah kamu kembali!" Vika selalu tahu apa yang sedang Mira pikirkan dalam raut wajah sedih Mira yang tidak dapat disembunyikan.

"Semoga saja." Mira berucap dengan mata yang masih setia memandang rumah miliknya tersebut.

Tanpa di duga, dua pasang kaki sedang melangkah menuju halaman luas rumah itu. Langkahnya terlihat menuju ke kolam ikan.

"Bibi!" Teriak seorang wanita tua dengan suara yang familiar, Susan ibu tiri Mira.

Disusul seorang wanita muda yang terlihat dengan perut buncitnya. Menandakan bahwa ia sedang berbadan dua.

"Namika hamil?" Vika sedikit terhenyak saat melihat sosoknya dengan jelas. Lalu ia segera menghidupkan mesin mobil, membawanya meninggalkan area rumah itu.

"Loh, kenapa kamu ninggalin-"

"Ssttt...!" Potong Vika sambil menambah laju mobilnya.

Setengah jam perjalanan, Mira sudah berada di depan rumah sewa yang waktu itu ia tempati.

"Makasih ya, udah antar aku pulang lagi!" Ucap Mira setelah turun dari mobil.

Vika mengangguk sambil tersenyum. Kemudian ia berpamitan. Setelah itu Mira bergegas mengeluarkan ponselnya yang sejak tadi ia matikan nada panggilan ataupun pesan.

Ia terkejut ketika mendapati banyak sekali panggilan tak terjawab dari Adrian. Bahkan pesan-pesan pendek ia dapatkan.

Tanpa menunda lagi, Mira segera menghubungi Adrian.

"Pak,"

"Sejak kapan aku menjadi ayahmu? Panggil aku Tuan! Itu lebih baik!" Semprot Adrian dalam telepon, membuat Mira merasa diri Adrian yang casanova sudah kembali.

"Ya, Tuan! Maaf, aku sudah berada di rumah sewa lagi. Temanku sudah pergi!"

"Lalu?"

Mira memutar bola matanya, merasa malas meladeni Adrian di seberang telepon sana.

"Bisakah kita bertemu di apartemen? Ada hal yang perlu aku bicarakan dengamu, Tuan! Ini sangat penting."

"Baiklah, tunggu disana! Aku akan menjemputmu ke rumah sewa, kita akan ke apartemen bersama!" Adrian mengakhiri panggilan telepon. Mira duduk di atas kursi panjang yang berada di depan bekas rumah sewa yang ia tempati.

Sambil menunggu, ia lebih memilih melihat-lihat area rumah sewa tersebut.

Matanya menangkap sepasang sepatu dan sepasang sandal wanita di luar rumah itu. Mira merasa penasaran, hingga ia mendekati pintu rumah sewa tersebut.

Sepertinya sudah ada penghuni baru, ya. Batin Mira menduga-duga.

Ia semakin mendekat ke pintu, samar-samar Mira mendengar sebuah suara dari dalam. Ia semakin mendekati pintu, bahkan telinganya sudah semakin menempel pada pintu. Hingga ia sudah dapat mendengar dengan jelas suara dari dalam rumah sewa.

Suara yang seketika membuat mata Mira membelalak.

"Sedang mendengarkan apa?" Tanya sebuah suara, Mira meletakan jari telunjuknya di depan bibirnya. Memberi perintah untuk diam. Tak ia sadari, kehadiran Adrian yang kini sedang mengikuti apa yang sedang Mira lakukan.

"Lebih cepat!" Suara tersebut semakin keras.

"Kau menguping manusia yang sedang melakukan persatuan dunia?! Kenapa tidak melakukan persatuan dunia juga?!" Adrian berbicara cukup keras, membuat tangan Mira membungkam mulut Adrian.

"Berhenti berbicara, kau pikir itu tidak menji-" Ia tak meneruskan kata-katanya, kepalanya terangkat. Ia menyudahi acara menguping yang belum selesai.

Matanya membulat sempurna, saat melihat sosok pemilik suara yang sejak tadi mengganggu kegiatan konyolnya itu.

"Tu-tu- Tuan!" Seru Mira.

"Ya!"

...****************...

Kemacetan selalu saja menghiasi jalanan kota, membuat seorang wanita menjadi risih berada dalam sebuah mobil bersama dengan seorang pria.

Sejak tadi ia menunduk, seperti orang yang baru saja tertangkap basah membuat masalah atau kesalahan. Mira merem*s-rem*s pakaiannya, ia merasa sangat malu atas kejadian tadi.

"Apa yang kau pikirkan?" Adrian membuka percakapan setelah hampir selama 15 menit terjebak kemacetan.

"Emm..." Mira masih belum tahu harus menjawab apa.

"Kau itu sangat tidak sopan!" Adrian melirik Mira sinis.

"Bagaimana aku tahu bahwa penghuni baru rumah sewa itu sedang nana nina!"

"Nana nina?!" Adrian mengerutkan dahinya, kemudian ia mangut-mangut tanpa meminta penjelasan arti dari kata-kata itu.

"Sudahlah! Apa yang aku ingin bicarakan itu? Hal penting kau bilang?! Sepenting apa?" Adrian mengingatkan tujuan Mira.

Mira belum memulainya.

"Kita bicarakan di apartemen!" Ajak Mira, membuat Adrian mencoba menyalip mobil lain setelah jalanan mulai luas kembali.

Hingga dalam waktu 45 menit baru mereka sampai di apartemen.

Keduanya duduk saling berhadapan dengan secangkir teh yang tersaji di atas meja minimalis milik Adrian.

"Apa kau bisa mengganti kompensasi kontrak pernikahan kita?"

Adrian menatap Mira bingung, ia tak mengerti apa yang Mira maksud..

"Apa maksudmu?"

"Aku ingin uang kompensasi dalam perjanjian kita yang akan kau berikan padaku itu di ganti saja, aku butuh sesuatu yang direbut orang lain. Aku tida bisa membiarkannya hilang lagi dari genggamanku." Mira semakin membuat Adrian kebingungan.

Pada detik berikutnya, Adrian sudah paham dengan permintaan yang di ajukan Mira.

"Apa yang kau inginkan?" Tanya Adrian sambil mengeluarkan ponselnya. Bersiap mencatat keinginan Mira, karena saat ini ia belum mempersiapkan surat pernyataan.

"Sebuah rumah, milik ayah dan ibuku yang direbut ibu tiriku. Rumah itu direbut secara paksa oleh ibu dan adik tiriku. Aku sangat ingin memiliki rumah itu, jadi aku memohon dengan sangat agar kau mau menukar uang kompensasi itu dengan rumahku." Mira memohon dengan sangat, hingga ia berlutut di hadapan kaki Adrian.

Ia tak peduli, jika saat ini terlihat sangat miris hanya demi sebuah rumah.

"Untuk itu perlu pengurusan yang sangat teliti. Tapi..."

"Aku mohon!" Mira memasang wajah memelas.

"Akan aku pikirkan, tapi..." Mira kembali memasang wajah memelasnya dengan kedua telapak tangan yang disatukan. tak lupa, air mata sudah membanjiri wajahnya.

"Jika begitu, baiklah. Tapi selama kau jadi istriku, kau harus melayaniku dengan baik. Baik di atas ranjang, ataupun semua kebutuhanku. Kapanpun aku meminta kau harus siap. Tidak ada kata 'Tidak' yang akan aku dengar nanti! Aku akan mempersiapkan segalanya!" Meski terpaksa, Mira menyetujui hal itu.

"Besok aku akan mengirim berkas untuk kau tanda tangani!"

...****************...

Kerlap-kerlip lampu begitu menyilaukan, tak lupa bau alkohol yang menyeruak di indra penciuman. Musik yang bising terdengar keras, namun orang-orang di dalamnya tak merasa terganggu.

Terutama seorang wanita dengan tubuh mulus dan langsung dan juga tinggi semampai. Ia terlihat asyik menari di atas lantai menari, menggerak-gerakan tubuhnya dan melenggak-lenggokan pinggulnya seiring irama yang berpadu dengan musik.

Tentunya itu mengundang perhatian pria-pria yang berada disana. Tak jarang ada yang mendekatinya, sekedar ingin dilayani karena tarian wanita yang telah memancing juniornya untuk bangun.

Pria dengan jas maroon yang sejak tadi duduk di tempat paling dekat lantai menari terus memperhatikan wanita itu, hingga ia semakin merasa penasaran dan terpancing. Iapun berdiri, gegas melangkah menuju wanita itu dan merangkul pinggangnya membawanya menjauh agar tak terganggu suara bising.

"Siapa namamu, cantik?!" Tanyanya setelah berada jauh dari ruang yang bising tadi.

"Tasya, namaku Tasya!" Wanita itu terlihat girang dengan sosok pria yang kini masih merangkul pinggangnya tersebut.

"Kau mau ini?!" Pria itu mengeluarkan sebuah kunci mobil. Menunjukannya pada Tasya.

"Ayo lihat keluar!" Pria itu membawa Tasya keluar club, menuju parkiran.

Menunjukan sebuah mobil berwarna biru metalik dengan model terbaru bahkan terlihat sangat mewah dan elegan.

"Wow!" Tasya terpukau.

"Mau?!" Pria itu menyodorkan kunci pada Tasya. Dengan cepat Tasya meraihnya.

"Ada syaratnya, Sayang!" Pria itu menghentakan tangannya, membuat tubuh Tasya beradu dengan tubuhnya. Tasya mengerti apa keinginan pria itu. Terutama saat sesuatu yang mengganjal dari pria itu beradu dengan p*h*nya.

Tasya terlihat berpikir.

Ayo, Tasya! Dia lebih kaya dari Adrian! Bahkan Adrian tidak pernah membelikanmu mobil baru yang sangat mahal seperti ini!

"Kau mau atau tidak?!" Pria tu membuyarkan lamunan Tasya.

Tasya tersenyum penuh maksud, ia memeluk pria itu tangannya meraba sesuatu yang sudah bangkit milik pria itu.

"Aku anggap ya! Ikut aku!" Pria itu membawa masuk Tasya ke dalam mobil.

Laju mobil sangat kencang, membuat keduanya sudah berada di sebuah kamar hotel bintang lima.

"Kamar terbaik untuk pasangan bulan madu!" Seru pria itu sambil membawa Tasya ke atas ranjang.

"Jangan berlama-lama! Aku tidak tahan lagi, ayo mulai!" Pria itu mendekap Tasya di bawahnya.

Ia tak memberi aba-aba, langsung melepaskan setiap benang yang membalut tubuh Tasya. Membuat Tasya kewalahan dan menjerit karena tidak adanya persiapan.

"Arrgghh...!!!" Tasya mengerang tidak karuan, bercampur suara khas kegiatan panas.

"Kenapa?! Apa kau ingin lebih dalam?"

Tasya tak menjawab, ia sudah tak berkutik.

"Jika begitu, panggil namaku!"

"Panggil aku Mike!"

-

-

-

-

-

**Bersambung...

Bagaimana? Apakah sudah cukup buat ganti kemarin yang tidak up? Lanjut besok ya, aku usahakan up lagi 😁

Jangan lupa bagi dukungannya ya, like, vote, komentar, boleh kasih bunga atau kopi! Setiap dukungan kalian adalah semangatku 😘😘😘**

1
Florensia Mei
bertele tele masak suami tak peka
Mawar berduri
bkn nasib..tp kamu aja yg jd wanita lemah. mau diperdaya. pdhal kamu bkn wanita miskin tp kok bodoh.
Sinta Cinta
kau sangat cantik
Sinta Cinta
pasti nanti hamil
Sinta Cinta
sedihnyaa 😭
Sinta Cinta
hummm mulai tertarik
Sinta Cinta
nyimak lah
Sinta Cinta
😁
Alfia
Tasya tidur dengan Mike, dibilang selingkuh
apa bedanya dengan Adrian yang celup sana sini, alias Casanova 🤦🏻‍♀️
g punya kaca X Adrian 🤣🤣🤣🤣
kagome
liat apa an si????
mira.....liat apa an?????
Alfia
ibu tirinya Susan atau Andia🤔
Apriyanti
lanjut thor
Nanik Puspita
makasih Thor ending nya mereka bersatu dan bahagia 🙏🙏🙏🙏
Apriyanti
lanjut thor
cunai 24
Terima kasih, akhirnya mereka bersatu 💞💞💖💖
Dasni Windri
Mksh akhir nya hepy ending
Irma: Makasih kembali kak, sudah sabar nunggu aku up... 💟💟
total 1 replies
Apriyanti
lanjut thor
Nanik Puspita
dah mau tamat thorr 😭😭😭😭
Dasni Windri
Ko udh mau tamat aja nih
crist
waduh mau tamat aja ni thor
Irma: hehe, iya, tapi aku usahakan ada karya baru nanti
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!