Satu kemalangan memunculkan kemalangan yang lain. Anin Prameswari ternoda oleh pria tidak dikenal, dan membuat ia menyetujui pernikahan bersama seorang pria yang nyatanya adalah sahabatnya sendiri. Mampukah sang sahabat mencintai Anin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miracle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putuskan
"Untuk apa ayah menyuruh kita ke perusahaannya?" tanya Dama.
Anin merapikan jas yang dipakai oleh suaminya kemudian memandang Dama dengan senyum manis.
"Ayah bilang nanti juga akan tahu. Kita turun dan sarapan dulu," kata Anin.
"Aku akan datang pukul sepuluh. Aku harus ke kantorku sendiri, kan?" kata Dama.
"Iya, aku akan menunggumu datang. Oh, ya, apa kamu punya waktu besok? Aku harus ke dokter kandungan."
"Aku tidak ingin berjanji, tapi akan kuusahakan untuk menemanimu besok."
Keduanya keluar dari kamar. Dama mengiringi Anin menuruni anak tangga secara perlahan kemudian sepasang suami istri itu menuju ruang makan.
"Selamat pagi, Ayah," ucap Anin.
"Pagi, Yah," sambung Dama.
"Selamat pagi. Kalian sarapan dulu," kata Baskoro.
Anin melayani suaminya dengan memberi roti yang sudah beri selai, lalu menuangkan secangkir teh untuk Dama.
"Jangan lupa nanti siang untuk ke kantor ayah," ucap Baskoro pada Dama.
Dama mengangguk, "Dama tidak akan lupa. Setelah mengurus segala sesuatunya di kantor nanti, Dama akan langsung ke kantor ayah."
"Aku ikut kamu, ya? Aku ingin lihat kantormu," ucap Anin.
"I-ikut aku?" tanya Dama.
"Iya."
Dama mengangguk, "Bukannya kamu sudah pernah ke perusahaanku?"
"Itu sebagai teman. Sebagai istri belum."
Baskoro tertawa, "Istrimu minta dimanja, Dama."
"Iya, Ayah."
Seharusnya, pagi ini Dama menjenguk istri keduanya terlebih dulu, tetapi Anin malah ingin ikut ke kantor. Apa boleh buat, istri pertama harus didahulukan.
Selesai sarapan bersama, Anin dan Dama pergi dulu dengan satu mobil, sedangkan Baskoro akan di antar oleh sopir.
"Kenapa kamu ikut, sih?" tanya Dama.
"Kamu marah?"
"Enggak, maksud aku, apa kamu enggak ada pekerjaan? Perusahaan besar seperti milikmu pasti punya banyak proyek," kata Dama.
Anin tertawa, "Memang benar, tetapi aku punya anak buah yang dapat diandalkan."
Dering ponsel Dama berbunyi. Pria itu meraih ponsel yang tersimpan di saku kemeja, lalu membaca nama pemanggil yang meneleponnya.
"Kenapa tidak diangkat?" tanya Anin saat melihat Dama mereject panggilan telepon.
"Aku sedang menyetir," sahut Dama.
Kembali dering ponsel itu berbunyi dan lagi-lagi Dama menolak panggilan itu. Ia, bahkan menonaktifkan ponselnya.
"Siapa tahu itu orang penting," ucap Anin.
"Aku lagi menyetir dan ada ibu hamil yang kubawa. Aku tidak mau ambil resiko."
"Dama ... aku menyukaimu," ucap Anin yang melepas sabuk pengaman dari tubuhnya kemudian mengecup pipi Dama.
"Jangan menyentuhku!"
"Semalam kamu juga mengecup wajahku. Oh, ya ... bagaimana dengan kekasihmu? Kalian sudah putus, kan?" Anin teringat perkataan Dama yang mengatakan ia punya kekasih pada saat malam pertama.
Dama menepikan mobil di pinggir jalan. Ia menatap wajah Anin. "Jika aku memberitahu sebenarnya, apa kamu akan menceraikanku?"
"Maksudnya?"
"Aku masih berhubungan dengan kekasihku, bahkan kami sudah menikah sehari setelah kita menikah. Oh, satu lagi ... kekasihku juga sedang hamil," ungkap Dama.
Anin terdiam, sejurus kemudian dia tertawa. "Kamu jangan bercanda. Meski kalian masih berhubungan, aku minta untuk mengambil keputusan. Putuskan kekasihmu karena kamu, adalah suamiku."
"Kamu yang mengambil hak dari kekasihku. Seharusnya kamu yang mundur!"
"Dari awal bukannya aku sudah katakan padamu untuk tidak menyetujui pernikahan ini. Kamu bilang akan tetap menikahiku meski apa pun yang terjadi. Kali ini aku tidak akan melepasmu karena kita sepasang suami istri," ucap Anin.
"Apa? Sepasang suami istri?" Dama tertawa.
"Aku akan melayanimu setelah anakku lahir."
"Sebaiknya kamu cari pria yang telah menghamilimu," kata Dama.
Anin tersentak karena Dama membuka luka lama. "Dengar, Dama. Jika kamu tidak mau mengakhiri hubungan dengan kekasihmu itu, maka aku sendiri yang akan memintanya."
"Sudahlah ... aku sudah mengakhiri hubunganku dengannya."
Sampai kapanpun kamu tidak akan tahu siapa kekasihku," batin Dama.
Bersambung
🤣🤣🤣🤭