Tulisan saya ini pernah dimuat di KBM dengan pembaca lebih dari empat belas ribu orang. Kisah tentang perempuan yang melahirkan di rumah mertua dengan segala suka dukanya.
Konfliknya menarik, dikemas dengan bahasa yang baik dan visualisasi mendalam sehingga pembaca seolah-olah masuk dalam cerita dan merasakan emosi tokoh dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evi Listriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali
#Melahirkan_di_Rumah_Mertua
#Part_16
Aku dan Mamah telah belanja sayuran dan aneka bumbu di pasar. Ayam jago peliharaan Bapak pun, rela Bapak potong demi menyambut kedatangan Ibu dan Bang Rafi yang katanya akan datang hari ini.
Walaupun hidup kami sederhana, sudah tradisi untuk selalu memuliakan tamu. Kalau ingat perlakuan Ibu pada Mamah, sebenarnya aku nggak rela repot-repot begini. Setiap kali Mamah dan Bapak berkunjung ke rumah Ibu, mereka hanya disuguhi air putih. Tak ada kue apalagi makan besar. Kalau mau makan, aku yang berinisiatif untuk membeli. Setelah tahu sifat Ibu, setiap kali datang Mamah akan datang dengan membawa banyak makanan. Nasi timbel, dengan lauk pauknya. Juga kue-kue kampung.
Hampir tengah hari saat motor Bang Rafi tiba di halaman rumah. Ibu dan Bang Rafi membuka helm yang mereka pakai, meletakkannya pada jok motor. Aku menyambut mereka dengan senyum termanis yang kupunya.
Aku meraih tangan Ibu dan Bang Rafi bergantian dan mengajak mereka masuk. "Mari masuk, Bu!"
Ibu masuk ke dalam rumah tanpa membuka sepatu, aku mencubit Bang Rafi dan menatapnya tajam.
"Bu, sepatunya disimpan di sini," pinta Bang Rafi pada Ibu. Untunglah dia paham maksud cubitanku.
Ibu mundur beberapa langkah, kemudian membuka sepatunya di dekat pintu dengan wajah terpaksa. Sedikit berjinjit dia kembali masuk ke rumah.
Kalau saja bukan Ibu mertuaku, sudah ku marahi Ibu. Rumah kami ini selalu bersih. Kami pel dua kali sehari. Walaupun hanya berlantai acian semen tapi sudah licin dan mengkilap, Mamah rutin menggosoknya dengan ampas parutan kelapa. Tak terima aku dengan sikap tidak soan Ibu.
"Mana Marisa, Ning?"
"Ini, Besan," jawab Mamah yang keluar dari kamar sambil membawa Marisa di pangkuannya.
Ibu meraih Marisa dan asyik mengajaknya bermain tanpa menanyakan kabar Mamah dan yang lainnya di rumah ini. Ah, sudahlah tabiat Ibu memang begitu, untuk apa aku bersusah hati menanggapinya? Percuma!
Ibu menikmati jamuan makan yang kami hidangkan, dia tampak makan dengan lahap. "Daging ayamnya beda ya, enak sekali," tutur Ibu.
"Itu daging ayam kampung, sengaja kami potong untuk menjamu besan," jawab Mamah. Seketika raut wajah Ibu berubah, mungkin merasa tersindir. Baguslah, kalau merasa tersindir berarti Ibu masih punya hati.
Aktivitas makan bersama itu tidak membuat kami berbincang dengan hangat, justru rasa sungkan lebih mendominasi. Hanya terdengar denting sendok dan piring yang sesekali beradu, percakapan basa-basi yang benar-benar basi menandakan bahwa hubungan dua keluarga ini tidak terjalin dengan baik.
Selesai makan, Ibu mengutarakan maksudnya untuk mengahakku kembali ke rumahnya.
"Saya setuju-setuju saja besan, Ning sudah menjadi menantu keluarga kalian. Dia memang harus mendampingi suaminya. Di sini Ning adalah permata hati kami. Tak pernah kami menyakiti jiwa dan raganya. Jadi, tolong jaga dia dengan baik. Kalau tak bisa menjaganya kembalikan saja pada kami," urai Bapak dengan penuh penekanan. Rahangnya tampak mengeraa dengan sorot mata tajam menatap Bang Rafi.
Bang Rafi hanya menunduk, dia tak berani untuk sekadar mengangkat wajahnya.
"Ya, saya mengerti," pungkas Ibu.
Matahari bergulir ke arah barat. Mamah, Bapak dan Wening melepas kepergianku dan Marisa dengan haru. Aku tidak tahu apa yang akan aku hadapi nanti di rumah Ibu. Tujuanku hanya satu, mempertahankan biduk rumah tanggaku agar tidak karam. Semoga aku dan Ibu bisa saling mengerti dan menerima.
Mungkinkah?
anakku sekarang lahiran aku bebasin makan segala macam yg bergizi.😁
sarapan jam 10, makan sore jam 3, setelah jam 5 sore udah gaboleh makan.
makan cuma boleh nasi + sayur rebus (hambar gak ada rasa sama sekali).
gak boleh tidur siang, pdhl mlm harus melek nemenin adik.
bb lgsg anjlok 13kg selama 40hari ikut mertua, mau pulang kerumah setelah 7 hari lahirnya dedek tidak boleh. harus nunggu 40hari.
40 hari yg menyiksa, setelah skrg dirumah aku paling anti kalau diajak kerumah mertua, gak mau lagi. kecuali kesana pagi terus sore pulang