"Aku rela untuk menjadi yang ke - 3...yang pertama Tuhanmu, yang kedua Ibumu, yang ketiga Istrimu...Aku...asal jangan ada yang keempat diantara kita..."
Sebuah janji suci yang tidak seorangpun bisa menggoyahkannya.
Kisah perjuangan hidup seorang Lyvia dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga.
° Novel Adrian Maulana
Satu-satunya pria yang meluluhkan hatinya.
Namun apa jadinya jika kepercayaan cinta dikhianati.
Apakah Lyvia masih bisa menerima kembali ketulusan cinta Adrian ?
Akankah Adrian bisa meluluhkan hati Lyvia ?
Yuk ikuti kisah selengkapnya...😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azzahra Nian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16. Lagi-lagi Maya
Pagi ini Maya bangun lebih awal. Rencananya ia ingin pergi menemui Adrian. Dia tidak mau kehilangan Adrian lagi.
"Kalau bukan karena kamu, mana mungkin aku mau bangun pagi-pagi begini." gerutunya dalam hati. Memang...gadis itu hampir tidak pernah bangun sepagi ini.
Sedangkan ditempat lain, diwaktu yang sama.
Lyvia yang sedang membantu ibunya di dapur berlari kecil, setelah mendengar Handphone nya berdering.
("Semangat pagi sayang...sudah bangun ?") Terdengar suara merdu dari sebrang sana. Lyvia senyum-senyum sendiri.
("Pagi juga.... sudah bangun...?") tanyanya kembali.
("Eeeiiittsss....jangan salah, memang pernah aku bangun kesiangan...?")
Lyvia hanya membalasnya dengan senyuman. memang ia akui kalau pria ini sangat rajin bangun pagi.
("Ada apa mas...tumben pagi-pagi telf...?")
("Kangen....") jawabnya menggoda
("Pagi ini mau aku jemput jam berapa...?") lanjutnya lagi.
("Agak siang gakpapa mas...aku kasih dispensasi buat teman-teman untuk buka jam 9, kasian mereka capek habis acara kemaren.")
("Baiklah kalau begitu, habis apel pagi aku jemput ya...")
("Iya mas...santai aja, atau kalau mas sibuk, aku bisa _")
("Tidak tidak....jangan kemana-mana sebelum aku datang menjemput")
Belum selesai Lyvia mengatakan maksudnya, tapi sudah dipotong oleh Adrian.
("Iya sayang,aku tunggu kedatangan mu.")
jawabnya sembari menutup teleponnya.
***
Berbeda dengan Lyvia, Adrian berangkat lebih awal. Karena dia harus memimpin apel pagi ini.
Disaat apel berlangsung Maya datang, dan seperti yang dia lakukan kemaren, ia menuju post penjagaan untuk menanyakan keberadaan Adrian.
"Maaf Bu....pak Adrian sedang memimpin apel pagi." jawab salah satu petugas disitu.
"Baiklah, kira-kira jam berapa saya bisa temui...?" tanyanya untuk memastikan.
"Mungkin sekitar jam 10an..."
"Oke... terimakasih, saya permisi dulu" jawabnya hampir putus asa.
Maya berlalu dari tempat itu. Entah kemana dia akan pergi.
'Sialan...! sudah capek-capek bangun pagi dan dandan semenarik mungkin, belum juga bisa ketemu' gerutunya dalam hati.
Oya...dia masih simpan brosur promosi yang kemarin dia dapatkan juga dari post penjagaan.
'Untuk mengisi waktu, aku akan coba kesana' gumamnya sendiri.
Dia berhenti di depan sebuah kompleks pertokoan. Tapi keadaan masih sepi, tidak ada siapa-siapa. Hanya seorang petugas kebersihan yang sedang menyapu halaman.
Dia memutar arah, untuk kembali ke hotel dimana dia tinggal. Masih ada waktu 2 jam.
Lama dia berdiam diri menonton televisi dengan ditemani cemilan ditangannya. Maya sengaja belum ambil jatah sarapannya, dia bermaksud untuk mengajak Adrian sarapan bersama.
"Sudah jam 9" gumamnya. Maya bergegas menuju tempat kerja Adrian. Kali ini dia datang lebih awal sebelum waktu yang disampaikan petugas di post.
Berharap bisa bertemu pujaan hatinya. Namun lagi-lagi dia terlambat. Petugas post jaga bilang Pak Adrian baru keluar beberapa menit yang lalu.
Maya memang tidak menghubungi Adrian. Entah kenapa semua no HP Adrian yang ada di kontaknya tidak bisa dihubungi.
Hampir putus asa, namun dia ingat kemana kakinya harus melangkah. Ya.... kerumah Adrian. Dulu pernah sekali Maya berkunjung kerumah Adrian, bersama teman-temannya disaat Papa Adrian wafat. Maya juga sempat mengenal mamanya.
Dia masih ingat betul jalan ini. Dan akhirnya sampai ditempat tujuannya. Dilihatnya seorang perempuan sedang merawat tanaman hias di halaman rumahnya.
"Selamat pagi ibu...apakah benar ini rumah Adrian...?" tanyanya pada perempuan itu.
"Iya...ada yang bisa saya bantu."
"Saya Maya...kekasih Adrian, maaf dengan ibu siapa...?"
Mama Adrian sedikit bingung dengan pernyataan gadis ini. Kalau dia mengaku kekasih Adrian lalu Lyvia siapa...? namun sifat keibuannya tetap membuat mama Adrian bersikap tenang.
"Saya Mamanya Adrian, silahkan masuk Nak. Tapi Adrian sedang tidak dirumah."
"Oh...iya tidak apa-apa Ma, tadi saya kekantor Adrian, tapi dia tidak ada ditempat"
"Apa tidak dicoba untuk menghubungi..?"
Tanya Mamanya.
"E...iya, saya coba hubungi tapi semua nomernya tidak aktif. Atau mungkin Mama bisa membantu saya menghubungi Adrian"
Mama Adrian merasa ada yang aneh dengan gelagat gadis ini. Dia mencoba mencari alasan kalau handphonenya sedang rusak jadi tidak bisa menghubungi putranya.
"Maaf Nak Maya...kalau boleh Mama tau, Nak Maya rumahnya dimana...? sudah berapa lama dekat dengan Adrian...?"
"Saya tinggal di kota XX, kami dekat sudah 2 tahun, selama Adrian bertugas di kota itu." jelasnya panjang lebar.
"Lalu kira-kira apa yang bisa Mama bantu..? Maaf jauh-jauh Nak Maya datang kesini tentunya ada maksudnya...?" tanya Mama sedikit kepo.
Maya malah menangis, dia menceritakan bagaimana Adrian meninggalkannya,
bagaimana Adrian bersikap kasar padanya,
bahkan Maya mengaku kalau Adrian sudah mengambil mahkotanya....
Mama yang mendengar itu hanya menggelengkan kepala, tidak mungkin putranya bersikap seperti itu. Mama tau seperti apa putra semata wayangnya itu.
"Ma...tolong Maya, Maya sangat mencintai Adrian... meskipun kurang adil bagi Maya, tapi Maya berusaha mempertahankan cinta kita..." rengeknya memohon, berharap ada belas kasihan di mata Mamanya.
"Mama tidak tau harus menjawab apa...yang jelas semua keputusan ada di Adrian, Mama percaya apapun pilihan Adrian itu yang terbaik untuknya."
"Ma....izinkan Maya untuk membuktikan cinta Maya kepada adrian, Maya tidak mau kehilangan dia lagi."
"Silahkan Nak...tapi Mama tidak bisa melakukan apa-apa, Mama hanya mendoakan yang terbaik, semua Mama kembalikan kepada Adrian."
Seharian Maya berada di rumah Adrian. Merasa sudah cukup meluapkan semuanya, dia segera pamit kepada Mamanya. Mama hanya terdiam memandang kepergiannya.
Setelah kepergian Maya, Mama mencoba
menghubungi Adrian. Beliau mengirimkan pesan kepada Adrian.
"Cepat pulang, ada yang harus kamu jelaskan ke Mama." begitulah kiranya isi pesan singkat Mama Adrian.
Membaca pesan itu, Adrian segara pulang untuk memastikan apa yang terjadi.
***
Katika akan memasuki halaman rumahnya, Adrian sudah merasakan adanya ketidakberesan disana. Apalagi sejak Prima bercerita tentang kedatangan Maya. Ditambah lagi, laporan dari post jaga kalau ada yang mencarinya berkali-kali.
"Mama...." Adrian menemukan mamanya sedang duduk seorang diri di teras belakang.
"Jelaskan pada Mama, siapa perempuan itu...?" tanya Mamanya menahan amarah.
"Ma....apa yang sudah dia ceritakan ke Mama....?" Adrian balik bertanya kepada Mamanya.
"Adrian....mama tidak pernah mengajarkanmu hal yang tidak baik, apalagi kepada perempuan...." Mama menghentikan bicaranya, hanya titik air mata terlihat mengalir di pipinya.
"Ma.... Mama tau kan bagaimana sifat Adrian, tidak semua yang dia katakan benar Ma...bukan Adrian yang meninggalkannya, tapi dia yang sudah menghianati Adrian." jawab Adrian yang berusaha menenangkan Mamanya.
"Mama percaya sama kamu Nak... selesaikan masalah ini, tentukan pilihanmu. Apapun yang terbaik bagimu, kamu sendiri yang tau."
Diciumnya kening putranya, Adrian membalas nya dengan memeluk mamanya.
~ ----------------------------
~ ----------------------------
~ ----------------------------
Semua serb natural...😍😍😘
Lanjut ah...😗😗