Lika liku kehidupan sehari-hari yang di alami sepasang suami istri antara Aji dan Mika.
Tak pernah lepas dari campur tangan atasan mereka masing-masing di tempat kerja.
Akankah Mika bisa bertahan jika ia mengetahui yang sesungguhnya terjadi pada suaminya.
Dan, apa yang akan di lakukan suami Mika jika ia tahu apa yang di lakukan bos dari istrinya itu ingin menjalin hubungan dengan sang istri.
Aji sedang merencanakan sesuatu agar istrinya bisa memenuhi keinginan orang tuanya.
Sejatinya ia pun menginginkan hal yang sama dari Mika. Sama seperti keinginan mertuanya.
Hasil apa yang akan di dapatkan setelah mereka pulang dari berlibur?
Simak kisahnya di tulisanku yang awut-awutan ini ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PandaMaiden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
Hari senin yang dinanti-nanti untuk berangkat ke Pulau Dewata itu telah tiba. Tetapi pasangan yang akan berlibur kesana malah tidak melakukan apa-apa. Masih duduk di ruang tamu sambil menikmati sepiring roti kelapa dab teh hangat.
Semua memang sudah di pesan, tiket, hotel dan lainnya. Namun baru di bayar uang muka.
"Pa, aku ngerasa ada sesuatu yang akan terjadi kalau kita liburannya ke Bali" Mika mulai membuka obrolan sambil menyeruput teh miliknya.
"Hmm, jadi kamu berubah pikiran?" tanya Aji, sesungguhnya ia juga tak lagi bersemangat untuk pergi gara-gara kejadian kemarin.
"Iya Pa, tapi aku udah pesen tiket untuk kita terbang ketempat lain. Tempat yang tidak pernah aku sebutkan kepada siapapun" jawab Mika dengan semangat.
"Kemana, Mi" Aji pun menjadi penasaran, seketika ia melupakan kejadian yang merundung jiwanya.
"Kita ke Pulau Kanawa"
"Di mana itu Mi?"
"Di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur" tutur Mika. Ia kemudian membereskan bekas minum dan di bawa kebelakang, ia menuju kamarnya dan mengambil koper. Aji sudah bersiap dan ia menggeret kopernya keluar kamar.
Mereka segera bergegas untuk berangkat menuju bandara, biar lah rencana awal di batalkan dari pada merasa cemas.
***
Mereka tiba di bandara BIKK tepat pukul 13:35 WITA, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan taksi menuju pelabuhan penyebrangan.
Sekitar 1 jam perjalanan menyebrangi pulau, mereka sampai di di dermaga. Pemandangannya sungguh indah. Mika berbinar-binar menyaksikan keindahan tersebut. Bahkan saat dalam perjalananpun ia melihat air yang sangat jernih dan terlihat dengan jelas apa yang sedang berada di dalam air tersebut.
"Mi, kita ke penginapan dulu yuk. Istirahat" Aji mengajak Mika untuk beristirahat terlebih dahulu. Mereka kini menuju ke penginapan. Mika sudah mencari tahu tentang informasi pulau ini.
Di penginapan nanti mereka harus berhemat air bersih, dan menikmati listrik dari jam 6 sore hingga jam 11 malam. Tetapi, semua itu tidak masalah bagi mereka. Yang penting bisa menikmati liburan dengan tenang, seandainya hape mati lupa ngecarge. Biarin aja, siapa tau nanti tiba-tiba dapat telpon masalah pekerjaan.
Aji dan Mika kini telah berada di kamar yang akan mereka gunakan untuk tidur, mereka merebahkan diri setelah meletakkan barang bawaannya.
Sementara itu, di Bali, Anwar dan Vivi sudah tiba di hotel tempat mereka menginap. Mereka memang sengaja memilih kamar yang berjauhan agar dapat mengawasi orang yang mereka inginkan.
Kini Anwar tengah duduk bersandar di ranjangnya, ia mengetik pesan di layar ponselnya lalu di kirimkan ke karyawan kepercayaannya itu.
Setelah pesan tersebut ia kirim, namun hanya centang satu. Anwar membiarkan sejenak, mungkin sang empunya ponsel sedang istirahat.
Sementara Vivi, ia sedang di luar menyaksikan pemandangan orang-orang yang sedang bermain di pinggir pantai. Matanya menelisih ke setiap pengunjung yang sedang menikmati waktu liburan mereka.
Ia duduk sambir menikmati minuman yang menyegarkan tenggorokannya. Ia meraih ponselnya yang berada di atas meja lalu mendial nomor seseorang. Namun, nomor yang ia tuju sedang tidak aktif.
"Kok nggak aktif ya, apa mereka sedang asik-asikan di dalam kamar." Vivi mulai berfikir yang iya iya.
Kemudian ia menelpon kakak sepupunya untuk memastikan.
"Halo kak, An. Lagi dimana?" tanya Vivi dari sambungan telponnya.
Anwar yang baru saja akan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, ia urungkan mendengar dering ponselnya. Ia segera meraih ponselnya dengan semangat, berharap mendapat respon dari sang pujaan. Namun, terpampang jelas nama di layar tersebut bertulikan Vivi Calling....
"Halo, kenapa Vi?" jawab Anwar dengan lesu.
"Kak, gimana. Ada kabar nggak dari mereka?" tanya Vivi dengan penasaran.
"Belum ada, pesan kakak aja belum terbaca" ucap Anwar dengan nada tak bersemangat.
"Sama nih kak, apa mungkin mereka nggak jadi menginap di sekitar sini?" tebak Vivi.
"Masak sih, tapi berdasarkan informasi yang kakak dapat dari Mei, dia nginap di sini kok" terang Anwar.
"Terus, orang-orang yang kakak suruh untuk mengamati mereka gimana? udah kakak tanya?"
"Oh iya, mereka belum ada memberi kabar. Dan kakak juga lupa menghubungi mereka, kakak akan hubungi mereka terlebih dulu" Anwar langsung mematikan sambungan telponnya sepihak.
Ia mendial nomor orang yang sudah ia percaya untuk memberikan informasi tentang karyawannya tersebut.
"Halo, bagaimana hasil dari yang saya tugaskan ke kamu kemarin. Kenapa tidak memberi kabar ke saya sampai saat ini" ucap Anwar setelah sambungan telponnya di jawab.
"Maaf pak, saya tadi ada urusan yang mendadak, jadi belum sempat memberi kabar. Begini pak, saya sudah mengecek reservasi atas nama orang yang bapak perintahkan belum ada chek-in sampai saat ini. Apakah benar mereka datang hari ini?" tanya seseorang di seberang sana.
"Yang benar kamu kalau ngomong" Anwar mengeraskan rahangnya karena mendapat jawaban yang tidak sesuai dengan harapannya.
"Benar pak, saya sudah memastikannya tadi pagi" ujar seseorang tersebut.
"Coba kamu cek ulang, dan kabari saya secepatnya" Anwar langsung melempar ponselnya ke atas kasur dengan geram.
'Nggak mungkin mereka belum sampai, ini sudah sore. Apa jangan-jangan ada sesuatu yang mengganggu perjalanan mereka, sebaiknya aku tanya lagi kepada Meisya' Anwar kembali memungut ponselnya di kasur. Tubuhnya yang hanya terlilit handuk itu ia biarkan saja. Niatnya untuk mandi ia tunda.
"Mei, kamu sudah mendapat kabar dari Mika? apakah dia sudah sampai di Bali?" Anwar dudui di tepi ranjangnya dan ponselnya menempel di telinganya.
"Maaf pak, saya belum dapat kabar. Dan cuma dapat pesan dari Mika pagi tadi, bahwa ia sudah berangkat ke bandara. Itu saja pak, ada apa ya pak?"
"Oh, saya hanya memastikan apakah dia sudah sampai apa belum. Nanti kalau ada informasi tolong kamu kabari saya"
"Baik pak,"
Mereka mengakhiri percakapan di sambungan teleponnya. Anwar meremas rambutnya dengan kesal, karena gagal mendapatkan info.
Ia memilih untuk mandi terlebih dahulu agar kepalanya dingin. Dan nanti bisa ia gunakan lagi untuk berfikir dengan jernih.
Sudah menjelang malam, mereka belum mendapatkan kepastian. Vivi dan Anwar kini sedang menikmati makan malam mereka dengan tak bersemangat.
"Apakah mereka tidak jadi berangkat ya kak?" Vivi memulai obrolannya setelah seleAi menghabiskan makanannya.
"Apa kamu sudah menyuruh orang untuk mengecek rumah mereka?" tanya Anwar dengan serius.
"Oh iya, aku nggak kepikiran kak. Tunggu sebentar, aku akan menghubungi Bagas dulu," Vivi segera menelpon Bagas. Panggilan pertama tak mendapat jawaban, hingga panggilan ketiga tak kunjung di jawab.
"Hah, nggak di jawab lagi" Vivi mulai betek sendiri.
"Jadi, sekarang kita mau ngapain lagi disini? orang yang kita tunggu, sepertinya tidak jadi berangkat" tukas Anwar.
Sengaja author ubah skenarionya ya, biar kalian nggak bisa ganggu kesenangan pasangan halal itu.