ini cerita sedih tentang seorang istri yang tak di cintai suami nya, karena dia hanyalah istri yang di pilih keluarga nya bukan hatinya.
setelah perceraian terjadi, pria itu baru menyadari betapa pentingnya gadis itu untuknya.
perjuangannya untuk mendapatkan cintanya kembali akankah berhasil? menikahinya untuk kedua kalinya. atau malah cintanya tak terbalas karena si gadis mencintai pria lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rniehamizan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Setelah menyelesaikan makannya Reva langsung menghampiri Rangga yang sudah menunggu nya di balkon. wajahnya begitu serius dan terlihat jelas guratan emosi di sana.
"ayah...." Reva duduk tepat dikursi yang berada di sebelah Rangga.
"kau putri ku satu-satunya. dulu pernikahan mu itu ku pikir akan menjadi sesuatu yang...."
"sudah ayah. jangan bahas soal dulu. aku ingin dengar apa yang ingin ayah katakan sekarang." potong Reva, dia tak mau mendengar kata menyesal keluar dari mulut Rangga karena sudah menikahkannya dengan Adam.
"bercerailah."
Deg
Bagai di pukul sebuah batu besar. Reva tak menduga kalau kata itu akan meluncur begitu saja dari mulut Rangga. Reva menelan ludahnya, dia sendiri tak tahu harus berbuat apa. bercerai atau bertahan.
"iya, Reva. kau bercerai saja dengan Adam. ibu tak rela kau tersiksa batin karena istri keduanya." timpal Lela yang baru bergabung dengan membawa 3 cangkir teh.
"tapi...."
"Reva, kau memilih Adam atau kami?"
Pilihan yang sulit baginya. Reva mencintai Adam tapi dia juga menyayangi kedua orangtuanya.
Sebenarnya meskipun bercerai Reva tak rugi apapun, karena selama pernikahan nya pun Adam belum pernah menyentuh tubuhnya. tapi dia takut dengan title yang akan dia sandang. kata janda bukanlah hal yang bagus. Reva takut menyandang gelar itu. apalagi selama yang dia tahu, di masyarakat seorang singgle yang seperti itu selalu mendapat penilaian yang buruk.
"aku.. ayah..ibu. berikan aku waktu satu bulan." pinta Reva.
Rangga menghela napasnya.
"baik. tapi ingat ayah ingin kau bercerai. ya, meskipun ini masalah keluarga mu tapi ayah masih tetap berhak atas dirimu. kau putri ayah. jika suamimu menyakiti mu ayah akan maju ke depan."
Setelah obrolan malam itu Reva memutuskan untuk kembali ke Depok, ke rumah Adam. meminta izin pada Rangga dan Lela untuk menyelesaikan masalahnya. dengan berat hati Lela mengantar Reva sampai ke stasiun. hatinya merasa tidak rela dengan kehidupan Reva yang sekarang. dulu dia begitu tergantung padanya dan sekarang gadis itu malah ingin menyelesaikan masalah seberat ini seorang diri.
Adam memijat pelipisnya begitu melihat tumpukan kertas di atas meja kerjanya. cuti dua hari saja sudah membuat pekerjaan menumpuk seperti ini. dia melirik Calvin yang sedari tadi hanya fokus pada berkas-berkasnya. lalu melihat meja Jessy yang kosong, memang Adam sudah putuskan untuk tidak mempekerjakan lagi Jessy sekarang karena statusnya yang sudah menjadi istri.
"Calvin, besok carilah sekretaris baru." ujarnya. Calvin melihat Adam.
"mmm.." jawab Calvin malas. dia masih kesal dengan Adam.
Adam maupun Calvin terlihat sangat tak bersemangat. tak ada sekali pun dari mereka yang membuka mulut lagi. keduanya memilih untuk diam. bekerja dalam keheningan hingga jam pulang tiba.
"hhoeekk..." Jessy memuntahkan isi perutnya. sudah seharian ini dia seperti itu. apapun yang dia makan semuanya kembali keluar.
Reva langsung memburu masuk saat mendengar suara Jessy yang seperti itu.
"kau tak apa?" tanya Reva, menyimpan kopernya di dekat sofa lalu menghampiri Jessy yang sedang menumpu tubuhnya di westafel.
"hooekk..."
"apa kau masuk angin Jess?"
Jessy berjengit saat merasakan tangan lembut reva menyentuh tengkuknya, memijit nya pelan. membuat Jessy merasa sedikit lebih baik.
Sudah 16 menit setelah kejadian Jessy memuntahkan isi perutnya, kini Jessy tengah berbaring di kasur. sementara Reva mulai sibuk di dapur.
Adam masuk kedalam rumah dengan malas. semenjak Reva pergi moodnya menjadi tidak baik begitu sampai kerumah. karena keadaan rumahnya selalu berantakan.
"eh.. tumben." Adam menghentikan langkahnya begitu melihat semua ruangan terlihat begitu rapi. bahkan Indra penciuman nya mencium bau masakan yang begitu menggugah selera nya. membuat perutnya yang lapar berteriak meminta segera di isi.
"Jes...sy... REVA? " matanya melotot begitu melihat Reva sedang menata makanan di meja makan.
"kau pulang?" Adam merasa senang.
Pantas saja rumahnya kembali bersih. dia pikir Jessy yang melakukan semuanya.
"um.. iya mas. makanlah."
Tak di pungkiri oleh Adam. dia begitu senang akan kehadiran Reva kembali. senyumnya tak hilang membuat Reva sedikit merasa canggung, karena tak seperti biasanya Adam tersenyum ramah pada nya.
Dengan cepat Adam duduk, menunggu Reva menyendok nasi untuknya.
"Jessy seperti nya kurang sehat mas. tadi dia muntah-muntah."
Adam menghentikan suapannya.
"sakit?"
"iya. dia sedang tidur sekarang. mas jangan abaikan dia. perhatikan kesehatan nya."
Adam memperhatikan Reva seksama. dia baru sadar wajah ini begitu penuh kasih, baik hati dan juga kuat. bahkan Reva tak menunjukkan kebencian pada Jessy atau padanya sama sekali.
"ah.. iya. tapi aku sibuk di kantor. apa besok kau bisa mengantarnya ke rumah sakit?" pinta Adam. Reva menghentikan tangannya yang sedang mengupas buah pir.
Sakit,? tentu saja istri mana yang akan senang saat suaminya menyuruh menemani madunya untuk cek kesehatan.
"maaf mas, aku tak bisa." tolak Reva. "besok aku harus mencari kontrakan."
"kontrakan? untuk apa?"
"mas, orang tuaku sudah tahu tentang pernikahan ini."
Deg...Deg
Rasa gugup menyelimuti Adam, mencoba mendengar semua yang akan Reva lontarkan sekarang.
"aku juga tak bisa terus menahan sakit mas. izinkan aku untuk menenangkan pikiran ku di tempat lain. aku akan memikirkan sesuatu yang terbaik untuk kita berdua. tapi aku tak bisa jika harus tetap serumah dengan kalian."
Semua terasa begitu tiba-tiba, Adam tak menyangka jika kata itu akan menyakitkan. dia seharusnya senang. tapi kenapa rasanya begitu sesak dan pahit. dia tak bisa mencegah Reva, karena tak mungkin dia terus mempertahankan egonya.
Setelah melihat ke adaan venty kemarin membuat Adam sadar kalau keputusannya untuk menikahi Jessy adalah salah besar. dia tak ingin mengulangi nya lagi. mungkin menerima keputusan Reva sekarang bisa membuatnya lebih tenang meskipun tak yakin sepenuhnya.
Merutuki ke bodohannya sekarang bukanlah hal yang tepat. kenapa rasa cintanya pada Reva harus dia sadari sekarang, kenapa tak sejak awal saat pernikahan mereka terjadi.
"mas.. kau kenapa?" Reva mengibaskan tangannya tepat didepan wajah Adam yang kini malah menatap kosong ke arahnya. tak ada respon.
"mas.." Reva menyentuh pundak Adam, mengguncangnya pelan.
"aaahhhh.. iya.."
"ada apa? kenapa melamun?"
Adam menarik napas lalu menghembuskan nya dengan kasar.
"tak apa. aku sudah selesai."
Sikap Adam yang sekarang membuat Reva meringis. matanya yang selalu tajam menatap nya dan mulut yang selalu melontarkan kata kasar sekarang tak ada. perubahan nya justru membuat Reva merasa lebih asing lagi terhadap nya. apalagi saat Adam memakan semua masakan nya tanpa protes. seperti bukan dirinya.
Adam duduk di tepi ranjang, tangannya mengelus pipi Jessy yang lembut. terlihat pucat, tidurnya terlihat tak nyaman karena keningnya yang berkerut seperti menahan sesuatu.
"apa aku salah, jika sekarang berharap Reva tetap di samping ku Jess." gumamnya pelan.
"dulu aku begitu mencintaimu sampai tak pernah menyadari kalau di samping ku ada gadis yang begitu tulus terhadap ku. tapi..." Adam meremas tangannya sendiri yang kini telah menjauh dari pipi Jessy.
"maafkan aku, kalian berdua begitu penting bagi ku."
Jessy menggeliat saat merasakan perutnya kembali mual. matanya terbuka.
"Adam, kau sudah pulang?"
"iya.kau sakit?"
"mm..perutku mual sekali."
"besok kita berobat. sekarang tidurlah." Adam mencium kening Jessy lalu merebahkan tubuhnya di samping Jessy.
Terasa hampa dan kosong dihatinya saat melihat wajah Jessy yang kembali tertidur.