Ini merupakan squel dari Novel pertama saya "Cinta Segitiga_Love Story Alan"
Rate bintang limanya ya guys.
___
Menceritakan kisah perjalanan cinta si kembar Nada dan Nanda, putri dan putra dari pasangan Alan dan Vriska. Ini hanyalah sebuah cerita dengan konflik ringan.
••
"Sampai kapanpun aku akan membencimu... Ingat itu..!"
Kebencian yang melekat pada diri Nada untuk Tristan, membuat ia lupa jika benci dan cinta itu hanya berjarak tipis. Suatu hari, karena sebuah insiden yang tak terduga Nada terpaksa harus menikah dengan Tristan.
Akankah kebencian yang Nada miliki pada Tristan berubah menjadi cinta ?
••
"Di sini siapa bossnya ?"
"Anda.."
"Kau ingat tentang dua pasal atasan.."
"Ya Tuan.."
"Pasal satu, sebutkan.."
"Boss selalu benar.."
"Pasal dua.."
"Jika boss melakukan kesalahan kembali ke pasal satu.."
Nanda seorang atasan yang selalu menindas dan menjahili sekrtarisnya yang bernama Yuna, tanpa sadar kebiasaannya itu telah menimbulkan benih-benih cinta. Namun, karena rasa gengsinya yang terlalu tinggi ia berusaha menyangkal perasaan yang sebnarnya. Hingga suatu hari Yuna memilih mengundurkan diri dari perusahaan miliknya, saat itu barulah ia sadar seberapa berartinya Yuna untuk dirinya.
Lalu, mampukah Nanda membawa Yuna kembali ke dalam pelukannya ?
••
Fb: Ara
Baca juga karya Author yang lain:
1. Cinta segitiga
2. Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran
3. Balada Dendam dan Cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arsyazzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata suciku ternoda
Tristan mengerjapkan matanya, ia berusaha bangkit dari tidurnya. Ekor matanya bergerak mencari seseorang, tidak ada siapapun. Ia merasa badannya begitu lengket, Tristan memutuskan untuk mandi.
Nada masuk ke dalam kamar ia bermaksud mengambil ponselnya. Suara pintu kamar mandi terbuka sedikit.
"Nad.."panggil Tristan kepalanya hanya kepalanya saja yang keluar.
"Kenapa.."cetusnya tanpa melihat ke arah Tristan.
"Ambilkan aku handuk.."perintahnya
"ambil saja sendiri, aku sibuk.."
Tristan menghela nafasnya ia merutuki kebodohannya mandi lupa membawa handuk dan baju ganti.
"Cepat Nad, ambilkan aku handuk.."serunya,
"Tidak mau, enak saja merintah-rintah.."
"Baiklah aku akan keluar dengan telanjang, tidak masalah kalau kau mau melihat.."ucap Tristan.
krek.. ia bersiap untuk membuka pintu.
"Tunggu.. tunggu akan ku ambilkan di mana handuknya..", sahut Nada ia tidak mungkin membiarkan matanya ternoda.
"dalam koper, cepatlah aku sudah dingin.."
"Berisik.."dumel Nada
Nada membuka koper Tristan lalu mengambil nya, setelah dapat ia berjalan menghampiri Tristan.
"Ini.."Nada memberikan handuknya dengan posisi membelakangi Tristan.
"Terlalu jauh, mendekatlah sedikit aku tidak dapat menjangkaunya.."seru Tristan
Karena merasa kesal dengan Tristan yang menyuruh-nyuruh seenaknya, Nada menendang pintu kamar mandi itu..
Brak.. Pintu terbuka..
"Aww.."Tristan meringis..
Mata Nada langsung membulat sempurna saat melihat keadaan Tristan yang telanjang di depannya.
"Aww..."teriak Nada ia melemparkan handuknya pada Tristan.
"Dasar mesum.."Nada berlari keluar.
Tristan mengambil handuknya, "Yang salah siapa.."dumelnya.
⚘⚘⚘
Sampai di dapur Nada menuangkan air putih di gelas lalu meminumnya hingga habis, nafasnya tampak ngos-ngosan, wajahnya memerah.
"Nad, kau kenapa? kaya habis di kejar maling aja."tanya Vriska yang saat itu tengah mempersiapkan makan malam.
Nada menggelengkan kepalanya, rasanya ia tidak cukup tenaga hanya untuk menjawab tidak apa-apa. Bayangan kejadian tadi masih teringat jelas di otaknya, Nada memukul kepalanya.
"Ada apa Nad.."tanya Vriska lagi melihat tingkah putrinya yang aneh.
"Tidak apa-apa mami, kepalaku sedikit pusing. Aku merasa lapar.."dustanya.
Vriska mengerutkan keningnya, "Baiklah sudah selesai semua, kau panggilkan suamimu untuk makan malam. Sejak tadi ia juga belum makan kan.."
"Kenapa harus aku, mami sajalah.."Nada mencoba menolak.
"Memangnya siapalagi, kau kan istrinya.."ucap Vriska dengan kesal.
"Cepat.. panggil.."sambungnya tidak mau di bantah.
Nada mengerucutkan bibirnya, "baiklah.."
⚘⚘⚘
Tidak mau mengulangi kesalahan yang sama, Nada memutuskan untuk mengetuk pintu lebih dulu.
"Apa kau sudah selesai? mami menyuruhmu untuk makan malam.."ucapnya dari balik pintu.
Ceklek.. pintu terbuka.. Pandangan keduanya bertemu. Wajah Nada memerah kejadian tadi kembali terlintas.
"Kenapa wajahamu memerah.."tanya Tristan.
"Mana ada.."seru Nada ia memalingkan mukanya.
"Kau mengingat yang tadi ya,.."tanya Tristan, Nada langsung menatap tajam Tristan.
Tristan terkekeh, "Tidak masalah kita suami istri kan.."
Tristan meninggalkan Nada begitu saja. Nada menghentakkan kakinya dengan kesal.
"Dasar mesum.."
⚘⚘
Suasana meja makan tampak hening hanya ada suara dentuman sendok dan garpu.
"Mami, Papi ada yang ingin ku bicarakan.."ucap Tristan.
Nada melirik ke arah Tristan, ia merasa penasaran dengan apa yang di ucapkan Tristan.
"Ada apa nak, katakan saja.."sahut Alan
Tristan melirik ke arah Nada dan menghentikan akvitas makannya sejenak.
"Aku dan Nada sudah sepakat akan tinggal di apartemen mulai beson pi, mi.."ucap Tristan, membuat Nada kesal.
'Kapan ia membicarakan hal itu padaku, sejak tadi bahkan ia hanya tidur, lalu tiba-tiba mengatakan akan pindah'gumam Nada
"Apa tidak terlalu cepat..."sahut Vriska, Alan mengangguk tanda setuju dengan ucapan Vriska.
"Takut di ganggu kali pi mi sama kita..."celetuk Nanda
"Apa maksudmu.."tanya Nada
"Biasalah pengantin baru maunya berduaan.."seru Nanda menjelaskan.
"Bukan begitu pi, mi..."Tristan menyangkal
"Tidak apa-apa Tristan kami mengerti, kalau ingin pindah besok kami mengijinkan."ucap Alan
⚘⚘⚘
Brakk...
Nada membuka pintu kamarnya dengan kesal. Tristan yang sedang memainkan ponselnya di sofa terkejut namun ia pura-pura tidak peduli.
"Apa yang kau katakan, sebelumnya kau tidak mengatakan apapun padaku tentang rencana pindah ke apartemenmu.."cerocos Nada dengan berkaca pinggang.
Tristan hanya meliriknya sekilas tanpa berniat membalas.
"Hei bicaralah. Apa kau bisu.."sambung Nada dengan kesal.
Tristan tetap memainkan ponselnya, Nada yang kesal merasa di acuhkan merebut ponsel Tristan.
"Hei kembalikan.."ucap Tristan
Nada menyembunyikannya di belakang pinggangnya, "tidak akan, sebelum kau menjawab pertanyaanku"
"Aku memang sengaja tidak memberitahukanmu, memangnya jika aku berbicara denganmu sebelumnya kau akan menurut? tidak kan. Jadi berbicara denganmu apa tidak sama saja."ujar Tristan
"Jika aku tidak mau ikut denganmu kau mau apa..?"tantang Nada
"Tidak masalah. Mami dan Papimu pasti akan memarahimu."seru Tristan dengan tenang, ia memajukan badannya.
grep... Tristan berhasil mengambil ponselnya dari Nada.
Nada mengerucutkan bibirnya kesal. Tristan merebahkan dirinya di ranjang.
"Kenapa kau tidur di situ lagi.."tanya Nada
"memang apa yang salah."
"Salah ini kamarku. Jadi biarkan aku yang tidur di ranjang, kau tidur sofa.."ucap Nada
"Aku tidak mau. Kau saja.."seru Tristan
"kau..."Nada melototkan kedua matanya
"Kalau kau mau, tidur saja di sebelahku. Bukankah ranjang ini besar, dan kita juga sudah menikah apa salahnya tidur bareng.."ujar Tristan
"Mimpi..."ucap Nada dengan ketus. Nada mengambil bantal dan selimut ia membawanya ke sofa lalu merebahkan dirinya di sana.
Tristan mengamati hal itu sambil terkikik geli, "Ternyata asyik juga melihat wajahnya yang kesal itu.."ucapnya.
Nada tidak bisa memejamkan matanya, ia merasa badannya pegal tidur di sofa. Ia memandang Tristan yang tertidud lelap dengan kesal.
Nada menatap langit-langit kamarnya, ia sedang meratapi nasibnya.
Pluk.. sebuah binatang jatuh mengenai tubuhnya...
"aaaaaaaa..."Teriaknya, Nada langsung bangkit dan berlari menuju ranjang.
Grep.. Nada memeluk Tristan dengan erat dari belakang membuat Tristan terkejut dan membuka matanya.
"Ada apa? teriak-teriak.."Tanya Tristan
"Ti..tikus.."sahut Nada
"Mana ada.."
"Itu di sana.. aku takut.. sangat takut.."Badannya tampak gemetar..
"Tidak ada Nad.."seru Tristan
"ada di sana. Aku takut, aku tidak mau lagi tidur di sana.."ucap Nada
"Ya sudah tidurlah di sini, jangan takut tidak ada apa-apa.."Tristan berusaha menenangkan Nada, ia memeluknya erat.
Setelah merasa nafasnya Nada yang teratur menandakan Nada sudah tertidur lelap, Tristan menghampiri sofa itu ia mencari tikus apa kata Nada.
Tristan memicingkan matanya, "apa ini.."Tristan mengambil benda mainan tikus-tikusan.
"Hanya mainan.."serunya
Tristan kembali melirik ke arah Nada ia tersenyum tipis, "lumayan, sekarang aku tau kelemahannya.."ucapnya
Tristan kembali ke ranjang dan merebahkan dirinya di sebelah Nada.
⚘⚘⚘
⚘⚘panjang lho ini 1000 kata⚘⚘
jangan lupa like, komen, hadiahnya
To be continue
hanya yang kurang salah kenapa novel susah buat pemeran wanita yang berjuang keras untuk dapat maaf pemeran utama pria, jangan segampang itu dimakan harus berjuang dan membuktikan diri dulu baru dapat kesempatan kayak di novel CINTA SEGITA rava harus berjuang keras, menderita, dan kayak pengemis untuk dapat maaf sari dinda
perlakukanlah sama saat pemeran utama wanita dan pemeran utama pria buat salah itu baru novelis adil
ini yang kebanyakan di novel
jika pemeran utama pria buat salah akan dibuat menyesal, menderita, sujud minta maaf, mengemis dapat kesempatan, dan harus membuktikan diri dulu
tapi kalau pemeran wanita buat salah minta maaf udah beres semua tidak perlu susah2 minta maaf
Sempat gak ngikutin karena hp rusak.
sifatnya itu lo,..
gua maklum kalau dia benci, tapi kekanakan.!!
ngatain orang anak yatim piatu, gk ada anak yang mau jadi yatim piatu.!
situ mau jadi anak yatim piatu?
sekolah tinggi ampek luar negri. tapi gk punya adab.!!