Ruhi amat sangat mencintai uang, karena itulah ia dipilih kakek Bizar untuk menikah dengan cucunya, Asraf.
Dua manusia berbeda generasi, mampukah mereka bersatu? atau malah berhenti ditengah jalan.
Kisah Ruhi dan Asraf di mulai...
✍🏻 revisi typo dan pemberian judul bab 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 - Sebuah Bingkisan
Sehabis cuci muka, Ruhi menghampiri Aksa dan Rina yang kini duduk di Sofa.
"Kak Aksa jadi pulang ke Bandung?" tanyanya sambil duduk di samping sang ibu dan berhadapan langsung dengan Aksa.
"Iya." jawabnya singkat, namun dengan senyum yang sangat teduh.
"Kapan kesini lagi?"
"Entahlah, mungkin saat kamu dan mas Asraf menikah," ucapnya dan berhasil membuat Ruhi mencebik.
Mendengar nama itu, suasana hatinya mendadak berubah menjadi suram. Ingat semua perlakuan menyebalkan yang sudah dilakukan si tua bangka itu.
"Oh iya Bu, kakek Bizar titip salam, katanya maaf beliau tidak bisa menjenguk Randu. Akhir-akhir ini kesehatan kakek sedang menurun." Aksa menyampaikan maksud tujuannya kesini, selain memenuhi janjinya pada Ruhi, ia juga mendapat mandat dari sang kakek, Bizar.
"Ya Allah, semoga kakek Bizar cepat sembuh ya. Memangnya kakek Bizar sakit apa Aks?" tanya Rina, merasa prihatin. Ruhi ikut mendengarkan, namun ia sambil menahan lapar. Tadi, pagi-pagi sekali Rina membeli nasi uduk, disaat Ruhi belum berselera makan. Dan sekarang ia sangat kelaparan. Ingin keluar tapi masih ada tamu.
"Bukan penyakit yang serius Bu, hanya sering merasa lelah saja."
"Oh, kalau sering lelah suruh sering-sering minum Jamu Aks."
"Sudah Bu, tiap pagi kakek Bizar selalu minum jamu yang dibuat oleh dokter gizi nya."
"Dokter gizi? wah wah, hebat ya kalau orang kaya, punya dokter gizi sendiri di rumah," salut Rina dan Aksa hanya tersenyum sebagai tanggapan.
Bizar memang memiliki dokter gizi pribadi di rumah, demi menjaga kesehatan sang milyarder, tiap asupan makanannya haruslah sang dokter yang meresepkan, termasuk makanannya sehari-hari.
Rina dan aksa terus berbincang, sedangkan Ruhi duduk dengan tidak tenang, sesekali ia memainkan jemarinya untuk mengalihkan perhatian dari rasa lapar.
Hingga 15 menit kemudian, Aksa berpamitan untuk pulang, barulah Ruhi bisa bernapas lega.
Alhamdulilah. Batinnya.
"Ruhi, Antar Aksa ke depan Nak."
"Iya Bu."
Kini Aksa dan Ruhi sudah berjalan keluar, beriringan.
"Kamu sakit?" Tanya Aksa, sedari tadi ia melihat Ruhi yang tak tenang, bahkan ia terlihat sedikit pucat daripada biasanya.
"Ruhi menggeleng pelan, "Tidak Kak, aku baik-baik saja," jawabnya sedikit berbohong. Memang sih dia tidak sakit, tapi rasa lapar ini cukup menyiksa, dan dia tidak baik-baik saja.
"Tapi kamu terlihat pucat."
Aksa berhenti berjalan, secara alami Ruhi pun ikut terhenti di tengah-tengah koridor rumah sakit.
Tangan Aksa terulur untuk memeriksa suhu tubuh Ruhi, namun Ruhi pun reflek mundur. Hingga tangan Aksa berakhir terhenti di udara.
"Aku ingin memeriksa suhu tubuhmu."
"Aku baik-baik saja Kak," jawab Ruhi dan terpaksa Aksa kembali menurunkan tangannya.
"Jangan bohong."
"Aku lapar," Akhirnya Ruhi jujur, lebih baik menahan malu daripada Aksa terus menanyai tentang kondisinya kini.
Mendengar jawaban Ruhi, Aksa mengulum senyumnya, merasa lucu bercampur gemas.
Ingin sekali ia mengelus pucuk kepala Ruhi, namun sekuat tenaga ia tahan.
"Ya sudah ayo, aku temani kamu makan." Ajak Aksa, ia memberanikan diri untuk menarik tangan Ruhi agar mengikuti langkahnya.
Dan untunglah Ruhi tidak menolak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di perusahaan Abizard Grup, Asraf sedang mengikuti rapat bulanan, dalam rapat ini tiap devisi menyampaikan hasil kerjanya bulan lalu.
Asraf duduk di kursi wakil CEO, sedangkan kursi CEO nya dibiarkan kosong karena Bizar tidak menghadiri rapat ini.
Bukannya memperhatikan berjalannya rapat, kini Asraf malah terngiang-ngiang ucapan sang kakek semalam kepada Aksa.
'Jika Asraf memperlakukan Ruhi dengan buruk, Kakek mohon bantulah dia. Kakek sudah berjanji bahwa menikah dengan Asraf hidupnya akan menjadi lebih baik. Namun jika pernikahan itu malah membuatnya tersiksa Kakek akan merasa sangat bersalah.'
Jika di pikir-pikir, tidak ada maksud apapun yang kakek tujukan untukku. Benar-benar hanya sekedar ingin aku menikahi gadis miskin itu.
Asraf menggeleng pelan.
"Tidak," gumamnya pelan.
Aku jangan terlalu percaya pada kakek, Ruhi ataupun Aksa.
2 jam kemudian rapat akhirnya selesai, Asraf langsung kembali ke ruangannya. Dan betapa terkejutnya ketika di ruangan itu sudah ada seorang tamu.
"Rudi," panggil Asraf, ia menghampiri sahabatnya itu dan menepuk bahunya pelan.
"Kapan kamu pulang?" tanya Asraf antusias seraya duduk di samping Rudi, namun tatapannya langsung tertuju pada bingkisan di atas meja, bingkisan berukuran cukup besar, sekitar 100cm.
"Apa itu untukku?" tebak Asraf dan Rudi mengangguk.
Buru-buru Asraf ingin membuka bingkisan itu, namun dengan cepat Rudi menahannya.
"Sabar As, ingat ini masih di kantor. Bagaimana jika kakek mu tahu?"
Asraf menghela napasnya kecewa dan kesal, lupa jika di ruangannya ini pun dipasang CCTV oleh sang kakek.
"Tenang saja, ini adalah barang yang bagus, kamu tidak akan kecewa," jelas Rudi dengan seringai andalannya. Merasa senang, karema sebentar lagi ia akan mendapat uang dari Asraf.
"Berapa harganya?"
"Murah, hanya 80 juta."
"Baiklah." Tanpa basa basi, Asraf langsung mentransfer uang senilai 80 juta pada Rudi, keduanya sudah sering bertransaksi, bahkan nomor rekening Rudi terletak dibarisan paling atas history pengiriman di mobile banking Asraf.
Ting! tanda transferan uang itu sudah masuk ke rekening Rudi.
"Alhamdulilah, terima kasih As," ucap Rudi ketika ia melihat rekeningnya yang sudah menggelembung.
"Aku yang seharusnya berterima kasih, tanpa mu aku tidak akan bisa mendapatkan barang ini."
"Bukan hal penting, yang jelas jika ada masalah dengan kakek mu aku tidak mau ikut campur," jelas Rudi dan Asraf mengangguk.
Keduanya asik berbincang, bahkan tanpa sadar hingga makan siang terlewat.
Keduanya berhenti berbincang ketika Dion asisten pribadi Asraf mengetuk pintu. Dion mengatakan jika siang ini Asraf memiliki janji dengan salah satu kolega.
Tapi bukan Asraf namanya jika ia mengikuti jadwal yang sudah tersusun rapi. Dengan mudahnya ia meminta Dion untuk mengubah jadwal temu itu. Terserah kapanpun asal bukan hari ini.
Dion sudah biasa mendapati sikap bosnya yang sesuka hati seperti ini dan sebagai seorang asisten, Dion hanya bisa berkata Iya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tak lama setelah Rudi pergi, Asraf pun memutuskan untuk pulang, padahal saat ini belum jam pulang kantor.
Dengan bingkisan yang ia bawa di tangannya, Asraf memasuki rumah. Berjalan terburu-buru untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Untung tidak bertemu kakek. Batinnya.
Sampai di kamar, Asraf langsung mengunci pintunya rapat-rapat. Dengan hati yang dipenuhi rasa bahagia, ia mulai masuk ke ruang rahasia di kamar ini. Terletak di balik rak buku, ada sebuah ruangan yang menjadi tempat ternyaman Asraf untuk bersembunyi.
Asraf masuk dan duduk di sofa warna merah itu, dengan tak sabaran, ia mulai membuka bingkisannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di rumah sakit.
Ruhi berulang kali melihat ke arah pintu, meski ia sangat membenci si tua bangka menyebalkan itu, tapi entah kenapa kini ia menunggu.
Mana? katanya pagi akan datang kesini? tapi sampai matahari tenggelam pun batang hidungnya tetap tidak kelihatan.
Krik.. kriik.. 🤣🤣😅😅