Ustadz Fadli Alfatah membuat keputusan menikahi Bella yang di tinggalkan sang adik 1 jam sebelum resepsi pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dea Sismala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Dekat
Keesokan harinya Fadli datang lebih awal ke sekolah swasta tempat dimana ia mengajar pelajaran Agama. Meksipun perasaannya tidak karuan Fadli tetap harus bersikap tidak terjadi apapun. Tapi tetap saja hati dan pikiran tidak sejalan Fadli kini tidak konsentrasi untuk mengajar kepalanya terasa pusing.
"Bapak baik- baik aja?" Tanya Siti Sekretaris di kelas yang diam- diam menyukai Ustadz Fadli.
Fadli mengangguk, "Tidak apa- apa, Bapak hanya perlu istirahat, lanjutkan untuk mengerjakan pilihan gandanya anak- anak."
"Baik pak." Jawab siswa dan siswa yang ada di kelas. Sementara Siti menatap sedih gurunya
___
Dilain tempat Bella berusaha meminta Rey kembali ke rumah, sejak tadi Rey terus mengikuti hingga sampai di kantor Agensinya. "Rey kita bisa bahas hal ini di rumah." Bella berusaha meyakinkan Rey.
"Kami harus ceraikan Fadli ... Aku tidak bisa membiarkan kamu terus seperti ini. Terang Rey sambil menjambak rambutnya kasar.
"Sudah aku katakan, aku sudah mencintai Mas Fadli. Berhenti memprovokasi-ku Rey, semua sudah selesai."
Rey tertawa memegang pipi Bella dengan kasar. Warna matanya berbeda, kali ini Rey benar-, benar marah. "Bella kau kira kau bisa lepas dariku semudah itu, aku tidak akan melepaskanmu." Rey beranjak pergi mengendarai motornya. Sementara Bella dia mematung Rey tidak mungkin main- main Bella tau sifat asli Rey seperti apa. Rey tidak akan melepaskan sesuatu yang diinginkannya.
Meskipun begitu Bella harus fokus dengan latihan akting, dia tidak ingin membiarkan Rey menghalangi jalannya. Dia juga sudah tidak peduli tentang Rey, semua salah Rey jika tidak ingin melepaskannya seharusnya tidak pergi di hari pernikahan mereka.
____
Kali ini Bella tidak getar untuk mempelajari dunia seni peran, dia bahkan melakukan semua hal dengan sangat apik. Sintia bahkan yang terkenal sebagai ratu Es memuji peningkatan Bella padahal baru 2 hari berlatih. Tidak heran, Akbar begitu tertarik merekrut Bella ke dalam Agensi mereka.
"Saya benar- benar tidak ingin hubungan kita berlanjut. Karir saya lebih tinggi di bandingkan kau!" Teriak Bella menatap sinis Sintia yang kini memerankan karakter miskin kekasih Bella di dalam naskah latihan.
"Kau tidak ingat janji kita dulu?" Tanya Sintia menatap sedih Bella.
"Itu sudah masa lalu, sekarang aku sudah sukses. Bahkan bukan satu atau dua laki- laki kaya yang mendekatiku, berhenti datang mencari-ku kau hanya membuat ruangan menjadi sesak."
Sintia mengedipkan mata pada Bella, kemudian bertepuk tangan. Tidak sia- sia usahanya untuk melatih Bella. Dia yakin dalam jangka waktu 2 bulan Bella dapat mengikuti Casting film baru yang berjudul (Rain).
"Kau lumayan juga." Puji Sintia dengan senyuman.
"Seperti yang saya katakan saya tidak akan menyerah. Semua berkat pengawasan anda." Jawab Bella kini meminum kopi di atas meja.
"Baiklah, aku akan lihat sampai akhir bulan jika kau semakin membaik kau mungkin dapat mengikuti Casting dalam drama baru."
"Benarkah?" Tanya Bella tersenyum antusias.
"Itu tergantung bagaimana kau berlatih."
"Saya akan berusaha lebih keras lagi. Terimakasih Bu Sintia."
Sintia diam- diam tersenyum, dia sedikit senang' dengan Bella. Dia sangat polos bahkan selalu ceria. Bella adalah tipe perempuan yang tidak mudah menyerah itu yang dia sukai dari Bella.
"Ingin makan bersama, kebetulan saya ingin ke Restoran kelas A." Tawar Sintia tanpa menoleh.
Tentu saja Bella sangat berantusias, dia sudah menunggu lama untuk hari ini. Untuk menguasai dunia akting dia bukan hanya harus berlatih tapi dia juga harus lebih dekat dengan sang mentor. Itu akan membuatnya menjadi lebih santai dan mudah memahami.
"Wah, terimakasih. Tentu saja mau." Jawab Bella kini mengikuti Bella menuruni lift. Tanpa sengaja dia berpapasan dengan Feng, Bella sudah lupa wajah Feng tapi Feng mengingat wajah wanita yang menolongnya.
"Masuklah." Perintah Sintia dengan nada datar, Bella tersenyum meskipun Sintia terlihat acuh sebenarnya dia orang baik.
"Oke." Jawab Bella kini masuk ke dalam mobil.
30 menit kemudian mereka telah sampai di Restauran Jepang dengan menu kelas A. Tunggu- tunggu Bella lebih suka nasi Padang. Tapi sudah kepalang dia tidak bisa meminta Sintia untuk tidak makan di tempat ini. Jika Bella menolak itu akan terdengar tidak sopan. "Untuk hari ini aku harus menahan masakan yang terasa beda di lidah." Batin Bella berusaha menguatkan dirinya dalam hati.
"Silahkan masuk," ajak Sintia berjalan bak model dengan gaya elegannya, Bella yang terkenal sebagai perempuan berjalan biasa. Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian, tapi tetap saja kecantikannya tetap menjadi perhatian bagi banyak orang. Dia memang terlahir sebagai bintang.
Mereka mulai duduk, pelayan juga membawa menu B untuk mengisi meja makan. Bella menatap ngeri daging mentah yang di tata rapi dengan kecap asin, saatu- satunya yang bisa ia konsumsi hanya sushi.
"Kau suka?" Tanya Sintia menatap Bella makan dengan lahap. Padahal Bella hanya sayang makanan dengan harga 900 ribu sepaket terbuang sia- sia.
"Hehe ... Iya Bu Sin."
"Baguslah lain kali kita akan makan disini lagi." Hampir saja Bella tersedak mendengar itu, dia lebih suka nasi Padang yang sebungkus 15 ribu dari pada makanan berbeda negara yang terasa aneh di lidahnya.
"Kamu sudah menikah bukan." Bella menghentikan makannya menatap Sintia dari mana wanita ini tau dia sudah menikah, bukankah pak Akbar melarangnya untuk mengungkapkan indentitas.
"Tidak masalah, saya tidak bodoh. Yang terpenting untuk masuk ke dalam dunia hiburan. Kau harus berhati-hati untuk tidak membuat skandal."Bella hanya mengangguk tidak dapat berkata apa- apa. Lagipula memang dia tidak berniat membuat skandal apapun.
___
Maaf kalau ada typo belum terniat untuk membaca ulang karena bergadang😑😂