Angan Kaina hancur ketika sosok Zidan muncul dan masuk ke kehidupannya. Imajinasi indah yang selama ini ia dambakan, hancur seketika.
Takdir mempermainkan perasaannya dengan kejam. Ia harus hidup dalam pernikahan yang tak diinginkan. Tidur satu ranjang dan berbaring bersama dengan laki-laki asing.
Setelah ia mulai bisa menerima situasinya, sekali lagi—takdir mempermainkannya. Hati nya dipatahkan, rasa percayanya dikhianati oleh orang yang selama ini ia sukai.
Sosok suami yang tak dicintai selalu ada, memberi dukungan, menyalurkan rasa aman dan nyaman. Perlahan Kaina sadar, Zidan adalah takdir dari Tuhan yang seharusnya ia cintai sepenuh hati.
Jalan hidup tak selalu mulus, seringkali lubang yang sangat dalam menyapamu di depan.
Lubang apa yang akan menyapa Kaina di masa depan?
Siapa yang akan bersama Kaina pada akhirnya?
Joshua?
Zidan?
Ataukah Hanif?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Możhe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hilang Harapan
Waktu terus berjalan. Ia tak akan berhenti meski hanya sebentar. Dan Kaina masih belum juga menemukan alasan dan cara untuk membatalkan perjodohan, padalah akad dilaksanakan hanya tinggal menghitung banyaknya jari tangan.
Ia mulai merasa putus asa.
Kaina merenungkan nasibnya di gazebo taman yang ada di rumahnya. Segalanya akan berakhir dalam hitungan hari. Pernikahan impian yang dibayangkannya selama ini tidak akan pernah terjadi.
"Na?"
"Mikirin apa sih?" tanya Aqil kemudian ikut duduk di gazebo bersama Kaina.
"Apa lagi kalo bukan perjodohan sialan itu."
"Astaga. Udahlah nga usah dipikirin."
"Terimalah dengan suka cita, siapa tau kan Bang Zidan itu beneran jodoh lo." celoteh Aqil yang membuat Kaina ingin memukul adiknya itu.
"Beuh, enteng bener lo ngomong!"
"Rusak ini masa depan gue, bego!"
"Ya gimana, lo nga ada kan pilihan lain?" tanya Aqil menyadarkan Kaina bahwa benar dia tidak memiliki alasan yang bisa di terima Ayah mereka.
"Bantu lah lo nyari alasan!"
"Dari kemaren ngeledek mulu, kaga kasih solusi."
"Stress nih gue!"
"Bisa cepet-cepet masuk rumah sakit gila!!!" oceh Kaina panjang lebar.
"Ini udah Tuhan takdirkan buat lo, Na! Dan mau nga mau harus lo jalani."
Kaina menghela nafas kasar. "Masalahnya gue itu nga suka sama Zidan. Dan dia sama sekali bukan tipe gue banget!!!"
"Dan lo tau kan, siapa yang gue suka dari jaman antah beratah sampai detik ini?"
"Tapi lo sama Kak Joshua itu udah beda keyakinan." celetuk Aqil.
Kaina menyandarkan punggungnya di pembatas gazebo dengan posisi kaki diluruskan.
Kemudian ia mulai sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Argh! Taulah pusing!" tiba-tiba Kaina menggeram seraya mengacak-acak rambut kepalanya.
Puk.. Puk.. Puk
Aqil menepuk lembut kepala kakaknya sebanyak tiga kali tepukan.
"Kata Bang Ardi, jalanin aja Na~" dia berucap sembari menirukan nada bicara kakak tertuanya.
"Baco*t lo,"
"Bikin orang makin emosi aja."
"Nana? Coba ulangi tadi ngomong apa?" bariton suara Rehandana berhasil membuat Kaina kicep.
Pria paruh baya itu, entah sejak kapan berdiri di dekat gazebo.
"Nana, nga ngomong apa-apa."
"Yakin?"
"Ayah denger lho."
"Kalo denger ngapain nanya?" batin Kaina dalam hati. Mana mungkin ia berani mengucapkan dengan suara.
"Setelah menikah dengan Nak Zidan, jangan sampai kamu mengucapkan kalimat sekasar itu. Mengerti?!"
Kaina hanya mengangguk.
"Aqil, masuk ke dalam rumah. Ayah ingin bicara empat mata dengan Nana." perintah Rehandana seraya berjalan menuju pintu masuk gazebo dan duduk di dekat Kaina.
"Mau ngomong apa sih, Yah?" tanya Kaina penasaran.
Rehandana tidak menjawab pertanyaan Kaina, pria paruh baya itu menunggu Aqil benar-benar masuk ke dalam rumah.
"Siapa laki-laki yang kemarin sore mengantar kamu pulang?" suara Rehandana mengudara, terdengar sangat dingin.
Kaina terbata dalam menjawab pertanyaan Ayahnya itu. "Em, itu—teman SMA"
"Apa calon suami mu tahu?" Tanya Rehandana.
Mendengar kata 'calon suami' membuat Kaina merasa sangat geli.
"Nana tidak tahu."
"Artinya kamu tidak meminta izin?"
"Ayah, Zidan itu baru calon suami.. Dia belum menjadi suami Nana.. Jadi untuk apa meminta izin?"
"Nana, meski baru calon suami tapi tetap kamu harus menghargainya.. Karena biar bagaimanapun, Zidan akan segera menjadi suami sah kamu."
"Mengerti?!" Kaina hanya mempersembahkan helaan nafas panjang.
"Jika hal ini terulang lagi, Ayah pastikan kamu mendapat hukuman."
"Apa baru saja Ayah mengacamku?" tanya Kaina.
"Ya, jika kamu menganggap seperti itu." tutur Rehandana sebelum pergi meninggalkan Kaina di gazebo sendirian.
Pria paruh baya itu masuk ke dalam rumahnya.
mampir juga yuk ke karyaku Human's Adventure & Preman Cantik 🤗
mampir juga yuk di Kisah Cinta Syakila
aku tunggu