NovelToon NovelToon
Tak Seindah Mutiara

Tak Seindah Mutiara

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Patahhati / Perjodohan / Tamat
Popularitas:861.1k
Nilai: 5
Nama Author: meliani

"Siapa bilang Mutiara selalu indah berkilau?
Tidak, aku menggeleng. Mutiara yang kumiliki menyakitkan. Bahkan dalam keadaan tak tersentuh sekalipun. Apalagi seandainya bila aku menyentuhnya? Pasti kilauannya membuat kedua mataku buta." Jimmy~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dengan apa aku membalas?

Pukul lima sore.

Sesak Mutia rasakan seperti terhimpit di tengah-tengah. Sisi kanan kiri yang yang dipenuhi banyak orang, membuatnya tak bisa bernafas lega. Hal ini biasa terjadi saat jam pulang kantor.

Triing!

Syukurlah pintu lift sudah terbuka, semua orang yang tadi berada di lift berhamburan keluar hampir bersamaan.

"Aku pulang dulu ya Mut, kamu ada yang jemput nggak?" tanya Rina.

"Ada, tenang aja."

"Mut, Rin, aku duluan bay bay!" seru Ulfa kemudian masuk kedalam taksi online pesananannya.

"Ati-ati Fa!" ucap keduanya.

"Kamu dijemput siapa Rin?" tanya Mutia.

"Papa aku, beliau lagi dirumah jadi bisa jemput." Rina melambaikan tangannya pada mobil yang baru berhenti. "Tuh dia mobilnya!" Rina bergegas masuk. "Kalau jadi ntar malam hubungi aku ya Mut!"

"Iya tenang aja, bay Rina!"

"Bay juga Mut!" serunya sebelum mobil melaju.

Beberapa menit berlalu~

"Huh, jangan sampai aku nunggu lagi sampai maghrib kayak waktu itu deh. Perutku lagi sakit..." gerutu Mutia.

Tin tin!

Akhirnya, Jimmy datang. Mutia segera membuka pintu mobil kiri. Blam!

"Lama nunggu ya?" tanya Jimmy.

"Iya sepuluh menitan..."

"Maaf tadi sedikit macet" ucap Jimmy. Dia melihat Mutia seperti sedang menahan sakit. "Kamu kenapa, kok lemes gitu?"

"Untung kamu cepat datang, perutku sakit..." jawab Mutia. Kali ini bersuara lirih.

"Sakit? Kamu ada maag-kah?"

"Nggak, aku mau menstruasi.."

"Sudah biasa begini, apa baru kali ini?"

"Biasanya sakit juga tapi nggak terlalu, ini sih bener-bener sakit."

"Perlu bantuan apa? Mas nggak tahu kalau perempuan menstruasi itu mesti diapain..."

"Berhenti di mini market aja Mas, nanti aku beli pereda sakitnya."

"Kamu dimobil aja, biar Mas yang beli..."

"Jangaaan... nanti Mas malu, biar aku beli sendiri aja. Nggak pa-pa kok, aku bisa."

"Ya sudah kalau gitu..."

Beberapa ratus meter kemudian, terlihat minimarket.

"Sudah sampai, Mas anterin nggak?"

"Nggak usah Mas, bisa sendiri kok..."

Jimmy menganggukkan kepalanya.

Sedikit menahan sakit, Mutia memasuki mini market dan mengambil beberapa botol jamu yang sudah dikemas modern itu, lalu memasukkannya ke keranjang belanja.

Menuju ke kasir, rasa sakit Mutia semakin tak tertahankan. "Mbak, bisa minta tolong nggak?"

"Iya ada apa Kak?" tanya kasir.

"Tolong saya duluan, perut saya sakit."

Beberapa orang antrian terpaksa menyingkir, mempersilahkan Mutia untuk dilayani terlebih dahulu. "Silahkan mbak, duluan saja.." ucap salah satu antrian.

"Terima kasih Pak,"

Kembali ke dalam mobil, keadaannya pun masih sama hingga mereka sampai di depan rumah.

Jimmy keluar dan membukakan pintu sebelah kiri. Melihat Mutia seperti itu membuatnya begitu khawatir. Mutia sedikit memekik saat Jimmy langsung menyusupkan tangannya ke bawah tubuh Mutia dan mengangkatnya masuk kedalam rumah, lalu membaringkannya di ranjang.

Kemudian Jimmy menuju ke dapur, mengambilkan air putih hangat untuk Mutia agar rasa sakitnya jauh lebih baik.

Setelah berganti pakaian, Mutia tak lupa menghubungi Rina karena dia ternyata tidak bisa menemaninya ke Mall karena kondisinya saat ini.

Aroma makanan menguar di hidungnya walaupun jarak dari kamar ke dapur lumayan jauh. Sudah bisa ditebak, Jimmy sedang memasak, atau menghangatkan makanan? entahlah.

"Loh dek, kamu bangun? Sudah mendingan?"

"Sudah..." jawab Mutia. Dia duduk di meja makan dan menuangkan air putih. "Mau dibantu nggak Mas?"

"Sudah selesai, hanya menghangatkan makanan saja. Tadi sore beli di flamboyan, sekalian lewat." 

Tangan Jimmy mengambilkan nasi untuk Mutia. Dari raut wajahnya dia benar-benar melayani Mutia dengan penuh kasih sayang. 

"Segini atau tambahin lagi?"

"Sudah, cukup." jawab Mutia. Tanpa sepengetahuan Jimmy, Mutia segera mengusap pipinya dengan punggung tangannya. Kebaikan Jimmy membuatnya seperti terbebani, sedangkan hatinya tidak bisa serta merta untuk membalas. 

"Makasih Mas,"

"Untuk apa?"

"Semuanya..." jawab Mutia singkat. "Dengan apa aku membalasnya?"

"Nggak perlu, ini sudah kewajibanku jadi suamimu..."

Lalu apa yang sudah kulakukan sebagai istrimu? Nggak ada... batin Mutia menyeru.

Beberapa menit berlalu.

"Mas, papa video call…" ucap Mutia.

"Angkat saja,"

"Ehm!" Mutia berdehem. "Bisakah Mas duduk disini?" Mutia menyarankan agar Jimmy duduk di sisinya. "Pasti Papa menanyakanmu,"

Jimmy mengangguk, kemudian bergabung dan berbagi tempat duduk. "Sudah, angkat-lah!"

Mutia menggeser tombol hijau, detik itu juga terlihatlah wajah keriput papa yang tengah merindukannya.

"Assalamualaikum Pa.."

"Waalaikumsalam Nak,"

"Kenapa Papa video call? Papa kangen?"

"Iya Papa kangen."

"Baru juga dua hari Mutia pindah Pa…"

"Papa kan belum terbiasa," jawab Papa "iya kan Jim?"

Jimmy tersenyum dan meng-iya-kan pertanyaan Papa mertuanya barusan.

"Kalian sedang apa?" tanya Papa.

"Kami lagi santai aja sih Pa, udah nggak ada aktifitas lagi."

Terlihat Papa menganggukkan kepalanya. "Sering main kesini ya Nak.."

"Iya Papa tenang aja," jawab Mutia. "Papa jangan telat makan dan rajin olahraga ya Pa," ucap Mutia.

"Oh iya mesti, itu harus. Papa harus sehat biar bisa main sama cucu Papa nanti…"

Deg!

Raut wajah Mutia dan Jimmy langsung berubah pias. Seandainya keadaannya tidak seperti ini, tidak menutup kemungkinan tahun ini juga keinginan Papa Ahmad terkabulkan. Tapi, Jimmy bisa apa?

"Doakan saja yang terbaik Pa…" jawab Jimmy tenang.

"Kalian nggak menundanya kan?"

"Nggak Pa," jawab Jimmy.

Mutia sedikit memutar kepalanya ke kanan melihat tangan Jimmy yang bergerak pelan mengusap bahunya.

"Oh iya syukurlah..." jawab Papa. "Ya sudah, Papa tutup dulu telponnya. Besok-besok Papa hubungi lagi kalau kalian sudah santai seperti ini. Papa mau istirahat,"

"Iya Pa, goodnight."

"Goodnight to. Assalamualaikum.."

"Waalaikumsalam…" jawab keduanya bersamaan.

Beberapa detik mereka dalam posisi seperti itu semenjak sambungan telepon terputus. Kedekatan mereka yang seperti ini membuat jantung keduanya berdetak tak normal.

Sama-sama berpikiran akan menyebut nama, membuat keduanya menoleh bersamaan... hingga tatapan keduanya bertemu, lalu terkunci.

Deg deg deg.

1
Ibelmizzel
dasar pelacur laknat.
Edah J
Ceritanya bagus tidak berbelit Belit karena sdh end jd bacanya cuma 2hari
thank author novelnya kereeeeen 👍👍👍
sukses terus yaa😊
Edah J
Emang sih firasat ibu terkadang lebih tajam
Edah J
ohh begitu yaa
Edah J
nyesel kan Lo😏
Edah J
Apa frans akan dendam
Edah J
So mut mut
Edah J
Istri yang g ada akhlak 😁😁😁
Edah J
Agaknya sedikit rese nie si mut mut🙁
Edah J
like ahh👍
Edah J
Aku engap,sesek nie napas 🙁
Edah J
Hadirr☝️☝️☝️
tp sdh ada yg nyesek didada🙁
ibah
Candu bangaat baca karya othor yg satu ini,😘
sayangya aku baru Nemu novel ini..Sukses terus Kaka othor 😍
Ana_: terima kasih kak❤😙
total 1 replies
Hera sasuwe
suka ceritanya ngena banget tuh
Hera sasuwe
suka critanya
Hera sasuwe
sedih lo dengerin penyesalan mutia nyesek banget bgitu mutia berusaha buat ikhlas
Ekawati Hani
Sosok Jimmy👍👍👍
tidak mau membahas masa lalu.
Ekawati Hani
Ini hukuman buat mutia belum selesai.
Ekawati Hani
Karma buat mutia
Ekawati Hani
Akhirnya Jimmy bersikap tegas👍
nyesek berada diposisi Jimmy😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!