Alya Rahmadhani, anak kedua dari keluarga Hasan dan Rahma, menerima perjodohan pilihan Ayahnya. Menggantikan Kakaknya yang bernama Tyas, Karena Ia sudah memiliki calon lebih dulu.
Dimas yang baru menyadari ternyata Anak ke-2 pak Hasan yang akan ia nikahi. Menjadi dilema karena Raka adiknya sudah menyukai lebih dulu sejak awal masuk kuliah. Tetapi Dimas juga sudah mulai suka kepada Alya.
Kini pria yang pernah Alya jumpai saat berada di Jogja beberapa tahun lalu akan menjadi pendampingnya, dan tanpa Alya sadari perlahan ia mulai menyukai Dimas.
Karena belum bisa menerima perjodohan tersebut, Raka lebih memilih ke Kalimantan sesuai permintaan Ayahnya. Mengubur jauh rasa sayang untuk memiliki Alya.
Tetapi takdir berkata lain, ada banyak polemik yang menerjang hubungan mereka.
Akankah Alya menikah dengan Dimas atau Raka akan kembali ke Jakarta menghentikan pernikahan Alya dan Dimas ?
Ikuti novelnya sampai tuntas ya readers, untuk dapat klimaks nya !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adhel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belum bisa terima
1 minggu berlalu pasca kecelakaan, kini Alya sudah berada di rumah orangtuanya. Sementara belum bisa berjalan normal, harus menggunakan bantuan 1 tongkat menopang pergerakannya. Dimas sesekali berkunjung menemui Alya, seperti weekend saat ini mereka terlihat duduk di bawah pohon cerry halaman depan rumah.
"Bagaimana kondiai kaki Mu?" Tanya Dimas sambil memperhatikan kaki Alya.
"Alhamdulillah sudah lebih baik Kak, pelan-pelan Aku coba lepas tongkat agar terbiasa kembali." Jawab Alya.
"Syukurlah, memang harus dibiasakan. Oh ya Kamu tidak usah melanjutkan magang dikantor. kondisi Mu belum pulih. Nanti kalau butuh referensi dan urusan data magang biar Saya atur." Ucap Raka memberikan tawaran.
"Jangan seperti itu Kak, biar bagaimanapun data-data yang Aku butuhkan untuk laporan magang harus sesuai. Nanti jika sudah membaik Aku akan coba cari tempat magang lain aja." Jelas Alya.
"Ya sudah. Kamu bisa ajukan kembali jika ingin memulai magang nanti dikantor." Tegas Dimas.
"Nanti Alya pikirkan kembali kak." Ucap Alya lalu berdiri mencoba melepas tongkat dan berjalan.
"Aww.." Rintih Alya.
"Hati-hati Al, jangan dipaksakan." Ucap Dimas sambil membantu memapah Alya untuk kembali duduk.
"Maaf Kak, jangan keseringan menyentuh Saya." Ucap Alya menepis tangan Dimas dengan perlahan.
"Kalau Saya tidak bantu memapah tadi Kamu bisa jatuh." Jelas Dimas.
"Kaki kiriku masih bisa menopang Kak, lagipula terjatuh pun dibawahnya rumput tidak begitu sakit. hehe." Canda Alya.
Dimaspun tersenyum melihat Alya tertawa ringan, angin sore hari menambah kenyamanan perbincangan Mereka.
Terdengar suara mobil berhenti didepan rumah Alya. Keduanya pun menoleh kearah pagar. Raka keluar dari pintu pengemudi, berjalan masuk. Nampak ragu untuk tetap melanjutkan masuk atau tidak. Karena disana terlihat ada Dimas.
"Hei Ka, sini ikut duduk bersama Kami." panggil Alya dengan senyum ramahnya.
"Maaf Al, Aku temuin Ayah Bunda kedalam dulu." sanggah Raka melanjutkan langkahnya kedalam rumah.
Dimas yang melihat tatapan Raka seakan paham adiknya masih tidak suka dengan keberadaan dirinya. Paham dengan situasi ini, Dimas pamit untuk pulang, mencari alasan masih ada urusan diluar.
"Alya, kak Dimas pulang dulu. Senin Saya usahakan menjenguk Mu kembali." Ucap Dimas.
"Baru sebentar Kak, masih ada urusan diluar yah? Raka juga baru sampai." Jelas Alya.
"Bilang aja Kamu masih rindu ya?" Canda Dimas tersenyum renyah.
"Apa sih Kak Dim, ya sudah sana-sana lekas pulang." Usir Alya sambil mengibas kedua tangannya.
"Haha begitu aja langsung ngusir, iya Saya ada urusan diluar. Salam untuk Ayah Bunda, Assalamualaikum." Pamit Dimas dan berjalan kearah mobilnya diluar pagar.
"Waalaikumsalam, hati-hati Kak." Jawab Alya.
Tak lama Dimas pergi, Raka keluar setelah menemui orangtua Alya didalam. Melihat Alya sudah sendiri duduk disana Rakapun tersenyum kearahnya.
"Al bagaimana keadaan Mu?" Tanya Raka yang ikut duduk disampingnya.
"Alhamdulillah sudah lebih baik Ka." Jawab Alya.
"Maaf ya saat di Jogja Aku tidak bisa datang. Karna Papah meminta Ku meng handle perusahaan disini." Jelas Raka.
"Iya tidak apa-apa. Bagus dong sekarang Kamu mau membantu Om. Oh iya Kamu dengan kak Dimas hubungannya baik-baik aja kan?" Selidik Alya.
"Baik Al." Jawab Raka berbohong.
Raka tidak ingin sampai Alya tahu ketidaksukaan perihal perjodohan ini. Raka masih belum bisa menerima kalau nantinya Alya wanita yang diam-diam ia suka menjadi kakak iparnya. Ia akan berusaha mencari cara untuk menggagalkan perjodohan ini.
"Alya, Raka masuk yuk sudah hampir magrib, sekalian ikut makan malam yah." Titah Bunda yang menghampiri mereka diluar.
"Baik Bun." Jawab Alya.
"Ayo Al Aku bantu berjalan." Ucap Raka.
"Tidak usah Ka, Aku masih bisa berjalan sendiri dengan bantuan tongkat." Jawab Alya.
Merekapun masuk kedalam rumah. Setelah menjalankan sholat magrib seluruh anggota keluarga ditambah dengan adanya Raka berkumpul dimeja makan. Bagas mengambil lebih dulu lauk pauk disusul Rahma yang meletakkan makanan untuk suaminya.
"Silahkan Raka, makan yang banyak. Maaf ya masakan ala kadarnya." Ucap Bunda.
"Iya Bun, ini sudah lebih dari cukup. Pasti enak masakan Bunda." Jawab Raka.
"Kamu bisa aja Ka, oh iya Tyas bagaimana persiapan undangan sudah selesai?" Tanya Rahma sambil melirik kearah Tyas disebrang meja makan.
"Alhamdulillah sudah Bun. Minggu ini rencananya Aku dan Kak Hendra akan menyebar undangan. Tapi Aku nanti minta anterin sama Bagas. Iya kan Dek?" Ucap Tyas dan mencolek bahu Bagas yang sedang asik menyantap makanan.
"Iyaaa kak, nanti Bagas temenin pas libur sekolah ya." Ucapnya smabil mengunyah makanan.
"Makasih ya Dek." Jawab Tyas.
"Makasih nya nanti Kak Tyas, Kita kan belum nyebar undangannya." Canda Bagas.
Yang lainpun tertawa mendengar jawaban Bagas yang terdengar asal tetapi ada benarnya juga.
Raka dan Alya masih melanjutkan obrolan diruang tengah bersama Hasan. Mulai dari awal masuk kuliah sampai semester 6 saat ini. Tetapi saat menyinggung perihal perjodohan Raka lebih banyak menghindar, Hasanpun mengganti topik lain. Hingga waktu sudah jam 9 malam, Raka ijin pamit pulang.
"Ayah, Saya pamit pulang, maaf merepotkan. Terima kasih sudah diajak makan malam." Ucap Raka.
"Tidak merasa direpotkan, Kamu hati-hati dijalan. Maaf ya Kami tidak antar sampai luar." Jawab Hasan.
"Iya Yah tidak apa. Al pamit ya. Cepat pulih Aku tunggu dikampus." Ucap Raka.
"Siap bos kecil." jawab Alya sambil memberikan tanda hormat.
Raka menghidupkan mesin mobil dan perlahan menghilang di tikungan luar komplek. Suasana hatinya masih tidak baik mengingat kejadian sore. Dirumahpun Raka belum ada tegur sapa dengan Dimas. Ia masih marah dengan sikap Kakaknya karena tidak menolak, padahal dirinya sudah memberi tahu ketertarikannya pada Alya sebelum acara perjodohan itu.
Sekepulangan Raka, Hasan mencoba bertanya kepada Alya tentang sikap Raka tadi.
"Al kenapa dengan sikap Raka tadi. Sewaktu Ayah tanya perjodohan Kamu dengan Kakaknya seperti Dia tidak suka dan menghindar. Padahal diakan teman Mu sekaligus nantinya akan menjadi calon adik iparmu." Jelas Hasan.
"Entahlah Yah, Alya juga belum tahu pasti." Jawab Alya.
Lalu Ayah mendorong sendiri kursi roda kedalam, meninggalkan Alya yang masih duduk diruang tengah. Alya berusaha untuk berperilaku biasa saja, Ia tidak ingin merusak hubungan pertemanan yang lebih dulu dengan Raka. Memang kenyataannya belakangann ini sifat Raka banyak berubah terhadap dirinya. Tidak Ada berkabar via telfon maupun whatsapp. Bertemu tatap muka langsung saja bisa dihitung.
Alya berjalan masuk kekamarnya, perlahan tongkatnya Ia letakkan disamping nakas, Ia mulai duduk perlahan ditepi ranjang. Memijat pelan kaki kanannya yang sedikit sakit. Mengoleskan salep otot, kemudian mengusap kembali pada bagian yang pegal. Setelah beberapa menit Ia pun tertidur lelah.
.
.
.
Renata nya Thor