Lanjutan dari novel: Wanita Cantik Tuan Muda Dingin.
__________
Setelah melewati banyak waktu dan masalah. Raka sang CEO termuda di perusahaan Welfin telah berhasil menemukan kekasihnya dan bahkan tak menyangka jika kekasihnya itu memberikan sepasang anak kembar yang cerdas dan menggemaskan.
Namun masalah kembali datang dari istri tercinta yang memiliki Kepribadian Ganda. Karena itulah Raka mencoba menyembuhkan Sovia dan mulai belajar untuk menjadi Suami idaman untuk sang istri.
Akan tetapi seseorang mulai meneror keluarga kecilnya dan bahkan mencoba menyingkirkan satu persatu keluarga dekatnya. Hal ini karena perebutan harta waris di masa lalu di keluarga Welfin. Dapatkah Raka melindungi sang Istri dan kedua anak kembarnya, serta menyembuhkan mental Sovia?
Yuk kita simak perjuangan Raka dalam menyembuhkan Sovia dan perjuangannya menyelesaikan masalah yang silih datang berganti di keluarga kecilnya Raka.
Baca sampai selesai ya ^^
Terima kasih~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asti Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Sudah Pulang
...[Beri like dan komen]...
Pukul 23.37 malam. Raka telah kembali namun tak menemukan Sovia. Kini kekuatirannya semakin besar. Ia takut jika terjadi sesuatu pada istrinya itu. Terlihat ia berjalan masuk ke dalam rumahnya disertai Andis yang berjalan di sampingnya.
Krek!
Pintu rumah terbuka. Raka langsung terdiam di tempatnya melihat putri kecilnya belum juga tidur malam ini. Gadis kecil itu langsung turun dari sofa lalu berlari menghampiri Ayahnya.
"Papi, Mami di mana? Kenapa tidak ada Mami?" Dean mendongak bertanya-tanya pada Ayahnya itu.
Kini Raka tak tahu harus jawab apa. Ia sama sekali tak menemukan jejak keberadaan Sovia. Bahkan anak buahnya juga tak berhasil menemukannya.
Tentu Raka tak dapat menemukan Sovia karena Wanita itu berada di kota lain dan itu cukup jauh dari kotanya.
"Papi jangan diam saja. Di mana Mami?" Dean kembali bertanya sambil menarik-narik tangan Raka.
"Aish," desis Raka sedikit kecewa.
Andis yang di sana langsung meraih tangan Dean.
"Dean, kamu harus tidur sekarang, jadi kita ke kamar ya. Biar paman yang temani kamu tidur." ucap Andis tersenyum manis. Namun Dean langsung melepaskannya.
"Tidak mau! Dean mau lihat Mami dulu," rengek Dean kembali menarik-narik tangan Ayahnya lagi dan itu membuat Andis sedikit jengkel.
"Papi jawab dong, jangan diam saja." lanjutnya lagi merengek manja.
Raka pun menghebuskan nafas sejenak lalu melihat Dean. Ketika ia ingin berbicara, Willy tiba-tiba menyebut seseorang ke arah pintu.
"Nyonya Muda." ucap Willy nampak tak percaya disertai Pak Sam juga yang berdiri di samping Willy.
Sontak Raka dan Andis serta Dean langsung menoleh ke belakang dan ternyata yang dicari-cari dari tadi sudah berdiri di dekat pintu.
"Sayang." Raka terkejut melihat Sovia telah pulang.
Dean pun langsung berlari menghampiri Ibunya itu lalu memeluknya.
"Mami ... Mami dari mana saja? Dean cemas sama Mami." Dean mendongak melihat Ibunya yang terdiam.
"Hehe ... Mami tadi ke ...." Sovia nampak tak tahu mau jawab apa. Ia terlihat menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia sama sekali masih tidak sangka dirinya berada di kota lain malam ini.
Raka segera menghampiri Sovia dan bahkan langsung memeluknya.
"Sayang, kamu dari mana saja? Kenapa baru pulang? Kamu ini tidak macam-macam kan di belakangku?" Raka kini melihatnya sambil memberikan beberapa pertanyaan. Nampak sedang mengintrogasi istrinya itu.
"Hehe ... itu-itu." Sovia terbata-bata.
"Itu apa?" tanya anak dan Ayah itu bersamaan membuat Sovia bertambah kikuk.
"Aduh gimana ya jawabnya," gumam Sovia nampak kebingungan.
"Oh ya, tadi aku ke rumah teman." jawab Sovia sambil tersenyum.
"Teman? Mami ke rumah siapa, kok malam-malam baru pulang?" tanya Dean ikut mengintrogasi Sovia.
Kini anak dan Ayah itu bersama-sama mengintrogasi Sovia. Terlihat keduanya saling menatap Sovia serius.
"Ahaha ... itu. Kalian jangan lihat aku seperti itulah." Sovia nampak menggaruk tengkuknya.
"Terus kamu dari mana saja, sayang?" tanya Raka lagi.
"Ke rumah ... rumah," Sovia terlihat mencoba mengingat sesuatu.
"Ah ke rumah temanku yang namanya Sulis." lanjutnya lagi sambil membelai rambut Dean.
Sontak Raka dan Andis sedikit terkejut mendengarnya. Sovia yang melihat mereka terdiam, kini ia yang bertanya balik.
"Kalian kenapa? Kalian baik-baik saja?" tanya Sovia.
"Kita itu cari Mami dari tadi." jawab Dean cemberut membuat Sovia tertawa kecil.
"Maaf ya sudah bikin Dean cemas. Kalau begitu sini Mami temani Dean tidur." ucap Sovia sambil menggendong Dean. Gadis kecil itu cuma mengangguk saja. Keduanya pun pergi begitu saja menaiki tangga.
"Syukurlah, tadi ada suami Sulis yang mengantarku. Tapi ... setelah bertemu dengan wanita itu. Kenapa aku masih belum bisa ingat? Terus, kenapa aku bisa-bisanya ada di dalam bis dan nyasar di kota itu." gumam Sovia berjalan ke arah kamar Dean. Ia benar-benar kebingungan akan dirinya.
Sovia juga nampak murung kembali dan itu karena sebelum ia diantar oleh suami Sulis. Ia dan Sulis sempat bercerita masa-masa sekolah dia bersama Sovia dulu. Bercerita tentang Sovia yang sering ditindas oleh teman-teman kelasnya dan juga bercerita tentang dirinya yang dulu pendiam, dingin, dan cuek pada sekitarnya.
Sifatnya dulu sangat berbeda dari dirinya sekarang dan itu membuatnya murung kembali.
Sementara Raka dan Andis kini saling pandang. Mereka mungkin kini beranggapan jika Sovia sudah ingat dirinya karena pergi mengunjungi Sulis.
"Apakah dia baru saja dari kota Michigan?"
Itulah yang ada di benak Raka. Pria itu pun menuju ke atas sambil menaiki tangga lalu berjalan ke arah kamar putrinya.
Willy dan Pak Sam di sana merasa lega melihat Sovia kembali. Walau begitu, keduanya merasa heran akan istri Tuan Muda itu. Karena tak ada urusan lagi, keduanya kemudian pergi dan meninggalkan Andis yang masih berdiri terdiam di tempatnya.
"Sudah ku duga, jika Kak Mira pasti telah ingat dirinya. Jika begitu, apa dia juga sudah ingat peristiwa penculikanku dulu?" gumam Andis masih saja memikirkan peristiwa yang membuatnya cacat akan peniayaan dari Rina pada dirinya waktu itu.
"Ck, menyebalkan. Jika dia akan pulang malam ini, lebih baik tak usah mencarinya tadi. Membuang waktu saja." lanjut Andis menggertak kesal lalu pergi ke arah kamarnya.
_____
Sementara di sisi lain. Suami Sulis terlihat masih dalam perjalan pulang ke kotanya. Namun tiba-tiba saja, seseorang menyebrangi jalan dan untung suami Sulis langsung mengerem mendadak dan hampir menabraknya.
Suami Sulis pun turun dari mobilnya lalu menghampiri orang yang membelakanginya tersebut.
Perlahan Suami Sulis mencoba menepuk pundak orang misterius itu.
"Maaf. Anda baik-baik saja?" tanya Suami Sulis sedikit takut.
Namun tiba-tiba ia membola terkejut melihat wajah orang itu yang amat mengerikan.
"Han ... Hantu!" teriaknya langsung berlari menaiki mobilnya lalu pergi begitu saja meninggalkan orang misterius yang memakai topi hitam dan jaket hitam.
Orang misterius yang melihatnya pergi begitu saja, ia nampak mengepal. Hal itu karena ia kesal akan wajahnya yang dipandang sebagai hantu.
"Mira, semua ini gara-gara perbuatanmu. Aku berjanji akan membalaskan apa yang kamu lakukan padaku. Wajah cantikmu akan hancur seperti halnya wajahku sekarang."
"Ck, aku tak akan takut padamu lagi!" gertaknya pergi dari tempatnya lalu menghilang dari kegelapan.
Terlihat dari sorotan matanya tadi ada dendam besar yang akan dihadapi oleh Sovia nanti. Entah kini hanya waktu yang akan mempertemukan mereka.
_____
Bersambung ....
Maaf ya kak telat up, soalnya author lagi sakit. Tolong dimaklumi🙏