Yura, gadis kesepian yang tiba-tiba harus pulang ke desa tempat nenek nya tinggal selama ini. Sang ibu yang akan menikah lagi menjadi salah satu alasan untuk kepindahannya.
Ia tidak banyak bicara, hanya menurut dan mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.
Namun siapa sangka, kepindahannya ke desa membuatnya memiliki kehidupan baru yang lebih berwarna. Ia bahkan bertemu dengan gadis yang memiliki nama yang persis sama dengan namanya.
Lantas, akankah Yura berhasil menemukan kebahagiaan walaupun harus hidup berdampingan dengan gadis yang seolah memiliki ikatan dengannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona yeppo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kisah Masa Lalu
Melihat dari penampilan sang nenek, tentu Yura sudah dapat membayangkan tempat seperti apa tempat yang akan mereka tuju.
Rumah kerabat, atau tempat wisata? Atau jangan-jangan untuk menemui mama dan keluarga nya?
"Yura... " Suara nenek akhirnya memecahkan kerumitan isi kepala Yura.
Kedua nya segera berangkat dengan berjalan kaki yang semakin membuat wajah Yura kebingungan.
Namun meski begitu, Yura memilih diam dan terus berjalan mengikuti sang nenek yang berjalan dengan tertatih-tatih.
Jalanan yang agak menanjak, dikelilingi oleh ladang para petani membuat suasana pagi itu menjadi sangat sejuk bagi Yura.
Tapi itu tak lagi berarti bagi nenek Lea. Berulangkali ia mengusap dahinya yang penuh dengan keringat.
Karena ini hari libur, tidak begitu banyak orang yang mengunjungi ladang mereka. Kebanyakan warga desa akan menghabiskan waktu mereka untuk berkumpul dengan keluarga maupun bersantai di tepi pantai.
Setelah memakan waktu selama hampir satu jam, akhirnya kedua nya tiba ditempat tujuan. Tapi dapat Yura perkirakan jika tempat ini dapat ia ditempuh sendiri hanya selama tiga puluh menit saja.
Semua bayangan tentang keramaian yang sempat mampir dikepala Yura benar-benar salah total.
Tidak ada keramaian, ataupun manusia lain kecuali mereka berdua dan dihadapan nya teronggok dua buah makam yang sudah tua.
Sejenak Yura memperhatikan penampilan mereka yang dapat dikategorikan mewah. Walau memang memperhatikan penampilan itu adalah hal yang wajib dilakukan, tetap saja dugaan nya benar-benar keliru.
"Nenek saaangat lah egois... " ucap nenek setelah dirinya berhasil meneguk air dari botol yang dibawanya.
"Ibumu hanya bisa mengalah saat nenek memutuskan sendiri tempat ayahmu dimakamkan, seolah-olah hanya nenek yang berhak memiliki nya.. "
Air mata nenek menetes, menyusuri wajah tua nya. Dan Yura begitu terkesiap begitu mengetahui jika salah satu makam itu adalah ayahnya.
Jantung nya berdebar dengan sangat kencang, seolah dirinya baru saja dikejar oleh sesuatu yang menyeramkan.
Kemudian ia meraba gundukan yang dibentuk dengan semen itu. Sebuah nama tertulis disana, Carlos.
"Selama ini mereka membiarkan aku berpikir liar, menganggap jika papa sangat tidak bertanggung jawab... "
"Aku pikir, mama sangat dingin padaku karena papa yang meninggalkan nya.. "
"Memang benar jika papa pergi, tapi ini tidak pantas dijadikan alasan untuk menyakiti ku pah... "
"Ra? " suara nenek membuat lamunan Yura menguap.
Nenek mengusap punggung Yura yang terdiam sambil memegangi nisan itu. Namun usapan itu semakin membuat hatinya terasa sakit.
"Mengapa nenek tidak pernah cerita?, mengapa nenek hanya bilang bahwa papa pergi? ... "
"Aku bahkan menyalahkan papa untuk semuanya... "
Nenek kembali menggenggam tangan Yura, berharap gadis itu tidak terlalu marah akan semua yang telah terjadi.
"Nenek tidak berpikir jauh saat mengambil keputusan itu dulu. "
"Karena keegoisan nenek, kamu jadi tumbuh dalam kesepian. Nenek minta maaf ya sayang.. "
ucapan nenek benar-benar membuat Yura dilema.
"Semua orang mungkin tidak luput dari kesalahan, tapi mengapa harus dua orang yang paling dekat denganku? " Tanya Yura.
"Jika aku tidak meminta untuk ikut, mungkin aku tidak akan tahu semua kebenaran ini sampai aku mati...! "
Yura akhirnya menangis kencang saat ia mengingat kembali kebelakang. Ia sangat membenci sang mama, bahkan sudah mengucapkan beberapa kalimat yang sangat menyakitkan.
"Tidak ada satu orang pun yang pernah bicara tentang papa. Kalian membuat aku memutuskan sendiri kemana arah pikiran ku.. "
Dari sini nenek akhirnya menyadari jika suatu rahasia yang sengaja disembunyikan, harus ditutupi lagi dengan rahasia lainnya.
Awalnya mungkin membuat lega sesaat, tapi lama-kelamaan akan menjadi bumerang yang dapat meledak hebat.
"Nenek minta maaf,,, " Suara tangis sang nenek akhirnya membuat Yura tersadar.
Ia segera membawa nenek kedalam pelukan nya. Dirinya hanya sedang melepaskan emosi yang telah lama terpendam dihatinya.
"Salahkan nenek untuk semuanya, ibumu tidak sepenuhnya salah... " tambah nenek lagi.
Dengan berbesar hati, Yura menarik nafasnya kuat-kuat. Walaupun sangat terlambat, pada akhirnya ia lega juga setelah mengetahui kebenaran ini.
"Pa... " ucapnya memanggil ayah nya seolah pria itu ada dihadapan nya.
Kemudian ia tersenyum tipis. "Mana mungkin papa bisa mendengar ku lagi setelah sekian lama.. "
"Ibu mu tidak punya pilihan lain selain membawamu pergi dengan syarat dari nenek. "
"Mungkin ibumu merasa dengan bersikap dingin padamu, itu akan mengurangi beban kehilangan dihatinya. "
"Bukankah selama ini ibumu selalu memenuhi semua kebutuhan mu... "
"Ia hanya sangat kesakitan seorang diri, sampai ia lupa bahwa ada manusia lain yang tumbuh didalam dirinya. "
"Ayahmu nenek besarkan dari sebuah panti dari kota. Sedangkan ibumu berasal dari keluarga yang tidak harmonis di desa ini. Ayahnya seorang pemabuk dan penjudi, ia selalu menyaksikan ibunya dipukuli oleh sang Ayah hingga ibunya memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri. "
"Sekarang nenek menyadari, trauma itu akan terus berulang jika tidak ada yang membantu menarik kita untuk keluar dari trauma itu sendiri... "
"Itulah yang ibumu rasakan, ia punya keinginan untuk membahagiakan mu, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya.. "
Kering sudah air mata Yura, seketika rasa bersalah dihatinya muncul terhadap sang mama. Ia juga menyadari jika dirinya hampir mengulang pola yang sama.
Lalu tanpa pikir panjang, ia segera membuka ponselnya dan membuka tanda blokir yang ia layangkan pada nomor ibunya.
Bukankah dengan memaafkan akan meghasilkan kelegaan? Setidaknya dengan memaafkan, rasa sakit itu perlahan berkurang, pikiran pun jadi tenang.
Kemudian ia melihat sang nenek yang kini telah beralih pada makam satunya lagi. Tertulis nama Raymond disana.
Tentu otak cerdas Yura berhasil menyusun sebuah kesimpulan yang mungkin kebenarannya akurat dan tepat sasaran.
Terlabih lagi saat dirinya tak sengaja membaca tulisan nama shella yang dibuat oleh sang nenek. walaupun puluhan tahun telah berlalu, Yura yang gemar belajar itu masih mengingat dengan jelas silsilah seluruh anggota kerajaan Gor.
"Pangeran Raymond saudara satu Ayah dari putri Livia yang biasa juga disebut nyonya Shella? Tahun ini akan mengakhiri masa jabatan nya sebagai penasehat istana.
Nenek masih sibuk mencabuti rumput yang tumbuh disekitar makam. Namun telinga nya terbuka lebar untuk mendengarkan Yura bicara.
"Bukankah silsilah mereka dihapuskan atas permintaan Shella sendiri? " ucap sang nenek.
"Ya benar, tapi aku sudah terlanjur membaca seluruh silsilah itu berikut kisah-kisah buruknya... " jawab Yura.
Saat membahas tentang semua itu, tiba-tiba Yura teringat pada Liam yang kemungkinan besar memiliki hubungan dengan putri Livia.
Namun Yura tidak tahu pasti, hanya saja insting nya berkata jika pria itu ikut andil dalam membuat sang putri akhrinya turun tangan untuk mengganti peraturan lomba waktu itu.
"Bisa nenek jelaskan apa hubungan nenek dengan pangeran Raymond ? "
Nenek kemudian terkekeh pelan lalu berkata "bukankah katamu kamu sudah membaca semua nya? "
"Memang, tapi Tidak ada tulisan tentang kemana menghilangnya pangeran... " ucap Yura. .
.
.
.
Bersambung...