Kehidupan sempurna bak putri kerjaan yang Inez rasakan mendadak berubah total ketika Rara menjalankan misi balas dendamnya. Rasa sakit hati kehilangan Papanya membuat Rara ingin membuat Inez merasakan apa yang Ia rasakan.
Tanpa Inez sadari, Rara selalu memakai topeng. Baik di depan dan busuk di belakang. Satu persatu kebahagiaan yang Inez miliki perlahan hilang, termasuk kesuciannya. Apa lagi yang akan Rara renggut lagi dari Inez?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Andrew Martin
Andrew kembali ke ruangannya dengan hati kesal. Bagaimana mungkin Ia menyetujui untuk bekerja sama dengan laki-laki yang sudah meniduri pacarnya dulu?
Andrew mengepalkan tangannya menahan rasa kesal dan amarah yang begitu bergemuruh dalam dadanya. Digebraknya meja kerjanya yang terbuat dari kayu jati kualitas premium tersebut.
Andrew masih mengingat bagaimana kedekatan Inez dan Rio saat Ia masuk ke dalam ruang meeting. Bagaimana Inez bahkan menjawab bahasa isyarat dari Rio, sedangkan bersikap acuh padanya?
Yang lebih membuatnya kesal adalah Inez dan Rio yang sangat akrab seakan tak ada sesuatu apapun yang terjadi pada mereka di masa lalu?
Aaaargggghhhhh....Kenapa pusaran takdir begitu kejam mempertemukan mereka lagi bahkan dalam satu lingkungan kerja seperti ini. Kalau Andrew sampai terbawa emosi maka Ia akan dicap sebagai Direktur yang tidak kompatible dan hanya anak Papa saja.
Pekerjaan yang harus Andrew lakukan sebenarnya masih banyak, namun konsentrasinya buyar. Apalagi bayangan kedekatan antara Rio dan Inez masih terbayang-bayang dipikirannya.
Tak bisa dipungkiri, nama Inez masih memegang peranan penting didalam hatinya Andrew. Dua tahun mereka merangkai mimpi bersama bukanlah waktu yang sebentar. Inez adalah cinta pada pandangan pertama Andrew.
Hati Andrew masih sakit atas penghianatan yang Inez lakukan. Ia bahkan belum berniat mencari pengganti Inez lagi. Ia membutuhkan waktu lebih banyak untuk melupakan Inez.
Andrew tak menolak saat Papanya menyuruhnya untuk menjadi direktur di salah satu perusahaan yang Papanya miliki. Andrew butuh sesuatu untuk menyibukkan dirinya agar tidak memikirkan Inez terus menerus. Jadilah Ia sekarang sebagai direktur walau usianya masih tergolong bau kencur alias masih muda.
Kesibukkannya selama ini Ia pikir cukup untuk melupakan Inez, namun ternyata tidak. Pagi ini saat bertemu dengan Inez kembali Ia merasakan debaran di hatinya yang sempat hilang. Debaran hanya karena melihat wajah Inez. Belum lagi debaran kalau bicara langsung dengan Inez.
Andrew menarik tangannya cepat dari jabat tangan Inez, bukan karena apa-apa, Ia takut degup jantungnya yang begitu kencang bisa sampai terdengar oleh Inez saking kencangnya. Diam-diam Andrew memperhatikan Inez.
Tubuh Inez sekarang makin kurus. Wajahnya terlihat amat tirus. Ia tetap terlihat cantik meskipun dengan kemeja sederhana dan rok hitamnya.
Dari sikap Inez yang tidak banyak bicara bisa terlihat kalau Ia anak baru dalam perusahaan ini. Andrew heran, kenapa Inez sampai harus repot-repot merangkak dari bawah dalam bekerja. Yang Andrew tahu, Papa Inez adalah seorang bankir yang hebat, pasti banyak koneksi yang Ia miliki hanya untuk memasukkan putri semata wayangnya dalam pekerjaan yang lebih mapan lagi.
Berbeda dengan Andrew yang tahu banyak tentang kehidupan Inez karena sering main ke rumahnya, Inez tak tahu tentang kehidupan Andrew. Inez tak tahu kalau Andrew adalah anak seorang pengusaha barang branded terbesar di negaranya. Papa Andrew juga pengusaha properti. Sikap Andrew yang sederhana dan tak pernah menceritakan kekayaan keluarganya membuat informasi tentang Andrew amat sedikit yang Inez ketahui.
Andrew tak pernah mengajak Inez ke rumahnya sama sekali dan Inez tak pernah mempermasalahkannya. Andrew selalu memakai mobil sedan biasa karena tak suka kalau koleksi mobil sportnya sampai lecet dan dipakai foto-foto oleh mahasiswa kampus yang norak.
Inez tak pernah mempermasalahkan Andrew yang tak pernah mengajaknya ke rumahnya. Bagi Inez, Andrew amat mencintainya sudah cukup.
Rasa penasaran Andrew masih memuncak dan perlu mencari jawabannya. Ia yang biasanya selalu makan siang di luar hari ini ikut makan di kantin bersama karyawan lainnya. Tujuannya apalagi kalau bukan mencari tahu tentang B-Brothers tempat Inez bekerja.
Dan akhirnya bertemulah lagi Ia dengan laki-laki yang telah merebut kesucian wanita yang amat Ia cintai. Andrew merasa amat iri dengan kedekatan antara Rio dengan Inez. Bagaimana mungkin mereka bisa dekat setelah kejadian yang menimpa mereka berdua? Apakah mereka sudah saling mengenal sebelumnya ? atau kah semua ini ini hanyalah settingan yang dibuat oleh mereka?
Andrew mengendurkan dasi di lehernya. Is butuh lebih banyak oksigen saat ini. Oksigen yang membuatnya tetap waras dan bisa melihat segala sesuatu dengan objektif bukan subjektif. Andrew melanjutkan lagi pekerjaannya, pikirannya berusaha fokus dan melupakan tentang mantan kekasihnya tersebut. Tanpa Andrew sadari Ia bahkan sudah bekerja sampai lewat waktu pulang kerja.
Andrew melihat jam di dindingnya. Sudah jam 7 malam waktunya Ia pulang kerja. Andrew mengambil tas jinjingnya dan memakai jas kerjanya.
Andrew berjalan melewati ruang meeting tempat team audit bekerja. Ternyata ruangan tersebut masih menyala, pertanda masih ada orang di dalamnya. Andrew berusaha melihat siapa kah yang masih bekerja lewat dari jam kerja seperti ini.
Andrew melihat seorang wanita yang masih asyik memeriksa berkas berkas perusahaannya. Ya, wanita itu adalah Inez. Ia bekerja sendiri di ruangan meeting tanpa ada yang menemani. Awalnya Andrew tidak peduli, Ia terus saja berjalan melewati ruang meeting. Namun hati kecilnya memberontak, Ia pun kembali lagi ke ruang meeting dan membuka pintu ruang tersebut.
Ines tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Andrew memasuki ruangan meeting.
"Belum pulang?" tanya Andrew dengan suara dinginnya.
"Belum, Pak. Masih ada yang harus diperiksa." Inez sengaja menyebut Andrew dengan panggilan Pak, agar menegaskan pada Andrew kalau hubungan mereka hanya sebatas rekan kerja saja.
"Rajin atau cari muka?" tanya Andrew lagi dengan sinis.
Inez berusaha menahan amarah dan air matanya. Perkataan Andrew amat pedas terdengar di telinganya. Baru saja Ia hendak membalas perkataan Andrew ketika Rio datang dan langsung masuk ke dalam ruang meeting.
"Ayo Nez kita pulang. Udah malam nih." ajak Rio dengan santai. Rio memang sudah berencana mau pulang bareng Inez. Ia mengirimkan pesan pada Inez bahwa akan pulang duluan tapi Ia menunggu Inez di parkiran. Setelah melihat anggota team audit sudah pulang semua barulah Ia menghampiri Inez lagi di ruang meeting.
Rio kasihan dengan Inez yang belum terbiasa pulang kerja dengan jarak yang jauh. Ia pun menawarkan Inez untuk pulang bareng sekalian Ia juga karena memang mereka satu arah.
Rio mendengar perkataan pedas Andrew terhadap Inez. Karena itu Ia langsung mengajak Inez pulang.
"Sepertinya kalian akrab ya. Tidak seperti atasan dan bawahan. Oh iya gue lupa. Kalian kan pernah menghabiskan malam bersama. Pasti makin deket dong?" kali ini Andrew tidak bisa menahan dirinya, ia tak perlu menyindir melainkan langsung mengungkapkan isi hatinya.
"Bisa aja Bapak Andrew ini. Kami berdua memang memiliki chemistry yang amat kuat sebagai bawahan dan atasan. Bahkan kami bisa pulang bareng. Iya kan Nez?" balas Rio. Rio tidak mau menanggapi emosi Andrew dengan emosi. Tak ada gunanya. Mereka masih kerjasama untuk jangka waktu beberapa minggu ke depan. Merusak hubungan hanya akan membuat hubungan kerja menjadi tidak nyaman.
"Iya, Pak. Saya sudah selesai kok. Ayo kita pulang." Inez terburu-buru merapihkan berkas-berkas dan menyampirkan tas laptopnya. Inez menghampiri Rio, mencoba mencari perlindungan dari bosnya tersebut.
Andrew ingin menarik tangan Inez dan menahannya agar tidak pergi dengan Rio namun tak Ia lakukan. Rasa gengsinya masih terlalu besar. Ia akhirnya hanya diam saja melihat Inez pergi dengan Rio.
"Kami pulang duluan ya, Pak Andrew. Selamat malam." pamit Rio sopan.
"Ayo Nez kita pulang. Sini tas laptopnya biar gue yang bawa. Badan lo udah kurus bisa makin kurus bawa tas berat-berat!" Rio mengambil tas laptop yang Inez jinjing. Dengan santainya Ia dan Inez meninggalkan kantor. Meninggalkan Andrew seorang diri di ruang meeting.
Lagi lagi Andrew mengepalkan tangannya menahan rasa kesal dalam hatinya . Ia tidak menyangka Inez akan menyuekinya dan memilih pulang bareng dengan Rio. Padahal, tadi Rio berniat untuk mengajak bicara Inez ya... mengobrol ringan lah istilahnya. Entah kenapa ia masih terbayang kejadian malam itu. Emosinya langsung memuncak apalagi saat mendengar Rio datang untuk menjemput Inez.
Kata-kata yang keluar dari mulutnya amat tajam dan menyakitkan, Ia menyadari itu. Bukan hanya Inez yang tersakiti, hatinya juga sakit berkata begitu kejam pada mantan kekasihnya tersebut.
******
" Andrew mengganggu lo terus Nez?" tanya Rio saat mereka sudah berada di dalam mobil di perjalanan pulang.
" Enggak kok, dari tadi gue nggak diajak ngobrol sama dia." jawab Inez jujur. Memang benar kan, dari tadi Andrew hanya mengajak Pak Liam bicara.
" Terus, ngapain dong si Andrew masuk ke ruang meeting saat lo lagi sendirian? mau PDKT lagi sama lo?" selidik Rio.
" Enggak tahu deh. Lo lihat sendiri kan tadi aja gue cuekin dia. Gue males Yo berhubungan lagi sama dia. Bagi gue hubungan antara gue dan dia tuh udah berakhir." jawab Inez.
"Tapi yang gue lihat nggak kayak gitu tuh Nez. Gue liat Andrew masih sangat perhatian sama lo dan kelihatan dengan jelas kalau Dia cemburu sama gue."
"Masa?"
"Iya bener." jawab Rio serius.
"Bodo ah." jawab Inez sambil menggoda Rio.
"Ih nih anak ya, gue ngomong serius juga. lu kenapa sih? kalau kalian masih saling cinta kenapa nggak balikan aja?"
"Lo sendiri kenapa? Lo juga kan sama Rara masih saling cinta kenapa nggak lo berdua balikan aja sekalian?" tanya balik Inez.
"Rumit Nez masalah antara gue sama Rara." kata Rio.
"Rumitan mana sama masalah gue?" tanya balik Inez.
"Sejujurnya, lebih rumit masalah gue sama Rara. Lo nggak tahu apa yang terjadi antara gue dan Rara. Satu yang pasti, gue udah nggak cinta sama Rara lagi." jawab Rio dengan yakin.
Inez makin bertanya-tanya apa yang sudah terjadi antara Rio dan Rara?
"Benarkah mereka putus karena kejadian malam itu? Sebenarnya ada kejadian apa sih di malam itu sampai membuat hubungan mereka sampai putus? Seharusnya kan yang sangat dirugikan adalah gue bukannya mereka. Gue semakin yakin kalau ada sesuatu yang sudah direncanakan di malam itu." gumam Inez dalam hati.
"Udah ah ganti topik pembicaraan. Enggak usah kita bahas tentang masa lalu kita berdua dan tentang mantan-mantan kita yang nggak penting lagi untuk dibahas. Yang kita bahas sekarang tentang pekerjaan, Oke? Gimana hasil kerja lo hari ini ada yang lo temuin nggak?" Rio meminta laporan tugas hari ini. Laporan atas tugas Inez sebagai mata-mata dan tangan kanan dirinya.
"Belum ketemu lah Rio. Gue tuh kan baru kerja dan gue belum mengerti tentang seluk beluk pekerjaan ini sepenuhnya. Ibaratnya, gue masih meraba-raba pekerjaan yang ke kasih ke gue. Tapi satu yang pasti, gue bisa kasih tahu lo kalau Pak Liam tuh nggak suka sama gue. Tidak seperti staf lain, hanya Pak Liam yang agak sensi sama gue. Lo tahu kan artinya apa? kayak ada sesuatu yang dia sembunyiin dan gak boleh sampai gue tahu." lapor Inez.
"Pinter juga lo, dari awal kecurigaan gue emang sama si Pak Liam Liam. Gue heran sama dia tuh pinter banget ngejilat bokap gue. Gue udah curiga nih kok pekerjaan dia tuh kayak ada yang enggak beres. Gue udah selidiki tentang aset yang dia punya, dan nggak wajar kalau menurut gue untuk ukuran seorang kepala audit. Gue ngecek dia punya aset rumah beberapa buah dan harganya juga cukup lumayan. Pokoknya nggak mungkin deh untuk ukuran seorang kepala audit punya aset seperti itu kalau bukan karena harta warisan orang tuanya." cerita Rio panjang lebar mengenai kecurigaannya.
" Kenapa bukan lo aja Yo yang menyelidiki tentang Pak Liam?" tanya Inez dengan lugunya.
"Dia tuh pinter banget Nez bersilat lidah. Gue paling gak suka deh sama orang kayak gitu. Didepan baik dibelakang nusuk, ya... kayak orang-orang bermuka dua gitu. Emang lu nggak pernah apa nemuin orang kayak gitu?" sindir Rio.
"Hmm... nemuin sih. Tapi menurut gue orang-orang kayak gitu tuh susah di bedainnya. Gue lebih percaya kalau mereka tuh sebenarnya baik dan enggak ada niat jahat." aku Inez.
"Lo tu terlalu baik, Nez. Terkadang lo tuh harus membuka mata dengan jelas. Lo liat sekeliling lo dan lo pasti bisa lihat mana yang beneran tulus sama lo dan mana yang selama ini cuma memanfaatkan lo aja. Orang kayak gitu nggak sedikit Nez, banyak banget." kata Rio mengajarkan Inez tentang pengalaman hidupnya.
" Emang gunanya orang bermuka dua kayak gitu apa? " tanya Inez dengan lugunya.
"Macam-macam tujuannya. Ada yang mau mendapatkan kekayaan, ada yang mau mendapat jabatan, dan ada juga yang bertujuan jelek kaya merusak hubungan orang lain misalnya."
"Kok ada ya orang kayak gitu? Hidup tuh seharusnya yang bener aja, jujur gitu nggak usah didepan beda belakang beda." gerutu Inez.
" Ya itu kan lo Nez. Beda sama orang lain. Kalau ada cara yang lebih mudah kenapa harus cara yang rumit?"
"Ah nggak tahu ah. Yo rumah gue udah deket, lo turunin gue aja di sini." Inez menunjuk ke halte terdekat.
"Enggak mau. Gue bakalan anterin lo sampai depan rumah. Emang gue cowok apaan yang nurunin cewek di pinggir jalan?" tolak Rio. Rio penasaran dengan rumah Inez, walaupun Ia tidak masuk kedalam setidaknya ia tahu di mana Inez tinggal.
terima kasih ya kak 😍😍😍😍