Sir Leonardo, Komandan Militer Inggris, memburu pemberontak yang membunuh orang tuanya. Setelah berhasil menemukan si pemberontak dan membunuhnya beserta istri tapi menyisakan putri mereka. Balas dendam Leo tidak berhenti hanya dengan kematian pembunuh kedua oran tuanya, namun menjadikan putri si pemberontak sebagai pelampiasan amarah, nafsu, gairah dan perasaan lainnya. Apa yang terjadi dengan putri si pemberontak kemudian? Apakah dia akan bertahan atau menyerang balik seorang Leonardo?
Cerita lainnya :
1. Putri Jenderal bersama Mafia (Haile & Antonio)
2. Putri Duke bersama Bos Wine (Katy & Terios)
3. Cinta saudara Tiri (Eliza & Zane)
Mana cerita pemaksaan cinta yang paling kalian sukai? Jangan lupa dukung author yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERJEBAK BERSAMA
Agatha merasa ada yang salah dari tubuhnya, sesapan dan endusan Leo terasa lembut dikulitnya.
Ia sampai meremas bathropenya sendiri untuk menahan gairah.
Dan saat dirinya sudah memejamkan mata tanpa sadar karena hanyut dalam permainan Leo, gerakan pria itu berhenti membuat Agatha pun membuka mata malu.
Ia menatap raut wajah Leo puas menahan tawa melihatnya.
"Isssh! Anda menggodaku" refleks Agatha malu dan turun dari pangkuan Leo.
Leo hanya bisa terkikih kecil.
"Mendengarmu tidak sopan seperti ini terkesan lebih nyaman untukku. Baiklah, kita bisa lebih santai. Panggilan aku dan kamu diperbolehkan" ucapnya.
"Sa..yaa.." lirih Agatha menahan malu.
Baru kali ini ia merasakan perasaan malu kepada Leo.
"Aku..panggil dirimu aku didepanku atau saat bersamaku" minta pria itu.
Agatha menatap pandangan Leo yang sungguh berbeda. Mata biru pria dihadapannya ini ternyata tiba tiba sangat mempesona.
Leo berdiri dari duduknya. Berjalan memungut pakaiannya dan langsung melepas bathrope didepan Agatha tanpa malu meskipun tanpa pakaian.
Agatha yang membalikkan tubuhnya membuat Leo semakin gemas dengan tawanannya.
"Ngapain membalikkan tubuhmu? Seperti tidak tau tubuhku saja" ejek Leo.
Agatha hanya diam dan wajahnya memerah seketika.
Leo memakai pakaian lengkapnya kembali.
"Aku akan pergi. Kamu beristirahatlah" ucapnya dan tanpa menunggu Agatha berbalik menghadapnya, Leo langsung keluar pondok.
Pintu tertutup barulah Agatha membalikkan tubuhnya kearah pintu.
Deg..deg..deg..
Jantung Agatha berdetak kencang.
"Astaga! Ini tidak boleh! Perasaan ini harus sirna" gumamnya.
"Bagaimana aku bisa tiba tiba terlena dengan sentuhan pria brengsek itu setelah selama ini menahannya?" lanjutnya lagi.
Lalu Agatha berjalan menuju meja rias. Ia lihat banyak tanda merah ditubuhnya.
"Leo memang hewan liar! Dia membuat tubuhku seperti ini, penuh jejaknya" kesal Agatha.
Tapi ketika tangannya menyentuh beberapa tanda yang ditinggalkan Leo, hasrat dirinya entah kenapa kembali lagi. Ia merasakan kecupan Leo dikulitnya.
Agatha langsung sadar dan berdiri. Ia memilih mandi lagi dan menggosok tubuhnya agar pikiran tentang sentuhan Leo hilang.
Setelah keluar pondok, Leo masuk ke kediamannya lalu ke kamarnya.
Ia membaringkan tubuh di ranjang.
"Agatha" gumamnya.
"Jika kamu benar benar bukan anak dari pembunuh orang tuaku dan aku tidak membalas dendam kepadamu, mungkin saat ini aku sudah boleh jatuh cinta padamu" lanjutnya.
"Tidak..tidak..aku tidak boleh lunak..masih ada kawanannya yang selamat 6 bulan lalu. Aku harus bisa mempertahankan Agatha agar musuh datang dengan sendirinya. Apalagi dia memiliki kekasih yang berjanji akan menyelamatkannya. Aku tidak akan melepaskan Agatha semudah itu" ucap Leo lagi, lalu mendudukan diri.
Ia menatap foto kedua orang tuanya yang ia sengaja pasang di dinding kamar.
"Ayah, Ibu..aku akan menghabisi seluruh pemberontak Skotland, aku tidak akan memberikan mereka ampun" ucapnya kemudian sambil mengepalkan tangannya kuat.
Di kantor militer, Zane dan Betrand menginterogasi setiap tentara yang ada disana.
Satu per satu, dibantu wakil komandan kepercayaan Leo, sekaligus sahabat sang komandan, Atlas Holmes.
DOR!!
DOR!!
Atlas menembakkan 2 peluru ke 2 orang mata mata Irlandia di kantor militer London.
"SIALAN! BAGAIMANA MEREKA BISA MASUK?" umpatnya kesal.
"Kami juga tidak tau, Askom (Asisten Komandan). Akan segera kami cari tau" ujar Betrand.
"Siap! Kamu juga akan mencari sumber pemberontak dan pengkhianat sampai kantor ini bersih" sahut tentara yang lain.
Atlas duduk di kursi interogasinya, sambil menatap kedua mayat di depannya.
"Jika Komandan membenci pemberontak Skotland karena telah membunuh kedua orang tuanya, aku sangat membenci pemberontak Irlandia karena memusnahkan satu keluargaku sepenuhnya" batinnya.
Lalu dia berdiri dan memasukkan pistol disakunya.
"Penggal kepala mereka lalu 1 gantungkan di pagar kantor kita dan 1 lagi di alun alun kota. Biar tau rasa para pemberontak itu" perintahnya.
"SIAP ASKOM!" seru tentara serentak memenuhi perintah atasannya.
"Zane, apakah komandan sudah datang ke kantor?" tanya Atlas kepada asisten atasannya itu.
"Belum. Sepertinya, Komandan sedang bersama tunangannya, Nona Katy" ujar Zane.
"Ck..tunangan secara paksa. Sungguh menderita sekali Katy tidak dicintai oleh komandan sedikit pun" sahut Atlas dengan senyuman menyeringai.
Zane hanya diam saja. Keduanya berjalan beriringan ke aula kantor dimana semua prajurit alias tentara dikumpulkan.
"Terus bagaimana dengan wanita tananan komandan? Putri pemberontak Skotland? Sampai kapan komandan bermain main dengannya?" tanya Atlas yang cukup kepo dengan kehidupan atasannya.
"Mohon maaf, Askom. Saya kurang paham dengan hal itu. Mungkin anda bisa menanyakan sendiri kepada Komandan" jawab Zane apa adanya.
Atlas tak menyahuti, Zane pun tidak berbicara lagi.
Keduanya sudah masuk aula dan mulai melakukan screening.
Di tempat lain, disekitar kediaman keluarga Katy, mobil Terios sudah berhenti dan terparkir di sebuah halaman rumah kosong.
Ternyata rumah seorang duke bangsawan dijaga ketat oleh para penjaga.
"Sudah kukira akan sulit mengembalikan wanita ini yang tidak sadar ke rumahnya" ucap Terios.
"Apakah perlu saya pancing para penjaga itu untuk pergi dan meletakkan nona Katy didepan rumah?" saran salah satu anak buah pengusaha wine Italia itu.
"Ck..kamu ingin Leo dibunuh sama Duke karena memulangkan putrinya dalam keadaan seperti ini, Santos?" sahut Terios dengan kesal.
"Oh ya, maaf kan saya, Tuan. Saran saya tidak tepat" ujar anak buah yang bernama Santos tersebut.
"Begini saja, Tuan. Saran Santos ada benarnya. Salah satu dari kita atau kami berdua akan memancing para gerombolan penjaga itu untuk pergi sebentar. Anda bisa menggendong nona masuk kerumahnya. Tuan Leo pun tidak akan kena sanksi ayah dari Nona Katy" saran dari anak buah Terios yang lain.
Terios terlihat mempertimbangkan.
"Hmm..boleh juga..baiklah..aku akan membawanya kedalam rumah. Kalian harus mengulur waktu" ucapnya.
"Siap, Tuan" sahut kedua anak buah itu.
"Boleh juga idemu, Ton!" puji Santos pada rekannya.
"Aku hanya melengkapi idemu" sahut Toni, anak buah Terios yang lain.
Namun saat Terios berusaha melepaskan pelukan Katy yang sedang tidak sadarkan diri, malah membangunkan wanita itu.
"Eeeekh...tu..tubuhku..." lirih Katy yang sudah mulai sadar dan merasakan sensasi dari obat perangsang yang diterimanya.
"Astaga! Obat perangsang itu masih bekerja!" panik Santos dan Toni bersamaan.
Terios menatap kedua anak buahnya itu dengan tajam.
Grep!
Tiba tiba tangan Katy menarik tengkuk leher Terios dan mencium bibir pria itu tanpa izin.
Santos dan Toni langsung terpaku tak bisa berkutik melihat pemandangan ini, lalu buru buru memalingkan wajah kedepan.
Suhu dalam mobil mendadak panas.
Terios yang awalnya tidak berniat menjadi penawar obat perangsang yang diterima Katy, mendadak ingin melakukannya setelah diserang terlebih dahulu oleh wanita itu.
Ia lahap bibir Katy dipangkuannya. Posisinya membungkuk dan mulutnya membungkam mulut putri dari seorang Duke itu.
Santos dan Toni semakin kelimpungan mendengarkan suara kecapan kedua manusia di kursi belakang mereka.
Keduanya saling tatap dan bingung mau ngapain.
"Kalian pergilah! Aku akan menyelesaikan wanita ini terlebih dahulu, setelah itu aku akan menyelesaikan kalian" ucap Terios dengan suara rendah.
"Ba..baik..tuan" gugup Santos dan Toni menjawab ucapan bosnya.
Mereka pun keluar mobil dan meninggalkan Terios serta Katy menyelesaikan efek obat perangsang sampai tuntas.
"Mati kita!" ucap Santos.
"Ck..dasar pikiran mesum mu membuat kita terjebak seperti ini" sahut Toni.
"Ya kamu juga setuju. Lagipula obat perangsangnya dari istrimu yang seorang apoteker dan peracik obat" balas Santos.
Toni menghela nafas panjang karena sadar dirinya juga salah.
"Kita berdoa saja, Tuan Terios terpuaskan dan tidak menghukum kita terlalu berat" ujarnya.
"Ya. Setidaknya jika Tuan puas, ada dampak baik untuk kita" sahut Santos.
Lalu keduanya pun memilih pergi dari sekitar halaman rumah kosong itu dan merokok bersama sambil mengamati depan rumah Katy menggunakan teropong jarak jauh.
Waduh, gimana kondisi didalam mobil ya?
cerita nya seru👍